Perjalanan Cinta Vanessa

Perjalanan Cinta Vanessa
Pengertian


__ADS_3

Van dan Ladit sedang sarapan berdua di ruang makan. Hari ini adalah hari pertama mereka bekerja setelah libur tiga hari.


"Mas. Hari ini aku mau keluar sama teman boleh?" Tanya Van meminta izin.


"Mau kemana?"


"Jalan jalan aja. Sudah lama kita nggak ketemu."


"Cowok atau cewek?".


"Cewek lah."


"Boleh." Jawab Ladit sambil tersenyum. Ia harus bisa pengertian terhadap istrinya. Bagaimanapun juga Van masih remaja. Butuh bergaul dan bersenang senang untuk menikmati masa mudanya.


"Makasih Mas. Untuk makan siang kamu sudah aku siapkan. Nanti biar diantar ke kantor sama pak supir."


"Iya. Makasih ya. Kamu selalu perhatiin semua kebutuhan aku."


"Sama sama. Itu sudah kewajiban aku."


"Aku antar kamu ya..."


"Nggak usah. Aku bawa mobil sendiri aja. Sudah biasa kok." Kata Van sambil membereskan piring kotor di meja.


"Aku bantu."


"Nggak. Kamu berangkat duluan. Nanti kesiangan."


"Yasudah. Kamu anterin aku. Itu biar diberesin Bibi. Kan kamu sudah janji kalo nggak akan bersih bersih."


"Iya. Ayo. Aku antar sampai depan." Van menggandeng tangan suaminya.


Ladit memeluk istrinya lama. Begitu menikmati kehangatan yang saat ini Ia rasakan.


"Sudah. Kamu meluk aku lama banget."


"Hm. Aku nggak rela pisah sama kamu."


"Nanti kita juga akan ketemu."


"Iya. Kalo gitu aku berangkat dulu ya." Ladit menciumi wajah sang istri.


"Iya. Hati hati."


"Kamu juga berangkatnya hati hati."


"Ok."


"Assalamualaikum Sayang."


"Waalaikumsalam." Van menunggu Ladit sampai mobil yang membawanya keluar dari halaman rumah.


Ladit duduk dengan tenang di dalam mobil sambil memangku laptop nya. Pria itu kemudian meraih ponsel di saku jas untuk menghubungi seseorang.


"Seperti biasa. Ikuti istriku. Aku ingin setiap detail kegiatannya tanpa terlewat sedikitpun." Katanya langsung memutuskan panggilan sebelum mendapat jawaban dari lawan bicaranya.


Van hari ini begitu sibuk. Ia baru saja menyelesaikan operasi masih harus mengecek keadaan beberapa pasien. Pukul 12 tepat gadis itu baru saja bisa istirahat setelah bersih bersih. Ponselnya sedari tadi bergetar. Ia baru sempat melihatnya. Ratusan pesan dan panggilan masuk dari suaminya.


"Assalamualaikum Mas."


"Waalaikumsalam. Kamu sibuk ya?"


"Iya. Ini baru istirahat. Kamu sudah makan?"


"Sudah. Tadi diantar sama pak supir ke kantor Aku. Kamu sudah makan?"


"Nanti. Aku makan siang sama teman sekalian jalan jalan."


"Jangan sampai telat makan dong. Nanti kamu sakit. Kalo kamu sakit aku kan sedih."


"Iya. Udah dulu ya. Aku tutup. Assalamualaikum."


"Yang....."


"Waalaikumsalam. Padahal aku belum selesai ngomong." Gerutunya.


"Vanessa." Seorang gadis langsung menerobos masuk ke ruangan Van.


"Kebiasaan deh."


"Ayo. Katanya mau jalan."


"Iya. Ayo."

__ADS_1


"Makin cantik aja."


"Gausah gombal. Ayo pergi. Aku sudah lapar."


"Ok Bos. Kita makan di restoran Mommy kamu aja."


"Ok." Nana langsung menarik tangan Van.


Dua orang gadis tengah makan sambil berbincang di ruang VIP. Pemandangan dari sana begitu indah terlihat dari dinding kaca yang menghadap langsung ke taman.


"Restoran ini nggak pernah sepi. Mommy kamu hebat."


"Iya. Kadang kalo mau kesini aja aku harus reservasi jauh jauh hari."


"Masa anak yang punya reservasi juga?"


"Iya. Mommy aja yang punya kalo mau adain acara harus reservasi dulu biar nggak ganggu pelanggan yang lain."


"Wah...."


"Eh. Van. Aku boleh tanya sesuatu nggak?"


"Boleh."


"Kamu kok tiba tiba bisa nikah sama anak teman Daddy kamu sih."


