
Mario menatap anak dan menantunya dengan kesal. Bagaimana tidak, keduanya datang tengah malam begini. Begitu mengganggu waktunya beristirahat dengan sang istri. Untung saja tadi Mario keluar kamar dengan pelan ketika ponselnya mendapat pesan bertubi tubi. Jika tidak, Pasti istrinya akan terbangun. Mereka baru beristirahat setelah. Ya semuanya pasti tau. Mario selalu meminta jatah pada sang istri. Meskipun usianya sudah setengah abad lebih. Namun Ia sangat pandai jika disuruh membuat Val kelelahan. Keperkasaan pria itu tidak perlu diragukan lagi.
"Kalian mau ngapain tengah malam begini datang."
"Dad. Aku mau nasi goreng Mom." Kata Ladit membuat Mario tersentak. Bukaannya anaknya yang hamil. Kenapa menantunya malah seperti orang ngidam begini.
"Kan istri kamu yang hamil. Kenapa kamu jadi begini?"
"Tau tuh Dad. Ganggu orang istirahat aja."
"Ayolah Dad."
"Nggak. Daddy mau tidur lagi. Ganggu aja."
"Dad."
"Enggak. Kalian jangan ganggu. Mom juga lagi tidur." Tegas Mario.
Val mengerjapkan matanya. Ia merasakan tempat di sampingnya kosong. Sang suami tidak ada di sampingnya.
"Kemana orang itu?" Kata Val berdecak kesal. Mario tak mengizinkannya mengenakan pakaian.
"Dasar menyebalkan. Makin tua makin menyebalkan." Gumam Wanita itu sambil meraih dan memakai piyamanya. Perlahan Val turun dari ranjang untuk mengambil minum di dapur. Ia merasa sangat haus. Beberapa teguk air dingin akan membuatnya nyaman.
Val berjalan hendak kembali ke kamarnya. Namun suara orang yang saling beradu argumen membuatnya melangkahkan kaki ke ruang tengah.
"Mom." Ladit berhambur memeluk Val.
"Kalian disini?"
"Iya Mom." Jawab Van lembut ikut memeluk Mommynya.
"Iya. Mantu kamu minta dibikinin nasi goreng tuh."
"Ayo. Mom bikinkan."
"Nggak usah By. Biarin aja. Ayo tidur lagi."
"Iya. Mom tidur aja. Biarin dia beli atau bikin sendiri." Kesal Van karena sang suami merepotkan Mommynya.
"Nggak papa. Ayo Mom bikinin."
"Makasih Mom. Mom emang paling pengertian."
"Sama sama. Kalo gitu Mom ke dapur dulu."
"Ikut." Ladit dan Van mengekori Val yang mulai berjalan ke arah dapur. Mario menghela napasnya. Seharusnya jika istri yang hamil itu yang repot suami. Tapi kenapa Van hamil yang repot malah istrinya. Begitu tidak adil. Kehidupannya selalu diganggu oleh mereka. Mario akan merancang strategi untuk bisa mengabiskan waktunya hanya berdua dengan Val. Umurnya sudah tidak muda lagi. Masa tua seperti ini hanya ingin Ia habiskan bersama Istrinya seorang.
Ladit makan nasi gorengnya dengan lahap.
"Enak banget Mom." Katanya hanya ditanggapi senyuman oleh Val.
"Sudah kan. Ayo tidur lagi By."
"Mom..."
"Mau minta apa lagi? Merepotkan saja. Suruh istri kamu yang bikin kalau mau apa apa. Daddy mau tidur. Jangan ada yang ganggu. Awas aja kalo kalian ganggu. Daddy bakal bawa Mommy kalian pergi jauh jauh. Biar nggak usah ketemu sekalian."
"Dad." Protes Van dan suaminya pada Mario.
"Nggak usah protes." Kata Mario menarik tangan Val untuk pergi dari sana.
"Gara gara kamu tuh." Van menatap suaminya dengan kesal.
"Maaf."
"Aku tidur duluan. Ngantuk."
__ADS_1
"Tunggu dong Yang. Aku belum selesai makan."
"Bodo amat." Wanita itu berlalu pergi meninggalkan suaminya.
Pagi yang cerah, Semuanya tengah berkumpul bersama untuk sarapan.
"Kalian ini. Tengah malam bikin repot aja." Veer menatap adik dan iparnya itu dengan kesal.
"Hussh....Ayo lanjut makannya. Nanti kalian kesiangan ke kantor."
"Kita bisa datang sesuka hati Mom. Kan kita yang punya."
"Nah. Ini persis Daddy kamu. Kalo dibilang mirip nggak mau."
"Enggak. Aku nggak mirip Daddy." Veer tidak terima.
