
Ramalan.
Alek tidak percaya ini. Jawaban yang diberikan neneknya sungguh di luar dugaan.
Dia berharap neneknya punya alasan logis akan pertanyaan yang dia lontarkan. Dan jawabannya sungguh-sungguh membuatnya tercengang.
Sesuai yang dijanjikan, setelah sarapan mereka langsung bertolak menuju kediaman neneknya. Bermaksud menanyakan alasan kenapa neneknya memilih Jemima untuk dijadikan istri, bukannya wanita lain.
Alek sebenarnya sudah tidak peduli dengan alasan apapun itu. Tapi dia sudah terlanjur berjanji semalam. Dan dia tidak ingin membuat dirinya dan Jemima kembali bertengkar hanya karena masalah sepele.
Selama hampir 30 menit mereka duduk diam di dalam ruang baca. Menunggu neneknya yang kata pelayannya sepagi ini sedang menemui tamu.
Setelah neneknya selesai dengan urusannya, Alek tanpa basa-basi langsung bertanya alasan nenek menikahkannya dengan Jemima. Dan itulah jawaban yang dia terima.
Karena ramalan.
It doesn't make sense at all.
Jika bukan karena ditahan Jemima, mungkin tadi dia sudah lepas kendali dan mengeluarkan serentetan umpatan di hadapan neneknya. Satu hal yang disesali Alek. Seharusnya tadi dia tidak langsung pergi dan menanyakan secara jelas ramalan yang dimaksud.
Unfortunately, emosinya mengambil alih dan menyuruhnya untuk segera pergi dari rumah neneknya. Mungkin nanti, ketika dia bisa menghadapi neneknya tanpa ada emosi, dia akan menanyakannya lagi.
——
Karena ramalan.
Jemima hampir saja menyemburkan tawa jika saja dia tidak melihat raut serius di wajah Madam Rowena. Alasan kenapa nenek itu menikahkan dirinya dengan Alek sungguh di luar nalar.
Karena selama ini dia tidak percaya pada hal-hal semacam itu. Justru Alek yang langsung menampakkan emosi di depan neneknya. Untung saja dirinya berhasil mencegah Alek melakukan entah apapun yang ingin dilakukan suaminya itu.
Jemima berjalan sambil menggeleng-gelengkan kepala mengingat kejadian tadi pagi. Melewati pintu masuk utama, kaki jenjangnya yang berbalut jins menghentak-hentak lantai marmer yang dia pijak.
Dia berpapasan dengan beberapa orang yang sedang berlalu lalang. Aura kesibukan memancar di sekitar mereka. Melewati kesibukan itu Jemima melangkah menuju lift.
Jemima menekan angka 30. Menunggu dalam diam hingga sampai ke tempat tujuan. Bunyi peringatan di dalam lift menandakan bahwa dia sudah sampai di lantai yang dia tuju.
Mata cokelatnya menyapu seluruh ruangan. Decak kagum masih saja keluar dari mulutnya setiap kali berkunjung ke kantor Alek.
Jemima berjalan menyusuri hall yang luas itu dan menuju ke meja sekretaris Alek. Bertanya apakah suaminya ada di ruangannya atau tidak.
Sebelumnya dia tidak memberitahukan akan datang kemari karena dia memang tidak berniat untuk kemari. Sedikit kejutan tidak akan membuat suaminya mati, bukan?
Dia baru saja selesai berjalan-jalan dengan Astrid saat memutuskan datang kemari. Sahabatnya itu berniat untuk tinggal di London selama satu setengah bulan. Sebagai seorang reporter sebuah majalah, Astrid harus rela ditempatkan di mana saja. Saat berjalan-jalan itulah Jemima mendapati kenyataan yang membuatnya terkejut. Dan dia merasa harus memberitahukan Alek secepatnya. Karena itulah dia ada di sini sekarang.
__ADS_1
Jemima melihat seorang wanita cantik yang duduk menunduk di depan sebuah meja besar. Wanita itu terlihat sangat sibuk.
"Apakah suamiku ada?" tanya Jemima kepada sekretaris Alek.
"Tentu saja. Beliau baru saja selesai rapat. Dia sekarang ada di ruangannya. Mari saya antar."
Jemima mengikuti wanita itu dan berjalan di belakangnya. Saat wanita itu hendak mengetuk pintu ruangan Alek, dia menahannya. Dia berdalih ingin membuat kejutan untuk Alek. Kemudian wanita itu meninggalkannya sendiri dan kembali ke mejanya.
——
Alek melonggarkan ikatan dasi yang ada di lehernya. Jas abu-abunya sudah terlepas dan disampirkan di atas kursi. Dia sedang menggulung kemeja putihnya sepanjang siku ketika terdengar ketukan di pintu.
"Come in, Mel." Teriaknya tanpa melihat ke arah pintu. Dia masih saja sibuk menggulung lengan kemejanya.
"Sayangnya aku bukan Melisa, sekretaris tersayangmu." Suara yang sudah sangat dikenalnya membuatnya tersentak kaget.
Alek langsung membalikkan badan dan berhadapan dengan wajah istrinya yang sedang tersenyum.
"What a surprise! Kenapa tidak mengatakan kalau akan kemari?" Alek mendekati istrinya kemudian mendekapnya ke dalam pelukan. Dia mendaratkan ciuman lembut di bibirnya.
