
Jemima tersenyum sendiri saat mengamati Alek dari kejauhan. Dia sedang berada di kantor suaminya. Beberapa minggu ini, dia memang sering mengunjungi Alek di kantor. Hanya untuk makan siang bersama.
Dirinya duduk di salah satu sofa. Melihat Alek yang sedang rapat dengan beberapa rekan kerjanya melalui dinding kaca. Kaki suaminya kini sudah sembuh. Tidak ada lagi tongkat untuk membantunya berjalan.
Alek berdiri di depan meja rapat. Tangan kirinya memegang boardmarker. Sepertinya sedang menjelaskan sesuatu kepada rekan-rekannya yang lain. Sesekali tangannya terlihat mencoret-coret whiteboard yang tersedia di dinding.
Jemima menyukai Alek yang seperti ini. Serius. Pintar. Berwibawa. Oh, hell. Dia menyukai Alek dalam keadaan apapun.
"We need to talk." Jemima melepaskan pandangannya dari Alek dan beralih ke sosok wanita dengan gaun elegan yang sudah berdiri di sampingnya.
Madam Rowena. Seketika rasa tidak tenang menyelimuti hatinya.
"Tidak di sini," lanjut wanita tua itu. Setelah mengucapkannya, Madam Rowena langsung berbalik pergi.
Jemima kembali mengalihkan pandangannya pada Alek yang masih sibuk dengan rapatnya. Entah kenapa berat sekali untuk menuruti perintah Madam Rowena.
Dia masih ingin di sini. Memandangi wajah suaminya walaupun hanya dari kejauhan.
"Sekarang, Jemima!" Jemima tersentak kaget. Dia menatap Madam Rowena yang sekarang berdiri di depan lift. Tatapannya berkilat marah. Membuatnya bergidik ngeri.
Dengan terpaksa dia mengambil tasnya dan sedikit berlari untuk menyamakan langkah.
Mereka diam selama berada di dalam lift. Telapak tangan Jemima mulai berkeringat karena tegang. Kentara sekali bahwa apa yang akan dibicarakan Madam Rowena bukanlah sesuatu yang menyenangkan.
Apakah dia akan menyuruhnya untuk bercerai dengan Alek? Tidak. Tentu saja tidak.
Selama ini Madam Rowena tidak pernah mengungkit-ungkit lagi masalah perceraian itu.
Ya Tuhan. Hanya memikirkan hal ini saja bisa membuatnya mual.
"Kita naik mobilku," perintah Madam Rowena.
Jemima tidak menjawab. Dia hanya mengikuti langkah nenek Alek menuju mobil yang sudah menunggu di depan kantor.
Sepuluh menit mobil bergerak, Madam Rowena belum mengatakan apapun. Membuat suasana semakin tegang.
Sepuluh menit lagi berlalu dan wanita tua di sampingnya masih belum mau membuka suara.
God. Dia bisa mati tegang jika begini terus.
"Maaf, Madam..sebenarnya apa yang ingin Anda bi.."
"Aku ingin kau bercerai dengan cucuku."
Tubuh Jemima seketika lemas. Dalam hati dia berteriak. Dia pasti salah dengar. Tidak mungkin Madam Rowena tega melakukan hal ini padanya.
"Tidak. Kau tidak salah dengar." Jemima memegang bibirnya. Rupanya dia tadi menyuarakannya dengan keras. " Aku ingin kau menepati janjimu, Jemima. Ceraikan cucuku. Alek layak mendapatkan seorang istri yang lebih baik dari dirimu," lanjut Madam Rowena ketus.
Jemima terdiam. Dia tidak tahu harus mengatakan apa. Jantungnya berdegup kencang. Rasa mual yang sejak tadi dirasakannya kini semakin menguat.
__ADS_1
"Tapi.." belum sempat Jemima mengutarakan protesnya, tiba-tiba mobil berhenti.
"Keluar." Jemima bergeming. Dia seakan-akan belum bisa mencerna semua perkataan Madam Rowena. "Aku bilang keluar dari mobilku!"
Matanya menatap tidak percaya. Betapa kejamnya. Betapa tidak berperasaan.
Jemima bisa merasakan matanya basah. Tega-teganya wanita itu melakukan hal ini. Dia tidak akan membiarkan wanita ini menyetir hidupnya lagi. Tidak akan pernah.
"Dengar, Nyonya. Aku tarik kata-kataku. Aku. Tidak. Akan. Pernah. Menceraikan. Alek," katanya dengan penuh keberanian.
"Benarkah? Aku pikir kau lebih baik dari ini. Selain tukang selingkuh, ternyata kau wanita yang suka mengingkari janji." Madam Rowena menjawab sinis.
"Aku tidak pernah berselingkuh. Harus berapa kali aku mengatakannya?" Suara Jemima meninggi. Perkataan Madam Rowena benar-benar sudah menusuk hatinya.
"Jangan berteriak padaku!"
"Aku berhak untuk berteriak. Karena Anda sudah menuduhku." Jemima mengatur napasnya. Berusaha bersikap setenang mungkin. "Satu lagi. Aku bukan tipe wanita yang akan menyerah begitu saja tanpa perlawanan."
Jemima menyipitkan matanya ketika tiba-tiba Madam Rowena tertawa kencang. "Kau sangat yakin sekali," katanya setelah tawanya reda.
"Apakah kau masih akan tetap bertahan jika mengetahui apa yang Alek pikirkan tentangmu?"
