
Ladit menemani istrinya yang tengah duduk di balkon kamar. Wanita itu sedang menikmati suasana sore yang begitu cerah untuk menghibur hatinya. Van bersedih. Ia baru saja selesai menangis karena benar benar merindukan Mommynya.
"Tadi kan sudah Vide Call Yang." Kata Ladit sambil menyuapi buah untuk sang Istri.
"Aku sudah kenyang."
"Tinggal tiga potong. Mubazir. Mom nggak suka orang yang mubazir." Ladit menggunakan Mommynya sebagai senjata agar sang istri mau menghabiskan.
"Baiklah." Jawab Van.
"Jangan sedih. Mommy secepatnya pasti akan pulang." Pria itu mencoba menenangkan Van padahal dia sendiri juga sangat rindu.
"Aku kangen Mas. Sudah dua Minggu. Aku pengen peluk Mom."
"Semuanya juga kangen. Sabar ya. Kalo nanti Mom pulang kamu puas puasin lepas kangen." Van hanya mengangguk. Mau bagaimana lagi. Bersedih seperti apapun jika Daddynya belum menurunkan titah maka Mommynya tidak bisa pulang. Van bersyukur. Setidaknya Ladit tidak semenyebalkan Daddy. Ya meskipun manja namun sikapnya masih bisa di tolerir.
Di sisi lain seorang pemuda memasuki gedung. Semua orang diam diam mencuri pandang untuk sekedar mengamati wajah tampan nan tegas itu. Meskipun sering datang namun tatapan kagum dari kaum hawa tak pernah sirna. CEO mereka juga mendapatkan tatapan yang sama ketika lewat. Namun yang satu ini berbeda. Mereka tidak bisa menatap pria berbadan atletis dan berjalan dengan wajah dingin itu secara terang terangan karena terkenal bermulut pedas. Sikap dan karakternya begitu tegas, berwibawa dan tak segan untuk memaki jika menemukan kesalahan. Mereka bersyukur karena yang memimpin perusahaan ini tidak terlalu kejam seperti orang barusan. Sikapnya lebih ramah dan tidak kaku.
Veer memasuki ruang kerja kakaknya. Pemuda itu langsung merebahkan tubuhnya di sofa tanpa dipersilahkan.
"Semua karyawanmu menyebalkan." Kata Veer sambil berdecak.
"Keluhanmu sama setiap datang kesini." Ved menutup Map yang diperiksanya lalu bangkit dari duduk untuk bergabung bersama sang adik.
"Sudah makan?"
"Belum Kak. Makanku berantakan akhir akhir ini. Tidak ada Mom. Aku kangen masakan Mom. Koki bodoh yang bekerja di rumah masakannya tidak seenak masakan Mom."
Ved menggelengkan kepalanya pelan. Semua tingkah Veer sangat mirip dengan Daddynya. Mulutnya hanya asal bicara. Untung cuma Veer. Jika saja Van juga begini pasti Ved dan Mommynya akan mengelus dada setiap hari.
"Kita makan di rumah Oma saja."
"Hm. Baiklah."
"Aku mau minum dulu. Haus." lanjutnya sambil berdiri kemudian berjalan menuju kulkas.
"Ambilkan untukku juga."
"Ya." Katanya mengambil dua kaleng larutan dan melemparkan pada Ved satu.
"Thanks."
"Hm."
"Aku tidak menyangka dulu Daddy mendapatkan Mom dengan cara seperti itu." Veer teringat lagi yang pernah di ceritakan Opanya.
"Aku tidak terlalu terkejut." Jawab Ved membuat Veer seketika menoleh menatap kembarannya.
"Ya. Aku tidak terlalu terkejut karena melihat karakter Daddy yang seperti itu. Dia orang yang ambisisus, kejam, seenaknya dan mendominasi."
"Sama sepertimu." Lanjut Ved menatap balik adiknya.
"CK....aku tidak seperti Daddy." Decaknya kesal tak mau disamakan.
Ved menatap adiknya dengan intens membuat Veer merasa risih.
"Kenapa menatapku seperti itu Kak?"
"Atau kemungkinan kelak jika kau menginginkan seorang wanita Kau juga akan menggunakan cara yang sama."
"Heh. Aku tidak perlu susah susah. Banyak wanita yang mengantri. Aku tidak perlu mencari. Mereka akan datang sendiri."
__ADS_1
"Tapi pernahkah kau berpikir. Daddy orang yang tampan, kaya dan berkuasa. Kenapa dia sulit sekali mendapatkan Mom?"
