
Mario mengejar istrinya sampai di rumah. Wanita itu langsung berlari menuju kamar. Val sangat sedih. Dengan tega suami dan anaknya memisahkan Ia dengan Ken.
"Sayang." Pria itu langsung memeluk sang istri begitu sampai.
"Kembalikan Ken."
"Dia sudah bahagia disana bersama teman temannya. Lagipula dia akan membahayakanmu atau cucu kita." Kata Mario semakin mengeratkan pelukan pada tubuh istri tercinta.
"Kau kemanakan Ken Dad?"
"Aku membawanya ke penangkaran. Dia akan dirawat dengan baik."
"Kembalikan."
"Tidak."
"Kembalikan dia padaku. Aku menyayanginya."
"Tidak akan." Mario meninggikan suaranya.
"Kenapa?"
"Karna kamu akan mengabaikanku dengan kehadirannya."
"Itu tidak benar." Lirih Val. Mario membalikkan tubuh istrinya dengan cepat. Ia menatap tajam wanita itu sambil mencengkram dagu Val untuk menatapnya. Kesabarannya sudah habis kali ini. Ia akan lebih tegas pada sang istri. Waktu itu Ia menuruti karena tak tega. Namun sekarang Ia akan menjadi tega. Wanita yang begitu Ia cintai sangat sibuk dengan kegiatannya. Dimana saat masa masa seperti ini Ia sangat butuh di perhatikan.
"Tidakkah kau paham. Aku hanya menginginkan perhatianmu. Kenapa kau selalu saja menyibukkan diri. Aku merasa diabaikan. Aku sudah mencoba bersabar namun kau tidak mengerti juga." Val tidak menjawab. Suaminya begitu sensitif saat ini. Kemarahan pria itu sepertinya sudah memuncak. Untuk menghadapi situasi seperti ini adalah diam. Ia tak mau bertengkar dengan suaminya. Val hanya diam saat tangan kokoh itu mendorongnya ke ranjang dengan kasar.
"Dad. Aku hamil." Kata Val namun tak di dengarkan oleh pria itu. Ia benci Mario yang seperti ini namun yang bisa dilakukannya sekarang hanya berusaha sekuat tenaga untuk menghentikan pria itu.
Lain halnya dengan Van dan Ladit. Keduanya tengah mengajak si buah hati untuk duduk menikmati suasana sore di taman belakang. Udaranya begitu segar karena banyak tanaman dan pepohonan rindang yang menyejukkan.
"Mas. Kamu tolong telponin Mom dong."
"Daritadi udah aku telpon tapi nggak diangkat."
"Kebiasaan sih Mom. Pasti nggak pegang Hp."
"Iya kali."
__ADS_1
"Anak Bunda bangun ya....." Kata Van melihat putranya membuka mata. Bayi itu tenang dan tidak menangis.
"Coba sini aku yang gendong."
"Nanti nangis."
"Coba dulu."
"Baiklah." Van memberikan bayi mungil itu pada suaminya dengan hati hati.
"Nggak nangis. Anak Ayah pinter..." Ladit mengayunkan lengannya sambil berceloteh ria menghibur sang putra. Pria itu berdiri sambil membawa anaknya jalan jalan di sekitaran tepat duduk istrinya.
Hari semakin sore. Belum sempat Van mengajak suaminya masuk. Sosok wanita tengah berjalan cepat menghampiri keduanya.
"Tuan. Nyonya."
"Ada apa Bi?"
"Nyonya Val masuk rumah sakit."
"Kok Bisa?" Keduanya begitu terkejut.
"Baiklah. Terimakasih Bi."
"Iya Tuan."
"Kamu di rumah saja. Aku yang akan kesana."
"Nggak Mas. Aku khawatir sama keadaan Mom."
"Kasih Ven kalo kamu ajak kesana juga. Kamu di rumah saja ya."
"Iya. Nanti secepatnya kasih kabar."
"Iya. Ayo masuk. Sekalian aku mau berangkat."
"Iya Mas." Jawab Van sambil mengikuti langkah cepat suaminya.
Ladit berlari langsung menuju IGD tempat sang Mommy di tangani.
__ADS_1
"Bagaimana keadaannya Dad?"
"Masih di dalam." Jawabnya cemas. Bagaimanapun juga Ia adalah tersangka dalam kejadian Ini. Jika saja tadi tidak mendorong istrinya dan menjamah tubuh itu terlalu kasar mungkin Val akan baik baik saja. Mario terkejut saat darah mengalir dari paha istrinya. Wanita itu terisak kesakitan sembari memegang perut. Dokter keluar dari ruangan menghampiri mereka yang menunggu.
"Bagaimana dok?"
"Maaf. Janin yang ada di dalam kandungan Nyonya tidak bisa kami selamatkan." Kata dokter membuat mereka semua pucat seketika.
Semuanya memasuki ruangan Val. Wanita itu sudah dipindahkan ke ruang perawatan beberapa saat yang lalu.
"Kalian pulang saja. Biar Daddy yang menjaganya."
"Tapi Dad."
"Pulanglah. Jangan katakan ini kepada siapapun. Rahasiakan apa yang kalian dengar dari dokter tadi."
"Baik Dad." Jawab ketiganya patuh.
Mario mengusap lembut wajah pucat sang istri. Pria itu merasa bersalah. Ini semua gara gara dia. Meskipun Ia tak ingin memiliki anak lagi. Tapi Ia juga tak sampai hati membunuhnya.
"Em....." Val mengerjapkan matanya.
"Sayang kamu sudah bangun?" Mario mendongak menatap wajah cantik itu.
"Anakku baik baik saja kan?" Val memegangi perutnya sambil terus bertanya.
"Jawab Dad. Anak aku baik baik saja kan?'
"Maaf." Lirihnya.
"Apa maksudmu minta maaf?"
"Dia tiada." Kata Mario menahan sesak di dadanya. Van menangis pilu dengan apa yang barusan Ia dengar.
"Kenapa kau tega lakukan ini. Aku sudah bilang jika aku hamil namun kau tidak mendengarkannya. Aku tau kau tidak menginginkannya. Namun tidaklah kau biarkan dia melihat dunia ini." Teriak Val histeris.
"Aku ingin dia kembali. Tukar saja nyawaku dengannya. Aku ingin dia hidup. Bunuh saja aku kembalikan dia." Wanita itu tampak frustasi dan begitu kehilangan. Mario memeluk istrinya dengan erat sambil terus meminta maaf. Ini adalah salahnya.
"I'm not a good mother (Aku bukan Ibu yang baik)" Lirih Val. Kehilangan kebebasan dan Ken masih bisa Ia terima. Namun kehilangan anaknya sendiri membuat Val merasa menjadi orang tua terbodoh di dunia ini. Ia tidak bisa menjaga titipan yang telah di berikan oleh tuhan. Ia bahkan belum berjuang, belum mendengar tangisan, dan juga belum menyentuh kulit lembut anak keempatnya.
__ADS_1
"Maafkan Mom." Katanya tersedu sedu dalam pelukan suaminya.