Perfect Oracle

Perfect Oracle
Words of Apology


__ADS_3

Mobil yang mereka tumpangi bertolak dari Heathrow menuju kediaman Alek di Addison Road. Ada urusan mendesak yang mengharuskannya untuk pulang.


Terjadi sedikit masalah di kantor yang harus kau tangani. Pulanglah segera.


Telepon yang berasal dari Matthew, asisten sekaligus sahabatnya, cukup membuatnya terkejut. Dari suaranya, Alek tahu bahwa masalah yang muncul bukanlah masalah kecil. Hanya saja Matthew memilih untuk menutupinya.


Perjalanan yang bisa ditempuh dalam waktu kurang dari satu jam itu awalnya diisi kesunyian. Setengah perjalanan menuju rumahnya—tepatnya ketika mobil berbelok ke Great West Rd/A4—suara Alek memecah keheningan.


"Aku minta maaf," ucapnya tanpa melirik sedikitpun ke arah wanita di sampingnya.


Semalaman dia memikirkan ini. Sejak awal, apa yang dia lakukan ke Jemima memang sudah keterlaluan. Dia bertambah yakin untuk meminta maaf ketika sejak kejadian di kolam renang kemarin pagi hingga sekarang—istrinya sama sekali tidak mengajaknya bicara. Hanya sepatah dua patah kata. Itupun karena dirinya yang bertanya.


"Aku tahu sikapku kepadamu sungguh keterlaluan. Tapi kamu juga harus tahu bahwa ini tidak mudah bagiku."


Alek menengok ke samping. Dilihatnya Jemima tetap tanpa ekspresi. Pandangannya lurus ke depan, seakan tidak mendengar ucapannya sama sekali.


Kali ini dia mengalah. Mungkin Jemima masih butuh waktu. Begitu juga dirinya.


Memasuki Warwick Rd/A3220, mobil yang mereka tumpangi kemudian berbelok ke kanan menuju Addison Cres. Lima menit setelahnya, mobil memasuki halaman rumah dengan pagar tinggi berwarna hitam.


Alek turun dari mobil lebih dulu. Dia bermaksud membukakan pintu untuk Jemima, namun kalah cepat. Istrinya membuka pintu mobil sendiri dan hanya melirik sekilas ke arahnya.


Kecanggungan terlihat jelas dari gerak-gerik Jemima. Istrinya berdiri diam cukup lama dan merasa asing dengan tempat barunya.


"Welcome home. Ini rumah kita."


Alek mengulurkan tangan, bermaksud menggandeng Jemima sampai memasuki rumah. Sayang, Jemima menepisnya dan memilih untuk berjalan sendiri.


"Aku tahu kamu benar-benar marah. Aku minta maaf, Jemima." Permintaan maaf kembali terdengar dari bibir Alek. Dan lagi-lagi Jemima tidak menggubrisnya.


"Simpan saja maafmu. Aku tidak membutuhkannya."


Kalimat itu terdengar—sesaat sebelum mereka memasuki rumah. Alek mengumpat dalam hati. Kali ini Jemima benar-benar berhasil membalasnya.


——


London selalu menyenangkan. Karena itulah dia sangat menyukai London dan tidak pernah bosan untuk kembali ke sini. Dan sekarang dia akan tinggal di sini.


Ada sedikit masalah di kantorku. Kemasi barang-barang kamu. Kita berangkat ke London hari ini juga.


Perintah mendadak dari Alek sempat membuatnya ternganga. Jemima bahkan berniat untuk tidak ikut ke London dan membiarkan suaminya berangkat sendiri. Namun, dia sadar kalau semua ini tidak ada gunanya.


Toh, dia sekarang sudah menikah dengan lelaki itu. Akan ada banyak pertanyaan muncul, terutama dari orang tuanya, jika dia tidak mengikuti ke manapun suaminya pergi.


Dan Jemima tidak menginginkan itu terjadi. Dia tidak ingin Ayah maupun Ibunya berpikir yang bukan-bukan tentang pernikahannya yang baru berusia dua hari.

__ADS_1


Atas persetujuan Alek, mereka berpamitan sebentar ke rumah orang tuanya. Dia bahkan sempat mengunjungi kantor lamanya untuk berpamitan kepada rekan-rekan kerjanya. Sementara surat pengunduran dirinya sudah dia serahkan satu minggu sebelum dia menikah.


Memasuki pintu ganda berwarna hitam mengkilat, Jantung Jemima berdetak lebih cepat.


Ini rumah kita.


Begitulah yang dia dengar beberapa menit yang lalu. Sekarang—rumah inilah yang akan menjadi tempat tinggalnya.


Pandangan Jemima menyapu sekeliling. Rumah ini cukup besar. Walaupun tidak begitu besar untuk ukuran seorang konglomerat seperti Alek dan neneknya. Dan sebagian besar dindingnya terbuat dari kaca.


Dari pintu depan mereka langsung berada di ruang tamu. Dua sofa panjang berwarna abu-abu diletakkan saling berhadapan. Di tengahnya ada meja besar ukuran 2x2 meter berbentuk persegi. Di bawah kursi, dilapisi karpet motif papan catur berwarna hitam putih. Dua lampu duduk ada di samping kiri dan kanan sofa panjang.


