Perjalanan Cinta Vanessa

Perjalanan Cinta Vanessa
Akhlak Yang Cantik


__ADS_3

Van sedang menyiapkan sarapan untuk suaminya.


"Sayang."


"Hm."


"Nanti aku Pulang malam lagi."


"Jam berapa?"


"Jam 7, mungkin."


"Berarti makan siangnya aku antar ke kantor kamu dong."


"Iya. Seperti biasa. Kamu nggak capek kan?"


"Enggak. Nanti aku anterin makan siang ke kantor kamu. Oh iya. Nanti aku mampir ke rumah Mom ya."


"Iya. Sampaikan salam aku juga."


"Ok. Sekarang kamu makan dulu sarapannya. Aku mau ke dapur angkat kue."


"Biar Bibi saja. Kamu suapi aku."


"Nggak ah. Makan sendiri. Jangan manja." Kata Van tetap pergi meninggalkan suaminya.


Ponsel Ladit tiba tiba bergetar. Pria itu menjawab panggilan telpon dengan suara pelan.


"Sudah aku bilang jika aku dirumah jangan menelpon."


.....


"Iya. Aku akan datang. Jangan khawatir."


...


"Aku tutup." Katanya langsung mengakhiri panggilan itu.


Van mengantarkan suaminya sampai ke depan.


"Udah. Sana berangkat. Ini hampir jam 8 Mas."


"Biarin. Aku bisa berangkat sesuka hati."


"Kamu kalo di bilangin kaya Daddy aja."


"Kamu nanti mau dibawain apa?"


"Em...apa ya?"


"Dimsum?"


"Itu kesukaan Mom."


"Apa dong?"


"Nggak usah Mas. Aku lagi nggak kepengen apa apa."


"Beneran?"


"Em..Donat madu aja kalo gitu."


"Ada lagi?"


"Nggak. Itu aja udah cukup."


"Yakin...?


"Iya. Udah sana berangkat."


"Iya iya. Assalamualaikum." Ladit mencium istrinya.


"Waalaikumsalam." Jawab Val sambil menunggu suaminya sampai mobil yang membawa Ladit keluar dari halaman.


Sosok wanita tengah sibuk di dapur untuk menyiapkan makan siang. Ia memilih beberapa jenis sayuran, daging dan seafood untuk dimasak. Tak lupa Van juga mengambil beberapa buah untuk dijadikan salad. Van tersenyum. Ia akan membuat dua porsi makanan untuk suami dan Mommynya. Kedua orang itu makan sembarangan. Oleh karena itu Van berinisiatif untuk menyiapkan menu yang bergizi. Sekitar satu jam lebih Van memasak akhirnya selesai juga. Ia menatanya di kotak lengkap dengan nasi merah dan juga salad buah yang di tempatkan di wadah yang berbeda.


Selesai mandi dan bersiap Van langsung menyambar Paper Bag dan segera berangkat.


"Bibi saya berangkat dulu ya." Pamitnya.


"Iya Nyonya. Hati hati."


"Iya Bi. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam Nyonya." Jawab Bibi mengantarkan Van sampai ke depan rumah.


"Mommy." Panggil Van namun tidak ada jawaban.


"Kamu kenapa sih teriak teriak." Kesal Mario menghampiri Putrinya.


"Mommy mana Dad?"

__ADS_1


"Lagi mandi."


"Yasudah. Van tunggu."


"Kalo ada titipin kasih Daddy aja. Kamu pergi."


"Daddy ngusir anak sendiri?"


"Enggak. Daripada kelamaan nunggu kan mending di titipin Daddy."


"Nggak. Van mau kasih sendiri ke Mom."


"Ada apa sih?"


"Mom." Van langsung berdiri memeluk Mommynya.


"Mom. Van bawain makan siang buat Mom. Mom dapat salam dari Mas Ladit."


"Waalaikumsalam. Kenapa repot repot sih."


"Nggak repot Mom. Sekarang Mom makan. Aku suapi."


"Mom masih kenyang. Makan nanti siang saja."


"Memangnya Mom makan apa sudah kenyang."


"Mom makan lontong sayur. Tadi nitip ke Bibi."


"Emang iya Dad?"


"Iya."


"Yasudah. Tapi Mom janji makan ya."


"Iya."


"Sayurnya juga."


"Kalo itu Mom gak bisa janji."


"Diusahakan."


"Iya."


"Yasudah kalo gitu Van mau ke kantor dulu. Mau antar makan siang."


"Iya. Kamu hati hati ya." Val memeluk anaknya.


"Iya Mom." Jawab Van sambil membalas pelukan.


"Iya By."


"Kamu udah pantes punya cucu."


"Wah ngeledekin. Tua begini aku masih kuat sampai pagi. Mungkin mantu kamu aja kalah dari aku."


"Dasar mesum. Bahas apa jawabnya apa." Kata Val meninggalkan suaminya.


"By." Mario langsung menyusul Sang Istri yang sudah berjalan cukup jauh.


Van sedang menunggu Ladit di ruangannya karena Pria itu masih ada meeting.


"Sayang." Ladit datang langsung ikut duduk sambil memeluk Van.


"Aku antar makan siang kamu."


"Makasih. Kamu tadi jadi ke rumah Mom?"