"Kita di jodohkan. Awalnya aku mau nikah sama seseorang tapi batal. Undanganya sudah terlanjur di sebar. Jadi daripada nggak jadi nikah ya aku nikah sama Mas Ladit. Itu juga sesuai isi surat wasiat sepeninggalan Papa mertua."


"Surat wasiat?"


"Iya. Jadi Papa mertua aku itu sebelum meninggal tulis wasiat buat jodohin aku sama Mas Ladit."


"Oh. Gimana? Kamu bahagia?"


"Nggak tau. Semuanya butuh proses."


"Kamu sudah malam pertama sama suami kamu?" Tanya Nana membuat Van tersedak.


"Hati hati beb." Dengan cepat Ia memberi Van minum.


"Tanya aneh aneh aja."


"Maap."


"Ya. Begitulah. Aku nggak minat malah di paksa. Ya berjalan sesuka aku aja."


"Dipaksa itu emang nggak enak." Kata Van sambil meneruskan makannya.


Hujan turun begitu deras. Ladit baru saja mendapat laporan jika sang istri dalam perjalanan pulang. Ia berdiri dari duduknya ketika mendengar ucapan salam dari sang istri.


"Kamu kehujanan?" Pria itu langsung memeluk tubuh Val yang basah.


"Sedikit. Jangan peluk. Nanti kamu ikutan basah."


"Nggak papa. Aku siapkan air hangat dulu. Kamu langsung mandi ya."


"Nggak usah Mas. Aku bisa sendiri."


"No. Nggak boleh nolak." Ladit langsung menggandeng tangan Van menuju kamar.


Van melepas jilbabnya sambil menunggu suaminya selesai menyiapkan air hangat.


"Sudah Yang. Ayo mandi."


"Lah. Kamu bukannya sudah mandi?"


"Kan basah lagi karna peluk kamu. Aku mau mandi lagi."


"Bisa bisanya cari alasan."


"Udah. Ayo mandi. Aku suka mandi sama kamu." Ladit langsung menggendong tubuh istrinya menuju kamar mandi.


Berendam cukup lama membuat keduanya kedinginan. Van dan Ladit kini sedang menikmati coklat panas.


"Kamu mau makan malam pake apa Mas?"


"Nasi goreng aja."


"Yaudah. Aku buatin."


"Ayo aku temani."


"Nggak usah. Kamu disini aja."

__ADS_1


"Nggak mau. Aku maunya sama kamu."


"Terserah deh." Kata Van membiarkan Ladit ikut ke dapur.


"Aku kekenyangan." Kata Van yang tengah berada dalam dekapan hangat suaminya. Mereka sedang berada di ranjang sambil menonton film.


"Masa. Perut kecil begini bisa muat banyak ya." Ladit mengelus perut datar istrinya membuat Van tertawa karena geli.


"Ih. Geli."


"Begini geli?" Tanya Ladit sambil menggelitik perut sang istri.


"Geli Mas. Nanti mengompol aku."


"Biar aku yang bersihkan."


"Udah. Aku capek tertawa." Kata Van dengan napas terengah engah.


"Yasudah. Aku peluk lagi biar hangat." Ladit menindih tubuh Van sambil memeluk. Ia menidurkan kepalanya di dada sang istri.


"Kamu berat."


"Maaf." Katanya dengan tiba tiba sambil membalikkan badan sehingga Van berada di atas.


"Begini hangat." Ladit memeluk Istrinya dengan erat.


"Filmnya belum habis." Van memiringkan kepalanya untuk melanjutkan menonton.


"Ini sudah malam lo."


"Besok kan libur. Tanggal merah kan."


"Iya juga. Aku sampai lupa."


"Kita ke rumah Mom ya."


"Iya. Aku juga kangen sama Mom."


"Aku juga. Padahal baru hari ini nggak ketemu."


"Mom emang ngangenin."


Tangan Ladit menelusup ke piyama istrinya. Ia mengelus lembut punggung Van yang begitu halus.


"Geli Mas."


"Kamu gampang geli ya.."


"Iya."


"Kalau disini." Tanyanya menjilat daun telinga Van.


"Ih geli."


"Kita tidur ya." Katanya tak ingin kebablasan.


"Iya."


"Eh tunggu sebentar. Aku punya sesuatu buat kamu."


"Apa?"


Ladit meraih kotak di laci dan memberikannya pada sang istri.


"Ini apa Mas?"


"Buka aja."


Van membukanya perlahan.


"Ini buat aku?" Tanyanya sambil mengeluarkan kalung berlian itu dari kotak.


"Iya. Kamu suka?"


"Suka. Makasih."


"Sama sama. Sini aku pakaikan."


"Iya."


Ladit menyibakkan rambut istrinya. Ia memasangkan kalung cantik itu kemudian mengecupi leher jenjang sang istri.


"I Love You." Bisiknya dengan lembut hingga nafas hangat pria itu dapat dirasakan oleh Van.

__ADS_1


__ADS_2