Perfect Oracle

Perfect Oracle
Separated


__ADS_3

Perpisahan selalu menjadi hal yang sangat menyakitkan. Sebulan sejak Jemima meninggalkan rumah, Alek bekerja seperti orang gila. Dia selalu berusaha menyibukkan diri mulai dari pagi sampai tengah malam.


Tidak ada upaya sedikit pun dari Alek untuk mencari Jemima. Bukannya tidak ingin, dia hanya belum bisa menerima kenyataan bahwa dirinya dikhianati. Harga dirinya akan semakin terinjak ketika dia mencari keberadaan istrinya dan memintanya kembali. Lagipula, hingga saat ini tidak ada kabar buruk yang dia terima. Anggap saja bahwa sampai saat ini Jemima memang baik-baik saja.


Alek memasuki restoran bersama Matt. Mereka sedang berada di New Malden, daerah pinggiran yang berada di barat daya London. Ada pertemuan bisnis di sana.


Ini merupakan satu dari sekian banyak hal yang Alek coba lakukan untuk melupakan Jemima. Mengadakan pertemuan bisnis sesering mungkin.


Mengenai berkas perceraian mereka, Alek sudah menyerahkan semuanya kepada Arthur, pengacaranya. Dia hanya perlu mengirimkan berkas itu ke alamat Jemima yang baru. Untuk bisa mengirimkannya, Alek harus bisa menemukan alamat tersebut terlebih dahulu. Namun, sampai sekarang dia belum juga mengambil langkah untuk mencari alamat istrinya. Karena jauh di lubuk hatinya, dia merasa sangat kehilangan dan tidak menginginkan perceraian ini terjadi.


Alek melihat senyum bahagia yang diperlihatkan neneknya ketika dia mengemukakan berita perceraiannya. Padahal dulu, neneknya yang dengan gencar memaksanya menikah dengan Jemima. Dan ketika berita perceraiannya ia utarakan, neneknya juga terlihat bahagia.


"Alek, bukankah itu Jemima?"


Alek langsung mengarahkan pandangannya ke tempat yang ditunjuk Matt. Benar saja. Itu memang Jemima. Bersama Max. Sesuatu yang tidak bisa dijelaskan Alek memenuhi hatinya. Cemburu? Tentu saja. Tapi kali ini yang dia rasakan lebih dari itu. Rasanya benar-benar sangat menyakitkan. Dia seolah-olah ingin berlari keluar restoran dan menarik tangan Jemima menjauh dari jangkauan Max.


Milikku!


Itulah yang ingin dia teriakkan. Alek hendak melangkahkan kakinya ke arah pintu keluar ketika sebuah tepukan pada pundaknya menghentikannya.


"Nice to meet you, Alek." Salah satu kolega bisnisnya yang membuat janji temu dengannya ternyata sudah sampai di restoran ini.


"Nice to meet you too, Mr. Santos." Alek mengulurkan tangannya yang disambut hangat lelaki paruh baya di hadapannya.


"Lebih baik kita segera menuju ke meja kita dan memulai pertemuan ini. Aku melihat Edward juga sudah sampai di sini." Alek menoleh ke seorang lelaki paruh baya lainnya yang berjalan mendekati mereka.


Alek tidak mengatakan apa-apa dan hanya mengangguk. Sebelum beranjak dari tempatnya berdiri, dia sekali lagi menoleh ke tempat di mana Jemima tadinya berada. Sayangnya, kini yang dia lihat hanyalah jalanan ramai penuh sesak dan tidak ada istrinya di sana.


——


Jemima terlihat gelisah. Dia melirik Max yang berjalan di sampingnya. Lelaki itu memaksa untuk menemaninya berangkat bekerja. Kini dirinya sudah bekerja, meskipun hanya sebagai seorang waitress di sebuah restoran kecil.


Malam itu Jemima memutuskan keluar dari rumah Alek. Puluhan kali dia berdoa dan berharap Alek kembali menemuinya dan mencabut kata-katanya. Dua hari sudah cukup untuk membuat harapannya pupus.


