Perjalanan Cinta Vanessa

Perjalanan Cinta Vanessa
Tidak Terima


__ADS_3

Van dan Ladit kini sudah sampai di rumah sepeninggalan Frans. Rumah itu masih sangat terawat dan terlihat nyaman.


"Kamu masuk duluan sayang. Biar aku yang bawa kopernya."


"Aku bantu. Ini banyak. Tidak mungkin kamu membawanya sekaligus."


"Hm. Baiklah. Kamu bawa yang ringan saja." Kata Ladit tak mau istrinya kelelahan.


"Iya." Jawab Van patuh langsung menyeret kopernya masuk ke dalam mengikuti sang suami.


Mereka menata baju dan semua barang di walk in closet. Meskipun sudah kenal Ladit sangat lama. Namun ini pertama kalinya Van memasuki kamar suaminya itu. Ternyata disana juga ada fotonya. Banyak malahan, Foto dari Van kecil sampai dengan pernikahan mereka kemarin. Van sudah melihat foto pernikahan di setiap sudut saat masuk tadi. Ia tak menyangka jika di kamar juga ada banyak.


"Kak. Kenapa fotoku ada disini?" Tanya Van sambil mengamati pigura yang tertata simetris di dinding.


"Jika aku menyimpannya di mansion. Pasti semuanya akan mengetahui jika aku mencintaimu. Makannya aku menyimpan disini."


"Oh."


"Sayang."


"Hm."


"Bisa tidak kamu merubah panggilan padaku?"


"Mau dipanggil apa?"


"Mas. Jika kamu tidak keberatan." Ladit meraih tangan Van dan menarik dengan lembut hingga gadis itu terduduk di pangkuannya.


"Akan aku biasakan."


"Terimakasih." Kata Ladit mengecup bibir istrinya sekilas.


Van dan Suaminya sudah berada di dapur. Mereka akan memasak untuk makan siang.


"Nanti aku cari ART buat kamu."


"Nggak usah. Aku bisa masak kok."


"Iya tau. Aku kan juga sering makan masakan kamu."


"Kenapa? Nggak enak ya?"


"Enak. Aku cuman nggak mau kamu kecapean aja." Ladit mengelus lembut kepala Istrinya.


"Nggak capek kok."


"Tapi kalau bersih bersih jangan lakukan sendiri. Aku akan suruh orang untuk membersihkan dan mengurus rumah setiap harinya. Kamu harus menurut."


"Iya."


"Mas. Tidak ada yang bisa dimasak sama sekali. Kita belanja ya." Kata Van menutup kembali kulkas yang sempat dibukanya.


"Iya. Ayo. Pakai ini untuk beli apapun kebutuhan kamu." Ladit menyerahkan Black card-nya.


"Aku sudah punya."


"Ini nafkah aku buat kamu. Sudah kewajiban aku."


"Baiklah. Terimakasih. Aku terima."


"Sama sama. Ayo berangkat."


"Iya."


Sosok laki laki tengah mendorong troli mengikuti langkah istrinya.


"Kamu mau dimasakin apa?"


"Apa aja boleh. Asal kamu yang masak aku makan kok."


"Pintar merayu. Udah kaya Daddy aja."


"Aku belajar banyak dari Daddy."


"Dia bucin banget sama Mom."


"Iya. Pisah sebentar aja nggak mau. Maunya nempel terus."


"Kalau aku bikinkan soto bagaimana?"

__ADS_1


"Boleh."


"Mau to daging atau soto ayam?"


"Soto daging."


"Ok. Kita beli dagingnya dulu."


"Iya. Jangan lupa buah dan sayur juga."


"Ok." Jawabnya sambil memilih berbagai bahan masakan.


Sampai di rumah Van langsung menata belanjaannya di kulkas dan menyisakan beberapa untuk segera dimasak.


"Ini dagingnya di cuci dulu Yang?"


"Iya. Aku siapin bumbunya. Kalau sudah kamu masukin ke panci ya."


"Iya."


Selesai dengan bumbunya. Van beralih menyiapkan dessert.


"Kamu mau bikin apa?"


"Puding susu."


"Kamu kalau lagi begini kaya Mom."


"Kenapa?"


"Cantik."


"Berarti cantiknya aku kalo lagi masak aja."


"Enggak. Kamu selalu cantik kok."


"Bohong."


"Serius." Ladit mengecup pipi istrinya dengan cepat.


"Ih. Jangan ganggu. Nanti nggak cepat selesai."


"Iya istriku." Laki laki itu malah memeluk Van.


"Aku mau begini."


"Hm...Terserah." Katanya membiarkan Ladit berbuat sesuka hati.


