
Jemima mengerang kesakitan. Tubuhnya seakan ditimpa berton-ton karung. Perih dia rasakan di kedua pergelangan tangan dan kakinya. Ditambah lagi, dia kehausan.
Dibukanya matanya perlahan. Buram. Berkali-kali dia mengedipkan matanya. Berharap dapat melihat sekelilingnya dengan pandangan sempurna.
Where am I?
Kalimat pertama yang diucapkan Jemima dalam hati ketika yang dia lihat bukanlah dapur tempat terakhir kali dirinya berada. Jemima mencoba bangun, namun rasa pusing yang hebat lagi-lagi menghantamnya. Dia kembali merebahkan tubuhnya ke lantai. Menunggu hingga rasa sakit di kepalanya perlahan lenyap.
God, tubuhnya benar-benar lemas. Rasanya seperti tak punya tulang. Tenggorokannya kering. Berbicara pun sepertinya susah. Ada apa dengan dirinya?
Dengan tenaga yang dia punya, sekali lagi Jemima mencoba bangun. Dia tak lagi memedulikan rasa pusing yang menyerangnya. Dia hanya ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi dan di manakah dia berada.
Jemima menggigit bibir ketika melihat sekelilingnya. Perasaan takut dan bingung menggelayuti pikiran. Dia berada di dalam ruangan yang kurang lebih berukuran 4x4 meter.
Ruangan ini begitu lembab. Bau tak sedap menusuk hidung, ditambah kardus-kardus yang berserakan membuatnya seperti tempat pembuangan sampah.
Jemima merangkak menuju dinding. Dia merapatkan tubuhnya di sana, bersandar lemah sembari memperhatikan tempat ini lebih detil.
Tembok ruangan ini berwarna putih. Namun, catnya sudah banyak yang mengelupas. Lantainya juga terbuat dari keramik warna putih. Kelihatan sekali bahwa lantai ini tidak pernah dibersihkan. Tidak ada jendela di ruangan ini. Hanya ada satu lubang angin yang letaknya sangat tinggi hampir menyentuh atap. Pintu satu-satunya terletak di ujung sebelah kiri. Pintu itu juga terlihat tidak terawat. Tidak jauh berbeda dengan lantai dan dindingnya.
Ketika tengah asyik menjelajahi ruangan itu, tatapan Jemima berhenti pada noda yang ada di dinding sebelah pintu.
What. Is. That?
Jemima menyipitkan mata. Mengamati noda itu lebih jelas. Tiba-tiba rasa mual bergolak dalam perutnya setelah mengetahui noda apakah itu. Darah.
Jemima menutup mulut, menahan muntahan yang sudah berada di ujung kerongkongan. Tanpa berpikir panjang, dia segera menyeret tubuhnya ke dekat tumpukan kardus-kardus yang tadi dilihatnya dan muntah di sana.
Setelah merasa lega, Jemima kembali menyeret tubuhnya menjauhi tumpukan kardus tersebut. Kali ini dia menyeret tubuhnya lebih jauh hingga ke pojok. Dia pasti ingin muntah lagi jika melihat semua isi perutnya yang baru saja dia keluarkan.
Mual. Rasa mual yang dia rasakan mengingatkannya akan satu kehidupan dalam rahimnya. Apakah bayinya baik-baik saja?
Jemima meletakkan kedua tangannya di atas perut. Dalam hati berdoa, semoga dia dan bayinya selalu dilindungi dan bisa keluar dari tempat mengerikan ini dengan selamat.
Jantung Jemima seakan keluar menembus dada ketika pintu tiba-tiba terbuka. Dua orang laki-laki asing yang bertubuh tinggi besar menghampirinya.
"What do you want?" Jemima semakin merapatkan punggungnya ke dinding. Suaranya bergetar ketika dia mengucapkan kalimat itu.
Kedua lelaki itu tak menggubris pertanyaannya. Masing-masing dari mereka mencengkeram erat lengan Jemima.
"WHAT DO YOU WANT??"
Rasa takut yang luar biasa dirasakan Jemima. Dia meronta. Mencoba melepaskan diri dari cengkeraman kedua lelaki itu. Namun, sia-sia. Cengkeraman mereka terlalu kuat. Dia terisak pelan.