Jemima segera menelepon Astrid untuk meminta bantuan. Namun, sahabatnya itu sedang ditugaskan ke luar kota London selama beberapa hari. Dia akhirnya tidak jadi menceritakan keadaannya kepada Astrid. Takut temannya khawatir dan mengganggu pekerjaannya.


Jemima berjalan sendiri menuju halte. Asal menaiki bus yang berhenti di depannya. Hingga akhirnya sampai di tempat ini.


Tidak tahu harus ke mana, Jemima merapatkan mantelnya dan terus berjalan di sepanjang trotoar. Dia mencari tempat menginap hingga akhirnya kelelahan. Saat itulah dia bertemu wanita paruh baya yang sangat baik. Lorna namanya. Wanita itu menyewakan rumah kecilnya untuk dia tempati dengan harga lumayan murah. Sebagai gantinya, dia membantu di restoran kecil milik Lorna. Wanita itu bahkan tetap menggajinya.


Alasan kenapa dia tidak pulang ke Indonesia dan melanjutkan hidup adalah keluarganya. Jemima tidak ingin membuat keluarganya khawatir dan bersedih atas perpisahannya dengan Alek. Padahal usia perniakahan mereka belum genap setahun.


"Here we are." Jemima mengangkat kepalanya. Ternyata dia sudah sampai di depan restoran. Pikirannya sejak tadi hanyut dalam peristiwa yang sudah dialaminya selama seminggu ini.


"Thank you, Max. Sebaiknya kau segera pulang."


"Apa kau mengusirku?"


"Max, please..."


"Okay. Aku pergi sekarang. Jaga dirimu baik-baik." Jemima hanya mengucapkan terima kasih sekali lagi untuk perhatian yang diberikan Max.


Mereka tidak sengaja bertemu seminggu yang lalu. Sejak itulah Max kerap mengunjunginya. Sebenarnya Jemima merasa risih. Tapi lelaki itu berkeras menemuinya.


Setelah lelaki itu pergi, Jemima segera masuk ke restoran dan mengganti pakaiannya dengan seragam restoran.


"Morning, darling. How was your night?" Jemima tertawa mendengar sapaan Lorna. Sejak hari pertama bekerja, wanita ini selalu bersikap ramah dan sayang padanya.


"Terima kasih, Lorna. Tidurku nyenyak sekali tadi malam."

__ADS_1


"Good. Karena hari ini restoran sepertinya ramai. Dan aku membutuhkanmu dan yang lainnya untuk bekerja lebih keras."


Dan benar saja. Hari ini restoran mereka sangat ramai, terutama saat jam makan siang. Jemima sampai kewalahan melayani pesanan. Restoran sudah baru mulai sepi menjelang pukul lima. Hari ini dia mengambil jatah lembur. Jadi dia akan bekerja hingga restoran tutup. Melelahkan memang, tapi dia membutuhkan uang untuk biaya hidupnya di London.


"Restoran sudah mulai sepi. Sebaiknya kau makan dan istirahat sebentar, Jemima. Kau kelihatan pucat sekali."


"Aku tidak apa-apa, Lorna," katanya membantah ucapan Lorna.


"Lakukan saja dan jangan membantah."


Jemima tertawa mendengar gertakan wanita paruh baya itu. Tanpa banyak kata, Jemima menuruti perintahnya dan berjalan menuju dapur untuk mengambil makanan. Gosh. Hari ini dia lelah sekali. Ditambah kepalanya yang terasa sangat berat membuatnya seperti mau pingsan.


Jemima menyapa salah satu teman kerjanya yang juga sedang mengambil makanan di dapur. Dia hendak mengambil piring untuk makan ketika tiba-tiba pandangannya kabur. Semua benda yang ada di sekitarnya terlihat bergoyang.


Jemima harus berpegangan pada meja makan untuk menyeimbangkan tubuhnya. Matanya terpejam rapat, berharap dalam beberapa detik pusingnya menghilang. Dibukanya kembali kedua matanya, namun yang terjadi malah semakin parah. Semua benda di sekelilingnya kini berputar.


"Jemima, are you okay?"


Hanya itulah kalimat yang bisa ditangkap oleh telinganya. Yang terjadi selanjutnya, semua berubah menjadi gelap.


