
Wanita itu semakin mendekat mengikis jarak antara keduanya. Jemari lentiknya menyusuri dada bidang pria itu membuat Mario merasakan kenikmatan sambil memejamkan mata.
"Um..." suara dari Mario membuat bibir berlapis lipstik merah itu tersenyum lebar menampilkan deretan giginya yang putih dan rapi. Ia membuka topeng dan duduk di pangkuan Mario dengan melebarkan kedua kakinya yang putih mulus. Tebakan Mario benar. Itu adalah Valerie istrinya. Ia bisa menebak aroma tubuh Sang Istri tercinta dan juga reaksi tubuhnya akan ON hanya karena sentuhan Val saja.
"Kau ingin membunuhku Daddy?" Tanya Val dengan suara sensual tepat di telinga pria itu.
"Ahaha. Tidak sayang. Aku pikir orang lain yang melakukan ini padaku. Ternyata kamu." Mario sangat ingin melahap istrinya sekarang. Val begitu menggoda. Sehingga yang berada di bawah sana sudah berdiri tegak.
"Daddy." Panggil Val dengan manja sambil membimbing jemarinya untuk membelai milik suaminya. Mario memejamkan mata. Ia benar benar tersiksa jika harus seperti ini.
"Sangat besar." Gumam Val yang masih bisa di dengar suaminya.
"Benar Sayang. Milikku memang sangat besar."
Wanita itu pun berdiri memeluk suaminya. Mario bisa merasakan benda kenyal itu tepat berada di kepalanya. Hendak membuka mulut untuk menjilat dada sang istri yang terbuka, namun Val duduk di pangkuannya lagi. Wanita itu tersenyum kemudian mengeluarkan katana yang berada di balik punggung.
"Sayang. Kenapa kau membawa benda berbahaya ini?" Tanyanya sedikit takut.
"Mari aku beri kau pelajaran." Jawab Val dengan wajah dinginnya kemudian menebas asetnya yang begitu berharga.
"Aaaa....." Teriak Marion memenuhi kamar. Val benar benar kesal sekarang. Ia baru saja sampai dan beristirahat dari perjalanan panjang dan suaminya mengacaukan.
"Dad. Bangun." Val mengguncangkan tubuh kekar itu.
"Sakit. Kamu tega." Rancunya masih memejamkan mata.
"Keterlaluan." Kesal Val.
"Dad. Bangun." Panggilnya lagi namun Mario tetap tidak bangun.
"Om Mario. Bangun." Teriak Val.
Pria itu akhirnya terbangun dan duduk dengan napas terengah engah. Ia tiba tiba membuka boxernya dengan cepat.
"Kamu apa apaan sih." kata Val melihat tingkah aneh suaminya.
"Alhamdulillah." Katanya bernapas lega.
"Kamu kenapa?"
"Ternyata cuman mimpi. Aku mimpi tadi kamu tebas punya aku." Mario merengkuh tubuh sang istri.
"Kebanyakan mesum jadinya begitu. Mandi sana. Kita akan makan siang."
"Ayo mandi bareng."
"Aku sudah mandi. Kamu mandi dulu. Aku tunggu disini."
"Ayo dong By..."
"Jangan merengek atau aku tinggal nih. Cari gara gara aja."
"Iya iya. Tunggu. Aku mandi sebentar." Katanya langsung menurut karena tak ingin di tinggal sang istri.
Mario menggandeng tangan istrinya memasuki sebuah restoran mewah. Ia menyuruh beberapa orang untuk memesankan tempat paling bagus dan paling mewah disini.
"Kenapa kita nggak makan si tempat biasa aja sih. Buang buang duit."
"Kamu peritungan banget. Aku kaya. Uang aku nggak bakalan habis."
"Sombong, makannya di tiru anaknya. Sebelum terlalu jauh aku bakalan perbaiki akhlak anak itu termasuk kamu juga." Val menatap suaminya dengan tajam.
"Hm. Terserah kamu deh By." Jawab Mario pasrah.
Keduanya duduk saling berhadapan di ruangan VVIP. Seorang pelayan laki laki datang menghampiri pasangan suami istri itu.
"Guten Tag, schöne Dame und mein Herr, bitte sehen Sie sich das Menü an.(Selamat siang Nona cantik dan Tuan silahkan lihat menunya.)"
"Jawohl (Baik)" Jawab Val sambil menerima buku menu.
"Dia ngomong apa By?"
__ADS_1
"Sok Sokan ngajakin keliling Eropa. Bahasanya aja nggak ngerti. Dia mau kita pilih menunya."
"Oh. Kamu yang pesan. Samain aja."
"Bilang aja nggak ngerti."
"Hehe. Iya."
Val sudah memesan beberapa menu kemudian menyerahkan buku itu kembali kepada pelayan.
"Herr. Darf ich Ihre Tochter kennenlernen??(Tuan bolehkah saya berkenalan dengan putrimu?)" tanya pria itu sambil menghadapkan tubuh pada Mario.
"Ngomong apa lagi dia?"
Val menghela napasnya. "Tuan bolehkah saya berkenalan dengan anaknya? begitu dia kata."
