
Van menghampiri suaminya yang masih tertidur pulas. Ladit semalam ikut begadang karena anaknya menangis terus. Mau tidak mau Van harus menelpon Maminya di tengah malam untuk membantu menenangkan karena Ia sudah berusaha memenangkan namun tidak berhasil. Benar saja. Vender Landung tertidur dalam gendongan Omanya.
"Bajunya sudah aku siapkan ya. Kamu bangun terus mandi." Kata Van sambil mengecup kening suaminya sebelum pergi. Pria itu tersenyum atas tingkah manis Istrinya. Ia berusaha membuka matanya yang masih sangat berat. Ladit mendudukkan diri di atas ranjang dan segera beranjak. Memaksakan diri untuk ke kantor di tengah kantuk yang melanda.
Van selesai memandikan anaknya lalu menyusui. Memberikan sarapan sehat untuk si kecil. Wanita itu mengecup tangan mungil Ven yang berusaha menyentuh wajahnya.
"Sayangnya Ayah lagi sarapan ya?" Tanya Ladit dengan pakaian yang masih berantakan.
"Pakaikan dasi?" Tanya Van pada suaminya yang hanya di jawab senyuman. Pria itu sudah bekerja bertahun tahun belum bisa menggunakan dasi dengan rapi. Dulu Ia bergantung pada Mommynya namun sekarang Ia bergantung pada Sang istri.
"Nanti aja. Biarkan putra kita tertidur setelah kenyang."
"Iya."
"Baunya Wangi."
"Jangan di ganggu. Nanti dia nangis kaya semalem." Tutur Van pada sang suami. Ia tak mau membuat Mommynya kerepotan lagi. Setelah beberapa menit berlalu. Putra kecilnya sudah memejamkan mata dengan tenang.
"Selamat tidur sayang." Keduanya mengecup kening itu pelan agar tak terusik. Selesai meletakkan anaknya ke dalam Box Van meraih Dasi yang sedaritadi di pegang suaminya. Wanita itu mengalungkan kain panjang tak bermotif ke leher Ladit sambil sesekali merapikan kerah baju pria itu. Dengan gerakan yang bisa dibilang cepat Van telah selesai. Ia merapikan kemeja suaminya dan mengancingkan jas biru dongker yang melekat sempurna di tubuh sang suami.
"Sudah siap."
"Ayo kita sarapan."
"Iya." Buru buru Ladit menggandeng tangan istrinya untuk keluar dari kamar sang Baby. Pria itu memberi kecupan di bibir Val sebelum menutup pintu.
Ladit mendudukkan diri diikuti istrinya.
"Mau pakai apa Mas?" Tanya wanita itu untuk menyiapkan menu sang suami.
"Nasi goreng aja Yang." Jawabnya sambil tersenyum.
"Baiklah." Kata Van mulai menyiapkan apa yang diinginkan suaminya. Tanpa menunggu kode keras. Wanita itu sudah paham. Ladit tak menyentuh sendoknya berarti laki laki itu pasti ingi di suapi. Van sangat peka. Ia meraih makanan yang sudah tersaji di piring dan mulai menyuapkan sesendok nasi berbumbu itu pada Sang Suami.
__ADS_1
"Hari ini kamu pulang jam berapa Mas?"
"Aku pulang jam makan siang kok. Nanti nggak usah kirim makan siang buat aku. Aku makan siang di rumah aja."
"Yakin? Nanti kelaparan kamu."
"Yakin. Jam 11 palingan aku juga sudah ada di rumah."
"Hm...Baiklah."
Sebagai seorang istri yang baik Van selalu menyempatkan diri untuk memperhatikan suaminya. Wanita itu kini tengah mengantar Ladit sampai ke depan. Seperti biasanya, Sang suami selalu memeluk tubuh Van dengan erat. Memberikan kecupan di beberapa bagian wajah wanita itu dengan intens.
"Aku berangkat dulu Sayang. Kamu sama anak kita baik bai di rumah Ya. Kalo ada apa apa segera telpon aku." Cerocosnya sambil masih memeluk.
"Iya. Kamu jangan cemas."
"Hm. Kalau begitu aku berangkat dulu. Assalamualaikum."
"Hati hati di jalan ya."
"Iya." Ladit memasuki mobilnya. Ia memandangi sang istri masih menunggu di sana sampai mobil keluar dari halaman rumah.
Van langsung menuju dapur setelah suaminya berangkat. Mupung anaknya tidur dengan tenang Ia mempunyai kesempatan untuk masak makan siang.
"Nyonya. Biar saya saja yang siapkan makan siang." Kata wanita paruh baya itu tergopoh gopoh menuju dapur.
"Nggak Bi. Saya kangen masak. Saya aja yang masak."
"Tapi Nyonya. Nanti Tuan marah."
"Nggak. Nanti biar saya yang ngomong."
"Baiklah. Saya bantu Nyonya."
__ADS_1
"Iya Bi." Jawabnya sambil memilih bahan di kulkas.
Sosok wanita berjalan tegap. Begitu cantik dan berwibawa dengan kacamata hitam yang menutupi mata indahnya. Seluruh karyawan membungkukkan badan melihat kedatangan wanita itu. Seperti biasa, Ia akan membalasnya dengan senyuman ramah.
"Selamat datang Nyonya. Tuan sedang berada di ruangannya." Kata salah satu karyawan yang menghampiri.
"Saya akan kesana."
"Mau saya antar Nyonya?"
"Tidak Mbak. Terimakasih. Saya kesana sendiri saja."
"Baik Nyonya."
Pintu ruangan terbuka. Dua orang yang berada disana terkejut melihat kedatangan sosok yang tak di duga duga. Pagi tadi Ia mengatakan jika akan pulang sore karena akan ada peluncuran produk kecantikan terbaru yang sedang dirintisnya. Namun siapa sangka tiba tiba sudah berada disini.
"Mommy."
"By."
Kata Mario dan Veer bersamaan.
"Mana Ken?" Val menatap keduanya secara bergantian.
"Maksud kamu apa By?Aku nggak ngerti."
"Kalian jangan bohong. Ken kalian kemanakan? Aku sudah cek CCTV rumah dan aku tau kalian dalang di balik semua itu."
'BODOH' itulah yang ada di benak keduanya. Bagaimana tidak terpikirkan ada CCTV di rumah.
"Kalian kemanakan?" Geram Val menatap keduanya. Mereka hanya bisa diam tak berani menjawab.
"Oh Ok. Kalian tetap diam. Baiklah." Val membalikkan badannya dengan cepat dan meninggalkan dua orang yang masih terbengong itu. Mario tersadar beberapa menit kemudian. Ia lalu menyusul sang istri yang entah sudah sejauh mana melangkah.
__ADS_1