
Kesal. Itu yang tengah Van rasakan sekarang. Bagaimana tidak, Suaminya sedaritadi membuat berantakan walk in closet yang baru saja Ia bereskan.
"Mas. Kamu cari apa sih? Sudah aku rapikan kamu berantakan lagi."
"Aku cari parfum yang waktu itu di belikan sama Mom. Kamu tau dimana?"
"Ya nggak tau. Kamu habis pakai taro dimana?"
"Aku jarang pakai biar nggak cepat habis. Perasaan aku simpan di lemari kaca sama kawan kawannya."
"Nggak ada kan. Kamu tinggalin kali, dimana gitu."
"Sebentar aku ingat ingat dulu." Kata Ladit sambil berhenti dari kegiatannya sejenak.
"Ah iya. Aku taro di mobil. Duh....lupa.."
"Mau kemana kamu?" Tanya Val melihat suaminya memegang handle pintu.
"Mau ambil parfum aku di mobil."
"Bantu aku beresin dulu."
"Hehe...Iya." Jawab Ladit sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Jangan marah Yang." Pria itu memeluk sang istri dengan erat.
"Ih. Awas. Anak kita nggak bisa napas nanti."
"Maaf. Maaf." Katanya sambil mengecup singkat bibir sang istri.
"Maafin Ayah ya. Kamu di perut baik baik aja. Jangan merepotkan Bunda." Ladit mengelus perut sang istri.
"Nggak usah banyak tingkah kamu. Beresin."
"Siap Nyonya." Ladit langsung melaksanakan perintah istrinya.
Sore hari. Van dan Ladit baru sampai di Mansion Mommynya.
"Ini mobil Opa kan Yang?"
"Iya. Ayo masuk."
"Ok. Kamu jalannya pelan pelan." Kata Pria itu memperingati istrinya yang menapaki anak tangga.
Suasana ruangan begitu sepi saat Van dan Ladit memasukinya. Padahal semua orang sudah berada disana. Kecuali Mommy dan Daddynya. Van sedikit heran dengan hal ini. Biasanya ketika berkumpul mereka akan ramai. Entah berdebat atau saling mengejek pasti ada saja yang dibicarakan.
__ADS_1
"Kenapa pada diam sih? Mom mana?" Tanya Van namun mereka tetap diam.
"Kamu duduk dulu sayang." Kata Oma menarik tangan cucunya pelan untuk duduk di sampingnya.
"Heh Ipar, ada pada sih?" Tanya Ladit yang hanya dijawab gelengan oleh Ved.
"Mom mana?" Tanya Van lagi.
"Mommy kamu di bawa pergi sama Daddy kamu." Kata Opa.
"Pergi? Pergi kemana? kok nggak ngasih tau aku."
"Katanya mau jalan jalan. Daddy kamu cuman ninggalin surat ini."
Van meraih kertas yang sudah kusut itu dari Opanya. Kentara jika kertas itu pernah di remas beberapa kali.
'Mom Daddy bawa pergi ya. Yah meskipun Mom menolak, tapi kalian tau sendiri jika Daddy punya seribu cara. Daddy bawa mom kalian yang sedang tidur dengan lelap di bawah pengaruh obat. Kalian jangan khawatir dan jangan ganggu. Mom baik baik saja. Kita mau jalan jalan keliling Eropa. Kalo kalian baca ini sampaikan pada Opa dan Oma kalian kalau anaknya sedang dibawa menantu tampannya untuk bersenang senang. Marahnya simpan nanti saja ya ketika Daddy kembali. Daddy akan hadapi Omelan kalian semua. Jadi jangan telpon Daddy hanya untuk berceloteh. Sudah dulu. Daddy malas menulis.'
"Daddy keterlaluan." Kesal Van meremas kertas itu sampai menjadi bulatan.
"Awas saja kalau Mario pulang."
"Opa mau pecat Daddy jadi mantu?"
"Bukan hanya itu. Opa bakalan gantung dia. Benar benar menyebalkan punya mantu seperti itu."
"Biarin. Mantu kesayangan Mami itu selalu punya cara untuk bikin Papi naik darah aja." Kesalnya meninggalkan mereka semua.