——


Jemima mengedipkan matanya berulang-ulang. Bau antibiotik yang menyengat hidungnya dan sekelilingnya yang berwarna putih meyakinkan dirinya bahwa dia berada di rumah sakit. God. Kenapa dia ada di sini? Apa yang terjadi padanya?


Jemima berusaha bangkit dari tidurnya, namun rasa pusing kembali menyerangnya. Kali ini ditambah dengan rasa mual yang membuatnya ingin muntah.


"Oh my God!" suara pekikan seorang wanita terdengar dari arah pintu.


"Stay still, Jem!" terdengar lagi suara seorang wanita. Kali ini suara yang sudah dikenalnya.


"Astrid? Aku ingin muntah."


Jemima merasa sangat lemas setelah memuntahkan isi perutnya. Pusing di kepalanya sudah berangsur menghilang.


"Kenapa kau bisa ada di sini?" tanyanya kepada Astrid.


"Aku memang bermaksud mampir ketika Lorna menghubungiku. Dengan panik dia mengatakan kau pingsan. Bagaimana keadaanmu sekarang?"


"It feels like hell."


Lorna tertawa mendengar umpatan Jemima. "Itu yang dinamakan morning sickness, Dear."


"Morning sickness itu hanya berlaku bagi wanita hamil, Lorna."


"And you are eight weeks pregnant, Jem."


Kata-kata Astrid membuatnya terkejut. "Me...what ?" Jemima menatap tak percaya pada kedua wanita di hadapannya.


Lorna mengelus-elus lengannya. "Yes, darling. You are pregnant," ucap wanita itu dengan penuh kelembutan. Senyum bahagia terlihat di bibir kedua wanita di hadapannya.


"Bagaimana bisa kau tidak tahu kalau selama ini kau hamil, Jem? Memangnya kau tidak bisa merasakannya?"


Jemima mengabaikan omelan Astrid. Dalam hati dia terus mendengungkan kata ini.


Pregnant!


She is pregnant. Alek's baby.


Kenyataan ini benar-benar mengguncangnya. Jemima tidak tahu apakah dia harus merasa senang atau sedih. Di dalam lubuk hatinya yang terdalam, tak bisa dipungkiri bahwa dia merasa sangat bahagia dengan berita ini. Namun, di satu sisi kesedihan membayangi matanya.

__ADS_1


Alek tidak akan ada di sisinya selama dia hamil. Alek tidak akan menemaninya, menggenggam erat tangannya ketika anak mereka lahir. Alek tidak akan bersama dirinya untuk membesarkan anak mereka.


Isakan tertahan keluar dari mulutnya. Seandainya saat ini mereka masih bersama, apakah Alek juga akan menerima kehadiran bayi ini? Bukankah dulu Alek pernah mengatakan bahwa dia akan menyuruhnya menggugurkan kandungannya jika dia hamil?


"Ssshh.. Jem. Don't cry. Everything will be okay. Kau punya kami." Seakan tahu apa yang membuat Jemima menangis, Lorna menghiburnya.


"I wanna go home."


"You can't, Darling. Dokter menyuruhmu beristirahat di sini setidaknya selama tiga hari. Dokter juga tidak membolehkan kau terlalu banyak pikiran. Stres akan berpengaruh buruk pada bayimu. Jadi, berhentilah menangis dan tersenyumlah. Lakukan demi bayimu."


Jemima tersentuh atas perhatian yang diberikan Lorna. Padahal, mereka baru saja kenal. Kasih sayang yang ditunjukkan Lorna padanya membuatnya seakan-akan dia memiliki ibu baru.


Tangisannya terhenti. Benar apa yang dikatakan Lorna. Dia tidak boleh berlarut-larut dalam kesedihan. Ada satu nyawa yang kini tumbuh dalam rahimnya. Dengan atau tanpa Alek, dia akan bisa bertahan. Dia pasti bisa bertahan.


——


Alek menatap berkas-berkas yang berserakan di meja kerjanya. Bayangan akan pertemuan tak terduganya dengan Jemima tempo hari masih tetap tidak mau enyah. Membuatnya semakin keras bekerja. Dia bahkan lebih sering menginap di kantor daripada pulang.


