Perjalanan Cinta Vanessa

Perjalanan Cinta Vanessa
Cucu Posesif


__ADS_3

Van menyiapkan baju kerja suaminya. Ladit masih mandi di dalam dan Ia tak mungkin menunggu sampai selesai. Wanita itu melangkahkan kaki ke kamar putranya. Vender sudah berdiri di box tidurnya.


"Aih anak bunda sudah bangun."


"Bunda." Panggilnya dengan jelas sambil menggerakkan tangan untuk meraih Bundanya.


"Ven mau Uma..." Celoteh bocah itu yang setiap pagi pasti akan menanyakan keberadaan Omanya.


"Iya. Mandi dulu. Nanti kita ketemu Uma."


"Uma."


"Iya Sayang." Van mengangkat anaknya.


"Mandi dulu. Baru boleh ketemu Uma." Ia menggendong putranya untuk segera dimandikan.


Ladit menghampiri istrinya yang sedang sibuk memakaikan pakaian untuk sang putra.


"Ayah."


"Hem...Sudah wangi...Ven sudah mandi ya..?"


"Cudah...."


"Ven mau Uma...."


"Lah. Kamu maunya sama Uma terus." Ladit mencubit pipi Ven dengan gemas.


"Jangan di cubit nanti nangis." Tegur Val. Suaminya terkadang begitu usil menjahili anaknya sampai menangis. Yang repot siapa? tentunya Van kalau tidak Val juga kerepotan. Karena putranya jika sudah menangis dan sang Bunda tidak mengatasi maka Val harus turun tangan untuk menenangkan. Wanita itu beralih menghadap suaminya ketika sang putra sudah di dandani dengan tampan. Ia merah dasi yang sedaritadi di pegang oleh Ladit dan mulai memakaikannya dengan rapi.


Keduanya sudah berada di ruang makan. Van menyiapkan makan untuk suami kemudian beralih menyuapi putranya.


"Dulu belum ada kamu Ayah yang di suapi." Katanya pada sang anak yang tidak mendapat respon. Ven lebih memilih untuk mengunyah makanannya daripada menanggapi. Pipinya tampak menggembung dengan makanan yang penuh di rongga mulut.


"Kamu tidak menjawab Ayah Sayang?" Tanya Ladit sambil mengecupi pipi gembul itu berkali kali.


"Hais..dia sedang makan Mas. Jangan di ganggu."


"Hm...Sekarang Bunda selalu bela kamu." Sindir Ladit pada sang Istri.


Van mengantarkan suaminya sampai di depan seperti biasa. Ia mencium tangan Ladit dan di balas kecupan lembut di bibir dan kedua pipi.


"Ayah berangkat dulu. Kamu jangan nakal sama Bunda. Ok?"


"Oce..."


"Kamu nanti pulang jam berapa Mas?"


"Seperti biasanya."


"Yaudah. Nanti sore bisakan ke rumah Mom? Ven tanyain Umatnya terus."


"Jangan nunggu sore. Selesai makan siang nanti kesana juga bisa."


"Iya."

__ADS_1


"Yasudah. Aku berangkat dulu ya."


"Iya."


"Assalamualaikum. Dada sayang.."


"Waalaikumsalam. Dada...Ayah." Van menggerakkan tangan Vender untuk melambai pada Ayahnya.


"Mau Uma..." Celotehnya lagi setelah masuk ke dalam rumah.


"Nanti Sayang. Ayah baru berangkat. Kita ke taman dulu. Main rumput di sana mau?" Ven hanya mengangguk menanggapi Bundanya membuat Van tersenyum. Ia langsung membawa Ven ke halaman belakang. Sampai disana Van membiarkan putranya untuk berjalan dengan telanjang kaki di atas rumput. Ia tau Vender sangat menyukai itu. Sudah dua tahun umurnya dan sudah dua tahun pula Van telah menjadi seorang Ibu. Rasanya sangat luar biasa melihat sang anak tumbuh dengan baik.


"Bunda." Tiba tiba Ven berlari ke arahnya dan memeluk dengan erat.


"Ada apa sayang?"


