Perjalanan Cinta Vanessa

Perjalanan Cinta Vanessa
Pertemuan Keluarga


__ADS_3

Van dan suaminya tengah duduk berdua sambil menonton film di kamar. Mereka baru saja dari rumah Mommynya setelah mampir dari pulang kerja tadi.


"Mas. Kita nanti disuruh makan malam di rumah Opa."


"Iya. Hampir aja lupa."


"Memangnya kamu punya acara?"


"Enggak kok. Kita datang nanti."


"Iya."


"Kira kira ada apa ya? Nggak biasanya."


"Nggak tau juga. Katanya mau ngomong penting. Makannya kumpulin semua keluarga besar."


"Oh."


Ladit menidurkan kepalanya di pangkuan sang istri. Ia memeluk pinggang ramping istrinya dan mengecup perut datar itu beberapa kali.


"Yang."


"Iya."


"Tolong pijitin kepala aku dong."


"Iya." Van mulai memijit kepala suaminya.


"Enak nggak?"


"Enak." Jawabnya sambil memejamkan mata menikmati pijatan dari sang istri.


Di sisi lain seorang wanita tengah membaringkan tubuhnya dengan nyaman di ranjang. Ia hanya memejamkan mata sementara kesadarannya masih penuh.


"Mom. Kira kira Opa suruh semuanya berkumpul mau ngapain ya?"


"Nggak tau. Tanya langsung sama Opa."


"Mom. Nanti acaranya jam berapa sih?"


"Jam tujuh."


"Haish. Kalian daritadi masih disini." Kata Mario baru saja keluar dari kamar mandi. Ia begitu jengah dengan dua anak kembarnya yang selalu menganggu.


"Masih dong Dad." Katanya langsung ikut tidur di samping kanan dan kiri Val.


"Pergi. Daddy mau tidur siang."


"Nggak. Kita juga mau tidur siang disini sama Mom."


"Heh. Kalian sudah besar ya. Tidur sendiri."


"Daddy ngalah dong."


"Nggak. Pergi sana."


"Nggak mau." Kata keduanya langsung memeluk tubuh Val.


"Kalian bisa tenang tidak. Mommy ngantuk banget." Kata Val masih dengan mata terpejam.


"Kita tidur disini ya Mom."


"Hm." Jawabnya dengan malas.


"Ih By. Kamu kok gitu."


"Udah. Daddy jangan berisik. Kita mau tidur." Kata Veer sengaja ingin mengejek Daddynya.


Suasana sore begitu indah. Angin bertiup tidak terlalu kencang sehingga membuat dua insan yang sedang duduk berdua di taman merasa nyaman. Ladit menyederkan kepalanya di bahu Van. Tangan pria itu tak berhenti menggenggam tangan sang istri. Mengaitkan jemari lentik itu untuk mengerat dan menyatu di sela sela jarinya.

__ADS_1


"Mas."


"Ya Sayang."


"Itu jambu biji dalamnya merah atau putih?"


"Merah. Kamu mau?"


"Enggak. Cuman tanya aja. Pada mateng kok nggak ada yang petik. Pada nggak doyan ya?"


"Biasanya di petik pak satpam kalo nggak Bibi. Aku nggak terlalu suka Jambu."


"Oh."


"Di kebun Mom katanya lagi berbuah semua. Tapi aku udah lama nggak ke kebun. Karna Mom masih takut. Aku jarang kesana."


"Iya. Mom kalo takut sesuatu lama ya lupanya."


"Iya. Aku inget banget dulu waktu aku masih SMP kita lagi main Uno Card. Yang kalah di kasih hukuman. Saat itu Mom kalah. Karena Mom nggak doyan sayur makannya Daddy tantang Mom untuk makan sayur sebagai hukumannya."


"Terus gimana? Mom mau makan?"


"Mau. Habis itu nangis. Katanya rasanya pahit kaya rumput. Sampai sekarang Mom nggak mau makan sayur."


"Memangnya sayur apa kok kaya rumput."


"Brokoli."


"Oh. Untung aja kamu nggak kaya Mom. Untung kamu suka makan sayur."


"Iya. Walaupun Mom sediri nggak makan. Tapi dia biasakan anak anaknya untuk makan makanan sehat." Kata Van.


Tak terasa malam pun tiba. Suasana makan malam di rumah Papi Val begitu ramai. Semuanya datang. Begitu juga dengan Van dan suaminya.


"Mi. Mami nggak ada makanan lain ya?" Tanya Val rewel karena melihat hidangan di meja hanya ada sayur, daging dan seafood.


"Kamu mau makan apa? Biar Mami suruh Bibi siapkan."


