
Hari ini Ladit sengaja tidak pergi ke kantor. Ia akan menghabiskan waktunya berdua dengan sang istri.
"Kamu serius nggak ke kantor?" Tanya Van sambil menyuapi suaminya.
"Iya. Hari ini kita akan jalan jalan."
"Kemana? Kok mendadak sekali."
"Kita ke Villa. Di puncak. Kita menginap disana. Besok kan libur."
"Aku kasih tau Mom dulu."
"Sudah aku kabari Sayang. Kita tinggal berangkat aja."
"Iya deh." Pasrah Van.
Beberapa jam perjalanan mereka telah sampai.
"Ini Villa yang katanya kamu beli Minggu lalu?" Tanya Van sambil berjalan masuk di tuntun suaminya.
"Iya."
"Ih. Ini ma dekat Villa Daddy."
"Kan Daddy yang kasih tau aku kalau Villa ini lagi dijual. Makannya aku beli."
"Oh."
"Ayo masuk. Kita langsung istirahat aja. Kamu pasti capek."
"Aku nggak capek kok. Kita lihat lihat dulu ya."
"Iya. Kita lihat dalam dulu. Nanti baru ke belakang."
"Iya." Jawab Van mulai berjalan lagi dengan suaminya.
Ladit membawa istrinya untuk melihat lihat. Mereka sudah sampai di area belakang Villa. Pemandangan disana begitu indah karena bisa melihat sungai dari ketinggian. Ladit memeluk istrinya dari belakang. Pria itu menghirup aroma wangi dari tubuh Van yang begitu membuatnya tenang.
"Disini nggak ada orang ya Mas?" Tanya Van karena sedaritadi tak melihat pekerja di Villa.
"Enggak. Makannya kita bawa makanan dari rumah. Aku cuman pengen berdua aja sama kamu. Aku suruh penjaga disini libur."
"Oh." Val menganggukkan kepalanya.
"Sayang."
"Iya."
"Ayo berenang."
"Kamu nggak tau dingin apa." Katanya heran. Cuaca disini sangat dingin. Bagaimana bisa Ladit mengajaknya untuk berenang.
"Ayolah. Nanti aku hangatkan."
"Gamau ah. Dingin."
"Sesekali. Kita jarang kesini lo."
"Baiklah." Van menuruti keinginan suaminya.
Ladit menghampiri istrinya yang masih duduk di tepi kolam. Van begitu tertutup sedangkan suaminya hanya menggunakan celana pendek saja.
"Kamu nggak usah pakai jilbab. Nggak ada orang disini."
"Tapi..."
"Masa sama suami sendiri kamu tutupi. Lagipula aku sudah lihat semuanya dengan jelas. Setiap hari aku melihat sampai hafal." Ladit tersenyum membantu Van melepaskan semua pakaiannya. Sang istri tampak menggoda dengan menggunakan tank top crop dan hot pants. Kulitnya yang putih mulus dengan semburat merah muda di pipinya.
"Ayo masuk." Ladit menuntun istrinya masuk ke dalam kolam. Van merasakan air yang begitu dingin. Ia hanya berdiri di tepian. Ladit menenggelamkan seluruh tubuhnya di dalam Air. Ia meraba paha mulus sang istri di bawah sana.
"Mas." Panggi Van menyuruh suaminya itu untuk muncul ke permukaan.
"Aku ingin kita lakukan disini." Ladit mendekat dan melepaskan semua penghalang di antara keduanya.
"Mas."
"Sayang." Ladit menyesap dua benda favoritnya. Miliknya dengan sengaja di gesekkan pada sang istri.
"Apa ukuranku terlalu besar?" Tanya Pria itu sambil mengarahkan tangan Van untuk memegang miliknya.
__ADS_1
"Ah...." Ladit memejamkan mata saat tangan mulus itu menggenggam miliknya dengan penuh.
"Iya. Ini besar." Jawab Van dengan wajah polosnya.
"Nyatanya aku bisa masuk di milikmu yang sempit. Aku sudah tidak tahan ingin masuk lagi." Ladit mengangkat tubuh sang istri dan memasukkan miliknya. Pria itu mendorong keras membuat Van mengeratkan kedua lengannya di leher sang suami.
"Ah. Nikmat....."
"Ah....Sayang. Tubuhmu sangat nikmat." Rancunya menggerakkan tubuh bagian bawah maju mundur. Air kolam yang semula tenang menjadi ikut bergerak mengiringi penyatuan mereka.
Ladit membaringkan kepalanya di pangkuan sang istri. Pria itu mengendus dan menggesekkan kelapanya di bagian inti sang istri.
"Mas. Jangan mulai lagi." Kata Van merasakan tangan suaminya sudah menelusup di bawah sana.
"Em...Satu kali lagi...Sebentar saja."
"Tidak. Kita baru saja mandi. Aku lelah."
"Yasudah. Nanti malam saja."
