Perjalanan Cinta Vanessa

Perjalanan Cinta Vanessa
Nasihat Dari Mom


__ADS_3

Semenjak saat itu Van berubah. Ladit merasa istrinya sedikit pendiam akhir akhir ini. Ladit tak mau mengganggu atau mempermasalahkan. Ia tau jika semua ini tidaklah mudah. Van butuh waktu untuk bisa memahami dan menerima keadaan.


"Sayang. Kamu sudah selesai?" Tanyanya menghampiri Van yang sedang mengenakan jilbabnya. Keduanya akan berkunjung ke rumah Mommy.


"Sudah. Ayo berangkat sekarang."


"Iya." Ladit menggenggam tangan istirnya dan membawa wanita itu untuk berjalan bersama.


Sepanjang perjalanan sepasang suami istri itu sama sama diam.


"Sayang. Kamu mau beli sesuatu tidak? Jika mau beli kita bisa mampir sebentar."


"Tidak. Kita langsung ke rumah Mom saja."


"Baiklah." Jawab Ladit menuruti keinginan sang istri.


Tidak membutuhkan waktu yang lama keduanya sudah sampai. Van langsung turun dan sedikit berlari menghampiri Mommynya yang sedang menyiram tanaman.


"Jangan lari."


"Iya Mom." Van langsung memeluk wanita itu.


"Mom." Ladit mencium kening dan ikut memeluk.


"Kamu sudah di tunggu Ved sama Veer di lapangan golf."


"Iya Mom. Ladit kesana dulu ya."


"Iya."


"Kamu kenapa sayang?" Tanya Van melihat ekspresi anaknya yang tampak berbeda.


"Van nggak papa Mom."


"Jangan bohong." Kata Van hanya ditanggapi senyuman oleh anaknya.


"Ayo masuk. Mom jangan capek capek siram tanaman segala." Kata Van menggenggam tangan Mommynya dan membawa wanita itu masuk ke dalam.


Ladit menghampiri kedua iparnya yang sedang duduk menunggu.


"Ini dia orangnya sudah datang."


"Lama banget sih. Kamu kesininya lewat langit apa? kita janjiannya kan jam 8. Ini sudah hampir jam 10."


"Maap. Ayo mulai. Keburu panas."


"Iya."


"Daddy mana?"


"Lagi di ruang kerjanya. Tau tuh dari tadi nggak keluar."


"Tumben betah nggak di temani Mom."


"Tadinya minta di temani. Tapi Mom nggak mau."


"Oh."


"Ini kok malah ngomongin Daddy. Ayo mulai."


"Iya Abangku sayang. Rewel banget." Jawab Veer pada kakaknya.


Van merebahkan kepala di pangkuan Mommynya dengan nyaman.


"Mom."


"Iya Sayang." Jawab Val sambil mengelus lembut kepala putrinya.


"Mom dulu pernah kecewa karna Daddy seorang Mafia kan? Dan sekarang itu terjadi sama aku Mom." Kata Van membuat Val terkejut. Ia tak menyangka menantunya ternyata seorang Mafia.

__ADS_1


"Mom."


"Ah. Iya Sayang." Jawab Val setelah tersadar dari lamunannya.


"Mom tau kalau Mas Ladit seorang Mafia?"


"Tidak tau sayang. Mom baru tau dari kamu."


"Daddy memberikan bisnis itu pada Papa kemudian di turunkan pada Mas Ladit. Mom. Van benar benar kecewa sama Daddy sama Mas Ladit. Mereka sudah bohongi Van."


Val menghela nafasnya.


"Dulu Mom juga sempat merasakan di posisi kamu. Mom lebih parah dari ini. Mom dibohongi dan di kecewakan berkali kali. Daddy melanggar janji yang telah kita sepakati. Daddymu orang yang sangat kejam dan posessive. Dulu Mom sempat minta bercerai dengannya. Namun Daddy kamu malah menyakiti Mom secara fisik maupun psikis. Mom dilarang kemanapun. Mom tidak diizinkan keluar rumah ini. Mom hidup seperti di penjara. Daddymu begitu membatasi gerak Mom. Namun Mom memberikan kesempatan padanya. Mom bertahan untuk anak anak Mom karena Daddy kalian mengancam Mom jika Mom berpisah dengannya maka Mom tidak akan bisa melihat kalian lagi. Semuanya yang berawal dari keterpaksaan dan tekanan seketika menjadi sebuah berkah. Mom mulai dari awal lagi hingga Daddymu berubah. Hingga saat ini Alhamdulillah kita hidup bahagia dan harmonis."


"Sayang. Setiap rumah tangga akan mengalami ujian. Suamimu orang yang baik dan tidak akan menyakiti kamu. Mom tau itu. Jadi selesaikan masalah ini dengan bicara dari hati ke hati. Jangan mudah mengatakan kata cerai seperti Mom dulu. Kalian bisa perbaiki dengan saling percaya dan mengerti satu sama lain."


