Perjalanan Cinta Vanessa

Perjalanan Cinta Vanessa
Kamu Tega


__ADS_3

Mario menatap istrinya tidak percaya. Biasa bisanya wanita yang telah menemaninya 22 tahun lamanya secara terang terangan bilang bahwa telah mencintai laki laki lain. Hati Mario sangat sakit. Betapa kejamnya Val saat ini. Ia benar benar hancur. Rasanya ingin mati saja. Kepala Mario berdenyut namun Ia mencoba menahan agar kesadarannya masih bertahan. Di dada seperti di tusuk ribuan belati yang membuatnya merasa perih dan sesak secara bersamaan.


"Sejak kapan? Sejak kapan kamu mencintai dia?" Mario memilih melembut daripada meledakkan emosinya dan membuat wanita yang begitu Ia cintai terluka.


"Yah. Sejak tiga Minggu ini. Haish...Aku tidak bisa melupakannya. Dia sangat lembut dan manis." Jawab Val dengan entengnya sambil senyum senyum tidak jelas.


"Kamu tega Sayang." Kata Pria itu mulai meneteskan air matanya.


"Dad. Kenapa kamu nangis?" Val mendekat dan mengusap air mata pria itu.


"Kamu tega berselingkuh di belakang aku tiga Minggu lamanya. Kamu menghianati pernikahan kita. Aku tau aku banyak kekurangan dan kamu mencoba bertahan. Tapi kenapa kamu bisa sejahat itu mencintai pria lain?" Tanya Mario membuat Val melongo.


"Dad."


"Aku tidak rela kamu bersama laki laki lain. Tidak akan aku biarkan. Kamu hanya milikku seorang. Namun aku juga sangat kecewa padamu."


"Dad."


"Aku sangat mencintaimu tapi kenapa kau begini."


"Daddy ngomong apa sih. Jangan bikin aku bingung." Kesal Val karena suaminya terus berbicara.


"Kamu memalingkan hatimu untuk laki laki lain. Kamu keterlaluan Sayang."


"Laki laki lain Siapa?"


"Kamu mengatakan dengan jelas. Namanya Ken. Siapa dia? Biar aku bunuh dengan tanganku sendiri." Katanya berubah Marah.


"Daddy. Menyebalkan. Ken itu bukan laki laki."


"Lantas?" Tanya Mario kebingungan.


"Hais...Benar benar. Ken itu anak harimau albino yang orang tuanya sudah tiada. Aku ingin merawatnya."


"Benarkah?" Mario mengusap jejak air matanya.


"Hm."


"Oh Sayangku. Kenapa tidak mengatakannya dengan jelas. Kau membuatku salah paham." Mario bangkit dan memeluk istrinya. Membawa wanita itu untuk duduk di pahanya.


"Kemarin kemarin aku sudah cerita. Kau kemana saja?"


"Maaf. Mungkin aku lupa."


"Em...Jadi bagaimana? Aku boleh pelihara Ken Kan."


"Tidak Sayang. Itu berbahaya." Mario mengelus lembut wajah sang istri setelah mengecup bibir itu beberapa kali.


"Dia menyayangiku. Aku juga menyayanginya. Dia itu tidak galak."Jelas Val untuk meyakinkan suaminya.


Lain halnya dengan Ladit dan Van. Mereka baru saja pulang dari rumah sakit untuk cek kandungan. Pria itu tak berhenti menggenggam tangan sang istri. Ia mengaitkan jemari lentik itu pada sela sela jarinya.


"Mas." Van berhenti sebelum sampai di teras rumah.

__ADS_1


"Iya sayang."


"Aku mau nasi bebek yang ada di ujung gang itu."


"Tumben anak Daddy Mario mau makan pinggir jalan." Ladit menggoda sang istri yang begitu higienis dan pemilih seperti mertua lelakinya.


"Mas."


"Iya. Iya. Ayo kita beli."


"Makasih. Kita kesana ya jalan kaki aja."


"Yakin? Kamu nanti capek."


"Enggak Kok. Ayo." Van mulai menarik tangan suaminya untuk segera bergegas.


"Iya Sayang. Pelan Pelang dong. Kamu lagi hamil."


