
Terdampar di negeri orang tanpa melakukan apapun adalah hal yang menyebalkan. Lebih menyebalkan lagi, hal itu dikarenakan suami sendiri yang menelantarkan. Selama dua hari ini, Alek lebih memilih pekerjaannya dibanding menghabiskan waktu bersamanya. Membuat Jemima uring-uringan sepanjang waktu.
Mereka hampir bertengkar hebat tempo hari ketika Alek tiba-tiba menyeretnya kembali ke hotel di hadapan Max. Dengan tegas Alek bahkan mengatakan bahwa dia tidak boleh pergi ke manapun tanpa sepengetahuannya.
Termasuk bertemu lagi dengan temanmu yang bernama Max itu. Ucap Alek kala itu.
Jemima tidak tahu sejak kapan Alek jadi semenyebalkan ini. Lelaki itu bahkan menyewa dua orang lelaki asing untuk menjaganya.
You need bodyguards selama aku tidak ada.
Berengsek!
Dia bukanlah Kate Middleton yang harus dijaga setiap menit. Dia bahkan tidak menikah dengan putera seorang raja.
Jemima mendengar suara pintu terbuka. Sudah hampir tengah malam dan Alek baru saja kembali. Seperti sehari sebelumnya. Dia langsung menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut dan berpura-pura tidur.
Jemima bisa merasakan kasurnya melesak ketika diduduki Alek. Beberapa detik kemudian, dia bisa merasakan elusan lembut di puncak kepalanya dan kecupan singkat di dahinya.
"Aku tahu kalau kamu belum tidur." Jemima tetap bergeming. Dia masih bertahan dengan aksi 'pura-pura tidur' nya.
"Aku minta maaf karena meninggalkanmu sendirian selama dua hari ini." Jemima tidak mau termakan oleh permintaan maaf yang keluar dari bibir Alek.
"Sebagai gantinya, besok kamu boleh mengajakku ke manapun yang kamu inginkan." Kalimat terakhir berhasil membuatnya membuka mata.
"Ke manapun?" Dia langsung menegakkan tubuhnya dalam posisi duduk. Matanya sejajar dengan mata Alek.
Lelaki di hadapannya mengangguk. "Ke manapun."
Jemima tidak bisa menutupi kegirangannya. Dia langsung memeluk tubuh suaminya untuk meluapkan rasa bahagianya. Secepat dia memeluk Alek, secepat itu pula dia melepaskan ketika menyadari apa yang sudah dilakukannya.
Ternyata dia kalah cepat. Karena detik berikutnya, tangan kokoh suaminya berhasil merengkuhnya kembali dan mendaratkan ciuman tepat di bibirnya.
——
Rasa bahagia Jemima meluap. Setelah dua hari di Paris tanpa bisa pergi kemana-mana, akhirnya dia bisa juga memutari kota mode tersebut.
Tujuan pertama dari jalan-jalan kali ini adalah Museum Louvre. Tidak seperti orang-orang kebanyakan yang akan mengunjungi Menara Eiffel ketika pertama kali datang ke sini. Jemima justru memilih untuk mengunjungi salah satu museum terbesar di dunia itu. Dia bukanlah orang yang romantis. Karena itulah dia merasa tidak tertarik dengan adegan ciuman di bawah menara yang pernah menjadi salah satu dari tujuh keajaiban dunia.
Setelah merengek berkali-kali, akhirnya Alek mau menemaninya meskipun dengan terpaksa. Jemima mengatakan bahwa ini sebagai hukuman karena Alek lebih mementingkan pekerjaannya selama di Paris daripada dirinya.
“Alek, cepat sedikit jalannya!” Jemima berkacak pinggang, terlihat sebal melihat suaminya yang berjalan tanpa semangat.
“I hate museum! Kenapa kamu tidak memilih tempat lain saja? Aku akan dengan senang hati mengantarmu,” gerutu Alek.
Jemima tidak menggubris gerutuan Alek dan segera menarik lengan suaminya menuju pelataran museum. Alek yang tidak bisa berbuat apa-apa hanya bisa menahan kekesalannya dan menuruti semua kemauan istrinya.
"Kamu sendiri yang mengatakan akan mengantarku ke manapun aku mau. Jadi, penuhi saja janjimu."