"Kurang ajar. Keterlaluan. Dia istri saya. Suruh manajer kamu kesini aku mau protes." Kata Mario tidak terima. Val menggenggam tangan suaminya. Ia menenangkan pria itu.
"Tut mir leid, Sir, ich bin seine Frau(Maaf tuan, saya istrinya)" Jawab Val sambil tersenyum.
"Entschuldigung Frau. Herr. Verzeihung.(Maaf Nona. Tuan. Permisi)" Katanya menunduk hormat lalu pergi.
"Jangan senyum." Kata Mario kesal.
"Jangan marah Dad. Nanti cepat tua kamu. Eh memang sudah tua."
"Keterlaluan kamu."
"Sudah jangan marah marah."
"Cium di bibir yang lama."
"Nggak." Tolak Val mentah mentah.
"Ih. Selalu begitu." Mario meraup bibir istrinya dengan rakus tanpa persetujuan dari Val.
Mereka telah sampai dan langsung beristirahat setelah mengunjungi beberapa tempat di Berlin.
"Nggak usah. Mereka baik baik aja kok."
"Laptop kalo gitu. Aku kangen. Aku pengen video call sama mereka."
"Halah. Nanti kalo pulang juga ketemu."
"Ayo dong."
"Iya sayang. Ini." Kata Mario menyerahkan ponselnya pada Val.
"Kok punya kamu. Punya aku mana?"
"Pakai itu saja."
"Hm...Ok." Kata Val.
"Nomer anak sendiri nggak kamu simpan." Kata Val terkejut. Memang jarang Ia mengecek atau menggunakan HP Mario.
"Enggak. Cuman ada nomor kamu, Papi sama Mami aja."
"Mana nomor anak anak."
"Kamu pengen hubungi siapa?"
"Ved."
"Yang belakangnya 111." Kata Mario sambil membuka riwayat panggilan.
Di sisi lain semuanya tengah berkumpul di ruang keluarga. Mereka mencoba menghubungi Val dan Mario beberapa kali tapi tidak bisa. Ponsel Ved bergetar. Sebuah panggilan Video masuk. Ia buru buru mengangkatnya.
"Mom." Katanya sedikit terkejut karena Val menggunakan nomor Daddynya.
"Hubungkan ke TV. Biar jelas."
__ADS_1
"Iya Opa."
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam. Mom kenapa ninggalin kita sih."
"Iya. Kamu kok tega ninggalin Papi sih sayang."
"Tanya saja pada Mantu Papi itu. Val nggak ikut ikutan. Disini Val juga korban."
"Mario. Mana dia?" Geramnya.
"Aku disini Pi." Katanya dengan santai sambil memeluk sang istri.
"Dasar kurang ajar kamu."
"Maaf Pi. Tapi kalau Mario sedang jauh begini Papi tidak bisa berbuat apa apa."
"Oh begitu. Aku pastikan kamu pulang tinggal nama."
"Papi." Tegur Mami pada suaminya.
"Dia menyebalkan."
"Mommy kapan pulang?"
"Nggak tau juga."
"Lama. Kita pulangnya bakalan lama. Beberapa bulan lagi."
"Daddy." Kesal Ladit.
"Daddy aja jangan pulang. Tapi Mom pulang."
"Veer. Kamu mau durhaka jadi anak?"
"Daddy yang durhaka jadi orang tua. Masa misahin anak sama ibunya."
"Kamu. Awas aja kalo Daddy pulang. Bakalan Daddy bejek bejek kamu."
"Ada Mom yang bakalan lindungi aku. Ingat, Daddy juga bakal kena hukuman dari Opa jika pulang." Veer kembali meledek.
"Ved."
"Iya Mom."
"Jaga adik, Oma dan Opa ya. Mom titip mereka." Pesan Val pada anak tertuanya.
"Iya Mom. Jangan khawatir."
"Mom."
"Ya sayang."
"Kapan Mom pulang. Van kangen." katanya sambil menangis tersedu sedu.
"Uh...Jangan nangis dong sayang. Secepatnya Mom akan pulang."
"Tapi kapan?" Tanya Van menangis lebih kencang.
"Jangan sedih begitu. Kamu lagi hamil. Mom akan pulang cepat. Tapi tidak tau kapan. Semuanya masih di tangan Daddy kamu. Sabar ya."
"Daddy jahat."
"Sudah. Daripada kalian ngatain Daddy terus. Mendingan udahan. Daddy sama Mom mau istirahat. Sudah dulu ya. Oh iya untuk Papi dan Mami jaga kesehatan ya. Dada... Assalamualaikum." Mario langsung menutup panggilannya.
"Dasar menantu kurang ajar. Gimana bisa sehat kalo tiap hari di bikin darah tinggi terus." Umpat Papi dengan kesal.
"Sabar Pi." Mami menenangkan suaminya.
"Mau sabar bagaimana lagi. Dia memang suka cari gara gara. Ini sudah yang ke sekian kalinya Mario memisahkan aku dengan putriku."
__ADS_1
"Maksud Opa.......?" Tanya Ved dan Veer bersamaan.