Perjalanan Cinta Vanessa

Perjalanan Cinta Vanessa
Terimakasih


__ADS_3

Minggu pagi pukul 9. Van baru saja sampai di rumah. Ia selama dua hari terpaksa harus menginap di rumah sakit karena keadaan yang mendesak.


"Masih ingat pulang kamu. Kenapa nggak nginep di sana lebih lama lagi aja. Kenapa pulang?" Ladit menghampiri istrinya. Ia sudah tidak tahan lagi. Van begitu sibuk dengan pekerjaannya hingga tak memiliki waktu untuk suaminya sendiri. Ia memberi kebebasan Van untuk tetap bekerja. Namun bukan seperti ini yang Ladit mau.


"Mas."


"Kamu sudah keterlaluan. Aku sudah coba sabar tapi sekarang kesabaran aku sudah habis. Kamu sibuk dengan pekerjaan kamu hingga lupa sama aku. Aku itu suami kamu. Butuh juga di perhatikan. Bayangkan saja Kita ketemu kalau lagi tidur aja."


"Mas."


"Ini alasan kamu belum siap. Kamu nggak mau layani aku karena kamu takut jika kamu hamil nanti akan mengganggu karir kamu."


"Mas. Aku..."


"Kamu pilih aku atau kerjaan kamu?"


"Mas. Aku nggak bisa jawab ini."


"Oh. Itu artinya kamu lebih milih pekerjaan kamu daripada suami kamu sendiri?"


"Bukan begitu Mas."


"Aku nggak mau tau. Pokoknya kamu harus keluar dari kerjaan kamu."


"Mas tega." Kata Van langsung berlari keluar meninggalkan Ladit.


Ladit mengendarai mobilnya menyusul sang istri. Ia memarkirkan mobilnya kemudian mengejar Van yang sudah memasuki mansion Mommynya.


"Sayang." Kata Val langsung memeluk Van yang sedang menangis.


"Mom."


"Kamu kenapa?"


"Mas Ladit jahat."


"Kamu tenang ya. Cerita sama Mommy."


"Mom." Ladit menghampiri keduanya.


"Aku mau ke kamar dulu Mom." Kata Van langsung meninggalkan suami dan Mommynya.


"Mom."


"Biar Mommy yang bicara. Kamu tau sendiri kan Van memang seperti itu. Kamu jangan ganggu dulu."


"Baik Mom." Kata Ladit mendudukkan diri di sofa.


Val menghampiri anaknya yang sedang menangis di kamar.


"Kamu kenapa sayang. Cerita sama Mom."


"Mom. Mas Ladit minta aku buat keluar dari kerjaan aku. Itu kan impian aku Mom. Aku kerja keras biar bisa di posisi seperti sekarang."


"Alasan suami kamu minta kamu keluar kenapa?"


"Katanya aku terlalu sibuk. Jarang perhatiin dia."


Val menghela napasnya. Ini sama dengan yang terjadi padanya dulu.

__ADS_1


"Sayang. Wajar suami kamu bilang seperti itu. Laki laki memang butuh untuk di perhatikan. Mereka senang jika pulang kerja di sambut oleh istrinya. Rasanya seperti semua lelah dan beban hilang begitu saja. Mom dulu juga seperti itu. Mom terlalu sibuk dengan pekerjaan Mom jadi kurang waktu dengan Daddymu. Daddy waktu itu marah besar dan larang Mom pergi kemanapun. Mom hanya bisa menurut. Bagaimanapun juga Mom sebagai istri harus bisa mengerti dengan keinginan suami." Cerita Val sambil mengelus punggung putrinya.


"Sekarang kamu sudah dewasa. Sudah berumah tangga hampir dua bulan lamanya. Membuat suami marah itu adalah dosa. Jadi bicarakan baik baik. Minta maaf jika salah dan berdiskusi dengan kepala dingin."


"Iya Mom. Terimakasih." Kata Van memeluk Mommynya.


Van dan Ladit berpamitan pulang setelah makan siang bersama.


"Mereka kenapa Mom?"


"Nggak papa."


"Masalah rumah tangga. Kalian mana ngerti." Sindir Mario kepada kedua putranya.


Ladit dan Van sudah berada di kamar mereka.


"Aku minta maaf Mas." Kata Van penuh penyesalan.


"Aku juga minta maaf karena tadi marah marah sama kamu."


"Em...Sepertinya aku akan keluar dari kerjaan aku." Ladit menatap istrinya. Jujur Ia merasa bersalah saat ini. Bagaimana pun juga menjadi seorang dokter adalah cita cita Van. Istrinya berjuang mati matian untuk bisa di posisi sekarang.


