Perfect Oracle

Perfect Oracle
Which Way to Run?


__ADS_3

Proses penyembuhan Alek berjalan cukup cepat. Selain patah kaki, tidak ada luka lain yang serius. Hasil CT Scan juga menunjukkan bahwa suaminya baik-baik saja.


Hanya dalam waktu dua minggu setelah koma, Alek sepenuhnya sudah bisa melakukan semua aktivitas, kecuali berjalan. Dia masih harus tetap menggunakan kursi roda ke mana-mana.


Selama dua minggu, Jemima selalu bermalam di rumah sakit. Persetan dengan semua racauan Madam Rowena tentang dirinya yang tidak berhak ada di samping Alek. Pada kenyataannya, suaminya yang meminta agar dirinya setiap hari bermalam di sana.


Kali ini dia menang. Madam Rowena tidak bisa menolak keinginan Alek. Dengan terpaksa wanita tua itu mengalah.


Jemima mengobrak-abrik ruang kerja Alek. Mencari dokumen yang diminta suaminya. Dalam hati dia mengumpat. Kenapa bukan Matt saja yang dia suruh. Lelaki itu tentu saja lebih tahu tempat Alek menyimpan dokumen tersebut.


Besok Alek sudah diperbolehkan pulang. Tapi hal itu tidak membuat Jemima lebih senang. Pasalnya, suaminya itu langsung minta diantar ke kantor sekeluarnya dari rumah sakit. Hal inilah yang membuatnya uring-uringan sejak tadi.


Sebenarnya Alek sudah memberitahukan dengan jelas letak dokumen itu. Hanya saja dirinya terlalu marah untuk mendengarkan. Dan akhirnya sekarang dia sendiri yang kerepotan.


Jemima bisa tersenyum setelah menemukan benda yang dicari. Di samping dokumen itu ada tumpukan koran lama. Tidak banyak memang. Tapi berhasil membuat dirinya penasaran.


Dia kemudian memasukkan koran-koran itu ke dalam tasnya. Memisahkan dokumen yang dibutuhkan Alek. Dan bersiap kembali ke rumah sakit.


Belum sempat dia keluar dari ruang kerja suaminya, Jemima mendengar suara seseorang berbicara. Selain dirinya, tidak ada lagi siapapun di rumah ini. Joaquin menemani Alek di rumah sakit. Sementara, Pavita dan pelayan lainnya libur selama satu minggu.


Jemima mengintip dari pintu yang terbuka sedikit. Menghela napas lega setelah tahu bahwa yang berbicara adalah Clayton, pengawal yang ditugaskan untuk menjaganya. Lelaki itu sedang berbicara melalui telepon.


Kelegaannya hanya bersifat sementara. Lelaki itu mengakhiri sambungan teleponnya dengan satu kalimat mencengangkan.


"Aku akan membawa dokumen yang kau maksud dan membunuh istrinya sekarang juga."


Dan Jemima melihat pengawal itu mengeluarkan pistol yang sejak tadi tersembunyi di balik jaketnya.


——


Ada yang salah dengan Jemima dan neneknya. Mereka berdua memang tidak pernah menjalin hubungan dengan baik. Hanya saja, ketegangan di antara mereka kali ini lebih terasa.


Jelas-jelas ada masalah di antara mereka. Baik Jemima maupun neneknya tidak ingin dirinya tahu.

__ADS_1


"Makan siang Anda, Tuan." Joaquin meletakkan nampan di meja samping ranjang.


Hari ini Matt sedang ada rapat penting. Jadi Joaquin yang menemaninya.


"Terima kasih." Alek tidak berselera untuk makan. Yang dia inginkan hanya segera keluar dari rumah sakit dan kembali bekerja.


"Joaquin... Apakah kau tahu apa yang sebenarnya terjadi antara nenek dan istriku? Tidakkah kau lihat akhir-akhir ini mereka seperti sedang bersitegang?"


Lelaki paruh baya di hadapannya menggeleng. "Bukankah sejak dulu mereka memang seperti itu, Tuan? Hanya saja..."


"Hanya saja apa?" Alek menyambar cepat. Joaquin terlihat takut menjawab. "Katakan saja, Joaquin."


"Hanya saja, Madam Rowena tidak pernah memperbolehkan istri Anda menginap di rumah sakit saat Anda koma."


Aha. Sudah Alek duga terjadi apa-apa di antara mereka. Dia tidak perlu penjelasan Joaquin lebih lanjut. Dia akan menanyakannya sendiri kepada Jemima tentang apa yang sebenarnya terjadi.


