Perjalanan Cinta Vanessa

Perjalanan Cinta Vanessa
Sakit Yang Terobati


__ADS_3

Van sudah siap dengan riasannya. Mau tidak mau Ia akan menikah dengan Ladit. Undangan telah di sebar. Tidak mungkin Ia akan mempermalukan keluarga besar jika batal menikah. Apalagi dengan desakan dari Daddynya. Van semakin tak bisa berkutik dan pasrah.


"Kamu cantik sayang." Val menghampiri Van yang masih duduk di depan meja rias.


"Makasih Mom."


"Mom tidak menyangka kamu akan menikah hari ini."


"Begitu juga dengan Van. Apalagi Van menikah dengan orang yang sudah Van anggap seperti kakak sendiri."


"Maaf Mom tidak bisa membantu. Daddymu terlalu keras kepala."


"Bukan salah Mom. Van akan mencoba ikhlas."


"Kamu anak baik sayang. Kamu akan bahagia." Val memeluk anak gadisnya.


Val menuntun Van menuju ke tempat acara. Ijab qobul akan dilaksanakan kemudian disusul pestanya untuk nanti sore sampai malam. Semua mata memandang pada sosok pengantin cantik itu. Benar benar seperti ratu yang sempurna menggunakan kebaya putih yang melambangkan kesucian. Van duduk di samping sang mempelai Pria membuat jantung Ladit berdetak lebih kencang dari sebelumnya.


"Baiklah. Akan saya mulia." Kata Mario yang akan menikahkan sendiri putrinya. Pria itu bekerja keras menghafal setiap kata yang akan di ucapkan. Dari semalam Mario sampai begadang di temani sang istri bukan karena kegiatan panasnya. Namun karena menghafalkan naskah itu.


Mario menjabat tangan Ladit dengan kuat.


"Saya nikahkan engkau Laditya Aliandra Bailey bin Frans Aliandra Bailey dengan putri saya Vanessa Xavia Albert binti Mario Albert dengan mas kawin seperangkat alat sholat, emas murni seberat 999 gram, emas putih seberat 999 gram dan semua harta yang dimiliki dibayar tunai." Kata Mario membuat mereka semua tercengang.


"Saya terima nikahnya Xavia Albert binti Mario Albert dengan mas kawin tersebut dibayar tunai." Jawab Ladit dengan lancar dan lantang.


"Bagaimana para saksi sah?"


"Sah." Teriak mereka semua.


Van mencium tangan Ladit setelah memasangkan cincin dan dibalas kecupan oleh suaminya. Ladit tak menyangka hari ini yang seharusnya menjadi bencana malah berbalik menjadi hari yang paling membahagiakan di hidupnya.


Kedua pengantin baru itu sudah berada di kamar untuk istirahat. Karena di malam harinya mereka masih harus mengikuti pesta sebagai puncak acara.


"Kamu lelah?" Ladit menghampiri istrinya sambil membawa nampan.


"Tidak terlalu." Jawab Van sambil tersenyum.


"Makan dulu. Kamu pasti lapar."


"Kak Ladit sudah makan?"


"Nanti. Kamu makan dulu saja."


"Ayo makan berdua."


"Baiklah." Katanya mulai makan sepiring berdua dengan Van.


"Sayang." Laki laki itu mulai merubah panggilannya.


"Bolehkan aku memanggilmu seperti itu?" Tanya Ladit hanya dijawab anggukan karna Van sedang mengunyah makanannya.


"Bisakah nanti kita tinggal di rumahku saja. Agar kita lebih mandiri."


"Boleh. Aku sebagai istri akan ikut. Lagipula jarak antara rumah kakak dengan Mansion tidak terlalu jauh. Aku tidak keberatan."

__ADS_1


"Terimakasih." Ladit tersenyum kemudian mengecup bibir istrinya. Van berhenti sejenak karena terkejut. Namun Ladit sudah menjadi suaminya. Ini adalah hal yang wajar.


Selesai makan bersama Van membaringkan diri di ranjang. Dari semalam Ia tak bisa tidur karena hari pernikahan ini. Ladit ikut menyusul sang istri. Ia membaringkan dirinya di samping Van sambil menghadap gadis yang sudah sah menjadi istrinya itu.


"Tidurlah. Nanti aku bangunkan." Ladit memberanikan diri memeluk Van. Merasa tidak ada penolakan Ia lebih mengeratkannya lagi.


"Iya. Aku ngantuk."


"Kak Ladit." Panggil Van membuka matanya kembali.


"Kenapa mas kawinnya...."


"Itu tepat seperti tanggal pernikahan kita hari ini, tanggal 9 bulan 9 dan untuk angka sembilan yang terakhir itu sebagai tanggal lahir kamu."