Kata-katanya berhasil membuat suaminya bungkam. Tanpa semangat Alek membuntutinya dari belakang.
Museum Louvre atau Musee du Louvre mempunyai tiga pintu masuk. Piramida kaca merupakan pintu utamanya. Selain itu, pengunjung juga dapat masuk melalui Carrousel du Louvre yang merupakan mall bawah tanah atau bisa juga melalui Porte des Lions yang terletak di dekat ujung barat Denon wing.
Jemima memilih untuk masuk melalui piramida kaca. Karena dia bisa langsung melihat Inverted Pyramid yang merupakan bayangan dari Louvre Pyramid.
Jemima begitu terkagum-kagum dengan pemandangan yang ada di depannya. Bangunan museum yang sungguh klasik dipadukan dengan bangunan Piramida Kaca yang modern membangkitkan imajinasinya.
Jemima melihat kerumunan orang di pelataran museum dengan mulut menganga. Dia tidak menyangka bahwa pengunjung museum bisa sebanyak ini. Beberapa remaja dilihatnya sedang berpose dengan latar museum. Beberapa orang yang lain dilihatnya sedang duduk-duduk di kolam dekat Piramida Kaca. Dan entah apalagi yang pengunjung lain lakukan. Dia tidak mungkin mengamati satu per satu pengunjung yang jumlahnya ratusan atau ribuan.
Jemima memutuskan untuk segera membeli tiket masuk. Dia mengerucutkan bibirnya melihat antrean panjang manusia di depannya. Ketika hendak mengantre, tiba-tiba Alek menarik tangannya menjauh.
“What the hell are you doing? Nanti antreannya bisa tambah panjang.”
“Aku kenal dengan beberapa orang penting di dalam. Kita bisa masuk ke sana tanpa harus mengantre sebanyak itu.” Alek menunjuk antrean panjang tadi dengan kesal.
“Aku tidak mau!” Alek mendadak melepaskan pegangannya dan hampir membuat Jemima tersungkur. Dia mengelus pergelangan tangannya yang digenggam Alek terlalu kuat.
“Apa maksudmu tidak mau?” Kali ini giliran Alek yang berkacak pinggang. Mata zamrudnya berkilat marah.
Jemima mendengus sebal melihat tingkah suaminya yang sok. “Aku mau masuk dengan mengantre di sana seperti seharusnya.” Jemima menunjuk barisan panjang pengunjung yang sudah bertambah banyak. “Jika kamu ingin masuk tanpa mengantre, silakan. Aku akan tetap membeli tiket di sana.”
Tanpa memedulikan jawaban suaminya, Jemima segera berbalik menuju ke antrean tiket.
Rupanya dia terlalu cepat membalikkan badan sehingga tidak melihat dua orang pemuda berjalan dari arah samping dan tanpa sengaja menabraknya. Dia terjatuh.
“Jemima!” Alek segera berlari mendekati istrinya. “Are you okay?”
Jemima meringis ketika merasakan kaki kanannya berdenyut. Kedua pemuda yang menabraknya juga sudah berlutut di sampingnya. Mereka menggumamkan permintaan maaf berulang kali. Wajah mereka tampak khawatir dengan keadaan dirinya.
__ADS_1
“I’m okay, Alek. Tolong katakan itu kepada mereka dan suruh mereka melanjutkan turnya.” Alek menuruti permintaan istrinya dan mengatakan kepada kedua pemuda itu bahwa istrinya baik-baik saja dalam bahasa Perancis.
Setelah menggumamkan permintaan maaf sekali lagi, mereka pergi meninggalkan Alek dan Jemima.
Alek membantu Jemima berdiri. Wajahnya tampak cemas ketika melihat istrinya meringis kesakitan.
“Kamu yakin tidak apa-apa? Sebelah mana yang sakit?”
“Kakiku.” Jemima berkata pelan. “Sepertinya terkilir.”
——
Alek benar-benar tidak mengerti jalan pikiran istrinya. Seandainya saja dari awal dia menurutinya, kecelakaan kecil tadi tidak akan terjadi. Dia berjalan pelan menghampiri istrinya yang duduk sendirian di pojok. Kedua tangannya membawa dua cangkir kopi yang uapnya masih mengepul.
