Perfect Oracle

Perfect Oracle
Morning Talk


__ADS_3

Hal pertama yang dia lihat ketika terbangun keesokan paginya adalah ranjang yang kosong. Pipinya seketika merona mengingat apa yang sudah mereka lakukan semalam. Jemima sampai menutup wajah saking malunya.


Kini, hubungannya dengan Alek sudah selangkah lebih maju. Bahagiakan dia? Sangat. Jemima bahkan sudah lupa kapan terakhir kali dia merasa sebahagia ini. Alek menginginkannya dan itu cukup.


Masih berlilitkan selimut, Jemima beranjak menuju kamar mandi. Dia menoleh ketika mendengar suara langkah kaki.


"Kamu sudah bangun? Aku sudah memesan sarapan untuk kita."


Napasnya seolah-olah dihentikan paksa melihat suaminya dalam balutan jins dan kaos lengan pendek warna blue navy. Lelaki inilah yang memberikannya surga dunia semalam. Memperlakukannya dengan lembut seolah dia barang yang mudah pecah.


"Sebaiknya kamu cepat mandi. Ada hal penting yang harus kita bicarakan."


Hal penting. Saat itulah Jemima sadar, ada yang berbeda dari raut wajah Alek. Tidak ada keceriaan dalam nada suaranya. Wajah tampannya terlihat lebih serius. Dan ada kerutan di sekitar dahinya.


"Ada apa? Apa ada masalah?" Kini kerutan berpindah ke dahinya. Jemima bermaksud mendekat, tapi Alek menghentikannya dengan cepat.


"Mandilah dulu."


Jemima tidak banyak bertanya lagi. Mungkin nanti. Dengan satu anggukan, dia melakukan apa yang disuruh Alek. Mandi secepatnya dan membicarakan apa yang suaminya ingin bicarakan.


——


"Duduklah."


Jemima mendudukkan pantatnya di atas sofa. Mereka sarapan dengan cepat. Tidak ada pembicaraan penting maupun basa-basi selama sarapan. Mungkin Alek benar-benar ingin fokus pada apa yang akan mereka bicarakan setelah ini.


Tapi tentang apa? Tentang semalamkah? Apakah Alek menyesal?


"Alek, ada apa? Kamu membuatku takut."


Alek mendudukkan dirinya di sebelah Jemima. Menarik napas panjang sebelum mengatakan apa yang ingin dia katakan.


"Aku ingin membicarakan soal semalam."


Semalam?


Jemima semakin merasa tidak tenang. Raut wajah yang diperlihatkan Alek tidak begitu menyenangkan. Dia terlihat sedikit--pucat?


"Aku tidak ingin berbasa-basi dan membuatnya lebih rumit." Alek menarik napas panjang sekali lagi.


"Semalam aku tidak memakai pengaman saat kita bercinta, Jemima. Mungkin saja saat ini kamu sudah hamil."


Jemima refleks memegang perutnya. Hamil? Benarkah orang bisa hamil hanya dari satu kali berhubungan intim? Bukankah itu kabar yang menggembirakan? Hal inilah yang selalu diminta oleh Madam Rowena. Lantas kenapa wajah Alek menyiratkan kebingungan?


"Ini hanya kemungkinan, Jemima. Kita masih harus memastikannya beberapa minggu lagi. Dan jika benar hasilnya positif, aku--aku tidak menginginkan bayi itu."


Jemima menatap Alek tak percaya. Kini giliran wajahnya yang tampak memucat. Dia mencoba untuk membantah ucapan Alek. Namun, tidak ada kata yang berhasil dia ucapkan. Dia terlalu terkejut mendengar pernyataan Alek yang di luar dugaan.

__ADS_1


"Kenapa? Bukankah ini yang nenekmu inginkan?" Akhirnya hanya pertanyaan itu yang mampu dia keluarkan setelah terdiam cukup lama.


"Maaf, Jemima. Aku sudah pernah mengatakan bahwa aku tidak menginginkan anak. And I mean it."


Ya. Jemima mengingatnya. Tapi waktu itu dia menganggap perkataan Alek tidak terlalu serius. Dan ketika mereka dihadapkan pada kehamilannya, Alek akan bisa menerima.


Sekarang Jemima tahu bahwa Alek memang serius.


"Tapi kenapa? Apa alasan kamu tidak ingin memiliki anak?"


"I just don't want it. Dan jangan pernah menanyakan itu lagi. Karena jawabanku akan tetap sama."


"Bagaimana kalau ternyata aku benar-benar hamil? Apa yang akan kamu lakukan?"


"Menggugurkannya." Jawaban singkat Alek membuat dadanya sesak.


Tega-teganya dia. Ya Tuhan. Suami macam apa sebenarnya Alek itu? Dengan wajah datar tanpa ekspresi dia menyuruhnya menggugurkan kandungannya. Membunuh bayi mereka!


"Bagaimana jika aku menginginkannya?"Jemima menatap Alek tajam. Sebisa mungkin dia menahan aliran air mata yang mendesak keluar.


"Kamu tetap harus menggugurkannya, Jemima."


——


Hubungan mereka merenggang. Hal itu langsung terlihat nyata ketika mereka kembali dari Paris. Jemima memutuskan kembali ke kamarnya dan tidak mau tidur sekamar dengannya.


Hal inilah yang lantas memicu kerenggangan di antara mereka. Alek tahu istrinya marah. Yang lebih parah, istrinya tidak berteriak-teriak atau mengumpat seperti yang dulu dia lakukan ketika marah. Kali ini Jemima hanya diam dan tidak banyak bicara. Yang justru membuat rasa bersalah Alek semakin menyiksa.