"Terus mirip siapa?" Tanya Ved pada saudara kembarnya.
"Mirip Mom."
"Nggak. Sama sekali enggak. Kamu lebih mirip Daddy. Kalian klop banget."
"Diam kamu." Veer menatap kesal pada iparnya.
"Sudah. Jadi malah ribut. Lama lama Mom tinggal kalian nih." Ancam Val membuat anak anaknya terkejut sementara Mario tersenyum.
"Kemana?"
"Liburan dong. Ke Eropa. Mom kangen rumah masa kecil Mom. Dengar kalian ribut tiap hari bikin Mom pusing. Mom butuh refreshing."
"Mom kok gitu."
"Sukurin." Mario meledek anak anaknya.
Van sudah sampai di rumah. Ia dipaksa ikut Ladit pulang oleh Daddynya.
"Assalamualaikum Mas. Ada apa?"
"Waalaikumsalam Sayangku. Aku cuman mau memastikan kamu baik baik saja."
"Ih. Kita baru aja pisah lima belas menit yang lalu."
"Aku pengen dengar suara kamu saja."
"Udah sana kerja. Aku tutup telponnya."
"Eh...Jangan dulu dong Yang."
"Mau ngomong apa lagi? Aku baik baik saja Mas."
"I Love You."
"Too. Assalamualaikum."
"Haish.....Ada ada aja." Gumamnya setelah meletakkan ponsel di atas meja.
"Kamu belum mandi juga Mas?" Tanya Van menghampiri suaminya yang duduk di balkon kamar.
"Nanggung Yang. Aku sekalian mandinya nanti sore aja."
"Mandi sana biar seger."
"Mau berenang aja deh. Aku mandi habis berenang."
"Terserah kamu deh."
"Ayo temenin."
__ADS_1
"Sendiri sana. Aku mau di kamar aja."
"Ayo dong." Ladit mulai merengek memohon pada sang istri. Pria itu berjongkok mensejajarkan kepalanya pada perut Van. Ia mengelus perut istrinya yang sedikit membuncit.
"Bunda kamu jahat. Masa temani Ayah tidak mau." Ladit mengadu pada anaknya yang masih di dalam perut.
"Yang. Dia bergerak." Katanya sangat antusias.
"Iya. Dia sering bergerak."
"Dia marah karena kamu nggak mau temani aku."
"Halah. Banyak alasan. Ayo aku temani."
"Makasih Sayang." Ladit berdiri dan mengecup bibir istrinya.
Sepasang suami istri itu sudah berada di kolam renang. Ladit membuka handuk kimononya memperlihatkan tubuh atletis yang kini sedikit berisi karena keseringan makan sembarangan dengan mertuanya. Pria itu menceburkan dirinya di kolam membuat Van kesal karena terkena cipratan air.
"Ih. Basah aku."Kata Van saat suaminya muncul tepat di depannya.
"Ayo ikut berenang. Jangan cuman merendam kaki saja. Kita lakukan olahraga seperti waktu kita di Villa."
"Nggak mau."
"Ayolah sayang. Aku sudah On ini." Ladit mengambil salah satu kaki istrinya dan menggesekkan jemari kaki Van ke miliknya.
"Aku tendang baru tau rasa kamu."
"Jahat banget. Kalo sampai sakit kan nggak ada yang bikin kamu begadang tiap malam."
"Bagus dong. Aku bisa tidur nyenyak."
"Ih. Kok gitu. Burung aku nganggur dong."
"Biarin. Biar jadi pajangan aja."
"Jahat kamu. Lama lama kaya Daddy. Tega sama aku." Ladit memelas.
"Habisnya kamu mesumnya kelewatan."
"Mesum sama istri kan nggak papa Yang."
"Udah. Lanjut sana. Aku ke dalam ya."
"Jangan dong. Kamu kan sudah janji mau temani."
"Iya. Banyakin olahraga. Lihat. Perut kamu yang kotak kotak hampir hilang gara gara sering jajan sama Mom."
"Kalo aku gendut memangnya kamu malu? kamu mau tinggalin aku?" Tanya Ladit membuat Van menghela napas. Kini suaminya begitu sensitif.
"Bukan begitu Mas. Aku cuman mau kalian berdua itu makan yang sehat sehat." Tutur Van dengan lembut.
"Nggak."
"Hey...Jangan ngambek gitu dong."
"Cium."
"Iya. Sini."
Ladit mendekat dan Van langsung mencium keningnya.
"Di bibir sayang."
"Hm." Jawab Val kemudian mengecup bibir suaminya. Namun Ladit menahan tengkuk sang istri dan memperdalam ciumannya.
"Enak." Katanya sambil tersenyum lalu menenggelamkan diri di kolam.
__ADS_1