Perjalanan Cinta Vanessa

Perjalanan Cinta Vanessa
Pulang


__ADS_3

Val berjalan tegap keluar dari pintu masuk bandara. Wanita itu tampak menawan dengan style casual yang tertutup dan kacamata hitamnya.


"Gini punya Bini muda. Ditinggal Mulu." Gerutunya sambil mengimbangi langkah cepat sang istri.


"By."


"Hm."


"Tunggu. Aku pengen gandeng tangan kamu."


"Halah. Banyak tingkat." Jawab Val sambil meneruskan langkah mengabaikan suaminya yang terus mengoceh.


"Mom." Mereka berlari memeluk wanita itu.


"Kita kangen."


"Sayang. Mami kangen."


"Papi juga."


"Val juga kangen."


"Sayang. Kan Mom sudah bilang jangan ikut jemput. Kamu lagi hamil."


"Van kangen Mom." Wanita hamil itu tampak menangis.


"Jangan nangis. Mom sudah disini." Val mengusap punggung anaknya lembut.


"Nggak ada yang kangen aku?" Tanya Mario ikut bergabung bersama mereka.


"Nggak."


"Ayo kita pulang sayang." Papi menggandeng tangan anaknya untuk segera masuk mobil.


Sampai di rumah semuanya melepas kerinduan pada Val. Anak anak tak mau melepaskan pelukan dari Mommynya membuat Mario geram.


"Kalian lepasin Mom. Nggak bisa napas itu."


"Bilang aja Daddy sirik."


"Mom ada oleh oleh untuk semuanya." Kata Val membagikan paper bag untuk anak anak dan orangtuanya.


"Makasih Mom. Kita suka."


"Sama sama. Oh iya Dad. Yang di belakang itu tolong kamu suruh Bibi bagiin ke tetangga."


"Nanti aja."


"Hm."


"Kamu disana ngapain aja sebulan. Papi kangen benget."


"Aku jalan jalan Pi."


"Sebulan kita di tinggal Mom kaya bertahun tahun lamanya."


"Maaf ya Sayang."


"Bukan salah Mom. Ini salah Dad."


"Mario." Panggil Papi Val dengan nada tegas.


"Iya Pi."


"Sembarangan kamu bawa anak aku pergi nggak izin."


"Anak Papi kan istri aku. Kalo istri itu harus ikut kemanapun suaminya pergi."


"Pandai menjawab. Papi bakalan kasih hukuman sama kamu."


"Lah. Kok gitu."


"Biarin. Mulai hari ini Papi akan bawa anak Papi tinggal sama Papi."


"Opa."


"Kalian juga sekalian. Tinggalin Daddy kalian di rumah."


"Papi tega banget sama mantu."


"Kamu memang mantu kurang ajar."


"Pi."


"Biarin Mi. Dia memang keterlaluan. Kita bawa Val. Kamu disini aja jangan ikut. Kalau sampai ikut. Awas kamu." Ancamnya menarik tangan Val untuk segera pergi.


"Pi. Papi. Jangan gitu dong." Mario mulai panik mengejar mertuanya.


"By. Kamu kok ikut aja sih."


"Kamu sih. Cari gara gara."


"Mi. Bantu aku dong."


"Maaf. Mami nggak ikutan."

__ADS_1


"Sukurin Daddy." Kata Mereka pergi satu persatu.


"Sialan." Umpat Mario melihat rombongan mobil itu meninggalkan Mansionnya.


Mario menyusul namun gerbang mansion mertuanya tertutup sempurna. Ia tak bisa masuk. Menghubungi istri, anak anak maupun mertuanya juga tidak bisa. Pria itu menghembuskan napasnya dengan kasar. Mereka di dalam pasti sedang bersenang senang dengan penderitaan Mario sekarang. Sudah hampir tiga jam menunggu namun gerbang tak kunjung terbuka. Ia terpaksa pergi karena memang sangat haus dan juga lelah karena baru sampai harus dihadapkan dengan masalah seperti ini.


Mereka sedang berkumpul di ruang tengah setelah makan siang berakhir.


"Pi..."


"Biarin. Suami kamu memang harus diberi pelajaran biar tidak seenaknya."


"Bukan itu. Val ngantuk. Mau tidur."


"Ah. Iya tidurlah Sayang." Papi dan mami serta anak anak mengecup wanita itu.


"Mom. Van tidur sama Mom ya."


"Iya Sayang. Ayo." Val menggandeng tangan anaknya.


Val mengelus perut Van yang sudah membuncit. Usia kandungannya sekarang sudah lima bulan.


"Kamu sehat sehat kan sayang?"


"Iya Mom. Tapi sejak Mom pergi Van sedih terus."


"Maaf ya. Biangnya Daddy kamu itu."


"Yang penting sekarang Mom sudah disini. Van begitu merindukan Mom. Van seneng bisa kumpul lagi sama Mom."


"Mom juga rindu sama kamu. Sama semua anak Mom."


"Yasudah. Kita tidur Mom. Pasti Mom lelah."


"Lumayan. Di pesawat Mom nggak bisa tidur."


"Kita tidur ya."


"Iya sayang."


"Peluk."


"Iya. Putriku yang manja." Kata Val langsung memeluk anak perempuannya.


Val merasakan pelukan dari beberapa orang.


