Perfect Oracle

Perfect Oracle
Disclosure


__ADS_3

Jemima menatap Astrid yang berdiri di depan pintu. Temannya itu baru saja mendapatkan kiriman surat--entah dari siapa--dan terlihat sedikit kaget.


"Astrid, are you okay?"


"Yup! I'm okay." Jemima melihat Astrid tergesa-gesa merapikan surat yang baru saja diterimanya ke dalam amplop. Karena Astrid tidak bercerita, Jemima jadi merasa enggan bertanya.


Lagipula, selama beberapa hari ini Astrid sudah menjaganya dengan sangat baik. Wanita itu memaksanya tinggal di apartemennya sekeluarnya dari rumah sakit.


"Kau yakin mau pulang? Kenapa tidak sekalian pindah ke sini saja?"


"Aku sudah baikan, Astrid. Lagipula aku sudah harus bekerja besok." Jemima meringis melihat Astrid memutar bola matanya. Kesal.


"Whatever, Jem. Tapi jika terjadi apa-apa segera hubungi aku, oke?!" Jemima hanya mengangguk mendengar peringatan temannya.


Astrid mengantarkannya hingga ke dalam rumah. Setelah meletakkan barang-barangnya, wanita itu berpamitan. Ada pekerjaan yang harus dikerjakan. Jemima mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya, karena di saat sedang kesusahan seperti ini, Astrid selalu ada untuknya.


Sepeninggal Astrid, Jemima melihat sekelilingnya. Setelah dibiarkan kosong selama beberapa hari ternyata rumah sewaannya perlu dibersihkan. Dia lalu bersiap-siap pergi ke supermarket terdekat untuk membeli bahan makanan dan kebutuhannya yang lain.


"Nyonya Jemima?" Jemima menoleh mendengar namanya dipanggil. Dia baru saja keluar dari supermarket. "Ternyata benar anda, Nyonya," lanjut suara itu.


"Joaquin?" Jemima tersenyum melihat siapa yang tadi memanggilnya. "Apa yang kau lakukan di sini?"


"Mengikuti Anda, Nyonya. Waktu itu saya mengantar Tuan Alek ke sini untuk rapat. tidak sengaja aku melihat Anda."


Mendengar nama Alek disebut, dadanya berdesir. Rasa rindu yang teramat sangat membuncah.


"Bagaimana keadaan Alek? Dia baik-baik saja, bukan?"


"Kacau sejak anda pergi. Tuan Alek lebih banyak menghabiskan waktunya di kantor dan di ruang kerja."


"Benarkah?" Jemima sedikit tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Sepertinya bukan hanya dirinya saja yang menderita.


"Ya. Selain itu, akhir-akhir ini banyak teman-teman Tuan Alek yang datang ke rumah. Bahkan ada juga anggota kepolisian."


Jemima ternganga mendengar informasi yang satu ini. "Apakah Alek terkena masalah? Kasus? Atau..."


"Tidak, Nyonya. Dari yang aku dengar, mereka sedang menyelidiki siapa orang yang berusaha membunuh Tuan Alek waktu itu."


"Apakah sudah ketemu?"


"Belum, Nyonya. Tapi mereka sudah menemukan beberapa bukti." Jemima merasa tertarik. Dia kemudian memfokuskan seluruh perhatiannya pada Joaquin.


"Ceritakan semuanya padaku, Joaquin. Semuanya."


——


Jemima memandangi selembar foto yang ada di tangannya dengan saksama. Dia baru saja pulang dari restoran tempatnya bekerja. Dalam perjalanan pulang tadi, dia bertemu dengan Joaquin di tempat yang sudah mereka sepakati. Lelaki itu memberikan bukti terakhir yang didapat Alek.


Dalam dua minggu ini, dia dan Joaquin sudah beberapa kali bertemu hanya untuk membahas masalah Alek. Meskipun awalnya lelaki paruh baya itu tidak mau, dia memaksa.


Jemima sebenarnya bukanlah orang yang suka ingin tahu. Tapi, entah mengapa kali ini dia ingin mengetahui lebih lanjut tentang kasus pembunuhan yang hampir merenggut nyawa suaminya.


Selain foto, Joaquin juga memberikan informasi-informasi apa saja yang berkaitan dengan kasus ini. Jemima tidak mengharapkan bisa membantu Alek dalam mengungkap kasus ini. Dibandingkan Alek dan juga teman-temannya, bisa dikatakan dia tidak ada apa-apanya. Semua informasi yang dimintanya dari Joaquin adalah murni berasal dari rasa ingin tahunya saja.

__ADS_1


Dari semua bukti yang dibeberkan Joaquin, Jemima paling tertarik dengan foto yang saat ini ada di tangannya. Nikolay Xanderov. Alek pernah bercerita tentang lelaki ini sekali. Anehnya, dia merasa pernah melihat wajah laki-laki ini. Saat Jemima berusaha mengingat-ingat wajah orang ini, bel apartemennya berbunyi. Dengan berat hati Jemima menyudahi keseriusannya dan beranjak menuju pintu.


"Good evening."


"Good evening, Max. Apa yang kau lakukan di sini?"