"Jika aku menjadi Mom aku juga akan demikian. Daddy. Seperti yang kau sebutkan tadi. Mom cantik, kaya, baik dan good attitude. Jadi kesimpulannya. Mungkin rentan umur mereka yang jauh, Mom yang terlalu muda dan Mom tidak tertarik sama Daddy. Daddy lebih cocok menjadi Om atau ayahnya ketimbang suami. Mungkin Juga Mom itu masih ingin fokus ke karir. Oh atau bisa juga Oma dan Opa tidak merestui."
"Kisah mereka rumit."
"Iya. Ayo ke rumah Oma untuk makan."
"Baiklah." Katanya sambil berdiri dari duduk.
Val menggandeng tangan suaminya. Mereka mengunjungi tempat terakhir untuk kegiatan jalan jalan hari ini. Keduanya tengah berada di Le Marais yang merupakan sebuah kawasan bersejarah dan kota tua di Paris, Perancis yang sangat terkenal. Kawasan ini dipenuhi oleh aneka ragam jenis toko, makanan dan lain-lainnya.
"By. Aku capek." Keluhnya pada sang istri.
"Yasudah. Kita duduk dulu." Kata Val membawa suaminya duduk di bangku.
"Aku beli minum dulu ya. Kamu tunggu sini."
"Aku ikut. Kamu nanti ilang lagi."
"Kamu tuh yang ilang. Nggak tau bahasa sini juga. Aku pergi sebentar. Kamu jangan kemana mana."
"By."
"Sebentar aja."
"Jangan lama lama."
"Iya." Jawabnya langsung berlalu.
"Lama banget." Kata Mario melihat kedatangan sang istri.
"Ya ampun Dad. Cuman 10 menit."
"Nggak. Ini minum dulu."
"Makasih istriku." Mario mengecup pipi dan bibir istrinya.
"Hm." Jawab Val.
"Kamu mau nggak Dad?"
"Kamu beli apa?"
"Croissant."
"Apa itu?"
"Roti."
"Suapi. Aku lapar."
"Hm Ok. Habis ini kita balik makan siang."
"Iya." Jawab Mario karena sudah benar benar lelah menuruti istrinya mengunjungi berbagai tempat.
Selesai makan siang keduanya memutuskan untuk mandi dan beristirahat. Mario menghampiri Val dan memeluknya dengan erat. Pria itu hanya menggunakan boxer hitam pendek tanpa baju.
"Pakai baju sana."
"Enggak. Enakan begini."
__ADS_1
"Hm..Terserah deh." Pasrah Val tak ingin berdebat. Mario menggendong istrinya tiba tiba dan merebahkan di ranjang dengan perlahan. Ia mengungkung tubuh sang istri dan membaliknya hingga posisi Van sudah berada di atas.
"By." Panggil pria itu sambil mengelus wajah sang istri.
"Hm."
"Umur aku sudah tua."
"Nggak ada yang bilang kamu masih muda. Sudah mau punya cucu pula."
"Tapi kamu masih muda."
"Kenapa memang?"
"Aku takut aja kamu ninggalin aku yang sudah tua ini."
"Jujur saja aku juga takut itu akan terjadi." Kata Val membuat Mario melebarkan matanya.
"Kamu bilang apa?"
"Enggak. Cuman bercanda. Eh tapi kalo ada yang lebih hot nggak papa sih." Kata Val sambil tertawa.
"Kamu jahat." Mario membalikkan tubuhnya tiba tiba. Pria itu mengungkung tubuh Val dan menciumi bibir sang istri bertubi-tubi.
"Aku menginginkanmu sayang."
"Lagi? Semalam sudah. Jangan bercanda kamu. Aku lelah."
"Aku nggak bercanda."
"Nanti malam saja. Aku baru mandi."
"Sampai pagi."
"Tau ah." Val benar benar lelah sekarang.
"Yasudah. Kita tidur." Mario mengalah. Pria itu berbaring memeluk istrinya.
"Kamu jangan tinggalin aku ya.."
"Iya."
"Kalo kamu nggak mau diajak main. Aku minta cucu."
"Sudah dibuatkan sama Van."
"Bukan itu. Ini." Tunjuknya pada dada sang istri.
"Nggak. Kemarin aja kamu gigit. Aku mau tidur. Jangan banyak tingkah kamu."
"Ayolah By." Mario mulai membuka kancing baju Van.
"Dad."
"Nolak suami itu dosa lo."
"Kalo suaminya nggak pengertian kaya kamu nggak papa."
"Kamu bilang aku nggak pengertian? Aku nggak pengertian sebelah mana coba?"
"Kamu minta jatah terus. Aku capek."
__ADS_1
"Kamu diem aja. Aku yang kerja."
"Bodo amat." Val langsung memejamkan matanya tak perduli dengan tingkah sang suami. Ia merasakan kedua benda kenyal itu dihisap dan dimainkan sesuka hati namun Val tidak menggubris. Ia benar benar mengantuk sekarang.