
Van sampai di Mansion bergegas untuk masuk ke dalam. Ia sangat merindukan Mommynya.
"Mommy." Van langsung berhambur memeluk Val yang tengah menata bunga di Vas.
"Bikin kaget aja."
"Cup." Ladit mengecup pipi wanita itu.
"Ini Mommyku. Kamu nggak boleh." Van tidak terima langsung mengeratkan pelukannya.
"Boleh. Ini juga Mommyku." Ladit malah ikut memeluk dan mencium Val lagi.
"Haish kalian ini. Lepas dulu. Ayo duduk."
"Iya Mom." Kata keduanya melepaskan pelukan.
"Kalian kesini lagi?" Tanya Mario yang baru datang.
"Daddy." Tegur Val pada suaminya.
"Maaf By. Aku cuman bercanda. Awas. Daddy mau duduk disitu." Usir Mario pada anak dan menantunya yang duduk mengapit Val.
"Nggak mau."
"Ladit. Pindah kamu."
"Ladit juga nggak mau Dad."
"Mau jadi menantu durhaka kamu?"
"Iya. Ladit pindah." Pasrahnya kemudian duduk di singgle sofa yang tak jauh dari sana.
"Kalian mau ngapain? Bukannya kemarin habis dari sini." Tanya Mario mendapat cubitan dari istrinya.
"Ih Daddy kenapa sih. Kita mau ketemu Mom. Kita kangen."
"Bullshit...Kemarin kalian kan ketemu sama mom. Setiap hari kalian ketemu."
"Setiap hari kita kangen." Kata Van memeluk Mommynya lagi.
Semuanya sedang berkumpul di teras belakang. Ved dan Veer yang baru pulang juga ikut bergabung bersama mereka.
"Daddy. Opa suruh Daddy ke rumah Opa tapi kok nggak kesana juga. Tadi Opa tanyain."
"Iya nih Daddy. Nanti Opa marah lo." Veer menimpali kembarannya.
"Kamu belum kesana juga Dad?"
"Belum By."
"Pantesan mertua kamu bawaannya ngomel sama kamu. Kamunya begini."
"Iya. Nanti aku kesana. Temenin ya."
"Ogah. Aku di rumah aja."
"Lah. Kok gitu."
"Urusan Papi kan sama kamu. Aku nggak ikut."
"Kan cuman temenin."
"Nggak. Aku mau di rumah."
"Heh. Adik ipar." Panggil Veer pada Ladit.
"Hm..."
"Main golf yuk."
"Kapan?"
"Nanti. Aku cek jadwal aku dulu."
"Ok. Sama siapa aja?"
"Sama kakak juga. Daddy ikut nggak?"
"Nggak. Males Daddy kalo sama kalian."
"Halah. Daddy ma begitu sama anak sendiri." Kata Veer kesal pada Daddynya.
Ketika sedang asyik mengobrol mereka berhenti karena mendengar suara yang tidak asing lagi.
"Mario." Papi Val menghampiri Mereka.
"Papi kok kesini. Mami ikut nggak? Nanti Daddynya anak anak mau kesana lo."
"Sayang. Mami kamu nggak ikut. Dia lagi arisan." Pria itu duduk memisahkan Mario dengan sang istri dan memeluk anaknya.
__ADS_1
"Suamimu ini memang kurang ajar. Sudah seminggu lalu Papi suruh dia datang tapi malah menghilang. Pintar dia kalo disuruh bikin Papi ngomel mulu."
"Maaf Pi. Mario lupa."
"Halah alasan. Kamu cari suami baru saja sayang." Kata Papi Val mendapatkan anggukan dari putrinya. Mereka semua menahan tawa melihat wajah kesal Mario.
"Papi kok suruh istri aku cari suami baru. Kamu kok tega By." Katanya beralih menatap sang istri setelah mertuanya.
"Biarin. Darah tinggi aku lama lama punya menantu kaya kamu."
"Sudah. Memangnya ada apa sih Pi?"
"Ada dokumen yang perlu aku bahas dengan suamimu."
"Ada di ruang kerja Mario Pi. Ayo kesana."
"Ya." Jawabnya langsung berdiri.
Val menghampiri Ladit yang sedang duduk sendiri di sofa ruang tengah sementara anak anaknya sibuk memetik buah di kebun belakang.
"Mom." Ladit langsung berdiri memeluk Mommynya.
"Anterin Mom yuk."
"Kemana?"
"Mo pengen martabak manis."
"Daddy...."
"Dia sedang sibuk di ruang kerjanya."
"Opa?"
"Dia sudah pulang."
"Yang lain?"
"Di kebun belakang. Ayo."
"Ayo deh. Untuk Mommy tercinta apa sih yang nggak."