Keduanya tengah menikmati makan siang bersama setelah sholat.


"Masakan kamu enak. Bikin nagih." Kata Ladit di suapi istrinya.


"Kamu bukan anak kandung Daddy tapi malah persis Daddy. Makan sendiri ya."


"Nggak mau. Kita kan makannya gantian. Kamu suapi aku dan aku suapi kamu."


"Mas."


"Iya."


"Masa kamu belum pernah pacaran atau punya pacar atau pernah suka sama seseorang."


"Nggak pernah. Kamu cinta pertama dan terakhir aku."


"Aku kira kamu nggak pacaran gara gara Mom larang."


"Itu juga salah satunya. Yang paling utama ya itu, Aku nggak pernah suka sama siapapun kecuali kamu."


"Memangnya kamu suka sama aku sejak kapan?"


"Sejak kamu umur 9 tahun. Aku kira perasaan ini sama seperti perasaan kakak ke adiknya. Tapi ternyata beda. Aku cinta sama kamu." Kata Ladit jujur membuat Van tersedak.


"Hati hati Yang." Ladit segera memberikan minum untuk istrinya.


"Aku baru umur 9 tahun sudah kamu taksir?"


"Iya. Kamu umur 9 tahun kan aku udah 16. Aku sudah puber."


"Mom tau?"

__ADS_1


"Nggak. Tapi kalau Daddy tau kayanya. Kalau soal begini Daddy kamu lebih peka."


"Ah. Iya. Kamu inget nggak waktu Daddy ngambek gara gara cemburu Mom malah ninggalin dia bukannya di bujuk."


"Ingat. Itu gara gara ustadz yang ada di pondok kan?"


"Iya. Mereka itu. Daddy-nya bucin lah Mommy nggak peka."


"Tapi mereka harmonis aja ya. Nggak pernah ribut yang serius."


"Itu karna Mom yang sabar. Aku salut banget sama Mom. Dia sabar banget ngadepin suami sama anak anaknya. Nggak pernah marah. Mom itu marahnya diem bukan malah ngomel ngomel. Kalo Daddy beda. Dia kalo marah serem. Maki maki, bentak, banting barang. Tapi semenjak diarahin sama Mom sikapnya lebih soft sekarang."


"Mom hebat. Kamu pernah dimarahin Daddy?"


"Enggak. Kalo kak Veer sering. Sikapnya persis Daddy. Makannya mereka sering ribut."


"Mereka aneh."


"Aneh juga itu mertua sama ipar kamu."


"Iya. Habis ini tidur siang ya."


"Nggak ngantuk. Kita nonton aja. Aku punya film baru."


"Film apa?"


"Zombie."


"Kamu sukanya horor mulu."


"Yang horor lebih seru." Kata Van sambil terus menyuapi suaminya.


Ladit membaringkan kepalanya di paha sang istri yang sedang fokus menonton.


"Yang."


"Hm."


"Kamu pernah tangani pasien laki laki?"


"Pernah lah."


"Pernah lihat auratnya dong?"


"Iya lah." Ladit mematikan TV agar sang istri fokus berbicara padanya.


"Kenapa?"


"Kamu lihat sampai mana?"


"************. Dia cedera di paha bagian atas." Kata Van membuat Ladit duduk dan menatap istrinya.


"Dia masih muda atau sudah tua?"


"Umurnya 22."


"Kamu kok mau sih."


"Urgent. Keadaannya memprihatinkan. Masa iya aku mikirin aurat segala. Ya nggak sempat dong. Tugas aku kan nolong orang."


"Kamu masih ingat sampai sekarang?"


"Ih. Buat apa ditanya juga. Nggak penting."


"Yang. Kamu sadar nggak sih. Kamu udah lihat aurat laki laki lain selain suami kamu. Aku aja belum kamu lihat."


"Ih. Kok gitu. Itu juga karna terpaksa."


"Ayo mandi bareng."


"Hah?"


"Ayo mandi bareng. Aku merasa tidak terima sekarang."


"Iya." Kata Van menurut karena sadar belum bisa melayani Suaminya.


Ladit memangku dan menyabuni punggung sang istri. Ini pertama kalinya Ladit melihat bagain tubuh istrinya tanpa penghalang apapun. Begitu mulus tanpa cacat sedikitpun.


"Are you ok?" Tanya Van merasakan ada benda keras yang di dudukinya.

__ADS_1


"Ya. Aku bisa tahan. Aku akan tunggu sampai kamu siap. Sesuai janji aku."


"Terimakasih." Van berbalik dan memeluk suaminya dengan erat.


__ADS_2