Demi Tuhan. Apa yang akan mereka lakukan? Dalam ketakutannya, Jemima berbisik.
Alek, selamatkan aku. Selamatkan kami!
——
Alek tersentak bangun dari tidurnya. Keringat membasahi kemeja yang dia kenakan. Napasnya pun terengah-engah. Mimpi buruk.
Dalam mimpinya Alek mendengar Jemima berteriak memanggil namanya. Meminta pertolongannya.
Alek melepaskan kemejanya. Bertelanjang dada, dia pergi menuju dapur untuk mengambil segelas air mineral. Dapur ini begitu kecil. Dapur di rumahnya saja bisa tiga kali lipat lebih besar. Kamar tidurnya pun hanya cukup dimasuki satu single bed, satu lemari pakaian, dan satu meja rias.
Alek tidak pernah menyangka bahwa Jemima akan tinggal di tempat seperti ini, sementara dirinya hidup bermewah-mewahan. Istrinya bahkan bekerja sebagai seorang pelayan restoran. Ya Tuhan...suami macam apa dia?
Tak ingin larut dalam penyesalan, Alek kembali ke kamar Jemima. Sudah dua malam dia menginap di sini. Setelah yakin bahwa istrinya benar-benar menghilang.
Awalnya Alek memang tidak memercayai ucapan Astrid dan lebih berpihak pada neneknya bahwa Jemima kemungkinan besar pergi dengan Max. Tapi beberapa hari yang lalu, dia secara tak sengaja bertemu lelaki itu.
Max terlihat sangat terkejut ketika Alek bertanya di mana istrinya. Lelaki itu bahkan mengatakan sudah beberapa hari tidak bertemu dengan Jemima.
Mendengar semua itu, perasaan Alek diliputi keresahan. Saat itu juga, dia bergegas menemui Astrid. Bersama dengan Astrid dan Matt, mereka mencari keberadaan Jemima, namun nihil.
Jemima tidak ada di mana-mana. Alek bahkan sudah mengerahkan beberapa tim detektif untuk membantunya. Neneknya pun tanpa disangka-sangka ikut membantu, dengan alasan Jemima sedang mengandung anak Alek. Hingga akhirnya, Joaquin buka suara bahwa selama ini, dia memberitahu Jemima segala penyelidikan yang dilakukan dirinya.
Alek murka. Dia hampir saja membunuh Joaquin jika Matt dan yang lainnya tidak mencegah. Lelaki paruh baya itu sudah berkali-kali meminta maaf, namun Alek menolaknya. Amarahnya yang memuncak bercampur dengan ketakutan.
Bisa saja saat ini Jemima sedang berada dalam bahaya. Bisa saja Jemima disiksa tanpa belas kasihan. Dan... bisa saja saat ini Jemima sedang meregang nyawa. Kemungkinan yang terakhir, membuat dada Alek nyeri.
Hanya memikirkan kemungkinan Jemima meninggal membuatnya sesak napas.
Ya Tuhan...aku mohon lindungi istri dan anakku.
Setiap hari, entah berapa kali, doa itulah yang selalu dia ucapkan. Bahkan hingga saat ini, doa itu tak pernah berhenti keluar dari bibirnya.
——
"Bagaimana? Apa kalian mendapatkan sesuatu?" Alek bertanya dengan tak sabar ketika Matt, Arthur, Astrid dan beberapa detektif kenalannya menemui dirinya di rumah sewaan Jemima.
__ADS_1
Matt menggelengkan kepala, diikuti yang lainnya. "Tapi setidaknya kita mendapatkan sedikit informasi, Alek. Di malam Jemima menghilang, dia membeli susu di supermarket dekat sini. Waktunya diperkirakan pukul 10 hingga 11 malam."
"Malam sebelumnya Nyonya bertemu dengan Saya, Tuan." Joaquin tiba-tiba menyela.
Alek mengerutkan kening mendengar ucapan Joaquin, "Apa kau berbicara banyak dengan Jemima waktu itu?"
Joaquin menyipitkan mata, tampak berpikir keras. "Tidak banyak karena waktu itu sudah malam. Tapi, ada satu kalimat istri anda yang cukup mengganggu pikiran Saya."