"Hm." Jawab Van.


Van begitu bahagia. Ia baru pertama kali jalan kaki seperti ini dengan santai. Ternyata rasanya sangat menyenangkan. Biasanya Ia akan naik mobil kemanapun Ia pergi.


"Menyenangkan bukan? Rasanya sangat santai."


"Iya Mas. Ini sangat menyenangkan." Jawabnya jujur. Meskipun Van menuruni sikap Mommynya yang suka menolong dan ramah. Namun kehidupan wanita itu mewah seperti Daddynya. Makanan Van sangat di jaga dan tidak sembarangan. Ia tak pernah makan di pinggir jalan seperti yang Val lakukan. Ini adalah kali pertamanya Van membeli sendiri makanan sederhana itu.


Beberapa menit berjalan mereka telah sampai di sebuah kedai sederhana yang cukup ramai. Van memang lagi pengen makan nasi bebek karena sering melihat suami dan Mommynya begitu semangat makan makanan itu.


"Eh. Mas Ladit. Tumben sama istri." Kata Pak Jono yang sudah kenal lama dengan Ladit.


"Oh. Mbaknya lagi ngidam ya."


"Iya pak." Jawab Val tersenyum ramah.


"Ok. Mau berapa porsi?"


"Tiga pak."


"Ok. Ditunggu ya."


"Iya Pak." Kata Ladit ikut duduk bergabung bersama istrinya.


"Kok tiga Mas. Mom kan nggak ada."


"Aku dua." Jawabnya sambil tersenyum.


"Perut kamu nanti nggak kotak kotak lagi."


"Gimana dong. Enak. Aku nggak tahan." Jawab Ladit mengusap perutnya yang kini Alhamdulillah masih berotot.


Sampai di rumah mereka langsung bersih bersih. Van mengandeng tangan suaminya begitu tak sabaran. Wanita itu sangat ingin menikmati nasi bebeknya.


"Duduknya pelan pelan Sayang. Kamu lagi hamil." Tutur Ladit melihat istrinya dengan sembrono duduk cepat di atas karpet bulu di ruang keluarga. Disana sudah tersaji tiga nasi bebek.

__ADS_1


"Sendoknya mana Mas?"


"Aku suapi pakai tangan. Makan nasi bebek enaknya pakai tangan."


"Em... Yasudah. Aku makan sendiri."


"Tapi..."


"Kamu juga makan. Pasti lapar juga kan. Kalo kamu suapi aku terus nggak kenyang kenyang."


"Baiklah." Ladit hanya menurut.


"Nasinya anget. Enak." Kata Van mulai makan dengan tangan kosong seperti yang dilakukan suaminya.


"Sambalnya jangan banyak banyak. Kamu kepedesan nanti."


"Iya." Jawab Van masih fokus dengan kegiatannya.


"Ternyata enak."


"Kamu kalo di bilangin nggak percaya sih."


"Pantesan kamu sama Mom kalo lagi kumpul selalu beli."


"Iya. Dari dulu yang di jual pak Jono rasanya nggak pernah berubah."


"Pak Jono jualannya sudah lama ya?"


"Sudah. Sejak aku SMP. Dulu aku sama Papa juga sering makan disana."


"kamu lalapannya nggak doyan Yang?"


"Doyan. Tapi nanti aja terakhir."


Ladit mengelap dahi sang istri yang berkeringat. Wanita itu tampak terlihat kepedesan.


"Jangan pakai sambal lagi. Udah cukup.


"Iya. Aku makan bebek sama nasinya aja." Kata Van menurut.


"Minumnya sayang." Ladit menyodorkan segelas minuman dengan gelas berembun di depan istrinya.


"Ini apa Mas?"


"Es jeruk. Makan nasi bebek enaknya minum es jeruk. Dijamin seger."


"Makasih."


"Em...Asem banget."


"Masa sih."


"Iya. Siapa yang bikin?"

__ADS_1


"Aku sendiri. Masa aku lupa kasih gula."


"Bentar aku minta Bibi tambah gulanya."Pria itu langsung bergegas membawa minuman istrinya ke dapur.


__ADS_2