"Memangnya aku dilarang ke sini ya? Aku membawakanmu makan malam. Kau tidak mau mengundangku ke dalam?" Jemima hanya tertawa kecil mendengar ucapan Max. Dia melebarkan pintunya dan mempersilakan Max masuk.


"Apa kau sedang mengerjakan sesuatu? Kenapa banyak sekali kertas di sini?"


Jemima mengumpat dalam hati. Dia lupa merapikan kertas-kertas berisi informasi yang diberikan Joaquin padanya. Dengan sigap Jemima segera membereskan kertas-kertas tersebut dan memasukkannya ke dalam map.


"Nothing. Aku hanya sedang membaca-baca," jawab Jemima sekenanya.


"Foto siapa ini?"


Lagi-lagi Jemima mengumpat dalam hati. Max mengacungkan foto yang sejak tadi dipandanginya.


"Oh..itu. Aku tidak tahu. Aku tadi menemukannya di jalan ketika pulang dari sini," bohongnya. Dalam hati Jemima berdoa supaya kebohongannya tidak kentara. "Kau bawa makanan apa?" tanyanya mengalihkan perhatian.


"Tentu saja makanan kesukaanmu. Ayo cepat makan."


Jemima menghembuskan napas lega. Sepertinya Max tidak menyadari jantungnya yang berdegup kencang sejak tadi. Jika bukan karena Joaquin yang sudah mewanti-wantinya untuk tidak menceritakan hal ini pada siapapun, dia pasti sudah menceritakannya pada Max.


Satu setengah jam kemudian, dengan alasan kelelahan, Jemima menyuruh Max untuk segera pulang. Jemima kembali memandangi foto yang sejak tadi dilihatnya. Kali ini dia yakin bahwa dia pernah melihat wajah ini sebelumnya. Bahkan, dia sangat yakin.


——


Jemima pulang larut hari ini. Selain mengambil jatah lembur, dia juga baru saja ada janji temu dengan Joaquin. Beberapa hari ini pertemuannya dengan Joaquin memang lebih intens.


Jemima masuk ke supermarket langganannya yang buka 24 jam untuk membeli sesuatu. Waktu menunjukkan hampir pukul sebelas malam ketika dia berjalan menuju rumah. Tubuhnya benar-benar sangat letih. Ditambah rasa mual dan pusing yang masih sering menyerangnya, membuat tubuhnya belum sehat sepenuhnya.


Beberapa blok lagi dan Jemima akan segera sampai. Setelah itu, dia bisa langsung meminum susu ibu hamil dan merebahkan tubuh lelahnya di atas ranjang.


Lingkungan di sekitar kompleks sudah terlihat sepi. Hanya ada dua orang security yang berjaga di area kompleks tempat tinggalnya. Jemima menyapa kedua lelaki yang sudah dikenalnya itu.


Sesampainya di dalam rumah, Jemima segera berganti baju dan membuat susu untuk dirinya sendiri. Sembari menunggu air panasnya mendidih, Jemima menuang air putih ke dalam gelas kecil. Dia kehausan setelah berjalan cukup lama dari restoran.


Bunyi melengking menandakan bahwa air panasnya sudah mendidih. Jemima menuang air panas itu ke dalam gelas yang sudah diisinya dengan bubuk susu. Belum sampai dia meminumnya, kepala Jemima mendadak pusing. Rasa pusing yang dia rasakan berbeda dari rasa pusing sebelum-sebelumnya. Tubuhnya tiba-tiba lemas.


Jemima bermaksud berjalan menuju kursi terdekat, namun tubuhnya gemetar hebat. Kakinya seakan tak bisa lagi menopang berat tubuhnya. Dengan tenaga yang dia punya, Jemima berusaha sekuat tenaga meraih kursi yang berada tak jauh darinya. Namun, rasa sakit kemudian menghantam kepalanya. Pandangannya kabur. Tidak ada suara yang keluar dari tenggorokannya ketika dia mencoba berteriak.


——


Alek sedang menghadiri rapat penting ketika seseorang menggedor pintu ruang rapatnya dengan keras. Semua yang ikut rapat, termasuk neneknya, mengalihkan pandangan mereka pada pintu secara bersamaan.


Alek memutuskan untuk tidak menggubris gedoran pada pintu itu dan melanjutkan rapat. Namun, sekali lagi pintu itu berbunyi dengan keras dan mengganggu konsentrasi mereka.


"Sebaiknya kau lihat dulu, Alek. Siapa tahu memang ada sesuatu yang penting," ujar salah seorang teman neneknya yang juga pemegang saham di perusahaannya.


Alek mau tidak mau menuruti ucapan lelaki tua itu dan membuka pintu.


"Damn you, Alek! Aku berniat mendobrak pintumu jika kau tak juga membukanya."

__ADS_1


Alek hanya tertawa mendengar bualan itu.


"You look like a mess, Astrid." Alek memandangi wanita yang ada di hadapannya. Dia sedikit kaget ketika membuka pintu dan mengetahui ternyata Astrid yang sejak tadi menggedor pintunya. Melihat sekretaris dan beberapa petugas keamanan yang ada di belakang Astrid, sepertinya sahabat istrinya ini masuk ke sini dengan paksa.