"Apa?" Mereka bertanya serentak.
"Nyonya mengatakan bahwa dia sepertinya tidak asing dengan wajah yang ada di foto itu."
"Foto?" Matt bertanya tak mengerti.
"Iya. Foto orang yang selama ini menginginkan perusahaan Anda, Tuan. Saya menggandakan foto itu dan memberikannya kepada Nyonya Jemima."
"Apakah kalian bertemu di tempat yang ramai? Apa kau melihat ada seseorang yang mencurigakan di sekitar kalian?" Pertanyaan Alek sarat kekhawatiran.
"Iya, Tuan. Kami selalu memilih tempat yang ramai untuk bertemu. Mengenai orang yang mencurigakan...maaf, saya tidak bisa mengingatnya."
"Coba diingat-ingat, Joaquin!" Alek mulai emosi.
"Alek! Demi Tuhan. Tenanglah. Tidak mungkin Joaquin bisa mengingat wajah orang sebanyak itu." Matt mulai menenangkan.
"Bukan istrimu yang sedang berada dalam bahaya," teriak Alek.
Matt hanya bisa menggelengkan kepala menghadapi emosi tak terduga yang diperlihatkan Alek.
Seumur hidup, belum pernah Alek merasa sekacau ini. Jantungnya seakan berhenti berdetak, setiap kali bayangan Jemima yang kesakitan memenuhi benaknya.
Alek mencintai istrinya. Dia benar-benar mencintainya hingga mau mati rasanya.
"Apa istri Anda merokok?"
"Excuse me?" Alek tampak tersinggung.
"Aku asumsikan jawabannya tidak. Melihat raut 'tidak terima' yang anda tunjukkan. Ada sisa tembakau di sini."
Semuanya serentak menuju dapur. Mata mereka tertuju pada satu tempat yang ditunjuk Gita. Gadis cilik asisten Arthur.
Memang benar ada sisa tembakau di dekat lemari pendingin. Hanya sedikit sekali dan tidak terlihat. Gadis itu cukup jeli.
"Astrid, ketika kau datang kemari, apakah kau melihat sesuatu yang aneh?"
"Aneh?" Astrid mengerutkan kening. "Sepertinya tidak ada. Waktu itu aku hanya melihat kardus susu yang baru saja dia beli tergeletak begitu saja di atas konter dapur. Mengingat Jemima orang yang sangat rapi, bagiku hanya itulah yang aneh."
"Kalau begitu, memang benar ada yang masuk kemari. Orang itu kemungkinan bersembunyi di dekat lemari pendingin ini. Menunggu hingga istri anda masuk. Kemudian membuatnya pingsan dan membawanya pergi."
"Kau itu sebenarnya siapa? Detektif? Aku tidak bisa percaya pada analisismu." Bukan Alek yang protes, melainkan Matt.
"Matthew. Analisis gadis ini masuk akal." Alek menimpali. "Suruh saja mereka menyelidiki lebih lanjut. Ini sudah hari ke empat Jemima menghilang. Apapun bisa saja terjadi. Jadi aku mohon, selidiki apapun kemungkinannya dan bawa istriku kembali."
——
Alek memandangi foto-foto dirinya yang jumlahnya berlembar-lembar. Foto itu ditempel pada lembaran-lembaran kertas dalam satu buku. Tidak terlalu tebal, namun cukup banyak fotonya yang tersimpan. Pada tiap foto di bawahnya ada tulisan tangan.
My precious man.
He is the one who makes me cry and laugh at the same time.
Dan masih banyak lagi tulisan lainnya. Alek terus membuka lembar demi lembar dan membaca satu per satu tulisan itu. Matanya terpaku pada potret dirinya ketika sedang tertawa lepas. Alek ingat saat itu dia sedang berada di atas cruise. Tapi, dia tidak tahu ketika foto itu diambil. Alek membaca tulisan tangan yang ada di bawahnya.
The man I love wholeheartedly.
Tidak perlu melihatnya sampai selesai. Alek sudah bisa menduga isi dari buku itu beserta tulisan-tulisan yang ada di dalamnya. Semuanya tentang dirinya. Tentang curahan hati Jemima kepada dirinya.