"Bukan kejutan namanya kalau aku memberitahumu terlebih dahulu." Alek tertawa senang. Dia baru saja selesai menghadiri rapat yang cukup menegangkan. Kehadiran Jemima di sini cukup menghibur dirinya.
"Kamu merindukanku? Sampai-sampai menyusulku kesini." Istrinya menggeleng-gelengkan kepalanya dan tersenyum simpul. Jemima mengetatkan pelukannya.
"Ada apa, Jemima?" tanyanya pelan sambil mengelus punggung istrinya. Dia dapat merasakan degup jantung istrinya yang kencang.
"I'm not pregnant, Alek."
Ucapan istrinya menghentikan usapan tangannya pada punggung Jemima. Kedatangan istrinya sudah merupakan sebuah kejutan. Ditambah dengan berita yang baru saja istrinya sampaikan, kejutan untuk hari ini semakin berlipat.
She is not pregnant.
Dia seharusnya bahagia mendengar kabar dari istrinya. Sejak pertama, inilah yang dia inginkan. Tapi ketika Jemima mengucapkannya dengan nada sedih, kenapa sama sekali tidak ada rasa bahagia yang menyelusup ke hatinya?
Alek melepaskan pelukannya dan berjalan mendekati jendela. Membelakangi istrinya. Dia melihat pantulan wajahnya yang samar terlihat di kaca jendela. Wajahnya juga tidak menampakkan wajah gembira. Yang dia lihat di kaca itu adalah seorang laki-laki dengan wajah penuh...
Kekecewaan?
Benarkah dia kecewa karena istrinya tidak hamil? Bagaimana bisa? Tuhan. Ada apa dengan dirinya?
Dengan pelan Alek berkata.
"It is better this way. Aku tidak perlu memaksamu untuk menggugurkannya. Dan mulai sekarang--aku ingin kamu meminum pil kontrasepsi sebagai pencegahan."
__ADS_1
——
Jemima sekuat tenaga menahan tangis. Kini satu-satunya harapan yang dia punya untuk menyembuhkan ketakutan suaminya sudah tidak ada lagi.
Jemima melihat suaminya yang berdiri membelakanginya. Alek pasti senang sekali mendengar berita ini. Mungkin Alek sengaja membalikkan badannya agar dia tidak bisa melihat wajah senang suaminya ketika mengetahui dirinya tidak hamil.
Dia menunggu selama beberapa menit. Berharap setidaknya Alek mengucapkan satu atau dua kata. Dengan begitu dia tidak akan merasa sendiri. Namun, suaminya masih diam saja dan tetap berdiri membelakanginya.
Dan kalimat yang diucapkan Alek membuat hatinya mendadak sakit.
It is better this way.
Jemima merasa tak sanggup lagi menahan air matanya. Karena itulah dia memutuskan untuk pergi dari kantor Alek.
"Well, aku kesini hanya untuk memberitahukan kabar ini. Kamu pasti senang mendengarnya. Sampai bertemu nanti di rumah."
Tanpa menunggu balasan dari suaminya, Jemima segera berjalan menuju pintu dan menutupnya rapat.
——
Alek masih setengah melamun ketika mendengar suara pintu tertutup. Ketika dia menoleh, Jemima sudah tidak ada di sana. Saat itulah dia sadar bahwa Jemima sudah meninggalkan ruangan.
"Shit!"
Alek segera berlari keluar dan mengejar Jemima. Dia kalah cepat. Ketika dia melihat Jemima, istrinya itu sudah berada di dalam lift yang hendak menutup. Dan istrinya menangis.
"Double shit!" Alek mengumpat sekali lagi.
Dia berlari menuju lift yang satunya dan mengikuti istrinya turun. Dalam hati dia berharap masih bisa mengejarnya.
God. Jemima mengira bahwa dia merasa senang karena mendengar berita ini. Dan istrinya salah. Alek bahkan sama sekali tidak merasa senang. Inilah yang tidak diketahui istrinya.
Alek mengumpat karena entah mengapa seolah-olah lift berjalan sangat lambat. Dia harus bisa mengejar Jemima. Dia harus mengutarakan bagaimana perasaannya yang sebenarnya mengenai berita ketidakhamilannya ini.
Pintu lift terbuka dan Alek langsung melesat keluar. Dari lobi Alek melihat istrinya sudah berada di luar. Alek segera berlari mendekatinya tanpa menghiraukan tatapan para bawahannya yang melihat penuh tanya.
Alek tahu pasti bahwa Jemima tidak membawa mobil. Dia yang mengantarnya menemui Astrid dan kemungkinan besar Jemima ke kantornya diantar balik oleh Astrid.
Alek hampir mendekati istrinya ketika sebuah jaguar hitam berhenti di depan istrinya. Dia yakin bahwa itu bukan mobil yang dipakai Astrid selama di London. Dan ketika pengemudi mobil itu keluar, dugaan Alek ternyata benar. Mobil itu bukan milik Astrid.
Max.
Istrinya masuk ke mobil itu dengan dibantu Max yang membukakan pintu penumpang. Mereka kemudian pergi meninggalkan dirinya yang hanya berdiri diam beberapa meter tak jauh dari tempat mobil itu berhenti. Meninggalkan dirinya yang hanya bisa mengumpat berkali-kali melihat istrinya pergi dengan laki-laki lain.
__ADS_1