"Maaf. Kamu tidak perlu keluar. Aku tadi hanya emosi saja."


"Tidak Mas. Aku akan keluar. Lagipula aku juga sudah lelah harus begadang setiap hari. Jika di rumah enak banyak tidur."


"Aku suka kamu tidak bekerja. Aku tidak bermaksud untuk menghancurkan cita cita kamu."


"Tidak. Ini kemauanku."


"Terimakasih sudah mengerti." Ladit memeluk istrinya.


Ladit menghampiri sang istri yang sedang duduk menyisir rambut di tepi ranjang.


"Sayang."


"Hm."


"Bolehkah?" Tanyanya sambil membuka handuknya.


Van mengangguk menjawab suaminya membuat Ladit tersenyum. Pria itu sudah bertelanjang sekarang. Ia mendorong tubuh Val dengan pelan hingga terlentang di atas ranjang.


Mulut Ladit mulai menyusuri leher jenjang sang istri dengan tangan yang membuka handuk Van dan membuangnya sembarangan. Tangganya bergerak nakal mengelus paha Van membuat istrinya memejamkan mata.


"Sayang." Bisik Ladit sambil menjilati leher istrinya membuat Van menggeliat kegelian. Tangannya meraba seluruh tubuh polos sang istri. Mulut Ladit menyusuri tubuh Van hingga berhenti di bawah sana. Ladit memainkan inti tubuh sang istri dengan lidahnya hingga benar benar basah.


"Aku akan mulai." Katanya mulai menancapkan miliknya yang mengeras.


"Mas. Sakit." Van mencengkram seprai dengan erat.


"Sabar Sayang. Ini sangat sempit." Rancu Ladit sambil mendorong pinggulnya membuat benda itu tenggelam sempurna.


"Ah...Sayang..em...Nikmat..." Katanya sambil menggerakkan pinggul maju mundur.


"Mas.... Ah..."


Ladit mengaitkan kedua kaki sang istri ke pinggangnya sambil terus bekerja. Mulutnya menyesap dan memainkan dua benda kenyal di dada istrinya.


"Sayang...Aku...Akh..." Ladit telah menyelesaikan pelepasan pertamanya.

__ADS_1


"Sudah ya..." Kata Val dengan wajah yang memerah dan penuh keringat.


"Lagi. Aku tidak akan membiarkanmu istirahat."


Ladit melanjutkan lagi hingga beberapa ronde.


"Terimakasih." Katanya mengecup kening sang istri yang tertidur pulas. Sebelum ikut tidur, Ladit mengambil tissue basah dan membersihkan darah di area sang istri.


Van menggeliat di pelukan suaminya. Mereka ketiduran karena kegiatan panas dan melelahkan yang baru saja mereka lakukan.


"St..." Van meringis merasakan perih di bawah sana.


"Sayang. Masih sakit?"


"Sedikit.


"Aku mau mandi."


"Iya. Ayo aku bantu." Pria itu tanpa malu berjalan dengan tubuh polos sambil menggendong istrinya ke kamar mandi.


Ladit meletakkan tubuh istrinya di bathup yang sudah diisi air hangat.


"Sayang."


"Hm."


"Kalau di lakukan di bathup begini boleh?"


"Boleh."


"Ayo. Lagi."


"Apa kamu tidak lelah? Kita baru istirahat 15 menit kamu sudah minta lagi."


"Aku tidak lelah."


Van memejamkan mata karena tangan suaminya dengan usil bermain di bawah sana.


"Sayang. Aku mau lagi."


Tanpa mendapat persetujuan dari sang istri Ladit memulainya lagi. Ia mendudukkan Van di pahanya. Pria itu berusaha keras memasukkan miliknya pada sang Istri yang masih sempit.


"Masih sempit." Katanya sambil mendorong.


"Pelan pelan Mas. Masih sakit. Punyamu terlalu besar." Rengek Van.


"Maaf. Aku akan pelan."


Ladit melajukan temponya dengan lembut. Ia membawa tangan Van untuk melingkar di lehernya.


"Ah...Sayang...Van...Sayang." Ladit terus memanggil nama istrinya sambil memejamkan mata merasakan kenikmatan yang begitu memabukkan.


"Mas...Pelan."


"Baik...Ah....Aku mau keluar...." Ladit lemas setelah mengeluarkan benihnya di rahim sang Istri.


"Sudah lelah?"


"Aku masih mau." Katanya mulai aksinya lagi tak mau berhenti.

__ADS_1


__ADS_2