"Terimakasih Mom. Van lega bisa bicara dengan Mom seperti ini." Van duduk dan memeluk Mommynya.


"Datanglah kapanpun kamu membutuhkan Mom. Mom akan selalu ada untuk kamu sayang." Val mengusap kepala putrinya.


Mario menghampiri menantunya yang sedang duduk sendiri.


"Dad."


"Kenapa manyun begitu?"


"Nggak papa Dad."


"Ada masalah sama Van? Kalo masalahnya berat. Haish...aku bakalan punya mantu baru dan kamu jadi duda."


"Daddy. Tega banget sama aku."


"Biarin. Mertua Daddy juga tega sama Daddy."


"Yang tega sama Daddy kan Opa. Kenapa aku di bawa bawa."


"Dad."


"Dulu Daddy gimana sama Mom waktu Mom tau Daddy Mafia."


"Van tau kamu Mafia?" Tanya Mario hanya dijawab anggukan.


"Yah. Awalnya sulit. Namun Mommy kamu orang yang sabar. Perlahan dia luluh dan mengerti. Kamu jangan khawatir. Van akan sama dengan Mommynya." Kata Mario sambil menepuk punggung menantunya.


Val menghampiri semuanya di ruang tengah. Ia baru saja selesai menemui tetangganya yang datang berkunjung. Wanita itu berdiri tegap sambil melipat kedua tangannya di dada. Mata Val menelisik mengamati ekspresi mereka satu persatu.


"Diantara kalian bertiga."


"Kok bertiga Mom. Van sama suaminya enggak?" potong Veer.


"Kalian bertiga. Van sama Ladit nggak tinggal disini."


"Memangnya ada apa sih By? Sini duduk dulu dekat aku."


"no. Volevo solo chiederti chi di voi ha ucciso le mie piante?(tidak. Aku hanya ingin bertanya siapa diantara kalian yang membuat tanamanku mati?) Kata Val dalam bahasa Itali.


"Duh. Kamu ngomong apa sih By? Aku nggak ngerti."


"Iya nih. Mentang mentang pernah tinggal di Belanda. Mom ngomong apa?"


"Siapa diantara kalian yang membuat tanaman Mom mati?"


"Tanaman yang mana?"


"Kelapa. Kelapa kuning itu. Jawab jujur."


"Bukan aku By."


"Bukan aku juga Mom."

__ADS_1


"Veer." Panggil Val pada anak tengahnya.


"Maaf Mom. Veer nggak sengaja."


"Kamu apakan?"


"Waktu itu Veer nggak sengaja buang air aki. Terus kena."


"Kamu itu selalu saja."


"Maaf Mom. Nanti Veer ganti." Katanya bangkit dari duduk langsung memeluk Val.


"Mommyku sayang. Veer minta maaf ya."


"Iya."


Ladit memeluk istrinya yang sedang mencuci muka. Keduanya memutuskan untuk tidak menginap di rumah Mommynya hari ini.


"Kamu sudah mandi?"


"Sudah. Ini baru selesai."


Van membasuh wajahnya dengan air. Suaminya tak tinggal diam. Pria itu meraih tissue untuk mengelap wajah istrinya.


"Kamu belum ganti baju juga. Kan sudah aku siapkan."


"Nanti dulu."


"Aku minta maaf." Kata Ladit menangkup wajah sang istri.


"Dimaafkan."


"Terimakasih." Katanya sambil memeluk Van.


"Handuk kamu melorot tuh." Kata Van melihat handuk yang melilit di pinggang suaminya jatuh ke bawah.


Tengah malam Ladit terbangun dari tidurnya. Perutnya tiba tiba merasa lapar.


"Sayang." Panggilnya pada Van yang tertidur pulas.


"Um...Ada apa sih Mas?"


"Aku pengen bakso."


"Jangan aneh aneh deh. Ini sudah malam banget."


"Ayo kita keluar. Temani aku beli bakso."


"Jam segini mana ada yang buka." Kata Val mendudukkan diri sambil melihat jam dinding di kamar.


"Ini sudah jam 12 lebih lo."


"Masih ada yang buka. Ayo."


"Iya. Aku cuci muka dulu." Katanya sambil turun dari ranjang.


Van dan Ladit sudah sampai di penjual bakso. Dua mangkuk hidangan berbahan daging itu sudah tersaji di meja.


"Suapi." Manja Ladit pada istrinya.


"Kamu makan sendiri dong. Aku juga mau makan."


"Ayolah. Suapi."


"Iya." Van meraih mangkuk suaminya dan memotong bakso itu kecil kecil. Ia meniupnya terlebih dahulu sebelum menyuapkan pada Ladit.


"Enak?"


"Enak." Jawab Ladit sambil makan dengan semangat.

__ADS_1


__ADS_2