Mereka sedang berada di food court yang ada di dalam museum. Alek berniat langsung membawa Jemima kembali ke hotel. Tapi istrinya memaksa agar mereka tetap masuk ke dalam museum.
Selama hampir dua jam mereka berdua duduk di pinggiran kolam dekat Piramida Kaca. Ada seorang wanita tua-seorang gypsi-yang melihat kecelakaan itu. Dia menawarkan diri untuk membantu mengobati istrinya memakai ramuan yang dibawanya.
Awalnya Alek menolak. Namun dikarenakan Jemima yang lagi-lagi memaksanya, dia membiarkan wanita gypsi itu mengobati kaki istrinya. Seorang gypsi di keramaian kota Paris lengkap dengan ramuan-ramuan ajaibnya, mengejutkan bukan?
Dia tidak pernah benar-benar menyukai kaum gypsi. Entah apa alasannya. Mungkin karena banyaknya cerita yang dia dengar bahwa kaum gypsi identik dengan penyihir atau hal-hal aneh lainnya.
Wanita itu mengatakan bahwa kaki istrinya akan sembuh dalam waktu beberapa jam. Memang tidak akan sembuh sepenuhnya, tapi setidaknya dia masih bisa berjalan-jalan memutari museum sebentar. Wanita itu tersenyum ramah ketika istrinya menggumamkan terima kasih.
“Oleskan ini di kaki istrimu sebelum dia tidur. Obat ini bisa mengurangi bengkak yang ada di kakinya.” Alek menerima sebotol obat yang diberikan wanita gypsi itu.
Dia mengeluarkan dompet dari sakunya bermaksud untuk membayar. Tapi wanita gypsi itu menolaknya dan mengatakan, “Tidak semua hal diukur dengan uang, Young Man. Jaga istrimu baik-baik. Kelak, cintanya bisa memberikan kebahagiaan yang seutuhnya kepadamu.”
Setelah mengucapkan kalimat itu, wanita gypsi tersebut berpamitan. Meninggalkan Alek dan Jemima dengan wajah penuh tanya.
——
La Jaconde atau yang terkenal dengan sebutan Mona Lisa adalah sebuah lukisan yang sangat indah. Lukisan itu ternyata tidak terlalu besar. Namun tetap saja, Mona Lisa menjadi daya tarik terbesar di Louvre Museum.
Dibandingkan dengan karya seni lain yang ada di museum ini, Mona Lisa yang paling banyak dilihat pengunjung. Leonardo da Vinci bisa tertawa puas karena lukisannya ini menjadi salah satu lukisan paling terkenal di seluruh dunia.
Setelah meminum kopi yang dibelikan oleh Alek dan menghabiskan makan siangnya, Jemima meminta Alek untuk menemaninya berjalan-jalan keliling museum. Tanpa berpikir terlalu lama, Jemima langsung mengajak Alek menuju ke Denon Wing. Di sayap itulah lukisan Mona Lisa berada.
Jemima meninggalkan lukisan Mona Lisa setelah puas mengambil beberapa gambar. Dia berniat mengunjungi dua sayap lainnya yaitu Sully Wing dan Richelieu Wing ketika Alek menarik tangannya agar berhenti.
“Demi Tuhan, Jemima. Kamu tidak akan mengelilingi seluruh bagian museum ini dengan kaki tertatih-tatih seperti itu, kan?” Alek mulai geram.
“Kalau iya kenapa?” tantangnya.
Ck. Dia mendengar Alek mendecakkan lidah. Suaminya itu kini mengusap-usap tengkuknya dengan gelisah. Jemima sebenarnya kasihan juga melihat Alek yang harus mengikutinya kemana-mana.
“Kamu harus istirahat. Kakimu bisa tambah parah jika nekat mengelilingi museum ini,” ujar Alek dengan lebih lembut.
Jemima menggigit bibir bawahnya tanda bahwa dia sedang berpikir. Alek benar. Dia kembali merasakan denyutan di kakinya. Sepertinya obat wanita tua itu tidak benar-benar manjur. Tapi masih ada satu karya seni lagi yang sangat ingin dilihatnya.