"Kemarin kamu sudah makan bakso. Nggak usah Mi." Cegah Mario.


"Apaan sih Dad. Aku pengen bakso."


"Makan ini aja."


"Nggak ah. Aku mau bakso."


"Biarin. Mi. Suruh Bibi bikinkan." Papi Val menuruti keinginan anak satu satunya.


"Makasih Pi. Papi emang terbaik pokoknya." Kata Val dibalas kecupan dari Papinya. Pria paruh baya itu masih saja memanjakan putrinya.


Mereka tengah menikmati makan malamnya masing masing. Mario tak berani minta suapi Val karena sedang bersama mertuanya.


"Opa mau ngomong apa sih?" Tanya Veer. Dia yang paling santai dan blak blakan.


"Makan dulu. Kita bahas nanti setelah makan."


"Iya Opa."


"Kak. Tolong ambilin saosnya."


"Ini."


"Makasih." Veer menepuk punggung kembarannya.


"Sama sama."


Van tersenyum. Ia senang melihat kedua kakaknya akur.


Semuanya berkumpul di ruang tengah setelah selesai makan malam.

__ADS_1


"Sayang." Mami menggenggam tangan anaknya.


"Iya Mi."


"Kamu urus semua bisnis Mami ya." Katanya membuat Mario tersedak saat minum tehnya. Ia sengaja pensiun lebih awal untuk bisa menikmati waktu bersama sang istri. Tapi kini Mertuanya malah menyerahkan bisnisnya.


"Oma dan Opa suruh kita datang buat kasih Mom warisan."


"Hush." Val menegur anaknya. Sementara Veer yang di tegur hanya tersenyum tak berdosa.


"Memangnya Mami kenapa? Sakit?"


"Oma sakit?" Tanya Van khawatir.


"Enggak. Oma cuman mau istirahat aja. Gimana sayang?"


"Sebentar Mom. Val mau diskusi sama Pak suami dulu." Jawabnya membuat mereka semua tersenyum.


"kamu nggak perlu khawatir. Kamu hanya datang mengecek dan mengurus laporan keuangan saja. Kamu juga Mario. Jangan khawatir akan kekurangan waktu sama istri kamu." Kata Mami sambil menatap menantunya.


"Bukan begitu Mi. Kalo Mami merekomendasikannya begitu Mario tidak khawatir. Yang mengganggu itu mereka berdua." Katanya sambil menunjuk kedua anak kembarnya.


"Kok kita?"


"Halah. Kalian tidur saja maunya sama Mommy kalian. Sudah besar. Kalian harusnya malu."


"Kita nggak malu. Iya kan kak?" Tanya Veer dijawab anggukan oleh kembarannya.


"Ada yang ingin aku katakan juga." Kata Papi serius. Ia menatap anak dan menantunya bergantian.


"Papi Mau nama belakang Ved dan Veer diganti dengan Thompson." Katanya membuat mereka semua terkejut.


"Karena Van akan mengikuti nama belakang suaminya. Hanya kalian yang bisa meneruskan nama keluarga Thompson. Kalian tahu sendiri kan kalau Papi hanya punya Val. Dia anak satu satunya dan pewaris tunggal dari keluarga. Maka dari itu Papi mau nama besar Thompson ada yang meneruskan." Lanjutnya lagi.


"Pi. Bagaimana dengan aku? aku sudah mengalah jika nama belakang istri tidak menggunakan namaku. Tapi masa nama anak anak juga. Tidak ada yang meneruskan namaku nantinya." Mario tidak terima.


"Papi tidak mau tau. Pakai nama Thompson di belakang nama Ved dan Veer. Pengacara Papi akan urus semuanya."


"Pi."


"Keputusan Papi sudah final Mario."


"Pi. Nggak bisa gitu dong."


"Bisa."


"By. Kamu diam saja." Mario menatap istrinya yang begitu santai.


"Mau bagaimana lagi?"


"Kamu ngomong dong sama Papi."


"Haish.. kalian ini. Pakai dua duanya saja biar adil."


"Maksud Mom?"


"Iya. Ved dan Veer Xavia Albert Thompson. Jadi nama dua keluarga ini tidak akan hilang. Sama sama di teruskan."


"Bagaimana?"


"Ok. Papi setuju."


"Kamu Mario?"


"Mario setuju Mi. Wah. Istriku memang cerdas." Katanya sambil memeluk Val.


"Ih. Awas. Jangan peluk peluk." Kata Val melepaskan pelukan suaminya sambil berdiri.


"Kamu mau kemana?"

__ADS_1


"Mau bikin es."


"Ini sudah malam Mom. Jangan minum es." Kata anak anak dan menantunya namun tidak dihiraukan oleh Val.


__ADS_2