
Van membuka matanya perlahan. Ia mendapati suami dan putranya sudah tidak ada di ranjang. Mereka tadinya tidur siang bersama setelah pulang dari rumah Mommynya. Buru buru Ia menuju kamar mandi untuk mencuci muka sebelum mencari keberadaan keduanya.
Suara gelak tawa anak kecil terdengar riang dari halaman belakang. Bunyi gemercik air dan celotehan suaminya terdengar sangat jelas begitu Van melangkah ke sumber suara.
"Astaga Mas. Kamu apa apaan sih." Kata Wanita itu terkejut dengan tingkah keduanya. Bagaimana tidak, Ladit membiarkan anaknya berendam di kolam ikan koi. Bukan apa apa. Kolam itu memang bersih namun Van hanya tidak mau anaknya bau amis.
"Bunda....Ikan....Geli...hahahaha...."
"Kamu gimana sih Mas."
"Biarin. Dia seneng tuh." Kata Ladit sambil menciptakan air di wajah anaknya.
"Bau amis nanti."
"Nggak. Kamu tenang aja deh Yang."
Van menghela napasnya. Ia pasrah sekarang. Mau bagaimanapun juga sudah terlanjur. Ibarat nasi sudah menjadi bubur. Anaknya sudah terlanjur asik disana.
"Ikannya gigit lo sayang." Van sengaja menakut nakuti putranya.
"Tidak...Lihat...Ven pegang tidak gigit...."
"Sudah ya. Ayo mandi..Jangan kelamaan di dalam air nanti kedinginan."
"Gendong....." Bocah itu menjulurkan tangannya pada Van.
"Ayo sini. Kita mandi dulu."
"Memangnya ini jam berapa sih Yang?"
"Mau jam 4."
"Oh. Cepet banget."
__ADS_1
"Aku mandiin Ven dulu. Kamu mandi sana. Bajunya sudah aku siapin."
"Nggak mandi bareng?"
"Maunya....Enggak. Aku mau mandiin Ven." Van terus melangkahkan kaki memasuki rumah diikuti suaminya.
Van menghampiri suaminya di ruang tengah sambil menggendong Putranya.
"Mas."
"Ya Sayang."
"Mau nasi bebek."
"Sebentar aku pesankan. Daripada keluar mending biar di anter."
"Iya deh." Jawab Van sambil duduk memangku putranya. Ven beranjak dari pangkuan Bundanya. Bocah berusia dua tahun itu berlari kesana kemari. Ven memang terbilang aktif. Banyak gerak dan rasa ingin tahunya yang tinggi. Van dan Ladit kadang kuwalahan atas banyak pertanyaan dari Putranya. Ladit merangkul tubuh istrinya. Pria itu mengecup pipi dan bibir Van beberapa kali.
"Hm."
"Aku nggak nyangka bisa sebahagia ini. Aku pikir hidupku akan seperti Papa. Percintaan yang gagal dan hidup di jalan yang salah."
Kata Ladit sambil menerawang masa lalu sang Papa. Sayang sekali pria itu tak bisa melihatnya menikah dan menyaksikan tumbuh kembang sang cucu. Andai saja masih hidup pasti Ia akan bahagia.
"Semuanya sudah di rencanakan tuhan. Tidak kamu sangka sangka semua berjalan begitu baik dan lancar. Alhamdulillah keluarga kita diberikan kebahagiaan, kesehatan dan kecukupan."
"Terimakasih untuk semuanya." Ladit memeluk istrinya dengan erat.
Nasi bebek adalah menu favorit Van sekarang. Wanita itu begitu lahap makan dengan tangan kosong dan duduk di atas karpet.
"Ven mau?" Tanya Ladit pada putranya.
"Mau.."
__ADS_1
"Minta Bunda. Punya Ayah pedas."
"Sebentar." Van memotong dagingnya kecil kecil agar Vender lebih mudah untuk makan. Ia tersenyum melihat Ven makan dengan semangat. Biasanya Ven begitu pemilih soal makanan.
"Lagi Bunda..."
"Iya Sayang. Sebentar Bunda potong dagingnya biar Ven tidak kesulitan."
"Beliin nasi bebek aja tiap hari biar makannya nggak rewel."
"Jangan dong. Ven butuh sayur juga."
"Lalapan memangnya nggak doyan?"
"Nggak mau dia." Jawab Van sambil menyuapi putranya.
Van selesai menidurkan putranya langsung pergi ke kamar. Pelukan tiba tiba Ia rasakan setelah menutup pintu itu rapat rapat.
"Ven sudah tidur?"
"Sudah Mas. Lepasin dulu aku mau ganti baju."
"Nggak usah. Kita ada acara malam ini."
"Acara apa?"
"Bikin adik buat Ven." Ladit menggendong istrinya tiba tiba membuat wanita itu sedikit terkejut. Perlahan Ia merebahkan tubuh itu ke ranjang dan mulai membelai pipi mulus sang istri. Ladit mencium bibir istrinya dengan lembut hingga semakin dalam dan menuntut. Ciuman semakin turun ke leher dan dengan gerakan cepat Ia berhasil melucuti pakaian luar istrinya. Tangan pria itu tak mau berhenti. Mulai bergerak kesana kemari.
"Ah....." Suara yang keluar dari mulut sang istri membuatnya tersenyum menang. Ia terus bekerja membuang seluruh kain yang menjadi penghalang kegiatannya. Ketika sudah sama sama polos Ladit menggesekkan miliknya ke milik sang istri. Setelah siap pria itu memulai penyatuannya dengan penuh semangat. Membuatkan sang putra adik adalah sebuah alibi. Nyatanya hampir setiap hari Ia meminta jatah pada sang istri.
"Sayang....Akh...." Pinggulnya di gerakkan maju mundur seirama dengan nada nada yang keluar dari mulut keduanya. Suasana ruangan menjadi panas seketika. Erangan panjang menjadi awal pelepasan sepasang suami istri itu. Tak pernah puas dengan tumbuh candu sang Istri Ia memilih mengulanginya lagi sampai puas. Membuat di wanita kelelahan di sepanjang malam untuk mengimbangi tenaganya yang bagaikan kuda.
"Terimakasih." Ladit mengecup lembut kening sang istri dan mendekap tubuh polos itu dengan erat.
__ADS_1