
Van menatap suaminya tajam.
"Sumpah Yang. Aku beneran nggak selingkuh. Berani mati deh. Aku cintanya cuma sama kamu." Ladit mencoba meyakinkan istrinya.
"Kamu bohong Mas. Kamu tega sama aku. Kemarin aku lihat kamu jalan sama cewek lain."
"Mana ada. Aku dari kantor langsung pulang ke rumah. Nggak kemana mana lagi."
"Kalo nggak percaya lihat buktinya." Van menyerahkan kotak berukuran kecil pada suaminya.
"Ini apa?"
"Buka aja."
Ladit membukanya perlahan. Napasnya memburu melihat testpack di dalamnya.
"Ini apa Yang?" Tanyanya dengan polos. Val menghela napasnya.
"Itu alat untuk cek kehamilan. Itu tandanya positif hamil."
"Sumpah Yang. Aku nggak selingkuh. Apalagi hamilin orang. Aku nggak kaya gitu. Kamu percaya deh sama aku." Pria itu mulai berlutut di depan Van.
"Mas. Aku yang hamil."
"Kamu?"
"Iya. Aku hamil." Kata Val lagi sambil tersenyum.
"Aku bakalan jadi Ayah?"
"Iya."
"Makasih. Kamu tadi cuman ngerjain aku."
"Maaf."
"Nakal ya kamu." Ladit mengecup bibir istrinya berkali kali.
"Aku janji akan selalu menjaga kalian. Baik baik di dalam nak." Pria itu mengelus lembut perut sang istri yang masih datar.
"Mom." Van berjalan cepat menghampiri Mommynya begitu melihat wanita itu datang.
"Hati hati kamu lagi hamil."
"Iya." Jawab Van sambil menuntun Mommynya untuk duduk bersama di sofa.
"Kamu hamil dek?"
"Iya. Kakak mau punya keponakan nih."
"Iya. Maunya laki laki atau perempuan?"
"Terserah."
"Kalau Opa?"
"Terserah. Yang penting jangan kaya Mario."
"Papi."
"Cukup Veer aja yang persis kamu. Selanjutnya jangan."
"Oma. Aku mirip Mom. Nggak mirip Dad." Katanya tidak terima.
"Kamu itu mirip Daddy kamu."
"Nggak. Veer mirip Mom."
"Siapa juga yang mau dimiripin sama kamu." Mario menatap kesal anaknya itu.
"Kalian ini. Nggak bisa ya sehari aja nggak ribut."
"Dengerin tuh."
"Papi juga sama."
"Kok aku Mi."
"Duh. Sudah ya. Malah panjang ini nanti masalahnya." Lerai Val.
"Usia kandungan kamu berapa sayang?"
"Baru tiga Minggu Oma."
"Sudah tiga Minggu dan kamu baru tau sekarang?"
"Iya. Van nggak ngerasa hamil awalnya."
__ADS_1
"Dokter bisa begitu juga rupanya. Masa hamil nggak tau."
"Dokter juga manusia kak." Jawab Val.
Oma dan Opa sudah pulang. Hanya menyisakan Val, suami dan kedua anaknya yang masih di rumah Ladit.
"Lepasin Mommy kamu dong. Kita mau pulang." Kesal Mario karena sedaritadi Van memeluk lengan Mommynya tak mengizinkan wanita itu untuk pulang.
"Kalian kalo mau pulang ya pulang sendiri. Mom disini sama aku."
"Dit. Istri kamu nyebelin."
"Itu kan anak Daddy juga."
"Ayo Mom pulang. Kita sudah selesai jenguknya. Dia juga nggak papa."
"Kakak. Pulang sendiri sana. Jangan ganggu."
"Mom."
"Haish...Kalian berisik."
"Kamu mau sesuatu sayang?"
"Enggak Mom. Van cuman mau Mom temani Van saja."
"Iya. Mom disini."
"Makasih Mom."
"Hm. Kalian pulang duluan nggak papa."
"Nggak. Kita mau nonton. Kita pulangnya barengan sama Mom." Ved dan Veer berlalu meninggalkan mereka.
Van mengajak Mommynya untuk tidur siang bersama.
"Mom."
"Ya Sayang." Jawab Val sambil mengusap lembut kepala anaknya.
"Dulu Mom waktu hamil rasanya gimana?"
"Biasa saja. Tapi kalo hamil kakak kakak kamu itu Mom mual terus. Parahnya malah sampai usia kandungan 6 bulan. Mom nggak enak makan apa apa. Cuman minum susu, roti sama buah aja. Kalo di paksa makan nasi malah langsung mual."
"Oh..."
"Gampang capek Mom. Tapi kalo mual gitu Alhamdulillah enggak."
"Kamu jangan berkegiatan yang berat berat dulu. Usia kandungan kamu kan masih muda banget. Jangan sampai kecapean."
"Iya Mom."
"Yasudah. Kamu tidur ya."