"Jatahmu sudah habis siang ini. Kamu tadi sudah melakukannya berkali kali. Nanti malam tidak dapat lagi."
"Sayang. Kamu kok tega. Aku sudah belikan kamu baju dinas yang baru. Warnanya merah. Begitu menggoda."
"Nggak. Udah cukup. Kamu tidak memberiku kesempatan untuk tidur nyenyak setiap malam."
"Karena milikmu ini bikin candu." Katanya mengelus selakangan Van.
"Aku mau tidur."
"Ayo." Ladit segera bangkit dan mengangkat istrinya untuk dipindahkan ke ranjang.
"Sayang." Panggilnya sambil memeluk tubuh Van.
"Hm."
"Aku kedinginan."
"Aku bikinkan minuman hangat."
"Tidak perlu. Aku minta di peluk erat sama kamu saja."
"Salah sendiri kelamaan di air makannya kedinginan."
"Kamu tau sendiri kan. Aku itu nggak pernah puas. Kamu bikin ketagihan."
"Astaga. Punya suami kok begini amat."
"Kenapa?"
"Bikin capek."
"Aku nggak capek."
"Kamu minum obat?"
"Enggak. Gimana? Suami kamu ini perkasa kan? Kamu mau sekarang aku juga masih sanggup."
"Udah dong Mas. Capek aku."
"Maaf. Kalo gitu kita tidur."
"Iya."
Keduanya memejamkan mata dan tidur saling memeluk satu sama lain.
Sore hari selesai mandi. Ladit mengajak istrinya untuk jalan jalan di sekitaran kebun teh. Pria itu tak berhenti menggenggam tangan istrinya karena khawatir. Van begitu antusias hingga sering tersandung saat berjalan.
"Hati hati dong Sayang. Kamu jalannya pelan aja. Nanti jatuh."
"Ayo kesana." Tunjuknya pada jembatan yang tak jauh dari tempat saat ini sepasang suami istri itu berdiri.
"Iya ayo." Ladit menuruti keinginan istrinya.
Van merentangkan tangannya menikmati suasana yang begitu nyaman. Gamisnya sedikit bergerak diterpa angin yang bertiup tenang. Ladit memeluk istrinya dengan erat. Pria itu mengelus perut Van yang datar dengan lembut.
"Kamu suka Sayang?"
"Tentu saja. Disini sangat sejuk."
__ADS_1
"Oh lihat. Di bawah batunya besar besar." Van menunduk melihat sungai yang mengalir di bawah.
"Jangan terlalu dekat. Nanti kamu terpeleset." Ladit merengkuh dan membawa istrinya untuk menjauh.
"Kita kesana Mas."
"Haish...Jangan macam macam. Bahaya. Kita kembali ke Villa saja."
"Mas aku pengen lihat yang di bawah."
"No. Berbahaya. Kita pulang sekarang." Ladit menarik tangan Van untuk segera diajak pulang.
Ladit menghampiri istrinya yang sedang fokus menonton.
"Sayang. Aku buatin kamu salad buah."
"Makasih." Van menerima langsung memakannya.
"Kamu berdiri dulu."
"Kenapa?"
"Berdiri dulu."
"Iya." Van berdiri kemudian Ladit duduk berselonjor di sofa.
"Kamu duduk sini." Katanya sambil menepuk paha.
"Kamu capek nanti."
"Nggak. Ayo duduk."
"Baiklah." Van meletakkan mangkok di atas meja kemudian duduk sesuai perintah suaminya. Ladit membuat Van tidur di atas tubuhnya dan memeluk dengan erat.
Selesai dari kamar mandi Ladit menghampiri istrinya yang duduk di sofa kamar.
"Sayang."
"Ada apa?"
"Gatal." Katanya sambil membuka celana. Pria itu menahan tak mau menggaruknya karena sudah lecet di beberapa bagian.
"Astaga. Kok bisa merah begini."
"Digigit semut."
"Memangnya kamu taro gula disitu?" Tanya Van menahan tawanya.
"Sayang. Jangan gitu deh."
"Iya. Kasih salep. Nanti sembuh."
"Pakein."
"Iya."
Van dengan cepat mengambil salep dan menghampiri suaminya yang sudah berbaring di ranjang. Ia kemudian mengoleskan pada milik suaminya yang memerah dan sedikit membengkak.
"Ah..." Ladit malah mengeluarkan kata itu saat jemari lentik istrinya sedang bekerja.
"Um...St...Perih."
"Sabar. Ini kamu garuk makannya sedikit lecet."
"Gatal. Aku nggak tahan. Makin besar kan?" Tanya Ladit membuat Van mendongak.
"Iya."
"Aku nggak mau pakai celana dulu nggak nyaman."
"Masa kamu mau begini terus."
"Iya. Ini salepnya manjur kan?"
"Ya nggak tau."
"Sayang. Nanti malam punya aku udah bisa di gunakan?"
"Belum. Mungkin sembuhnya lusa." Kata Van meninggalkan suami mesumnya.
__ADS_1