Perjalanan Cinta Vanessa

Perjalanan Cinta Vanessa
Obrolan Dengan Mertua


__ADS_3

"Kuenya sudah kamu masukin ke mobil semua Mas?" Tanya Van menghampiri suaminya di halaman rumah. Mereka akan pergi untuk mengunjungi kedua orang tuanya.


"Sudah. Ayo berangkat." Ladit membukakan pintu mobil untuk sang istri.


"Aku bisa buka sendiri."


"Nggak papa."


"Makasih ya."


"Sama sama." Jawabnya mengecup singkat bibir Van. Ladit tidak membawa supir. Ia mengendarai mobil sendiri. Sengaja agar bisa menikmati waktunya berdua dengan sang istri.


Lima belas menit perjalanan mereka telah sampai. Suasana tampak sepi. Hanya para pekerja yang sedang sibuk melakukan tugasnya masing masing.


"Sepi banget." Kata Ladit sambil memasuki rumah.


"Aku telponin Mom daritadi nggak diangkat."


"Sama."


"Aden. Non." Sapa Bibi.


"Mom kemana Bi? Kok sepi banget."


"Tuan sama Nyonya sedang keluar."


"Kalo kakak?"


"Mereka sedang ada di ruang keluarga Non."


"Yasudah. Aku kesana ya Bi."


"Iya Non."


Van dan Ladit memasuki ruang keluarga. Mereka cukup terkejut dengan ruangan yang biasanya rapi kini begitu berantakan. Makanan ringan dan bantal sofa berserakan kemana mana dengan dua pemuda yang tengah bermalas malasan di sofa.


"Kalian jorok." Kata Ladit ikut duduk.


"Kalian kesini."


"Iya. Mom kemana kak?"


"Ada acara. Nggak tau apa."


"Bawa makanan ya. Makasih."


"Yang ini buat Mom. Ini buat kalian." Kata Van menyerahkan kotak yang satunya.


"Kok berantakan begini?"


"Veer. Dia yang bikin ulah. Aku baru datang." Kata Ved tak mau dituduh.


Seorang wanita masuk ke dalam ruang keluarga menghampiri mereka semua.


"Mom." Ladit dan Val langsung berdiri memeluk Mommynya yang baru datang.


"Kalian dari tadi?"


"Lumayan Mom. Mom aku telponin kok nggak di angkat."


"Mom nggak pegang hp."


"Mom dari mana?"


"Dari acara di pondok pesantren."


"By." Mario datang langsung memeluk istrinya. Mengabaikan semua yang ada disana.


"Kamu jangan ngambek gini dong."


"Mom kenapa?"


"Daddy kalian bikin malu. Masa nyium Mom di depan semua orang. Emang nggak tau tempat dia."


"Aku kan sudah minta maaf."


"Malu tau. Di depan kyai. Aduh. Nggak punya muka aku."


"Masa di cium suami sendiri malu."


"Tau ah." Val langsung duduk dan meminum soda yang sedaritadi Ia bawa.

__ADS_1


"Dapat darimana itu? Kamu nggak boleh minum itu." Mario mencoba merebut minuman kaleng itu dari sang istri.


"Punya pak supir. Aku minta."


"Udah Mom, jangan di minum lagi."


"Iya. Ladit bawain kue nih. Ladit sama istri yang bikin sendiri."


"Iya. Nanti Mom makan."


Val menghentikan meminumnya. Mata wanita itu menelisik mengamati ruangan yang begitu berantakan.


"Ulah siapa ini?"


"Veer." Kata mereka sambil menunjuk tersangka.


"Sayang. Beresin."


"Nanti Mom. Nanti aku bereskan."


"Sekarang Veer Xavia Albert." Katanya sudah kesal dengan anak satu itu yang selalu membuat ulah.


"Iya Mom." Jawab Veer langsung melaksanakan perintah Mommynya.


Mereka makan siang bersama di teras belakang dengan menggelar tikar. Menunya sangat sederhana hanya dengan Ayam bakar, Tempe, tahu, sambal dan lalapan.


"Makan di dalam aja yuk." Ajak Mario. Pria itu tidak terbiasa makan di bawah seperti ini.


"Makan sendiri sana. Aku maunya disini."


"Ih. Kamu kok gitu By."


"Ayo makan." Ajak Val tanpa memperdulikan suaminya. Mau tidak mau Mario kembali duduk di samping sang istri.


"Suapi."


"Daddy. Udah punya mantu juga nggak berubah."


"Diam kamu. Kamu juga sering minta suapi Mommy kamu."


"Ya kan aku anaknya."


"Itu diungkit lagi."


"Iya dong. Mau kamu Daddy balikin ke perut Mom lagi?"