Sungguh sebuah kombinasi yang enak dilihat. Selera Alek ternyata lumayan juga.


Berbicara mengenai suaminya, Jemima sendirian di ruang tamu. Alek pergi meninggalkannya ketika dia tengah asik memandangi dekorasi ruang tamu.


Mungkin Alek sedang mengerjakan urusan mendadaknya. Bukankah itu alasan mereka pergi tergesa meninggalkan Jakarta kemarin?


Jemima berjalan melewati ruang tamu dan berhenti di ruangan berikutnya. Satu set sofa kembali menyapanya. Kali ini dengan warna yang berbeda. Hitam dengan meja panjang berwarna merah.


Di ruangan itulah Jemima mendengar suara. Dia mencoba mencari asal suara dan menemukannya. Seorang wanita dan lelaki paruh baya berdiri di hadapan Alek. Mereka sepertinya sedang terlibat dalam perbincangan yang serius.


Tidak ingin mengganggu, Jemima hanya berdiri di sana tanpa berniat menguping.


Ada yang berbeda dari wajah Alek. Lelaki itu terlihat lebih—santai dan penuh senyum. Tercetak jelas di wajah suaminya bahwa dia sangat menyayangi kedua orang di hadapannya.


Jadi, manakah Alek yang asli? Apakah suaminya itu mempunyai dua kepribadian ganda? Jemima bergidik ngeri membayangkan itu.


Lantas--apakah permintaan maaf yang dia utarakan di mobil tadi benar-benar tulus? Atau mungkin hanya sebagai penutup rasa malu karena dia berhasil menamparnya di hadapan orang banyak.


Jemima tidak ingin jauh menerka. Dia menyukai pemandangan yang dia lihat sekarang.


"Sejak kapan kamu di situ? Kemarilah, Jemima. Aku ingin memperkenalkanmu pada Joaquin dan Pavita."


Jemima mendekat. Senyum tulus dia tunjukkan sebagai tanda perkenalan.


"You are so beautiful. Saya Pavita dan saya siap melayani Anda, Nyonya." Wanita itu membungkukkan badan di hadapannya. Membuat Jemima salah tingkah. Tidak ada yang berbuat demikian padanya. Apalagi wanita itu lebih tua.


"Dia yang mengasuhku sejak aku lahir. Dan ini Joaquin. Dia kepala pelayan di sini."


Hal yang sama dilakukan lelaki paruh baya itu. Jemima mulai merasa risih.


"Tolong—jangan begitu. Bersikaplah biasa saja kepadaku."


Wanita di hadapannya tersenyum lembut. "Anda sama saja seperti Tuan Alek. Kami pelayan dan Anda adalah majikan. Tidak ada yang biasa dalam hal itu."

__ADS_1


Jemima melirik ke arah Alek. "Turuti saja perkataan mereka, Jemima. Perlu kamu tahu, mereka berdua sama-sama keras kepala dan pemaksa."


"Tidak berbeda jauh dari kamu, kan?"


Ucapan Jemima berhasil membuat senyum di wajah suaminya menghilang.


"Aku harus pergi. Kalau kamu butuh apa-apa, panggil saja mereka berdua."


"Kami akan menyiapkan makan siang untuk anda, Nyonya. Permisi."


Kedua pasangan paruh baya itu pergi meninggalkan ruangan. Hanya tinggal dirinya dan Alek. Tidak ada lagi suasana hangat yang menyelimuti.


"Kamar kita ada di lantai dua. Pavita akan mengantarmu. Sebaiknya kamu istirahat."


Setelah itu langkah kaki Alek terdengar menjauh. Dan kemudian berhenti. Jemima menengok dan melihat Alek berdiri diam di depan tangga. Memandangnya.


Dalam sepersekian detik lelaki itu berbalik menuju tempatnya berdiri. Jemima bisa merasakan kecupan lembut di dahinya.


"Aku benar-benar minta maaf. And I mean it."


Langkah kaki kembali terdengar. Alek berjalan semakin jauh dan kali ini dia tidak berbalik.


——


"Apa yang terjadi, Matthew? Kenapa kau tidak mau mengatakannya di telepon?"


"Masalah ini tidak bisa diselesaikan lewat telepon, Alek."


Mereka berdua berjalan bersisian menuju kantor Alek. Sesampainya di sana, Matthew mengunci pintunya rapat.


"Lihat ini." Sebuah koran berita lokal disodorkan Matthew.


"Ini—perusahaan kita?" Alek mengerutkan kening. Matanya lurus menatap Matthew.


"Ada penyusup di perusahaan kita. Dia berhasil meretas sistem informasi yang kita miliki. Parahnya lagi—orang itu salah satu pegawai di sini."


Alek menggeram. Tangannya memijat pelipisnya yang mendadak pening.


"Apa dia berhasil ditangkap?"


"Sudah kuduga kalau kau tidak akan membaca koran itu." Matthew mengambil kembali koran dari tangan Alek. "Ya. Kita berhasil menangkapnya."


Telunjuk Matthew menunjuk satu judul Headline News yang sedang ramai dibicarakan.


"Kita berhasil menemukannya—," Matthew memberikan jeda. "Dalam keadaan tewas."

__ADS_1


Mata hijau Alek menatap tidak percaya ke arah Matthew.


"Seseorang membunuhnya, Alek."


__ADS_2