Jangan terpancing, Jemima. Jangan terpancing. Wanita ini hanya ingin membuat emosimu naik.
Dia berusaha menenangkan dirinya dalam hati.
Deg.
Darimana wanita ini tahu? Apakah Alek yang menceritakannya? Tentu saja tidak, bodoh. Jemima tahu Alek bukan tipe lelaki yang akan mengumbar masalahnya kepada orang lain. Terlebih lagi kepada neneknya.
"Aku kenal baik cucuku. Dia diam bukan berarti dia sudah memaafkanmu. Aku berani pastikan bahwa sampai saat ini dia masih berpikir. Apakah perhatian yang selama ini kau berikan tulus atau hanya sebagai bentuk rasa bersalahmu."
Jemima ternganga. Sebagai bentuk rasa bersalah? Apa wanita ini gila? Ya Tuhan. Dia tahu bahwa selama ini dirinya masih menyimpan rasa bersalah yang sangat besar kepada Alek. Tapi semua yang dilakukannya untuk Alek tulus. Karena dia benar-benar mencintai suaminya.
Tiba-tiba rasa pusing menyerangnya. Jemima harus menutup matanya hingga pusingnya hilang. Berlama-lama dengan Madam Rowena sepertinya sangat mengganggu kesehatan dan juga emosinya. Sebaiknya dia segera pergi dari sini.
Tanpa banyak kata Jemima segera membuka pintu mobil dan membantingnya tertutup.
"Aku memberimu waktu 3 hari. Lebih dari itu, kita lihat saja apa yang bisa aku lakukan kepada keluargamu yang ada di Indonesia."
Jemima menatap tak percaya pada sosok Madam Rowena melalui kaca jendela mobil yang setengah terbuka. Keluarganya. Ayah dan Ibunya. Madam Rowena benar-benar tahu bagaimana cara untuk melemahkannya.
Jemima menatap nanar pada mobil Madam Rowena yang bergerak menjauh. Pandangannya buram oleh air mata yang kini mengalir deras di pipinya. Dia tahu bahwa kali ini dia sudah kalah.
Lagi.
——
Hal pertama yang dilakukan Alek ketika sampai rumah adalah mencari Jemima. Sejak tadi di kantor dia tidak bisa tenang saat salah satu karyawan mengatakan bahwa istrinya dibawa pergi oleh neneknya.
__ADS_1
Dugaannya selama ini terbukti benar. Memang ada sesuatu antara neneknya dan istrinya. Dan sesuatu itu bukanlah hal baik.
Perasaan Alek diliputi kekhawatiran. Dia segera pergi menemui Joaquin.
"Joaquin!" Tidak perlu berteriak dua kali, pria tua itu sudah tergopoh-gopoh menemuinya.
"Di mana istriku?" tanyanya ketika Joaquin sudah ada di hadapannya.
"Mungkin dia sedang berada di kamar, Tuan. Karena setahu saya, Nyonya Jemima sudah pulang sejak sore tadi."
Alek langsung menaiki tangga satu per satu.
"Jemima?" Alek memasuki kamar mereka yang gelap. Mencari sakelar yang ada di sebelah kanan pintu. Dan menghidupkan lampu.
Joaquin benar. Dia melihat Jemima sedang berbaring membelakanginya di atas ranjang. Istrinya masih memakai baju yang dikenakannya sejak tadi pagi. Sama sekali bukan kebiasaan Jemima untuk tidak berganti pakaian seharian.
"Jem?" panggilnya sekali lagi. Alek menepuk pelan pundak istrinya.
"Alek?" suara istrinya serak.
"Ya. Ini aku." Jemima membalikkan tubuhnya. Tuhan. Wajah istrinya seputih kertas. "Apa kamu sakit? Ya Tuhan, Sayang. Kamu pucat sekali." Alek meraba kening istrinya. Lagi-lagi dia diliputi perasaan khawatir. Tidak panas. Tapi memang istrinya agak demam.
"I'm fine, Alek. Hanya saja kepalaku pusing sekali."
"Kita ke dokter sekarang."
Alek melihat istrinya menggelengkan kepala. "Aku sudah minum obat tadi. Pusingku sudah hilang. Aku hanya sedikit kedinginan."
"Apa kamu perlu selimut tambahan? Tunggu sebentar. Aku akan mengambilkannya untukmu." Alek hendak beranjak dari ranjang, namun ditahan.
"I don't need anything, Alek. I just need you."
Alek menurutinya. Dia melepaskan jas dan sepatunya untuk bergabung dengan Jemima di ranjang. Memeluk tubuh istrinya erat.
"Kamu yakin tidak ingin ke dokter?" Jemima menggeleng. Alek pun tidak mau memaksa.
"Jem—ada masalah apa antara kamu dan nenek?"
Pelukan Istrinya melonggar. Semakin meyakinkan memang ada ketegangan di antara mereka.
"Jem—" Masih belum ada jawaban. Menit berikutnya yang terdengar adalah suara isakan.
Pelukan Alek kembali mengetat. Mengusap punggung istrinya. Menenangkan.
"Apa yang dilakukan nenek padamu? Dia menyakitimu? Katakan padaku, Jem. Katakan saja semuanya kepadaku."
Alek tidak lagi memaksa ketika Jemima tidak juga memberikan Jawaban. Dia tetap menenangkan istrinya dengan kata-kata lembut dan usapan.
Besok. Alek akan bertanya sendiri pada neneknya. Tentang apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka.
__ADS_1