"What do you want?" Bukan suara Alek, melainkan Matt yang entah sejak kapan berdiri di belakangnya yang bertanya.


"Ada satu hal yang harus kuberitahukan, Alek." Alek melihat Astrid sedikit terengah-engah dan mulai mengatur napasnya. Kemudian wanita itu melanjutkan, "She is gone, Alek. Aku sudah mencarinya kemana-mana dan tidak ketemu."


Alek mengerutkan kening mendengar ceracauan Astrid yang begitu cepat. "Who?" Perasaan Alek mulai diliputi keresahan.


"Jemima. Dia menghilang!"


——


Mereka duduk di sofa yang ada di kantor pribadi Alek. Setengah jam yang lalu dia membatalkan rapatnya. Setelah berkali-kali meminta maaf, akhirnya mereka mau mengerti dan membiarkan Alek menyelesaikan masalahnya terlebih dahulu.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" Alek menatap tajam Astrid yang berdiri mondar-mandir di hadapannya. "Demi Tuhan, Astrid! Bisakah kau duduk diam dan menceritakan kepada kami apa yang terjadi?"


"Aku sudah mengatakan padamu tadi. Jemima hilang. Itu yang sebenarnya terjadi."


"Dengar.. kami sedang banyak urusan. Jadi, jika kau datang kemari hanya untuk mengada-ada, lebih baik kau segera pergi."


Matt berdiri tepat di hadapan Astrid. Kata-katanya yang tajam membuat wajah wanita itu merah padam.


"Aku tidak mengada-ada! Lagipula, aku kesini untuk bertemu dengan Alek, bukan denganmu!" Astrid mulai meninggikan suaranya.


"Kalian berdua hentikan!" Alek maju dan berdiri di antara Astrid dan Matt. "Duduklah. Dan ceritakan pada kami dari awal hingga akhir."


Alek mulai bisa bernapas lega ketika Astrid menuruti kata-katanya dan duduk di sofa paling ujung.


"Kemarin aku mampir ke rumah sewaan Jemima untuk mengantarkan makanan. Sebelumnya Jemima sudah memberitahuku bahwa kemarin dia mendapatkan jatah libur dari restoran tempat dia bekerja."


Mendengar kata 'bekerja' dan 'restoran' membuat Alek terperangah. Pikirannya mulai melayang kemana-mana.


Jemima bekerja di restoran? Bagaimana mungkin dia bisa melewatkan informasi yang satu ini? Berbagai macam pertanyaan muncul di benak Alek, tapi ditahannya. Dia tidak ingin menyela cerita Astrid.


"Sesampainya di sana, Jemima ternyata tidak ada. Aku berpikir mungkin dia pergi mendadak ke restoran. Karena itulah, aku mencarinya ke restoran. Lorna, pemilik restoran, mengatakan bahwa Jemima belum kesana. Aku berpikir lagi, mungkin Jemima hanya keluar sebentar dan memutuskan kembali ke rumahnya. Aku di sana seharian, tapi tidak ada tanda-tanda Jemima akan kembali."


"Apa kau sudah bertanya pada lelaki bernama Max itu? Siapa tahu saat ini dia sedang bersenang-senang dengan selingkuhannya." Pertanyaan sinis itu keluar begitu saja dari mulut Madam Rowena.


"Grandma." Alek mulai menegur neneknya.


"Aku hanya mengatakan yang sebenarnya," jawab neneknya tak acuh.


"Excuse me, Madam. I guess, Jemima has nothing to do with Max. Mereka tidak punya hubungan apa-apa. Jadi jangan menuduh sembarangan." Astrid mulai berdiri dari duduknya. Dia mengambil tas kecilnya dan berjalan menuju pintu.


"Seharusnya tadi aku mengikuti instingku. Menemuimu bukanlah hal yang bijak, Alek. Lupakan semua perkataanku tadi. Aku akan mencari Jemima. Sendiri," lanjut Astrid.


Alek melihat Astrid yang berjalan melewatinya dalam diam. Wanita itu sepertinya tidak main-main dengan ucapannya. Dia ingin menghentikan Astrid untuk menyelesaikan ceritanya. Namun, yang bisa dilakukannya hanyalah memandang kepergian wanita itu. Dalam hati, dia memikirkan ucapan neneknya. Ada kemungkinan Jemima memang pergi dengan Max.


Sebelum membuka kenop pintu, Astrid sekali lagi berbalik.


"Alek, you know what? Aku tidak habis pikir bagaimana Jemima bisa jatuh cinta padamu. Bahkan setelah kau perlakukan seperti ini pun dia masih mencintaimu. Seharusnya aku langsung berikan saja berkas perceraian yang waktu itu kau kirimkan ke rumahku. Supaya Jemima bisa menandatanganinya dan secepatnya berpisah denganmu."

__ADS_1


Setelah mengucapkan semua hal yang ingin diucapkannya, Astrid memutar kenop pintu. Tapi sebelum benar-benar keluar dia sekali lagi berbalik.


"Satu hal lagi yang perlu kau tahu. She is pregnant. With your child."


__ADS_2