Ya Tuhan. Dia merindukan istrinya. Sangat.


Hari ini mereka harus kembali bicara serius. Alek tidak bisa membiarkan hubungan mereka yang sudah semakin dekat kembali menjadi seperti dua orang asing.


Mungkin bisa dimulai dengan dia mengungkap alasan sebenarnya kenapa dia tidak ingin istrinya hamil. Semoga saja Jemima mau mengerti dan memaafkannya.


Dengan sembarang Alek memarkir mobilnya di pelataran rumah. Dia segera berlari menuju kamar Jemima. Mereka harus bicara malam ini juga.


"Jem." Alek mengetuk pintu. Sekali. Dua kali. Tidak ada jawaban.


"Jemima." Alek kembali mengetuk, kali ini lebih keras. Masih tidak ada jawaban.


Alek mencoba memutar kenop pintu. Tidak terkunci. Tanpa izin dia langsung masuk dan memanggil nama istrinya sekali lagi.


Kamarnya ternyata kosong. Jemima tidak ada di manapun. Dan Alek mulai panik.


——


Jemima memencet bel berulang-ulang. Namun pintu itu tetap saja tertutup. Apakah tidak ada orang?

__ADS_1


Sudah hampir 20 menit dia berdiri di sini. Jemima memutuskan, jika dalam 5 menit pintunya tidak juga terbuka, dia akan pergi. Dan benar saja, 5 menit berlalu. Sementara pintu itu tetap tidak bergerak membuka.


Dengan berat hati Jemima meninggalkan apartemen tersebut dan berjalan menuju lift. Padahal dia berharap banyak akan pertemuan ini. Tapi apa mau dikata. Sepertinya nasib baik sedang tidak berpihak padanya.


Pintu lift sudah hampir menutup ketika Jemima melihat seorang lelaki keluar dari lift satunya. Dia segera menahan pintu lift agar kembali terbuka dan berlari keluar.


"Matt!"


Lelaki yang dia panggil menoleh dengan wajah kaget.


"What are you doing here?" Lelaki itu menyipitkan mata ke arahnya. Terlihat tidak suka.


"Ada hal yang ingin kubicarakan denganmu, Matthew. Aku sudah menunggumu selama hampir 30 menit."


"Kau gila, Jemima. Ini sudah jam 10 malam lebih. Apa Alek tahu kau ada di sini?" Jemima menggeleng. Dia memang tidak memberitahu siapapun kalau dia akan pergi ke apartemen Matt. Tidak pada Joaquin ataupun Pavita.


"Apapun yang akan kau bicarakan padaku--kita tunda sampai besok. Sekarang aku akan mengantarmu pulang."


Jemima segera menahan Matt. Pembicaraan ini tidak bisa ditunda lagi. Dia bisa gila kalau tidak mengetahui semua kebenarannya lebih cepat.


"Matt—aku mohon. Izinkan aku masuk dan bicara padamu. Ada hal mendesak yang harus aku tanyakan. Sebentar saja, Matthew. Please. I beg you."


Jemima memohon dengan sangat. Dia tidak tahu lagi harus dengan cara apa membujuk Matt agar lelaki itu mau menerima kedatangannya.


"Maaf, Jemima. Aku benar-benar—" Belum sempat Matt menjawab, ponsel lelaki itu berbunyi. "Alek."


Jemima langsung menahan tangan Matt agar tidak mengangkat telepon itu. "Jangan diangkat. Alek pasti akan kemari kalau tahu aku di sini. Bantulah aku sekali ini saja. Kau hanya perlu menjawab satu pertanyaan dariku. Dan aku akan pulang."


Lelaki itu menurut. Dia membiarkan dering ponselnya berhenti dan menatap tajam ke arah wanita di hadapannya. Matt bahkan tidak punya niat untuk mempersilakan Jemima masuk. Mereka tetap dalam posisi berdiri di depan pintu apartemen lelaki itu.


"Katakan apa yang ingin kau tanyakan." Lelaki itu membetulkan letak kacamatanya. Tatapan matanya seolah ingin memutilasi tubuh Jemima hidup-hidup.


Jemima menggigit bibir bawahnya dan menautkan kedua tangannya dengan gelisah. "Mengapa--apa alasan Alek tidak menginginkan anak? Kau teman dekatnya, bukan? Kau pasti tahu alasannya."


Wajah lelaki di hadapannya menegang. Matanya bahkan kian menyipit setelah mendengar pertanyaannya.


"Dengar, Jemima—aku tidak punya hak untuk menjawab pertanyaanmu. Kalau kau ingin jawaban, tanyakan sendiri pada suamimu."


"Sudah aku lakukan! Tapi Alek hanya diam saja dan tidak mau mengatakan alasannya. Saat itulah aku berpikir--pasti ada sesuatu yang menyebabkan Alek tidak ingin memiliki anak." Nada suara Jemima meninggi. Emosinya mulai tidak stabil.


Jemima bisa mendengar Matthew menghela napas. Lelaki itu tidak menjawab pertanyaannya dan malah berjalan menjauhi pintu apartemennya.


"Aku antar kau pulang sekarang."


Jemima tidak percaya bahwa Matt sama keras kepalanya dengan Alek. Pantas saja mereka bisa berteman baik.


Dengan suara lemah, Jemima akhirnya melancarkan serangan terakhir.

__ADS_1


"Aku terlambat satu minggu dari jadwal menstruasiku. Dan aku sungguh tidak ingin melakukan aborsi."


__ADS_2