"Peluk."
"Iya." Val memeluk anaknya. Ia tak menyangka sebentar lagi akan menjadi seorang Oma.
Ladit memeluk istrinya yang sedang kesal. Van ngambek karena Mommynya pulang bersama kakak dan Daddynya.
"Mas biarin Mom pulang sih." Kata Van sambil cemberut.
"Harusnya Mom kan tidur disini saja."
"Sudah dong Yang. Besok ketemu lagi. Kamu kan tau sendiri Daddy nggak mau ngalah. Dia nggak mau tidur disini. Dia yang paksa Mom buat ikut pulang."
"Daddy. Sama anak sendiri begitu."
"Sudah. Daddy dari dulu kan memang begitu. Jangan sedih lagi. Besok kita ketemu Mom."
"Iya."
"Yasudah. Sekarang tidur ya. Sudah malam."
"Ini belum malam. Masih jam 8."
"Ibu hamil nggak boleh tidur malam malam."
"Tapi aku belum ngantuk."
"Iya. Berbaring aja di ranjang. Istirahat. Ayo."
"Iya."
Ladit membantu istirnya berdiri.
Selesai bersih bersih Van dan suaminya membaringkan tubuh dengan nyaman di ranjang. Pria itu memiringkan posisi menghadap sang istri. Tangannya terulur mengelus lembut pipi Val yang sedang berbaring dengan posisi menghadap ke langit langit kamar. Tangan Ladit bergerak kesana kemari membuat Van merasa risih. Pria itu mengangkat gaun tidur Van dan membelai lembut paha mulus itu naik turun. Van masih membiarkan. Namun seketika Ia benar benar kesal saat tangan Ladit menelusup dan menyentuhkan jemarinya di bawah sana.
__ADS_1
"Tidur Mas. Tadi kamu suruh aku istirahat kan."
"Yang. Tidak boleh ya dilakukan sekarang?"
"Tidak. Kandungan aku belum cukup kuat."
"Terus kapan?"
"Kamu puasa aja sampai anak kita nanti berusia satu tahun." Van memiringkan tubuhnya memunggungi sang suami.
"Em...Mana boleh begitu. Biasa mati aku." Kata Ladit memeluk istrinya dari belakang.
"Lihat. Sudah mengeras. Aku sudah On." Ia dengan sengaja menggesekkan miliknya pada paha sang istri.
"Tadi dokter sudah bilang Mas."
"Aku tahan deh." Katanya sambil memeluk Van untuk tidur.
Pagi hari cuaca begitu cerah. Ladit mengajak istrinya untuk jalan jalan di taman setelah sarapan. Menurut yang dia baca kegiatan seperti ini baik untuk Ibu hamil agar releks.
"Kamu capek?" Tanya Pria itu sambil menggenggam tangan Van.
"Sedikit."
"Kita duduk dulu ya."
"Iya."
"Pelan pelan." Ladit membantu istrinya untuk duduk. Ia mengelus lembut perut istrinya.
"Sayang. Kapan dia akan bergerak?"
"Usia kehamilan 16 sampai 20 Minggu."
"Oh. Masih lama ternyata."
"Iya. Ini kan baru tiga Minggu."
"Kamu nggak kepengen sesuatu?"
"Enggak. Kenapa?"
"Katanya kalo orang hamil itu suka ngidam."
"Ya nggak semuanya begitu. Mom dulu juga nggak ngidam." Jelas Val pada suaminya.
Ladit menghampiri istrinya yang sedang membaca buku. Ia langsung memeluk Val dan mengecup bibir mungil itu beberapa kali.
"Sayang. Aku pengen martabak manis."
"Ih. Kamu kemarin kan sudah makan martabak."
"Pengen lagi."
"Aku yang hamil kok ya kamu yang minta macem macem."
"Ayo dong Yang. Kita beli martabak yang langganannya Mom itu lo."
"Gamau ah Mas. Jangan kebanyakan makan martabak deh."
"Ayo dong..." Katanya mulai merengek.
Setelah membujuk istrinya cukup lama akhirnya di kabulkan. Ladit sangat senang. Di meja kaca ruang keluarga sudah penuh dengan martabak berbagai toping. Tidak kira kira. Pria itu memborong sampai merasa puas.
"Sebanyak ini. Kamu sanggup habiskan?"
"Ayo makan sama kamu."
"Nggak mau. Kamu sendiri aja."
"Yasudah. Suapi."
"Mas. Aku mau baca buku."
"Ayo dong. Tega banget sama suami sendiri."
"Ih. Kamu itu. Kamu kan punya tangan. Makan sendiri."
"Suapi."
"Iya." Van meletakkan bukunya kemudian menyuapi Ladit.
"Kamu makan nggak sehat terus."
"Lagi kepengen. Mungkin bawaan bayi."
"Pengen kok tiap hari." Kata Van hanya di tanggapi senyuman oleh suaminya.
__ADS_1