"Bukankah itu terlalu berlebihan. Maksudku. Tidak perlu seperti itu."


"Itu semua untuk kamu. Aku tulus mencintai kamu. Semua itu aku lakukan karena sebagai pembuktian jika aku benar benar cinta sama kamu."


"Tapi..."


"Tidurlah. Katanya mengantuk." Ladit mengecup bibir istrinya agar berhenti bicara.


"Iya." Jawabnya langsung memejamkan mata kembali.


Ladit dan Van sedang sibuk menyalami semua tamu di pelaminan. Mereka bagaikan raja dan ratu. Biaya pernikahan ini begitu fantastis. Semuanya terlihat mewah dengan dekorasi serba putih.


"Ved. Veer. Kalian ini bisa tenang tidak." Kesal Val karena sedari tadi kedua anak kembarnya itu saling berdebat.


"Kalian nggak malu apa."


"Astaga kalian bikin pusing. Kalian itu pimpinan perusahaan. Jaga nama baik dong. Jangan ribut mulu kerjaannya."


"Iya Opa."


"Bilangnya iya. Nanti ditinggal sebentar ribut lagi. Awas aja kalian."


"Nggak. Kita akan tenang kok."


"Mom."


"Hm."


"Van kok mau nikah sama dia?"


"Heh. Begitu juga Ladit sudah menjadi adik ipar kamu."


"Wah otak cerdas ku nggak jalan. Iya ya. Posisinya sekarang dia adik kita. Wah..bisa kita bully nih..."


"Jangan macam macam."


"Mom belain mantu Mom?"


"Bukan. Tapi Mom nggak suka ada yang ribut ribut." Kata Val meninggalkan kedua anaknya.


Ladit memperhatikan istrinya yang tampak lelah.

__ADS_1


"Kamu capek?"


"Tidak."


"Haus?" Van mengangguk menjawab suaminya.


"Aku ambilkan minum."


"Iya."


Ladit bergegas mengambilkan minum dan kembali lagi. Ia membantu Van minum dengan hati hati. Semuanya tak luput dari perhatian orang orang. Pasangan itu begitu romantis.


Acara baru selesai pukul 12 malam. Van langsung ke kamar untuk membersihkan diri sedangkan suaminya masih menemui beberapa tamu. Gadis itu menyiapkan baju tidur juga untuk suaminya. Van terkejut karena sepasang tangan kekar tiba tiba memeluknya dari belakang.


"Sayang." Ladit mencium pipi mulus istrinya.


"Aku sudah siapkan baju. Mandilah."


"Iya. Tunggu aku ya." Van hanya mengangguk. Perasaannya kacau sekarang. Ia belum siap sama sekali untuk melayani suaminya di malam pertama.


Ladit naik ke atas ranjang. Seperti yang di perintahkan, Van masih setia duduk menunggunya. Jantung keduanya sama sama tak karuan. Ini adalah malam pengantin mereka.


"Sayang. Aku...." Kata Ladit sudah berada dekat di depan sang istri. Merasakan gelagat sang istri yang aneh. Ia lebih memilih untuk menahan hasratnya.


"Aku tau kamu belum siap. Aku akan menunggu." Kata Ladit tak mau menyakiti hati Van.


"Lalu bagaimana denganmu?" Tanya Van tahu jika suaminya sedang menahan sesuatu.


"Kamu seorang dokter. Tidak mungkin tidak tahu apa yang akan aku lakukan jika tidak mendapatkan pelampiasan."


"Lakukanlah." Van menggenggam tangan Ladit.


"Aku tidak ingin menyakitimu."


"Tidak. Aku tidak akan merasa tersakiti. Lakukanlah. Aku tak ingin berdosa karena menolak."


"Bukan kamu yang menolak. Aku hanya akan menunggu kamu siap saja. Kita akan melakukannya jika kamu sudah benar benar siap. Ini sudah kesepakatan antara kita berdua. Jadi tidak ada dosa."


"Kakak tau darimana?"


"Dari Mom. Jika suami istri sudah mengadakan kesepakatan maka tidak akan berdosa menunda malam pertama."


"Oh."


"Sekarang ayo kita tidur."


"Maaf."


"Bukan salahmu sayang. Aku yang bilang aku akan menunggu. Daripada di hotel seperti ini lebih nyaman melakukannya di rumah." Kata Ladit menggoda.


"Apa bedanya?"


"Di rumah itu hanya ada aku dan kamu. Kalau disini banyak orang. Siapa tau kedua Iparku itu menguping malam pertama kita."


"Kamu ini. Terimakasih sudah mengerti."

__ADS_1


"Sama sama Sayang. Aku mencintaimu. Sakit ku sudah terobati hari ini." Kata Ladit mendekap tubuh istrinya dengan hangat setelah mencium bibir mungil itu.


__ADS_2