Ya Tuhan. Apa yang sudah dia lakukan? Jemima mencintainya. Wanita itu tidak pernah mengkhianatinya. Dan dia mengusirnya pergi dari kehidupannya.
Bodoh. Bodoh. Bodoh.
Di lembar terakhir, dua buah foto USG tiga dimensi tertempel rapi. Foto pertama diambil ketika usia kandungan Jemima berusia 8 minggu. Foto kedua ketika kandungannya memasuki usia 12 minggu. Dan itu baru diambil satu minggu yang lalu. Tiga hari sebelum istrinya menghilang.
"God. What have I done?" Alek mendekap erat buku itu di dadanya.
Tanpa dia sadari, air matanya telah menetes. Ini pertama kalinya dia menangis lagi sejak sepuluh tahun lalu, saat kakak perempuannya meninggal. Alek merasakan nyeri yang sama ketika kakaknya pergi, namun kali ini terasa lebih sakit.
Pikiran-pikiran buruk tentang Jemima yang kemarin berhasil ditepisnya muncul kembali. Membuat air matanya mengalir lebih deras.
Bagaimana jika Jemima tidak pernah kembali? Bagaimana jika sesuatu yang buruk saat ini sedang terjadi padanya? Bagaimana jika dirinya tidak akan pernah bertemu lagi dengan Jemima dan anak yang dikandungnya?
Alek terisak semakin keras. Anaknya. Anak yang bahkan sejak awal kehadirannya tidak dia inginkan. Alek menginginkan anak itu. Dia ingin melihat anak itu tumbuh. Membesarkanya bersama Jemima. Mengajarinya segala hal hingga dia besar.
__ADS_1
God. Alek ingin mereka berdua kembali dengan selamat. Dalam hati dia berdoa.
Tuhan. Aku tahu bahwa selama ini aku melakukan banyak sekali kesalahan. Tapi, izinkan aku untuk memperbaikinya. Kumohon selamatkan mereka. Kembalikan mereka padaku. Izinkan aku untuk sekali lagi menjaga mereka. Dan kali ini tidak akan kulepaskan.
Malam itu, Alek tertidur dengan masih mendekap erat buku tersebut.
——
"Ini. Kubawakan kau makanan. Sebaiknya kau makan dulu, Alek. Sejak kemarin kau belum makan apa-apa, kan?"
Alek menatap bungkusan plastik yang dibawakan Astrid. Kepalanya menggeleng pelan.
"Thank you. But, I'm not hungry."
Bagaimana Alek bisa memakan semua ini, sementara dia tidak tahu apakah Jemima sudah makan?
Alek mendengar Astrid menggeram marah. "Jemima tidak akan senang melihatmu seperti ini. Bisakah kau tidak menyiksa dirimu sendiri? Jemima itu kuat, Alek! Dia pasti bisa bertahan. Dan kau pun di sini juga harus bertahan!"
Alek tersenyum mendengar omelan Astrid. Wanita satu ini benar-benar keras kepala, bahkan melebihi Jemima. Pantas saja mereka bisa bersahabat.
"So? You want to eat it or not? Kalau tidak aku akan membuangnya saja."
Dan pemaksa seperti istrinya. Alek melanjutkan dalam hati. Mau tidak mau, dia merebut makanan yang hendak dibuang Astrid, membuka bungkusnya dan memakannya. Bukan karena dia lapar, melainkan karena dia harus bertahan, seperti yang dikatakan Astrid.
"Hasil penyelidikannya ada kemajuan?"
Alek mengangguk di sela-sela suapannya. "Pagi ini mereka akan ke kantorku. Kau mau berangkat ke sana bersamaku?" Pertanyaannya dibalas Astrid dengan gelengan kepala.
"Aku ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan. Aku hanya mampir sebentar untuk membawakanmu makanan." Astrid mengambil tas ranselnya dan berdiri. "Aku pergi sekarang. Kabari aku jika ada informasi terbaru."
"Sure. Sekali lagi terima kasih." Setelah menganggukkan kepalanya, Astrid keluar dari rumah sewaan Jemima.
Alek melirik jam di pergelangan tangannya. Sudah waktunya pergi. Matt pasti sudah menunggunya di kantor. Setelah membereskan makanannya, Alek mulai bersiap-siap.