"Van kangen Mom." Lirihnya.
"Sabar Sayang. Pasti Mom bakalan cepat cepat pulang." Kata Ladit menenangkan sang istri.
Di sisi lain seorang wanita baru saja terbangun dari tidurnya. Ia mengerjapkan mata hingga terbuka sempurna.
"Cup." Pria yang sedang merengkuh tubuhnya mengecup bibir lembab itu berkali kali. Val duduk dengan cepat. Kini Ia sadar tengah berada di atas awan.
"Kamu." Val menatap kesal pada suaminya.
"Ayo nikmati perjalanan kita sayang. Bagaimana pesawat yang aku beli. Kamu suka kan?"
"Ih. Memang benar benar keterlaluan. Kamu mau bawa aku kemana?"
"Kan semalam aku bilang sama kamu kalo kita akan jalan jalan berdua. Kita bulan madu keliling Eropa."
"Kan aku bilang nggak mau."
__ADS_1
"Maka dari itu aku bawa kamu dalam keadaan tidur. Kalo sudah di sini kan kamu nggak bisa kemana mana." Kata Mario sambil terkekeh melihat wajah Val yang begitu kesal.
"Mau ngapain?" Tanya Val waspada. Pria di depannya itu kini tiba tiba sudah telanjang bulat.
"Jarang jarang kita lakukan di pesawat. Ayo kita lakukan sekarang."
"Semalam kamu sudah minta jatah. Sudah tidak mau lagi. Jatah kamu sudah habis."
"Jatah bercinta itu seperti makanan. Dibutuhkan ketika sedang lapar. Dan sekarang aku lapar. Butuh bercinta denganmu."
"Makin tua makin ga jelas."
"Tua begini aku masih sanggup bikin kamu mengerang sampai pagi." Mario tersenyum menggoda sang istri.
"Aku potong milik kamu biar tau rasa."
"Jangan. Nanti aku nggak bisa begituan." Mario mulai menindih tubuh Val.
"Aku nggak mau suara kamu kemana mana."
"Tenang sayang. Tidak ada yang akan mendengar suara kita. Kamar ini kedap suara."
Tangan Mario dengan cepat membuka baju sang istri dan membuangnya sembarangan. Pria itu mengelus paha Val naik turun sementara bibirnya tak berhenti menciumi seluruh tubuh Val.
"Ungh...." Lenguh Val membuat suaminya mulai liar.
"Stop. Aku ngantuk..." Keluh Val.
"Makannya aku bikin kamu terjaga." Mario menancapkan miliknya saat milik sang istri sudah siap. Pria berbadan atletis itu menggerakkan pinggulnya maju mundur. Tangan dan bibirnya tak tinggal diam memainkan seluruh tubuh Val yang sudah menjadi miliknya.
"Sayang....Akh..." Saat mencapai pelepasan pertamanya.
"Sudah cukup."
"Lagi." Katanya mengulangi tak mau berhenti.
Mario terbangun dalam keadaan telanjang dan terikat di sebuah kursi.
"Sialan. Siapa yang berani memperlakukan aku seperti ini." Umpatnya sambil berteriak. Suara pria itu memenuhi ruangan dengan suasana yang begitu gelap. Sesaat kemudian sebuah cahaya yang lurus tepat di depannya membuat pria itu menyipitkan mata.
"Bajingan. Lepaskan aku." Ia terus memberontak mencoba melepaskan ikatan.
"Siapa yang berani macam macam. Aku tidak akan segan membunuh kalian." Teriaknya lagi namun juga tidak kunjung mendapat jawaban.
Ketukan hills dengan lantai masuk ke Indra pendengarannya. Langkah kaki itu begitu ringan. Sosok wanita cantik. Oh bukan sangat cantik berjalan ke arahnya dengan gaun merah yang begitu sexy menampilkan paha, dada yang berisi dan punggungnya yang mulus. Wanita itu memakai topengnya hanya sebatas mata. Mario mendongak menatap wajah Wanita itu ketika tepat berada di depannya.
__ADS_1
"Halo Tuan Mario Kusayang." Katanya tersenyum manis dan.....