"Makasih."
"Sama sama Mom." Ladit langsung menggandeng tangan Val untuk segera berangkat.
Mereka telah sampai setelah menempuh lima belas menit perjalanan.
"Nanti Mom capek jalannya kejauhan."
"Nggak. Ayo turun."
"Ok deh." Ladit menurut.
keduanya menyusuri jalan yang penuh dengan pedagang kali lima yang berjejer rapi.
"Hari ini Ladit traktir Mom sepuasnya."
"Nggak usah. Mom bawa uang cash sendiri."
"Kalo nggak mau kita pulang aja." Katanya sambil membalikkan badan.
"Iya iya. Mom mau." Van menahan tangan menantunya.
"Gitu dong. Ayo." Ladit menggandeng tangan Val untuk berjalan lagi.
Mario dan ketiga anaknya tengah cemas karena sedaritadi menghubungi Val tidak diangkat.
"Tidak diangkat lagi Dad." Kata Ved memberi laporan.
"Nah itu dia Mom."
"Kamu darimana aja sih By?" Mario langsung berhambur memeluk sang istri.
"Aku pengen martabak."
"Mom udah dibilang nggak usah makan sembarangan."
"Kalian ini. Ini bukan makanan sembarangan. Ini jelas komposisinya."
"Mom bisa aja jawabnya."
"Kamu kok mau mauan di suruh anterin Mom."
"Nggak tega." Kata Ladit ikut duduk bersama mereka.
"Nggak ada yang mau?" Tawar Val hanya dijawab gelengan oleh anak anak dan suaminya.
"Aku mau Mom." Jawab Ladit.
__ADS_1
"Ayo makan."
"Suapi."
"Ok."
"Dasar. Udah punya istri masih manja aja."
"Biarin."
"Jangan kebanyakan Mom." Kata Van khawatir dengan kesehatan Mommynya.
"Iya."
"Mom selain beli martabak beli apa aja?"
"Banyak. Ada cakwe, sate tahu sama bakso bakar."
"Siapa yang mau habiskan semua?"
"Aku sama Mommy Dad. Daddy tenang aja."
"Kamu itu." Mario tak habis pikir dengan menantunya.
"Nyam...Nyam...Nyam...Kalian beneran nggak mau?" Tawar Val kepada ketiga anaknya.
"Enggak Mom. Mom aja. Tapi makannya jangan kebanyakan." Kata mereka seperti menuturi adiknya.
"Daddy. Ini enak lo. Masa Daddy nggak mau?"
"Enggak. Kamu udah ah makannya."
"Nanti. Aku masih belum kenyang."
"Makan yang sehat gitu lo. Makan makanan nggak sehat mulu."
"Iya." Jawab Val.
"Bilangnya Iya. Tapi nggak di jalanin." Kesal Mario.
Ladit merebahkan tubuhnya dengan nyaman di sofa setelah sampai di rumah.
"Kekenyangan."
"Kamu kalah sama Mom. Mom aja masih lanjut makan."
"Iya. Mom makannya banyak. Tapi nggak pernah gemuk juga."
"Iya. Emang bawaan dari sananya."
"Um...Sayang."
"Hm."
"Pijitin punggung aku dong."
"Mandi dulu sana. Nanti aku pijitin."
"Ayo mandi bareng."
"Gamau ah. Tadi aku sudah mandi di rumah Mom. Salah sendiri tadi di suruh mandi malah asik main game."
"Ipar ngajak masa aku nolak. Sebagai adik ipar yang baik ya aku layani dong."
"Lagi. Kamu kan sudah aku bilangin kalo Mom minta yang aneh aneh jangan dituruti."
"Itu juga itung itung aku sebagai anak dan mantu yang baik."
"Bisa aja jawabnya. Sana mandi."
"Mandiin."
"Ih. Mandi sendiri. Nanti baju aku basah lagi."
"Ok deh." Kata Ladit langsung menuju kamar mandi.
"Enak." Ladit memejamkan matanya menikmati pijatan Sang istri.
"Kamu gemukan Mas?"
"Iya nih. Berat badan aku tambah gara gara keseringan makan sama Mom."
"Begitulah. Salah sendiri makan banyak tapi jarang olahraga. Yang kamu makan berlemak sama berkalori semua. Nggak sehat."
"Gimana caranya ya bikin Mom mau makan makanan sehat ya? Pusing aku."
"Iya. Sudah banyak cara tapi nggak berhasil juga. Mom keseringan di manja sih."
"Kalo Oma tegas. Tapi kalah juga sama Mom Karena di belain Opa."
__ADS_1
"Yah. Susah itu." Jawab Ladit tampak pasrah.