"Ini pada kenapa sih. Ribut mulu. Nggak ada yang mau ngalah. Jangan berisik. Ayo makan."


"Iya Mom."


"Suapi."


"Iya." Val menyuapi suaminya dengan tangan kosong. Ladit sebenarnya ingin, Namun Ia cukup malu dengan mertua dan iparnya.


"Ved."


"Iya Dad."


"Kamu di suruh ke rumah Opa. Katanya laptop kamu ketinggalan disana."


"Ah. Iya. Aku mau ambil lupa."


"Perusahaan gimana Dit?"


"Lancar lancar aja Dad."


"Bagus."


"By. Jangan pake lalapan."


"Kenapa?"


"Nggak suka aku."


"Iya."


"Sambelnya dikit aja. Pedes ternyata."


"Iya."


Van tersenyum. Ia begitu kagum dengan Mommynya yang sabar menghadapi Sang Daddy yang banyak mau.

__ADS_1


Van membaringkan kepalanya di pangkuan Mommynya dengan nyaman.


"Mom."


"Ya sayang."


"Gimana caranya sih Mom biar bisa sabar seperti Mom."


"Sabar bagaimana?"


"Ya sabar dalam segala hal. Mom nggak pernah marah. Padahal kalo aku jadi Mom dan menghadapi situasi seperti yang Mom hadapi mungkin aku juga akan marah."


"Mom nggak punya trik khusus. Mom hanya menghadapi semua dengan santai saja. Mom punya prinsip daripada kita bicara tapi yang keluar adalah amarah. Mending mom diam dulu. Setelah tenang baru Mom akan bicara. Kontrol emosi memang sulit. Namun jika kita punya niat pasti akan mudah menjalaninya."


"Oh."


"Kalau Van sedang emosi diam dan duduk. Kalau masih emosi berbaring dan kalau belum reda juga ambil wudhu. Tenangin diri Van."


"Iya Mom. Van akan ingat."


"Ayo tidur Mom."


"Kamu kangen ya tidur sama Mom."


"Iya dong. Ayo."


"Ok."


"Di kamar Van ya.." Van berjalan sambil menggandeng tangan Mommynya.


Ladit sedang duduk berdua dengan mertuanya. Mereka sama sama tidak tidur siang karena istri masing masing sedang tidur bersama.


"Dit."


"Ya Dad."


"Kamu sudah malam pertama sama istri kamu?" Tanya Mario to the point membuat menantunya kesulitan.


"Pasti belum kan?"


"Hah?"


"Jangan kaget begitu. Dari ekspresi kamu aja Daddy sudah tau kalau kamu belum dapat jatah."


"Daddy."


"Santai aja. Dulu Daddy juga nunggu seperti kamu buat dapat malam pertama."


"Serius?"


"Iya. Kalo nggak percaya tanya aja sama Mommy kamu."


"Nggak perlu tanya. Ladit percaya kok."


"Ngomong ngomong Daddy nunggunya berapa lama?"


"Cukup lama. Daddy nikah sama Mommy kamu kan atas dasar pemaksaan."


"Pemaksaan?"


"Cuman sama kamu Daddy cerita. Jadi awalnya Daddy itu suka sama Mom. Tapi Mom nggak suka sama Daddy. Waktu itu umur Mom masih muda banget yaitu 16 tahun."


"16?"


"Iya. Sedangkan Daddy udah 36. Daddy deketin orang tuanya dan Daddy deketin terus Mommy kamu tapi hasilnya nihil. Daddy waktu itu depresi. Tiap hari mabuk gara-gara Mom. Akhirnya Daddy pakai cara gila. Daddy culik Mom dan Daddy ancam keluarganya. Mom akhirnya mau jadi istri Daddy."


"Wah. Daddy pejuang ya..."


"Emangnya kamu. Van baru mau nikah aja udah nyerah. Dasar lemah. Menaklukkan wanita itu butuh trik, keseriusan dan yang paling penting satu yaitu nekat."


"Iya sih. Tapi katanya Daddy dulu ancam Mom. Sekarang kok malah Daddy takut sama Mom."


"Entahlah. Daddy takut aja kalo Mom itu sedih, kecewa ataupun marah gara gara Daddy. Daddy merasa bersalah."


"Tapi Ladit salut sama Mom. Sabar banget."


"Iya. Dia nggak pernah marah. Dia selalu tenangin Daddy kalo Daddy lagi lepas kontrol. Dia juga berhasil bikin Daddy jadi orang yang lebih baik."


"Itu yang jadi alasan Daddy mundur?"


"Iya. Karna Mommy kamu. Karna cinta Daddy sama Istri. Lalu kamu sendiri bagaimana?" Tanya Mario menatap serius menantunya.

__ADS_1


__ADS_2