Terdengar ketukan pada pintu ruang kerjanya. Alek langsung menyuruh tamunya masuk.


"Sorry to bother you this early, Alek. Berkas perceraianmu sudah selesai dan kau tinggal menandatanganinya. Nanti aku yang akan mengirimkan berkas yang sudah kau tanda tangani ke alamat istrimu." Arthur, pengacara pribadinya meletakkan map yang berisi berkas perceraiannya di atas meja.


Kedatangan Arthur cukup membuatnya kaget. Pasalnya, Alek sebenarnya tidak mengharapkan berkas tersebut selesai secepat ini.


Dengan berat hati Alek membuka berkas yang ada di hadapannya. Alek membacanya sekilas dan mengambil pena untuk menandatanganinya. Alek menimbang-nimbang sebentar sebelum akhirnya dia membubuhkan tanda tangannya ke berkas itu.


Alek memandangi berkas yang ada di depannya dengan perasaan campur aduk. Setelah ini, perceraiannya akan resmi diproses.


"Alek!"


Alek yang mendengar teriakan Arthur langsung mendongak. "God, Arthur. Kau tidak perlu berteriak seperti itu. Aku bisa mendengarmu." Alek terlihat sedikit kesal. Dia mulai membereskan berkas perceraiannya yang harus dibawa kembali oleh Arthur. Dan mengerutkan alis ketika tiba-tiba ada seorang gadis mungil yang berdiri di samping Arthur.


"Mendengar kau bilang? Aku sudah memanggilmu tiga kali dan kau baru menoleh setelah teriakanku yang keempat. Listen, Alek. Ini semua belum terlambat. Jika kau tidak menginginkannya, perceraian ini tidak harus dilakukan." Arthur berdiri dari kursinya dan mengambil tasnya.


"Siapa dia?"


"Nah. Kau bahkan tidak memperhatikan ada orang lain selain kita berdua di sini."


Alek meninggalkan meja kerjanya dan berjalan mendekat. Memandangi gadis yang baru saja ditemuinya. Gadis itu terlihat tidak takut pada tatapan matanya yang menusuk. Ia bahkan balas menatap matanya dengan berani.


"Dia Gita. Asistenku. Baru saja mendapatkan gelar Sarjana Hukum. Berasal dari Indonesia sama seperti istrimu. Mulai sekarang, dia yang akan mewakiliku mengurusi berkas perceraianmu."


"Apa kau serius? Dia baru saja lulus dan langsung kau suruh mengurusi perceraianku? Dia bahkan terlihat masih anak-anak, Arthur."


"Jangan remehkan dia. Gadis ini pintar, Alek. Kalau tidak, aku tidak akan memperkerjakannya di firmaku."


Alek hanya menggelengkan kepala mendengar keputusan temannya. "Terserah kau sajalah."


"Ayo pergi, Gita. Kita masih banyak urusan lain daripada mengurusi lelaki patah hati satu ini." Gadis itu menurut saja apa yang dikatakan Arthur. Dia bahkan tidak mengucapkan satu patah kata pun pada Alek. membuatnya mempertanyakan tingkat kesopanan gadis itu.


"Bawa berkasnya, Arthur!" perintah Alek ketika Arthur berniat pergi tanpa membawa berkas itu.


"No. Kau perlu waktu lagi untuk berpikir. Jika kau sangat mencintai Jemima, kenapa kau mau melepaskannya?"


"Cinta? Dengar Arthur, aku tidak mencin..."


"Yes, you do," potong Arthur cepat. "Pikirkan lagi mengenai keputusanmu, Sobat. Adios."


Alek hanya bisa tercengang melihat pintunya yang sudah tertutup. Dia memandangi berkas yang tergeletak di atas mejanya. Benarkah keputusannya ini tidak tepat? Bukankah Jemima sudah bahagia tinggal dengan Max? Lalu apa gunanya dia tetap mempertahankan wanita yang jelas-jelas tidak menghargainya sebagai lelaki.

__ADS_1


__ADS_2