Perjalanan Cinta Vanessa

Perjalanan Cinta Vanessa
Vender


__ADS_3

Suasana tegang menyelimuti. Mereka begitu cemas di depan ruang persalinan.


"Mom." Ladit keluar ruangan guna memanggil wanita itu.


"Ada apa?" Val buru buru menghampiri menantunya.


"Van minta ditemani Mom."


"Oh Baik." Jawabnya langsung masuk ke dalam setelah mengenakan baju khusus.


"Mom." Lirih Van hendak meraih tangan Mommynya. Wanita itu telah berkeringat di dahinya.


"Iya Sayang. Mom disini." Kata Van meraih tangan itu dan menggenggamnya kuat kuat.


"Kamu bisa Sayang." Ladit memberikan semangat.


"Pembukaan terakhir." Kata Dokter. Van hanya mendengarkan instruksi wanita paruh baya itu. Ia mengejan sekuat tenaga. Bayi mungil itu keluar diiringi tangisan dan rasa syukur. Ladit meneteskan air matanya kemudian mengecup kening sang istri dengan lembut.


"Terimakasih Sayang." Katanya pelan.


"Bagaimana?" Tanya orang orang melihat Val keluar dari ruangan.


"Sudah lahir. Bayinya laki laki."


"Alhamdulillah." Kata mereka semua merasa lega.


"Kami boleh lihat?" Tanya Ved sangat antusias.


"Sebentar. Masih di bersihkan."


"Hm. Ok."


"Ponakanku laki laki Mom?"


"Iya. Kamu suka?"


"Iya dong." Jawab Veer tersenyum bahagia.


Ladit tengah menggendong anaknya. Ia begitu bahagia telah sempurna menjadi seorang Pria. Dengan kehadiran malaikat kec di tengah tengah keluarganya.


"Siapa namanya Dit?" Tanya Mario sambil mengusap bayi laki laki yang tertidur anteng itu.


"Vender Aliandra Bailey."


"Nama Yang bagus. Sini Mom mau gendong."


"Iya." Pelan pelan Ia mengalihkan bayi itu ke Omanya.


"Mirip siapa ponakan Uncle Ini?" Tanya Ved sambil memainkan jemari kaki imut itu.


"Mirip Bundanya."


"Iya. Mirip Van." Kata Mami Val setuju.


"Kamu mau sesuatu Sayang?" Tanya Ladit pada istrinya yang terbangun.


"Minum Mas."


"Iya. Aku ambilkan."


"Mau makan?" Tawarnya sembari membantu sang istri minum.

__ADS_1


"Nggak."


"Mom."


"Iya Sayang."


"Masih tidur?"


"Masih. Kekenyangan minum ASI. Lihat. Mirip kamu." Kata Van sedikit membungkukkan tubuhnya agar Van bisa melihat putranya.


"Iya." Jawab Van menganggu setuju.


"Van kapan boleh Pulang?"


"Hari ini juga boleh."


"Serius?"


"Iya. Tadi dokter bilang begitu."


"Oh."


"Akikahnya nanti di rumah Mom aja ya."


"Nggak usah Mom. Nanti ngerepotin. Di rumah kami saja."


"Nggak ngrepotin. Mom malah seneng bisa undang tetangga."


"Yasudah. Terserah Mom aja."


"Ok."


Sore hari mereka baru sampai di rumah. Ladit langsung membawa istrinya untuk istirahat sementara anaknya sudah di jaga oleh Val.


"Aku pengen gendong Dad. Kamu kenapa sih."


" Kamu belum istirahat. Nanti kecapean."


"Ngga. Opa mau gendong cucunya nggak?" Kata Val membujuk Mario. Pria itu masih takut menggendong bayi karena semasa Veer kecil dulu pernah jatuh dari gendongan Daddynya.


"Nggak usah takut. Kamu sambil duduk aja." Kata Val menenangkan.


"Aku coba."


"Jangan kaku begitu Dad."


"Diem kamu."