“Masih ada satu karya seni lagi yang sangat ingin aku lihat, Alek.” Jemima bersikeras.
“God! Aku bisa mengantarmu ke sini lagi setelah kakimu sudah benar-benar sembuh.” Teriakan Alek mengundang beberapa pasang mata yang ada di sekitarnya.
Jemima yang tidak ingin perdebatan mereka didengar banyak orang menarik Alek menjauh dari kerumunan. Mereka merapat ke salah satu dinding museum.
“Hanya satu patung lagi, Alek. Setelah ini aku akan menuruti semua permintaanmu. Please,” mohon Jemima.
——
“Cium aku!” Jemima membelalakkan matanya mendengar permintaan Alek. Dilihatnya wajah suaminya yang sebelumnya penuh kekesalan berubah menjadi wajah penuh seringai jail.
Sial! Seharusnya dia tidak pernah mengatakan itu. Seharusnya dia menuruti Alek dan kembali ke hotel bersamanya.
Jemima melihat senyum meremehkan di sudut bibir Alek. Dia benci senyum itu! Demi Tuhan, apa yang harus dilakukannya sekarang? Menjilat ludahnya dan memilih kembali ke hotel? Alek pasti menertawainya habis-habisan.
Diedarkannya pandangan ke seluruh penjuru museum. Banyak sekali orang. Tidak mungkin mereka berciuman di tempat seramai ini. Alek pasti sudah sinting jika memaksanya untuk melakukan itu.
“Baiklah. Aku akan menciummu nanti setelah kita sampai di hotel,” Jemima berbisik pelan. Dia menjilat bibirnya berkali-kali dengan lidah.
“Cium. Aku. Sekarang.” Jemima merapatkan tubuhnya ke dinding ketika tubuh Alek beringsut mendekat. Dadanya berdegup kencang.
“Tapi ini tempat umum, Alek.” Bibir Jemima sedikit bergetar. “Banyak orang yang akan melihat.”
Jemima menutup matanya ketika Alek tidak menggubris ucapannya dan semakin mendekatkan bibirnya ke bibir Jemima.
“Jemima!” Sebuah suara menyentakkan mereka berdua. Jemima mengembuskan napas lega karena merasa diselamatkan. Dia langsung membuka matanya dan mencari si pemilik suara. Alek juga melakukan hal yang sama.
__ADS_1
“Ah. Ternyata memang benar kamu,” lanjut suara itu.
“Max!” Jemima mengambil kesempatan itu untuk menjauh dari Alek. Dia berjalan tertatih-tatih mendekati Max.
“Kakimu kenapa?” Max mengerutkan kening. Wajahnya menampakkan mimik khawatir.
“Tidak apa-apa. Ini hanya terkilir.”
“Astaga, Jemima. Seharusnya kau istirahat bukannya keluyuran di museum ini dengan kaki bengkak seperti itu.”
Jemima tertawa lepas. Dia senang mendapatkan perhatian dari Max. Jika bukan karena dehaman Alek, Jemima pasti sudah tenggelam dalam obrolan seru dengan Max dan melupakan suaminya.
“Kau bersama seseorang rupanya.” Max menyunggingkan senyum ramah ke arah Alek.
“Hi. Namaku Maximillian. Panggil saja aku Max. Kau suaminya, bukan?” Max mengulurkan tangannya yang disambut dingin oleh Alek.
“Apa aku mengganggu kalian?” Lanjut Max.
“Ya.”
“Tidak.”
Alek dan Jemima menjawab bersamaan. Jemima menyipitkan matanya seolah-olah berkata-bersikap sopanlah di hadapan temanku-kepada Alek.
“Kau tidak mengganggu, Max. Tenang saja.” Akhirnya Alek mengucapkan kalimat itu dengan terpaksa.
“Kalau begitu boleh aku bertanya apa yang kau lakukan di sini dengan kaki seperti itu?”
Jemima menceritakan secara detail tentang kecelakaan kecil yang menimpanya. Dia juga mengungkapkan keinginannya untuk tetap berkeliling museum karena ada satu patung yang sangat ingin dilihatnya.
“Tunggu di sini sebentar, Jemima. Jangan kemana-mana. Oke!” Max mengatakan itu sambil berlari menjauh.