"Terimakasih, Joaquin. Kau boleh keluar. Tapi, tunggu sebentar. Apa Jemima sudah kembali ke rumah sakit?"


"Sepertinya belum, Tuan."


Ini sudah terlalu lama. Jemima pergi sejak pagi. Sekarang bahkan sudah jam makan siang dan istrinya belum juga kembali.


Apa sangat susah mencari dokumen yang dia inginkan? Alek tersenyum melihat wajah cemberut istrinya ketika dia mengatakan bahwa besok setelah keluar dari rumah sakit, tempat pertama yang dia tuju adalah kantor.


Alek mengambil ponselnya dan mulai menghubungi Jemima. Dan mendesah kecewa ketika ponsel istrinya tergeletak begitu saja di atas sofa. Jemima lupa membawa ponselnya.


Tidak ada yang bisa dia lakukan saat ini. Dia hanya harus menunggu sampai Jemima kembali.


Dalam kesendirian itu, Alek kembali teringat kejadian di malam dia kecelakaan. Jemima dengan Max di kedai kopi. Max yang mencium istrinya. Semua tampak jelas di ingatannya.


Alek bisa melihat rasa bersalah di mata istrinya setiap kali mereka bertatapan. Dan dia tidak menginginkan tatapan itu. Karena itulah dirinya tidak pernah membahas pertemuannya dengan Max.


Alek melihat jam di layar ponselnya. Sudah lewat jam makan siang dan Jemima belum kembali. Kekhawatiran mulai merambati otaknya.

__ADS_1


Ada yang tidak beres.


——


Tubuh Jemima gemetar. Dia berdiri di balik pintu kamar mandi yang ada di ruang kerja Alek. Tangannya mendekap erat tas dan juga dokumen milik suaminya.


Dokumen inikah yang dia cari?


Jemima langsung melesat masuk ke kamar mandi setelah tahu Clayton menuju ruang kerja Alek. Lelaki itu melakukan hal yang sama. Mengobrak-abrik meja kerja suaminya. Hanya saja lebih brutal.


Keringat dingin membuat telapak tangannya basah. Ditambah lagi gemetar yang tak kunjung hilang. Membuat tubuhnya lama-kelamaan merosot ke lantai. Kakinya sudah tidak sanggup lagi menopang.


Bagaimana caranya dia bisa keluar?


Baru saja Jemima menyadari bahwa dia tidak membawa ponsel. Sementara telepon kabel ada di atas meja kerja suaminya. Sementara dia tidak bisa ke sana. Karena lelaki itu masih saja berada satu ruangan dengannya. Masih mencari benda yang dia cari.


Suara pintu tertutup ditambah langkah kaki yang berlari menaiki tangga membuat keberaniannya muncul. Jika ingin lari, sekaranglah saatnya. Sekuat tenaga Jemima mencoba berdiri. Tidak mempedulikan kakinya yang masih gemetar. Dia berlari menuju pintu utama.


Terkunci.


Dan kuncinya tidak ada di sana. Jemima mengerang frustrasi. Menggigit keras bibirnya. Dan mulai berlari menuju pintu samping. Lagi-lagi terkunci.


Kapan Clayton melakukan ini semua? Kenapa dia sampai tidak mengetahuinya?


Kali ini pipinya basah oleh air mata. Bayangan akan kematian seolah menghantuinya. Dia belum ingin mati.


Jemima menimbang-nimbang antara berlari menuju telepon kabel di ruang tengah atau mengambil kunci cadangan.Jika dia memilih untuk menelepon, bantuan belum tentu segera tiba. Dia keburu mati.


Akhirnya pilihan kedua yang Jemima ambil. Dia kembali berlari menuju perpustakaan. Alek biasa menaruh semua kunci cadangan di sini.


Setelah mendapatkannya, lagi-lagi Jemima berlari ke pintu utama. Mencoba membuka pintu. Tangannya yang gemetaran menghambat pekerjaannya. Kunci itu tidak juga masuk ke lubangnya.


Dalam hitungan detik, pintu itu akhirnya terbuka. Sebuah vas bunga kecil melayang di samping kepalanya. Mengenai pintu. Jemima menjerit dan terjatuh karena kaget. Tas beserta dokumen Alek berhamburan di lantai.

__ADS_1


Dengan tatapan mata takut-takut, Jemima melihat ke belakang. Sebuah pistol sudah teracung ke kepalanya.


__ADS_2