Perjalanan Cinta Vanessa

Perjalanan Cinta Vanessa
Terungkap


__ADS_3

Van merasakan kejanggalan pada suaminya akhir akhir ini. Pria itu sering kali pulang larut malam. Kecurigaan semakin bertambah tatkala mendapati suaminya tak berada di kantor sejak sore hari saat Ia menanyakan pada resepsionis lewat telpon. Van tidak akan membiarkan semua itu terjadi. Daripada Ia berburuk sangka Ia akan memastikan sendiri kegiatan Ladit di luar sana.


Sore hari sekitar pukul 3. Van sudah menunggu suaminya di coffee shop tepat di depan kantor. Ia duduk di dalam menghadap langsung ke jendela kaca agar tahu saat suaminya keluar.


Beberapa menit menunggu. Terlihat mobil yang di pakai Ladit sudah terparkir di depan gedung. Tak lama kemudian pria itu keluar dan memasuk ke dalam mobil. Van langsung bergegas. Ia tak mau kehilangan jejak. Ia mengikuti mobil mewah itu sambil menjaga jarak agar tidak ketahuan.


Mobil yang membawa Ladit berhenti di sebuah bangunan mewah bergaya Eropa. Lingkungan yang begitu sepi dan Mansion mewah itu berdiri kokoh disana. Van tidak bisa masuk karena beberapa penjaga bersenjata berdiri tegak di sisi kanan dan kiri gerbang. Ia hanya bisa mengamati dari jauh tanpa tau aktifitas di dalam.


"Mau apa Mas Ladit kesini. Hm coba aku telpon." Katanya sambil meraih ponsel.


Panggilan Van sudah terhubung.


"Assalamualaikum Sayang."


"Waalaikumsalam Mas. Kamu lagi dimana?"


"Aku lagi di kantor. Sedang tandatangani beberapa berkas." Kata Ladit berbohong membuat Van tersenyum masam.


"Sayang. Kamu mau dibawakan sesuatu saat aku pulang nanti?"


"Enggak. Aku cuman pengen dengar suara kamu aja."


"Oh. Istriku kangen ya?"


"Iya. Sudah dulu ya. Kamu lanjut kerjanya. Aku mau mandi dulu."


"Iya. Assalamualaikum Sayang."


"Waalaikumsalam."


"Kamu bohong Mas." Gumam Van seraya menatap ke arah depan.


Ladit tengah berdiskusi dengan beberapa orang bawahannya. Pria itu terlihat tegas dan berwibawa. Membawa karakter yang sangat berbanding terbalik ketika Ia sedang bersama Istri atau keluarganya.


"Semuanya sudah disiapkan?


"Sudah Bos. Beberapa yang kurang layak sudah kami ganti dengan yang baru."


"Bagus. Beristirahatlah, kalian sudah bekerja keras hari ini."


"Baik Bos." Jawabnya meninggalkan pria itu sendiri.


Hari semakin gelap. Beberapa container keluar dari Mansion diikuti rombongan mobil di belakangnya. Van dengan segera mengikuti mobil suaminya yang berada di barisan tengah. Ia menjaga jarak cukup jauh dan berbaur dengan pengendara lainnya.

__ADS_1


Rombongan itu membawa Van di sebuah dermaga. Belasan pria berbadan kekar berbaris di samping kanan dan kiri sementara kontainer itu berpindah ke kapal yang besar. Van menyimpulkan bahwa ini adalah sebuah pengiriman barang tapi entah itu apa. Salah satu dari belasan orang itu menghampiri suaminya dan menyerahkan beberapa Map berwarna hitam. Suara tembakan yang di arahkan bebas ke atas membuat Van sedikit terkejut. Beberapa detik kemudian diiringi dengan kapal yang mulai berlabuh.


"Kalian pergi dulu."


"Bagaimana dengan Bos?"


"Aku akan disini beberapa saat. Aku akan menghubungi istriku."


"Tapi Bos tidak boleh sendiri."


"Pergilah. Aku akan baik baik saja."


"Baik Bos. Selamat malam."


"Malam."


Mereka semua membubarkan diri setelah mendapat jawaban dari Ladit.


Rombongan mobil satu persatu mulai meninggalkan dermaga yang tampak sepi. Van masih dengan jelas melihat suaminya berdiri di sana menatap ke arah lautan yang begitu luas.


"Mas." Panggilan itu membuat jantung Ladit seakan hendak berhenti berdetak. Ia memutar tubuhnya yang terasa sangat berat dan enggan. Ia tak siap dengan suasana seperti ini.


"Mas." panggil Van lagi setelah keduanya berhasil saling berhadapan. Wanita itu masih berdiri mematung di tempatnya tak bergerak sedikitpun.


