
Van kembali lagi ke kamar setelah selesai dari dapur. Hari ini suaminya tidak enak badan. Ia memutuskan untuk tidak ke rumah sakit dan menemani Ladit.
"Mas. Sarapan dulu. Habis itu minum obat." Katanya sambil mendudukkan diri di sisi ranjang.
"Suapi."
"Iya."
"Kamu nggak sarapan?" Tanya Ladit sambil menerima suapan dari istrinya.
"Aku sudah minum susu sama makan roti. Sekarang kamu makan dulu."
"Kamu jangan ke rumah sakit ya. Temani aku di rumah aja."
"Iya. Aku temani kamu."
"Makasih." Ladit memeluk istrinya.
Setelah menyuapi dan membantu suaminya minum obat Van kembali ke dapur untuk menaruh mangkuk dan gelas kotor.
"Nyonya. Biar Bibi yang bereskan."
"Makasih Bi."
"Sama sama Nyonya. Nyonya butuh sesuatu?"
"Tidak Bi. Saya mau ambil buah saja." Van memilih buah dan memasukkannya ke dalam mangkuk besar untuk dibawa kembali ke kamar.
Van sampai di kamar langsung mengganti plester demam yang menempel di dahi suaminya.
"Dingin."
"Iya. Aku matiin AC nya."
"Temenin aku tidur Yang."
"Iya." Van berbaring di samping suaminya sambil membetulkan selimut pria itu agar hangat.
"Peluk."
Van mengangguk dan tersenyum. Ia tau dari dulu jika Ladit sangat manja. Apalagi dengan Mommynya.
"Kamu nggak masuk ke selimut?"
"Nggak. Gerah aku nanti. Kamu tidur ya."
"Iya." Ladit memejamkan matanya setelah mengecup bibir sang istri.
Siang hari cuaca begitu cerah. Van duduk di balkon kamar sambil menikmati angin semilir yang menenangkan. Ia tak menyangka sudah sebulan dirinya menyandang status baru sebagai seorang istri. Tidak mudah memang. Apalagi kini Ia tau sikap suaminya begitu manja.
"Sayang." Ladit tiba tiba duduk dan memeluk istrinya.
"Sudah bangun. Masuk gih. Nanti kamu kedinginan."
"Enggak. Sekarang aku malah ngerasa gerah."
"Coba aku cek dulu." Van menempelkan tangannya pada kening suaminya.
__ADS_1
"Panasnya sudah turun. Aku buka plesternya."
"Iya."
"Kamu mau buah?"
"Boleh."
"Mau apa?"
"Jeruk."
"Ok." Van mengupas jeruk lalu menyuapkannya pada suami.
"Manis. Kaya yang kasih." Kata Ladit menggoda.
"Pandai berkata manis. Belajar dari siapa?"
"Nggak. Aku beneran ini."
"Aku nggak percaya."
Ladit mendekatkan diri pada istrinya mengikis jarak antara mereka. Napas suaminya dapat Van rasakan begitu hangat. Pria itu tiba tiba mencium bibir Van singkat namun terjadi kali.
"Manis." Katanya tersenyum menang.
Sepasang suami istri tengah berjalan jalan di taman. Ladit tak melepaskan genggaman tangannya dari sang istri.
"Duduk dulu yuk."
"Selama Papa Frans nggak ada, rumah ini selalu di rawat dengan baik ya."
"Iya. Aku nggak mau rumah peninggalan Papa sampai nggak terawat."
"Mas."
"Ya Sayang."
"Kenapa Mama kamu nggak datang ke pernikahan kita ya?"
"Nggak tau."
"Kamu kasih kabar ke Mama kan?"
"Iya. Mom yang suruh aku. Aku sudah telfon dia suruh dia datang tapi apa boleh buat. Dia nyatanya nggak datang juga."
"Apa Mama sudah punya keluarga baru Mas?"
"Sudah. Dia awalnya hanya kumpul kebo sama pacarnya. Tapi katanya sekarang sudah menikah."
"Kumpul kebo itu apa?"
"Tinggal satu atap tapi tidak menikah."
"Oh. Apa Mama punya anak lagi?"
"Punya. Dua. Laki laki semua."
__ADS_1
"Oh."
"Maaf ya." Kata Ladit tiba tiba masih dengan menggenggam tangan istrinya.
"Kenapa?"