"Gendong."


"Hm baiklah." Van menggendong anaknya. Ia mencuci kaki Ven dan mengeringkannya dengan handuk. Van membawa putranya untuk jalan jalan di sekitar. Cuaca pagi begitu cerah memberikan suasana yang baik dalam hati.


Di sisi lain Val tengah sibuk dengan pekerjaannya. Selesai dari klinik dan perusahaan dia harus menghadiri seminar dan beberapa wawancara. Ia memijit pelipisnya yang berdenyut. Akhir akhir ini Ia begitu di kejar waktu seperti buronan. Harusnya di usia muda dulu bukan sekaran. Tidak di kerjakan namun ini adalah tanggung jawabnya. Mau tak mau Ia harus profesional.


"Bu. Satu jam lagi kita akan ada seminar kemudian wawancara dalam satu gedung yang sama."


"Ok." Katanya sambil menelan burger yang sedaritadi di kunyah.


"Sudah makan?"


"Mana sempat Bu."


"Ibu tau aja saya lagi lapar. Makasih ya Bu."


"Iye." Katanya pada laki laki yang menjabat sebagai asisten sekaligus sekertarinya itu.


Van dan Ladit tak berhasil menenangkan anaknya sedaritadi. Mereka dalam perjalanan menuju ke Mansion Mommynya. Vender menangis tak sabar ingin berjumpa dengan sang Oma. Sampai di sana mereka bergegas turun.


"Kenapa nangis. Sini sama Uncle." Ved dan Veer langsung menghampiri ponakannya.


"Ga mau. Hwa......" Tangisnya semakin kencang.


"Ada apa? Kenapa nangis?"


"Biasa Dad. Mau sama Mom."


"Sini sama Opa dulu."


"Mau Uma....."


"Mom mana sih Dad?"


"Dia lagi ngisi acara seminar."


"Pulangnya jam berapa?"


"Agak sore palingan."

__ADS_1


"Duh...Sayang kamu jangan nangis dong. Uma lagi nggak ada." Van berusaha menenangkan putranya.


"Umaa......" Ven berteriak karena tak kunjung bertemu dengan Umanya.


"Sebentar. Aku telpon dulu."


"Percuma. Daddy sudah telponin daritadi nggak di angkat." Kata Mario sambil duduk di sofa.


Mobil sport terparkir di halaman Mansion mewah. Sosok wanita turun sambil menjinjing tas di tangan kanan dan beberapa dokumen di tangan kiri.


"Uma......" Teriak Vender sambil berlari langsung menubruk dan memeluk kaki Val.


"Wah...Hati hati sayang. Nanti jatuh." Val langsung menggendong cucunya.


"Mom."


"By. Kamu baru pulang. Katanya pulang jam 3 ini sudah jam 4." Corocos Mario langsung memeluk dan mengecup sang istri diikuti anak anak dan menantunya.


"Bawain." Katanya menyerahkan barang barang pada suaminya agar lebih leluasa memeluk sang cucu.


"Ven kangen Uma...." Katanya memeluk tubuh Val dengan erat. Bocah itu tampak nyaman dalam pangkuan Val.


"Lihat Mom. Matanya bengkak nangis terus karena nyariin Mom."


"Uluh uluh...Maaf. Uma lagi kerja sayang."


"Uma. Ga boleh kelja...."


"Cucuku Posesif." Val mengecup pipi gembul itu beberapa kali.


"Tuh dengerin." Mario menarik telinga sang istri.


"Sakit Dad."


"Maaf." Katanya sambil mengusap dan mencium pipi sang istri.


"Daddy. Kebiasaan. Cari kesempatan mulu."


"Biarin."


"Ven sudah mandi?"


"Belum Uma."


"Ayo mandi. Biar bau kecutnya ilang."


"Biar sama aku aja Mom. Mom pasti capek. Istirahat saja."


"Ga papa." Van menggendong cucunya diikuti Mario yang menyusul.


"Dad."


"Apa?"


"Bajunya Vender bawain." Kata Ladit menyerahkan tas pada mertuanya.

__ADS_1


__ADS_2