"Jadi dong."


"Mom sudah makan?"


"Belum. Katanya masih kenyang habis makan lontong sayur."


"Oh. Suapi."


"Iya." Van mulai membuka kotak makan dan menyuapi suaminya.


"Kamu tadi diantar supir atau bawa mobil sendiri?"


"Bawa mobil sendiri."


"Kenapa nggak diantar supir saja. Lebih aman."


"Nggak. Enak bawa mobil sendiri."


"Habis ini kamu langsung pulang?"


"Iya." Jawab Van sambil terus menyuapi suaminya.


Ladit memeluk istrinya erat.

__ADS_1


"Hati hati." Katanya sambil mengecup kening dan bibir Van berkali kali.


"Iya. Aku pulang dulu ya. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam Sayang."


Setelah istrinya keluar dari ruangan, beberapa detik kemudian sosok pria dengan tubuh kekar menghadap Ladit.


"Bos." Sapanya sambil menunduk.


"Berikan laporannya dan jelaskan padaku."


"Ini laporannya Bos." Katanya sambil menyerahkan Map.


"Ok." Ladit menerimanya dan membuka lembar itu satu per satu sambil duduk nyaman di sofa.


"Duduklah. Jelaskan secara rinci."


"Baik."


"Sesuai dengan laporan yang saya berikan. Kemarin kami telah mengirimkan sebanyak dua puluh unit dengan jalur laut sesuai dengan perintah Bos. Kami mengemasnya dengan kotak yang akan tahan dengan guncangan dan faktor kerusakan dari luar yang beresiko akan mencederai barang. Semua pemasukan bersih sudah masuk ke rekening Bos sebanyak 5,5 milyar. Hari ini sesuai dengan jadwal akan diadakan lagi pengiriman tepat pada pukul 7 nanti malam."


"Pukul 7? bukannya pukul 6?"


"Maaf baru memberitahu Bos. Ada pengunduran karena pengemasan kali ini telat satu jam dari yang di targetkan."


"Baiklah. Aku akan mengecek kesana nanti."


"Baik Bos. Saya permisi."


"Ya." Jawab Ladit.


Pria itu menghela napasnya. Ia akan telat pulang kali ini.


Di sebuah Dermaga. Ketukan langkah kaki dengan bayangan hitam karena cahaya bulan semakin mendekat. Sosok pria dengan tubuh tegap atletisnya menghampiri orang orang berbadan kekar yang sudah berbaris menunggu disana. Wangi maskulin menyeruak mengikuti arah kemana angin bertiup. Meskipun sudah larut, aroma parfum mahal pria itu masih bisa tercium.


"Bos." Semua menunduk hormat melihat kedatangan pria itu.


"Aku hanya ingin mengecek."


"Baik." Semua membuka kotak yang berjejer rapi.


"Ini semua sudah kami uji kelayakan nya. Kami memberikan harga yang tinggi karena perakitannya memerlukan waktu yang lama dan kerumitan yang ekstra."


"Barang pesanan?"


"Benar Bos."


"Semuanya sudah sesuai. Tutup kembali dan segera kirimkan. Aku tak mau mengecewakan konsumen karena menunggu terlalu lama."


"Baik Bos." Jawabnya langsung melaksanakan tugas.


Ladit sampai di rumah pukul 9 malam. Mundur dua jam dengan apa yang dikatakan pada istrinya. Bukan bermaksud ingkar janji. Tapi keadaan yang memaksanya untuk pulang terlambat.


"Sayang." Panggil Ladit menghampiri Van yang masih menunggu di ruang tengah.


"Kamu sudah pulang Mas."


"Iya. Maaf ya aku terlambat. Ada beberapa kerjaan yang harus aku selesaikan malam ini juga."


"Nggak papa."


"Ini pesanan kamu." Ladit memberikan paper bag pada Istrinya.


"Makasih ya. Kamu sudah makan?"


"Belum. Aku mau mandi dulu. Badan aku lengket."


"Yasudah. Mandi sana. Aku siapin makan kamu."


"Mandiin."


"Ih. Mandi sendiri."


"Ayo dong Yang."


"Yaudah iya." Kata Van menuruti keinginan suaminya.


Selesai menyuapi suaminya makan malam kini Van sudah berada di kamar. Wanita itu makan donat dengan lahap.


"Pelan pelan makannya sayang. Nggak ada yang mau minta kok." Tutur ladit sambil membersihkan sudut bibir sang istri.


"Enak. Sudah lama aku nggak makan Donat madu dari toko Mom."


"Perut kamu belum kenyang? kamu sudah makan lima lo. Nanti sakit perut kalo kekenyangan."


"Belum. Aku masih mau."


"Baiklah. Setelah ini langsung tidur. Ini sudah malam." Ladit mengusap lembut kepala istrinya.


"Iya."

__ADS_1


Ladit bahagia. Istrinya begitu sabar dan pengertian. Untung sikap Van sama seperti Mommynya. Jika sikapnya seperti Veer atau Daddy. Dia tak bisa membayangkan.


"Terimakasih. Sudah membekali wanitaku bukan hanya paras cantik namun juga akhlak yang cantik pula." Batinnya sambil memandangi sang istri.


__ADS_2