Perjalanan Cinta Vanessa

Perjalanan Cinta Vanessa
Ngambek


__ADS_3

Mario duduk diam sambil menunduk karena mendapat tatapan tajam dari mertuanya.


"Sudahlah Pi. Jangan diperpanjang."


"Kamu belain laki kamu Sayang?"


"Uluh...Uluh....Nggak gitu Pi. Dia memang seenaknya begitu kan. Papi tau lah." Val memeluk Papinya untuk menenangkan pria yang beberapa tahun lebih tua dari suaminya itu.


"Maaf Pi." Kata Mario lagi. Mertuanya tentu tau pria itu sangat mencintai Putrinya. Mario adalah seorang pejuang. Apapun akan selalu dihadapi untuk bisa bersama sang istri. Papi Val menghela nafas kemudian duduk.


"Baiklah."


"Katanya."


"Terimakasih Pi." Pria itu akhirnya mengangkat pandangan menatap sang mertua.


"Jangan kamu ulangi lagi. Berjauhan dengan anakku satu satunya sangat sulit."


"Baik Pi. Mario minta maaf. Mario tidak akan mengulanginya lagi."


"Aku pegang kata katamu. Jika kau melanggar. Awas saja." Katanya memperingati.


Mario dan Val ikut duduk bergabung bersama semuanya untuk sarapan.


"Opa. Daddy sudah di maafkan?"


"Diam kamu. Pagi pagi cari ribut." Kesal Mario pada anak tengahnya.


"Hm."


"Kalian nggak ke kantor?"


"Kan Minggu Mom. Libur dong."


"Masa hari ini hari Minggu?"


"Iya sayang. Kamu sebulan pergi udah lupa hari aja."


"Hehe..Iya nih Mi." Jawab Val sambil mengambilkan sarapan untuk suaminya.


"Mom."


"Iya Sayang."


"Van mau disuapi Mom."


"Jangan Sayang. Mom juga belum sarapan." Ladit memberikan pengertian kepada istrinya.


"Nggak papa. Iya. Mom suapi."


"Makasih Mom."


"Iya."


"Dasar Manja." Kata Veer dan Mario bersamaan.


"Kalian memang sehati."


"Nggak."Jawab keduanya lagi dalam waktu yang sama.


"Tuh kan." Ledek Ved membuat keduanya diam.


"Biarin Van manja. Memangnya kalian aja yang boleh manja sama Mom."


"Sudah sudah. Ayo sarapan. Kenapa jadi pada ribut sih." Lerai Val.


"Mau rasa apa Yang?" Tanya Ladit yang akan membuatkan susu untuk sang istri.


"Vanilla aja."


"Ok."


Tak perlu menunggu lama. Segelas susu rasa vanilla telah siap. Pria itu sangat cekatan karena sudah terbiasa. Selama istrinya hamil Ia sendiri yang akan membuatkan susu untuk Van.


"Silahkan diminum Sayang."

__ADS_1


"Makasih Mas."


"Sama sama. Kamu mau apa? Buah?"


"Nggak. Ini sudah cukup."


"Ok."


Ladit mengelus perut istrinya dengan lembut. Ia tersenyum merasakan pergerakan dari dalam.


"Suka ya kamu Bunda minum susu. Kamu ikut kenyang nak?"


"Iya Ayah. Aku juga ikut kenyang." Jawab Van.


"Ayah sayang kalian." Sambil memeluk istrinya.


Papi Val menghampiri mereka yang asik bercengkrama.


"Mario. Papi minta tolong."


"Apa Pi?"


"Pesankan tanaman hias untuk kebun Papi. Ini daftarnya. Sore nanti harus sudah diantar."


"Baik Pi."


"Ayo By. Temani aku."


"Nggak usah. Kamu pergi sendiri aja."


"Pi."


"Yasudah Boleh."


"Ayo By."


"Aku yang nyetir."


"Nggak. Kita pakai supir saja. Atau nggak aku saja yang nyetir."


"Iya deh. Kamu yang nyetir."


"Tunggu sebentar. Aku ganti baju dulu."


"Pakai itu aja."


"No." Val langsung bergegas.


Sosok wanita berjalan menghampiri mereka. Begitu cantik dengan gamis dan kacamata hitamnya. Tampilan Val benar benar seperti remaja.


"Nggak jadi pergi." Kesal Mario.


"Istrimu mau cari laki baru itu." Kata Papi memanasi menantunya.


"Ih. Yaudah. Siniin kertasnya. Aku pergi sendiri."


"By. Kenapa kamu dandan begini sih. Menantang mentang masih muda."


"Memangnya kenapa? Apa pakaian aku nggak sopan?"


