Perjalanan Cinta Vanessa

Perjalanan Cinta Vanessa
Sibuk


__ADS_3

Van membangunkan suaminya. Pria itu tidur lagi setelah bangun subuh tadi.


"Mas. Ayo bangun. Ini sudah jam tujuh lo. Memangnya kamu nggak ke kantor?"


"Um...Aku masih ngantuk."


"Gitu deh. Salah sendiri nonton bola sampai malam. Ayo bangun. Bajunya sudah aku siapin. Mandi sana."


"Nanti dulu." Ladit menarik istrinya dan memeluk dengan erat.


"Mas. Aku udah rapi nanti berantakan lagi. Lepasin."


"Cium dulu. Nanti aku bangun."


"Iya." Van langsung mencium pipi suaminya.


"Dah. Ayo bangun. Jangan banyak tingkah."


"Bukan begitu. Kamu tiap hari aku ajarin kok nggak bisa bisa." Kata Ladit langsung meraup bibir sang istri dengan rakus. Ia menyesap dan ******* bibir istrinya dengan penuh semangat.


"Ini Morning Kiss Sayang." Katanya sambil tersenyum dan menangkup wajah Van.


Keduanya kini sudah berada di ruang makan setelah sekian lama menunggu Ladit yang bersiap.


"Mau sarapan pakai apa?"


"Pancake aja."


"Ok." Van mulai menyiapkan sarapan untuk suaminya.


"Ini."


"Suapi."


"Baiklah." Van menuruti keinginan Ladit.


"Mas. Nanti aku pulang malam."


"Lagi? Kemarin kemarin kan sudah."


"Iya. Sedang banyak pasien yang harus aku tangani. Makannya aku lembur terus."


Ladit sebenarnya keberatan dengan kesibukan Van. Ia kurang waktu bersama dengan istrinya. Padahal sebisa mungkin Ia selalu pulang di jam makan siang untuk bisa memiliki waktu Yeng lebih banyak dengan Van. Namun Sang Istri selalu saja sibuk dan sibuk dengan pekerjaannya.


"Kamu nanti nggak usah tunggu aku pulang. Kamu langsung tidur aja ya. Soalnya aku pulang jam berapa juga tidak pasti."


"Kalo begitu aku antar. Daripada kamu nyetir sendiri malam malam." Kata Ladit. Pria itu sebenarnya sudah menyiapkan beberapa orang kepercayaan untuk melindungi dan memberi laporan tentang semua kegiatan istrinya.


"Tidak usah. Jalan rame kok. Aku nggak papa bawa mobil sendiri."


"Yasudah. Sebisa mungkin sering kasih kabar ke aku ya."


"Iya. Nanti kalo aku luang aku telpon kamu."


Ladit memeluk istrinya erat. Mereka harus berpisah karena akan segera berangkat bekerja.


"Sudah peluknya. Nanti kamu telat ke kantor. Aku juga mau berangkat."


"Em...Sebentar lagi. Aku bakalan kangen kamu. Nanti kamu pulangnya malam."


"Iya. Maaf ya."


"Nggak papa. Memang sudah resikonya jadi suami dokter ya begini."


"Jangan sedih. Nanti aku telpon."


"Iya."


"Yasudah. Aku berangkat dulu ya Mas."


"Aku cium dulu." Ladit menciumi seluruh wajah istrinya.


"Haish...Basah wajah aku." Canda Van.


"Biarin."


"Aku berangkat dulu ya."

__ADS_1


"Iya. Hati hati."


"Iya, kamu juga hati hati. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam Sayang." Ladit menunggu istrinya pergi. Ia kemudian masuk ke dalam mobil untuk segera berangkat ke kantornya.


Sosok pria tengah duduk di ruang kerjanya sambil mengecek beberapa Map yang ada di meja. Pintu ruangan terbuka setelah beberapa ketukan terdengar. Seseorang berbadan tegap dengan setelan jas hitam berjalan ke arah Ladit. Namun sang CEO tetap dalam posisi yang sama. Ia tak mengangkat wajahnya untuk melihat siapa yang datang.


"Tuan." Kata seorang pria berdiri tegak menghadap bosnya.


"Duduklah." Kata Ladit mempersilahkan.


"Baik Tuan." Pria itu langsung duduk di kursi depan meja.


"Ada apa?"


"Ada beberapa barang yang perlu dikirim. Tuan harus mengeceknya sendiri."


"Jam berapa pengirimannya?"


"Jam 7 nanti malam Tuan."


"Ya. Nanti aku kesana. Lalu bagaimana dengan kegiatan istriku hari ini?"


"Nyonya masih di rumah sakit Tuan. Sedang menangani operasi."


"Pasien laki laki atau perempuan."


"Perempuan."


"Baiklah. Kirimkan segala kegiatannya padaku."