Ketika akan berangkat, tatapan Alek tertuju pada laptop Jemima dan tumpukan kertas yang ada di bawahnya. Benda-benda itu belum pernah disentuhnya sejak hari pertama dia menginap di sini. Setelah menimbang-nimbang, Alek akhirnya membawa benda itu bersamanya. Siapa tahu dia akan mendapatkan petunjuk baru.
——
BRAKK !!
Jemima terbangun dengan jantung berdebar hebat. Pintu di hadapannya dibuka dengan keras hingga menabrak dinding.
"Our boss wants to met you, Woman," ujar salah seorang di antara dua pria yang membuka pintu.
Dua pria berbeda lagi. Selama beberapa hari ini, dia selalu didatangi oleh dua pria yang berbeda-beda. Jemima pikir dia akan dibunuh ketika diseret dua orang pria yang waktu itu datang ke ruangan di mana dia disekap. Ternyata mereka hanya memindahkan dirinya ke ruangan ini.
Sebuah kamar. Lengkap dengan kamar tidur dan kamar mandi. Tapi, tetap saja tanpa jendela. Pintu itu dibuka sehari tiga kali, untuk mengantarkan makanannya. Setelah itu pintu kembali menutup.
Selama tiga hari dia disekap, tidak ada hal berbahaya yang mereka lakukan padanya. Tapi tetap saja, setiap kali pintu itu terbuka, Jemima akan merasa sangat ketakutan.
"Wake up!" Kedua pria itu menyeretnya turun dari ranjang. Membuatnya semakin ketakutan.
Mereka tadi bilang apa? Bos mereka ingin bertemu?
Jemima hanya meringis ketika dia dengan paksa didorong ke sebuah kursi kayu. Dalam hati dia berdoa semoga hal ini tidak berpengaruh buruk pada kandungannya.
"Ah!" Jemima menggigit bibir ketika salah satu pria menarik tangannya ke belakang dan mengikatnya kencang. Kedua kakinya juga ikut diikat. Setelah itu, dia ditinggalkan sendiri dalam keadaan tangan dan kaki terikat.
Jemima melihat sekeliling. Sepertinya ini sebuah rumah biasa. Hanya saja rumah ini terlihat sudah sangat tua, tapi masih terawat. Saat ini dia berada di ruangan yang menurutnya adalah ruang duduk. Tidak banyak barang yang ada di sini. Hanya ada satu set sofa dan sebuah perapian dari bata.
Jemima menoleh ketika mendengar suara langkah kaki mendekat. Jantungnya berdetak keras. Tiga orang pria memasuki ruangan itu. Dua di antaranya sudah pernah dia temui.
Jantungnya masih berdetak dengan hebatnya ketika melihat orang terakhir yang memasuki ruangan. Tubuhnya seolah beku. Matanya terpaku tak percaya.
"Kau?" Bibir Jemima bergetar. Bulir-bulir air mata perlahan menitik satu per satu. "Kau?" Jemima masih tak percaya.
"Hai, Jem. Lama tidak bertemu." Laki-laki itu tersenyum. Menampakkan deretan giginya yang putih.
Hati Jemima terasa sakit. Dia merasa terkhianati.
"Berengsek kau! Aku tidak percaya kau yang melakukan semua ini. Memangnya apa salahku?" Jemima mencoba berontak. Tapi ikatan di kedua tangan dan kakinya membuatnya tak bisa bergerak.
"Bukan kau, Jemima. Tapi suamimu. Dia yang sudah melakukan banyak sekali kesalahan."
Jemima menggeleng tak percaya. Air matanya turun semakin deras.
Laki-laki itu berjalan mendekatinya. Menghapus air matanya dengan kepedulian yang dibuat-buat. "Aku akan memberi pelajaran pada suamimu. Nanti. Karena untuk saat ini, aku akan memberi peringatan terlebih dahulu."
Jemima berteriak kesakitan ketika sesuatu menggores lengan kanannya. Rasa sakit luar biasa membakar kulitnya.
"Ini baru permulaan, Jem." Lelaki itu tertawa keras. Selanjutnya, dia mengacungkan sebuah pisau bermata tajam dan mengarahkannya tepat ke jantungnya.
__ADS_1