"Karna aku berasal dari keluarga yang berantakan. Keluarga yang penuh dengan aib dan keburukan. Mama dan Papa bukan orang baik. Jadi aku..."
"Bukan salah kamu. Semuanya sudah takdir. Jangan salahkan diri sendiri." potong Van.
"Aku tau dulu Daddy juga keberatan dengan wasiat Papa." Pria itu mulai menyenderkan kepalanya di bahu sang istri.
"Daddy Khawatir aku akan seperti Papa atau Mamaku. Orang yang yang bebas dan tidak terhormat. Mereka penuh nafsu, liar dan seenaknya. Papa pernah bercerita jika Ia dulunya sering gonta-ganti ganti wanita hanya untuk sekedar ditiduri semalam. Hingga sebuah kesalahan terjadi dan aku pun lahir. Papa ingin serius dan memulai hidup barunya dengan keluarga kecil yang dimiliki. Dia mulai berubah dan tidak bermain wanita lagi. Namun Mama tidak sejalan. Ia terus pergi ke club' dan bersenang senang dengan para pria di luar sana. Tak jarang Mama juga sering mabuk dan membawa selingkuhannya pulang ke rumah. Hingga saat itu aku berumur tujuh tahun. Aku tak sengaja melihat Mama sedang berhubungan badan dengan pria lain di kamar Papa. Aku menangis dan mengurung diri di kamar. Lama kelamaan Papa yang mencoba bertahan demi aku akhirnya menyerah. Dia menceraikan Mama karena tak tahan di perlakukan rendah sebagai seorang pria. Sejak saat itu aku mulai mendapat ejekan dari temanku. Aku anak pelacur. Itu sangat menganggu." Cerita Ladit panjang lebar pada istrinya. Van menghela napas. Ia langsung memeluk suaminya dengan erat.
"Semuanya sudah berlalu. Jangan ingat rasa sakit dan penderitaan yang kamu alami. Sekarang ada jalan ke depan. Kamu hanya perlu fokus untuk bahagia. Ada aku. Aku akan selalu menemani kamu." Van mengusap punggung suaminya.
"Terimakasih Sayang." Ladit begitu tersentuh. Ia sangat beruntung memiliki Van yang begitu pengertian.
Malam hari. Ladit dan istrinya sedang sikat gigi bersama sebelum tidur.
"Sayang."
"Hm."
"Bantu aku bercukur."
"Aku takut. Nanti tergores."
"Nggak. Bantu aku ya..."
"Iya. Aku kumur dulu."
Ladit mengangkat tubuh Van dan mendudukkannya di meja marmer agar lebih mudah. Wanita itu meraih krim dan mengoleskannya pada sekitaran dagu suaminya. Setelah semuanya rata Van langsung menggerakkan pisau cukur itu perlahan. Ladit ingin sekali tertawa melihat keseriusan istrinya. Van menggerakkan bola matanya mengikuti gerak pisau cukur itu.
"Jangan gerak Mas. Nanti tergores kamu. Nanti keluar darah satu liter" Katanya memperingati. Ingin sekali pria itu tertawa dengan apa yang barusan diucapkan sang istri. Namun Ia menahannya. Setelah sekian lama akhirnya selesai juga. Van mengelap dagu suaminya dengan handuk.
"Sudah beres."
"Makasih istriku." Ladit mencium dan memeluk istrinya.
"Aku ngantuk." Rengek Val sambil mengucek kedua matanya seperti anak kecil.
"Ayo tidur." Pria itu menggendong tubuh ringan Van seperti anak kecil lalu membaringkannya di ranjang.
Ladit ikut membaringkan tubuhnya menghadap Van. Pria itu memainkan jarinya di dada sang istri.
"Kenapa?" Tanya Van ketika sang suami mulai membuka kancing piyamanya.
"Aku mau ini." Tunjuknya pada dada Van.
"Mau ngapain?"
"Mau minum ini." Merengek seperti anak kecil.
"Ini nggak ada isinya. Aku nggak lagi hamil."
"Aku mau." Ladit membuka bra istrinya kemudian menyusu seperti anak kecil dengan tangan yang satunya bermain di sisi yang lain. Van merasakan milik suaminya mengeras. Ia bisa tahu karena Ladit dengan sengaja menempelkan benda itu di pahanya dan menggesek dengan pelan. Wanita itu membiarkan apa yang dilakukan suaminya. Ia sadar belum siap memberikan apa yang seharusnya menjadi milik Ladit.
__ADS_1