"Baik Tuan. Saya permisi."


"Ya." Jawab Ladit.


Van sedang makan siang di ruangannya sambil melakukan panggilan Video dengan sang suami.


"Assalamualaikum Sayang."


"Waalaikumsalam Mas. Kamu sudah makan siang?"


"Ini lagi makan siang." Kata Van sambil menyantap makanannya.


"Makan pakai apa?"


"Ada capcay, Tumis daging sama ikan bakar."


"Nggak pakai nasi?"


"Ini juga ada nasinya."


"Jadinya nanti kamu pulang jam berapa?"


"Belum tau Mas. Pulangnya aku larut banget nanti. Kamu tidur dulu aja."


"Kamu jangan kecapean dong."


"Iya. Aku nggak capek kok."


"Oh iya. Sayang Aku nanti mau keluar ya. Ada janji sama teman. Boleh kan?"


"Iya boleh. Tapi hati hati."


"Iya."


"Yasudah. Aku tutup dulu ya Mas. Aku masih ada pasien lagi."


"Iya. Love you."


"Love you too. Assalamualaikum Mas."


"Waalaikumsalam Sayang." Jawab Ladit dengan senyumnya. Selesai berbincang dengan suaminya Van kemudian membereskan kotak makannya yang telah kosong. Ia meraih stetoskop nya dan keluar ruangan.


"Suster setelah ini Pasien mana yang perlu saya cek?" Tanya Van sambil berjalan cepat.


"Pasien di kamar 145 dokter. Pasien lansia atas nama Ibu Rosalin."

__ADS_1


"Keluhan?"


"Asma."


"Oh. Saya ingat. Kita kesana sekarang."


"Baik dokter." Katanya sedikit berlari mengimbangi langkah Van.


Seorang wanita dengan rambut yang telah memutih tersenyum melihat kedatang sosok dokter muda.


"Nenek Rosalin apa kabar?" Tanya Van ramah.


"Baik dokter. Saya sudah jauh lebih baik."


"Baiklah. Saya periksa dulu ya." Van segera memeriksa keadaannya.


"Ibu Rosalin sudah sembuh. Hari ini sudah boleh pulang. Seperti yang saya janjikan kemarin."


"Dokter serius?" Tanya Cucunya.


"Iya. Jika di rumah nanti Nenek harus janji sama Van untuk tidak terlalu capek. Jaga kondisi dan jangan terlalu banyak pikiran. Obatnya di minum teratur serta makan makanan yang sehat."


"Baik dokter."


"Kalina. Jaga Nenek baik baik ya."


"Siap dokter. Terimakasih banyak sudah banyak menolong kami. Maaf karena tidak bisa membalas kebaikan dokter."


"Sama sama." Kalina dan Neneknya memeluk Van untuk berterimakasih.


Pukul satu malam Van baru saja sampai di rumah.


"Sayang." Ladit langsung memeluk istrinya begitu melihat kedatangan wanita itu.


"Yaampun Mas. Kamu belum tidur. Kan tadi aku udah ngomong kalo kamu tidur duluan aja. Kebiasaan deh."


"Aku nggak bisa tidur."


"Kamu sudah makan malam?"


"Sudah."


"Yaudah. Kita ke kamar aja. Kamu ngantuk banget kayanya."


"Iya." Jawab Ladit langsung menggandeng tangan istrinya.


Van selesai membersihkan diri langsung menyusul suaminya di ranjang.


"Ayo tidur Yang."


"Iya." Van berbaring setelah mematikan lampu.


"Jam segini malah hujan." Kata Ladit sambil memeluk istrinya erat.


"Untung kamu sudah sampai di rumah."


"Iya."


"Besok Minggu kan. Apa kamu kerja juga?"


"Nggak. Aku libur kok."


"Bagus. Jadi besok bisa tidur sampai puas."


"Iya."


"Sayang."


"Hm."


"Peluk."


"Iya." Van membalas pelukan suaminya dengan erat juga. Ladit menenggelamkan kepalanya di ceruk leher sang istri dan menghirup aroma wangi nan menenangkan itu dalam dalam. Kepalanya semakin turun ke bawah dan sampai di dada Van. Tangan Ladit mengangkat baju tidur istrinya dan mulai melahap di benda kesukaannya itu.


"Mas. Jangan digigit." Keluh Van.


"Maaf."

__ADS_1


Van membiarkan suaminya tidur dalam posisi seperti ini tiap malam. Ia mengelus lembut kepala ladit hingga beberapa menit kemudian tertidur pulas. Van melepaskan miliknya dari mulut sang suami. Ia tersenyum melihat Ladit yang tidur seperti bayi. Satu kecupan mendarat di kening pria itu lalu Van ikut tidur menyusul suaminya.


__ADS_2