"Um..."


"Mom kebangun."


" Kalian ternyata." Katanya sambil mendudukkan diri melihat dua anak kembar dan menantunya.


"Lagi mandi."


"Kalian sudah Mandi?"


"Belum."


"Mandi sana. Habis ini Mom mau beli jajanan pinggi jalan."


"Mom makan sembarangan lagi."


"Disana nggak ada. Mom kangen."


"Sama Ladit ya Mom."


"Iya."


"Ok. Ladit mandi dulu." Katanya melompat dari ranjang.


"Kalian nggak mandi?"


"Nanti deh."


"Mom. Ada yang mau kita tanyakan."


"Apa?"


"Apa Mom dulu di culik dan dipaksa nikah sama Dad."


"Iya. Tau dari siapa kalian?"


"Dari Opa."


"Kok Mom bisa cinta sama Dad kalo Mom terpaksa nikah karena diancam."


"Sudah jadi suami. Mau tidak mau Mom harus mencintai. Mom nggak mau berdosa. Dah ah. Mom mau mandi." Val turun dari ranjang meninggalkan Ved dan Veer yang masih tetap disana.


Ladit memeluk istrinya yang sedang menyisir rambut di depan meja rias.


"Sayang kamu mau sesuatu?Aku sama Mom mau keluar cari makanan."


"Jangan ajakin Mom makan sembarangan Mas."


"Mom kangen makanan disini katanya."

__ADS_1


"Jangan beli yang aneh aneh ya."


"Iya sayang. Kamu di rumah aja ya. Aku sebentar kok."


"Iya."


"Ayah jalan dulu sayang." Ladit mengecup bibir dan perut istrinya bergantian.


Ladit menggandeng tangan mertua yang sudah dianggapnya sebagai ibu kandung sendiri.


"Mom mau apa?"


"Martabak Manis, Sate, Bakso."


"Yasudah ayo beli."


"Kamu emang terbaik." Val begitu senang semua keinginnannya di turuti.


"Apa sih yang enggak buat Mom." Ladit membelikan semua makanan yang diinginkan mertuanya.


Mario kembali lagi ke mansion mertuanya namun kata penjaga istrinya sedang keluar. Ia menunggu namun tidak juga datang. Mario akan kembali lagi nanti. Ia harus memberi makan ikannya di rumah.


"Hais...Belum sehari tapi aku sudah merindukanmu By. Kapan bisa peluk kamu sayang?" Katanya sambil melajukan mobilnya meninggalkan tempat.


Semuanya melotot melihat makanan yang begitu penuh di meja.


"Mas. Kan aku sudah bilang. Jangan ajak Mom jajan sembarangan."


"Iya nih Ipar."


"Mom mau."


"Sayang. Kamu makan kok nggak di kontrol."


"Mi. Val kangen makanan disini."


"Makan nasi juga dong."


"Ini nanti Val sudah kenyang Pi."


"Kebiasaan."


"Mom. Jangan gitu deh. Kesehatannya di jaga."


"Iya."


"Mom Ladit suapi." Katanya mulai menyuapi Val. Ia yang biasanya manja akan memanjakan ibu yang begitu dirindukan.


Ladit sudah berbaring di ranjang sambil menunggu istrinya. Ia langsung duduk dan memeluk wanita yang tengah hamil itu saat Van sudah duduk di tepian ranjang.


"Sayang."


"Iya."


"Ini ada isinya?" Tanya Ladit sambil meraba benda kenyal yang semakin membesar itu.


"Ada."


"Aku boleh minta?"


"Ini untuk anak kita. Jangan aneh aneh."


"Iya. Yasudah. Kita tidur ya. Kasihan kamu capek."


"Pengen tidur sama Mom."


"Mom sudah tidur kayanya. Ayo kita tidur juga."


"Iya." Katanya menurut.


"Selamat Malam sayang." Ladit menciumi seluruh wajah istrinya.


"Malam Mas." Jawab Van sambil memejamkan mata menikmati dekapan hangat sang suami.


Tepat tengah malam Mario menyelinap masuk ke kamar istrinya lewat jendela yang kebetulan sedang terbuka. Ia langsung menutup jendela dan melepas seluruh pakaiannya. Pria itu mendekap Val yang tertidur. Untuk bersama dengan istrinya malam ini butuh perjuangan. Menaiki lantai dua di umurnya yang sekarang bukanlah hal yang mudah. Semakin tua tenaganya tak sehebat dulu.


"Ungh..."


"Sayangku." Mario menciumi bibir sang istri beberapa kali.


"Daddy. Kamu kok bisa kesini? kenapa nggak pakai baju?"


"Butuh perjuangan sayang. Aku nggak bisa tidur tanpa kamu. Aku kalo tidur sama kamu kan sukanya begini. Telanjang. Lebih enak."


"Hm."


"Mertuaku kejam."


"Menantunya juga kejam."


"Ih. Sayangku kok bilang begitu."


"Sudah jangan merengek. Aku ngantuk mau tidur."


"Kita nggak olahraga satu ronde dulu?"

__ADS_1


"Ngantuk Dad."


"Baiklah. Tidurlah Sayangku. Istriku tercinta." Kata Mario mengecup bibir Val lagi dan ikut tidur dengan nyaman.


__ADS_2