Dalam jeda itu, dirinya dan Alek hanya diam. lagipula, Alek juga tidak berkomentar apapun mengenai Max. Jadi dia merasa tidak punya kewajiban untuk menjelaskan.
Selang beberapa menit, Max kembali dengan senyum merekah di bibirnya sambil membawa kursi roda.
"Aku akan menemanimu kalau begitu. Duduklah." Jemima melihat sekilas ke arah Alek. Meminta persetujuannya lewat mata.
Ketika Alek diam saja, Jemima mengartikannya sebagai jawaban iya. Dengan pelan dia duduk di atas kursi roda. Dan membiarkan Max membawanya ke tempat yang dia inginkan.
——
Berengsek!
Alek mengumpat dalam hati. Dia benar-benar tidak menyukai situasi ini. Dia seperti orang bodoh yang hanya diam saja melihat istrinya dibawa pergi laki-laki lain.
Baiklah. Sebelumnya lelaki sialan itu memang sudah meminta ijin kepadanya untuk membawa istrinya berkeliling museum dan dia mengikuti di belakang mereka. Tapi tetap saja, dia benci melihat keakraban Jemima dengan lelaki lain.
Cemburu.
Apakah benar dia cemburu? Tentu saja tidak. Jemima bahkan belum genap satu bulan menjadi istrinya. Dia hanya sedikit merasa terabaikan. Alek belum pernah melihat istrinya tertawa selepas itu. Dan tadi, entah dia salah melihat atau tidak, dia melihat rona samar menghiasi kedua pipi istrinya setiap kali lelaki yang bernama Max itu mengatakan lelucon konyol.
“Baiklah. Ini karya seni terakhir yang kita kunjungi hari ini,” ucap Max.
Mau tidak mau Alek mengamati patung yang berdiri di depannya. Venus de Milo. Patung yang menggambarkan Aphrodit. Dewi cinta dan kecantikan dari Yunani.
Patung inilah yang sejak tadi ingin dilihat istrinya. Alek memang tidak terlalu menyukai seni, tapi bukan berarti dia tidak mengerti seni sama sekali.
Diliriknya Jemima sekilas. Wanita itu sedang asik berdiskusi dengan lawan bicaranya. Saat itulah dirinya sadar bahwa wajah Max terasa tidak asing baginya. Dia mengamati lelaki itu dengan lebih saksama.
“Ada apa? Is there something on my face, Alek?” Alek tiba-tiba dikejutkan oleh suara Max.
“Nothing,” Alek menjawab singkat. Ketika dia masih melihat kerutan di dahi Max, dia menambahkan, “Aku hanya merasa pernah melihat wajahmu. Namun entah di mana.” Alek mengedikkan bahunya tak acuh.
“Wajahku ini pasaran,” gurau Max. “Bukankah ada yang mengatakan bahwa setiap orang punya kembaran di dunia ini.”
Alek tidak menanggapi kalimat terakhir Max. Dia lebih memilih mengalihkan pandangannya ke arah Jemima. Istrinya itu sedang memandangi patung di depannya dengan penuh konsentrasi. Beberapa kali dia memotret Venus de Milo dari atas kursi rodanya.
Seperti yang dikatakan Max, patung ini menjadi tujuan terakhir mereka. Setelah jemima puas, Alek menyarankan agar mereka kembali ke hotel. Max, tentu saja masih mengikuti mereka sampai ke pintu keluar. Dia bahkan menunggu hingga mobil yang menjemput mereka datang.
“Terima kasih, Max. Kau benar-benar membuatku senang hari ini,” Jemima tersenyum lebar.
Alek yang masih saja kesal melihat kedekatan istrinya dengan lelaki itu segera membantu istrinya untuk naik ke dalam mobil. Sebelum pergi, Alek menggumamkan terima kasih sembari mengulurkan tangannya. Walaupun dengan terpaksa.
“Oh, kau bisa mengembalikan kursi roda itu ke tempatnya semula, kan?” tanya Alek sebelum menutup pintu mobil. “Terima kasih sekali lagi.”
Tanpa menunggu jawaban Max, Alek menutup pintu mobil dan menyuruh sopirnya untuk segera kembali ke hotel.
__ADS_1