"Dibilangin." Kesal Veer pada Daddynya.


"Ini. Pelan pelan saja." Val menyerahkan bayi itu ke gendongan Mario. Pria itu tampak tak terbiasa.


"Nangis dia." Mario panik melihat bayi itu merengek. Val buru buru mengangkat cucunya. Ia menimang anak itu sampai tenang dan tertidur kembali.


Mereka semua makan malam bersama.


"Ven nanti nggak kebangun?"


"Nggak Mom. Sudah Van kasih ASI tidurnya anteng banget."


"Iya. Kaya kamu waktu bayi. Anteng."

__ADS_1


"Semuanya nginep di sini kan?"


"Maaf. Oma sama Opa nggak bisa. Soalnya ada kerjaan yang harus diurus."


"Oma sama Opa sudah tua istirahat dong."


"Iya. Kita kan cuman tandatangan aja."


"Kita juga nggak bisa. Besok kan masuk kerja. Jadinya kita tidur di rumah aja."


"Kalian nanti pulangnya hati hati ya."


"Iya Mom."


"Mom sama Dad?"


"Iya. Mom tidur disini." Jawab Val langsung mendapat cubitan dari suaminya.


"Aw..Sakit Dad."


"Kita nggak bisa nginep. Besok Daddy juga harus ke kantor untuk lihat kinerja kakak kamu."


"Kalo gitu Mom aja."


" Mom nggak bisa. Kamu kan tau kalo Daddy nggak bisa tidur kalo nggak sama Mom."


" Daddy ngalah kenapa sih." Kesal Van.


"No. Daddy yang berkuasa."


"Iya. Nanti Mom nginep disini kok."


"By."


"Makasih Mom." Kata Van sangat bahagia.


Mario memunggungi istrinya. Ia sangat kesal pada Val. Seharusnya Ia bisa tidur di rumah. Bukannya apa apa. Ia tidak terbiasa tidur di rumah orang lain kecuali mertuanya.


"Masih marah?" Val memeluk suaminya dari belakang membuat Mario tersenyum diam diam. Pria itu tak mau berkutik. Ia ngambek sekarang.


"Jangan begitu dong Dad." Val mengusap dada bidang suaminya yang terbiasa tidur tanpa menggunakan baju. Mario memejamkan mata menikmati jari lentik yang bermain disana. Val semakin mendekat. Ia bisa merasakan dua benda kenyal milik sang istri menubruk punggungnya.


"Memangnya kamu sudah benar benar tidur?" Tanya Val sensual sambil menjilat telinga sang suami.


"Ungh...." Lenguh Mario tak dapat menahannya lagi membuat istrinya tersenyum menang. Pria itu dengan cepat membalikkan tubuhnya menghadap Val. Ia tiba tiba membungkam mulut sang istri dengan ciuman panasnya. Ciuman yang semakin dalam dan menuntut lebih. Val mengusap bibir suaminya yang kini sudah mengungkung tubuh indah berbalut baju tidur pendek itu.


"Kamu sudah punya cucu. Mau tambah anak lagi?" Tanya Val menatap manik hitam legam itu dalam dalam.


"Tidak. Tidak ingin menambah anak."


"Lalu. Kamu memangnya membawa itu. Pengaman?"


"Tidak. Gesekan antara kulit langsung lebih nikmat."


"Nanti aku hamil kamu marah."


Mario tersenyum. Ia mengambil sebutir obat dan menelankannya pada sang istri. Dengan gerakan cepat pria itu minum kemudian meminumkan cairan putih bening itu lewat mulutnya.


"Begini kamu tidak akan hamil lagi."


"Aku lelah."

__ADS_1


"Setelah menggodaku dan membuat milikku berdiri kau bilang lelah?"


"Oh. Jangan bercanda sayang." Mario mulai mencumbu istrinya. Keringat yang membasahi sprei membuat ruangan ber AC itu menjadi panas. Menjadi saksi bisu pergulatan suami istri yang kini sudah menyandang status baru itu.


__ADS_2