"Sopan kok Mom. Kalo gitu perginya sama Ved aja. Ayo."


"Nggak. Sama aku." Mario bangkit dari duduk langsung menarik lengan sang istri untuk pergi.


Mario hanya diam di sepanjang perjalanan.


"Dah. Jangan ngambek begitu."


"Tau ah."


"Kalo ngambek begini makin cinta deh aku sama kamu."


"Nggak usah gombal kamu."


"Hm. Terserah Daddy aja." Kata Val sambil memarkirkan mobilnya.

__ADS_1


"Ayo turun."


"Kamu disini aja. Biar aku yang turun."


"Nggak ah. Aku juga pengen turun. Masa aku cuman jadi supir kamu aja."


Keduanya turun dari mobil sport mewah berwarna hitam metalik itu. Benar saja yang dikhawatirkan Mario. Istrinya mendapat tatapan memuja dari orang orang. Pria itu langsung memeluk Val untuk menunjukkan bahwa wanita cantik ini adalah istrinya.


Malam hari Van dan Ladit sudah berada di rumah. Mereka memutuskan untuk tidak menginap lagi karena Ladit mendapat telpon untuk menandatangani beberapa berkas penting.


"Sayang." Pria itu langsung duduk sambil memeluk istrinya yang tengah sibuk menonton.


"Sekertaris kamu sudah pulang?"


"Sudah. Baru saja."


"Oh."


"Kamu capek? Biar aku pijitin."


"Nggak usah. Aku nggak capek kok."


"Tangan kamu kok merah merah kenapa Mas? Oh leher juga."


"Nggak tau. Rasanya gatel banget."


"Kamu mandi gih. Nanti aku kasih obat."


"Iya deh. Mandiin dong."


"Nggak. Tadi di rumah Oma sudah dimandiin. Sekarang kamu mandi sendiri ya."


"Iya Deh. Kamu monotonnya di kamar aja Yang."


"Iya." Jawab Val hanya menurut.


Ladit hanya menggunakan celana pendeknya tanpa menggunakan baju. Punggung dan tangan pria itu bentol bentol. Val mengolesi obat dengan telaten agar mengurangi rasa gatal.


"Kok bisa begini."


"Mungkin tadi ikutan tanam bunga di rumah Opa ada ulatnya. Terus gatal begini jadinya."


"Iya mungkin."


"Sayang."


"Iya."


"Aku nggak nyangka kamu mau bertahan dengan aku. Padahal kamu sudah tau aku adalah seorang Mafia."


"Aku di kasih wejangan sama Mommny Mas. Dia juga dulu seperti itu. Bahkan minta cerai berkali kali sama Daddy karna Daddy orangnya kasar dan posesif parah. Mom ngomong sama aku katanya jangan mudah bilang cerai. Selesaikan masalah ini jika sudah sama sama tenang. Bicarakan baik baik. Sudah sepantasnya istri itu menerima suami apapun keadaannya. Begitu Mom bilang."


Ladit membalikkan tubuhnya kemudian memeluk Val dengan erat.


"Terimakasih Ya. Kamu sangat pengertian dan sabar. Aku mencintaimu sayang."


"Sama sama Mas."


"Sayang."


"Iya."


"Aku boleh minta jatah kan?"


"Kamu gatal begini."


"Tapi yang di bawah tidak." Jawab Ladit langsung menggendong istrinya dan meletakkan di ranjang dengan hati hati. Pria itu mulai melepas semua pakaiannya. Val hanya diam sampai tangan suaminya bergerak di balik gaun tidur membuat wanita itu kegelian. Dengan cepat Ladit membuat sang istri telanjang. Tubuh indah itu berada di bawah Kungkungannya.


"Pelan pelan Mas. Aku sedang hamil."


"Iya Sayang. Mas akan pelan."


"Ayah akan pelan pelan." Kata Ladit sambil mengusap perut sang istri. Ia mulai mencium bibir Van dan **********. Ciuman turun ke leher. Tangan pria itu menggerayang memainkan yang di bawah sana hingga basah.


"Ah...Sayang. Aku akan masuk." Ladit membuat benda itu masuk ke dalam milik sang istri. Mendorongnya pelan hingga tenggelam seluruhnya. Ia bergerak maju dan mundur dengan perlahan menciptakan penyatuan yang begitu lembut dan penuh cinta.

__ADS_1


"Ah...Sayang....." Rancunya sangat menikmati dengan mata yang terpejam. Ia tak memainkan dua benda di atas. Meskipun sangat menggoda namun Ladit tak mau menyakiti istrinya. Beberapa kali mencapai pelepasan. Pria itu menjatuhkan diri di samping Van. Mencium dan mendekap tubuh itu dengan hangat.


__ADS_2