"Sayang." Kata itu terucap dari mulut Ladit yang kelu.


"Sayang. Aku bisa jelaskan semuanya. Kita pulang dulu."


"Aku mau dengar sekarang. Disini."


"Tapi..."


"Aku menunggu. Aku tidak akan pulang jika tidak kau jelaskan sekarang juga."


Pria itu berjalan cepat kemudian merengkuh tubuh istrinya.


"Maaf. Aku berbohong dan aku menyembunyikan semuanya darimu. Tapi saat kau sudah tau siapa aku sebenarnya. Aku mohon untuk tetap di sisiku. Jangan tinggalkan aku. Aku mencintaimu."


"Aku akan mendengarkan penjelasanmu."


"Aku tidak akan menceritakan detailnya karena itu terlalu panjang. Aku hanya bisa menjelaskan jika aku seorang Mafia."


"Kamu menyakiti orang?"

__ADS_1


"Jika di perlukan."


"Apa yang kamu lakukan disini?"


"Mengirimkan senjata. Aku produsennya."


"Aku mau pulang."


"Sayang. Kamu tidak perlu takut. Aku tidak akan menyakitimu."


"Aku mau pulang sekarang Mas."


"Baiklah. Berikan kunci mobilnya. Aku yang akan menyetir." Van memberikan kunci mobil pada suaminya. Kepalanya begitu pening saat ini.


Di sepanjang perjalanan Van diam sambil menatap keluar jendela. Sementara Ladit hanya sesekali melirik kepada istrinya. Ia tau saat ini Van begitu kecewa. Ia tak berani mengganggu dan membiarkan wanita itu tenang terlebih dahulu.


Keduanya sudah sampai di rumah. Tanpa menunggu suaminya wanita itu langsung masuk ke dalam. Ladit dengan cepat menyusul sang istri yang masuk ke dalam kamar.


"Sayang. Aku minta maaf."


"Mandilah. Aku siapkan bajunya."


"Sayang. Aku salah. Aku minta maaf." Katanya sambil memeluk Van dari belakang. Van berbalik menatap manik mata suaminya. Tatapan itu Van tau betul. Sebuah tatapan bersalah dan penyesalan.


"Aku butuh waktu Mas. Tolong mengerti. Ini semua begitu mendadak dan tidak mudah bagiku."


"Baiklah. Aku minta maaf."


"Mandilah. Aku akan menyiapkan baju dan makan malam untukmu."


"Iya." Kata Ladit tak bernegosiasi seperti biasanya.


Keduanya masih sama sama diam saat berada di ranjang. Van dan Ladit. Kedua insan itu tak ada yang membuka pembicaraan. Pria itu memincingkan tubuhnya menghadap sang istri. Ia merengkuh tubuh Van membawa wanita itu dalam pelukannya.


"Kenapa kamu bohongi aku sejauh ini sih Mas. Kamu tega." Kata Van tiba tiba menangis membaut Ladit semakin merasa bersalah. Hatinya serasa di Hujam belati habis habisan mendengar tangisan pilu sang istri.


"Maaf Sayang. Aku hanya tidak mau kehilanganmu. Aku tidak mau kau meninggalkanku saat kamu tau aku yang sebenarnya."


"Ceritakan padaku yang sebenarnya. Tanpa ada yang terlewat."


"Baik." Ladit mengusap pipi istrinya kemudian mengecup kedua mata dan bibir indah itu bergantian. Ia membawa tubuh Van ke dalam pangkuannya sambil mengusap lembut kepala sang istri.


"Dulu semua itu adalah milik Daddy." Katanya membuat Van terkejut.

__ADS_1


"Daddy?"


"Iya. Pada awalnya Daddy adalah sama sepertiku. Namun Daddy mengundurkan diri karena pada waktu itu Mom mengetahuinya. Mom mengancam akan meninggalkan Daddy jika tidak mundur. Seperti yang kamu tau, karena saking cintanya Daddy sama Mom Daddy memilih meninggalkan bisnis yang dirintisnya sejak nol. Daddy begitu tegas dan tak berbelas kasihan membuat semua orang tunduk padanya. Kekuasaannya berakhir kemudian Dia mempercayakannya pada Papa yang merupakan sahabat dan tangan kanannya. Karena Papa meninggal mau tidak mau aku yang melanjutkan." Jelasnya pada sang istri. Van hanya diam. Tak ada sesuatu yang hendak diucapkannya. Perlahan kantuk mulai menerpa. Van memejamkan mata dengan tenang. Ladit tersenyum. Ia membenarkan posisi tidur sang istri agar nyaman. Ladit mencium bibir dan seluruh wajah Van kemudian mendekap tubuh sang istri dengan hangat.


__ADS_2