
Tak terasa usia kandungan Van sekarang sudah tujuh bulan. Mereka baru mengadakan acara tujuh bulanan kemarin. Sekarang Van, Ladit, Mommy dan Daddynya tengah berada di mall untuk berbelanja kebutuhan bayi.
"Memangnya sudah tau jenis kelaminnya apa?"
"Belum Dad. Makannya kita beli perlengkapannya yang warna netral aja. Jadi bisa dipakai laki laki atau perempuan."
"Hm. Terserah deh. Belanjanya cepat. Daddy mau ajak Mom pulang."
"Apaan sih Daddy. Baru sampai juga." Kesal Van.
Ladit dan Mario hanya mengekori kedua wanita itu yang sedang memilih berbagai perlengkapan.
"Bawain dulu." Kata Val pada suaminya.
"Iya Sayang." Jawabnya sambil tersenyum manis di depan sang istri.
"Habis ini kita makan siang di restoran Mom ya."
"Iya. Dit. Tolong kamu reservasi tempat di restoran Mom."
"Siap Mom." Jawabnya langsung melaksanakan perintah Mommynya.
"Bawain nih." Kata Mario memberikan semua belanjaan pada menantunya dan segera menyusul sang istri.
Van menggandeng tangan Mommynya memasuki restoran.
"Selamat datang Ibu. Nona dan Tuan tuan sekalian." Sapa mereka ramah.
"Iya Mbak."
"Ibu jarang kesini sekarang."
"Maaf. Lagi sibuk urus klinik."
"Oh. Kita kangen Ibu." Kata mereka membuat Mario berdecak kesal.
"Lah. Main aja kalo kangen."
"Iya Bu."
"Iya. Iya. Aja nggak pernah datang."
'Gimana mau datang, kita takut sama suami Ibu.' Batin mereka.
"Hehe....Maaf Bu. Oh Iya ruangannya sudah siap."
"Baik. Aku kesana dulu ya. Tolong antar semua menu seperti biasa."
"Siap Bu. Silahkan."
"Iya. Makasih."
"Sama sama."
Mereka bernapas lega setelah kepergian Val dan rombongan. Jujur saja tatapan Ladit dan Mario membuat mereka ngeri.
Semua hidangan sudah tersaji di meja.
"Ayo makan sayang. Katanya lapar."
"Suapi Mom."
"Jangan manja. Minta suapi suami kamu. Daddy yang disuapi Mom."
"Nggak mau. Van maunya sama Mom."
"Sayang. Sama aku aja ya." bujuk Ladit pada sang istri. Ia khawatir karena setiap makan Van akan selalu minta di suapi padahal mertuanya juga belum makan.
__ADS_1
"Nggak. Aku maunya sama Mom."
"Van." Nada bicara Mario mulai meninggi.
"Sudah. Kamu ngalah Dad. Ayo Mom suapi."
"Makasih Mom."
"Iya. Kamu harus makan yang banyak." Val mulai menyuapi Putrinya.
Van langsung duduk di ruang tengah setelah mengantar Mommy dan Daddynya sampai ke depan. Mereka baru saja menata kamar bayi.
"Kamu lelah sayang?" Tanya Ladit duduk di samping Van sambil memberi segelas jus.
"Makasih Mas. Aku nggak capek Kok."
"Tidur siang yuk."
"Belum ngantuk."
"Berbaring aja. Hari ini kamu jalan terus. Nanti lelah."
"Iya." Jawab Val menurut.
Ladit berbaring sambil mengusap punggung istrinya dengan lembut.
"Tidurnya sudah nyaman?" Tanya Pria itu memastikan posisi sang Istri sudah senyaman mungkin.
"Sudah Mas."
"Jilbabnya nggak di lepas dulu?"
"Ah iya. Lupa."
"Sini aku bantu lepasin."
"Iya." Ladit melepaskan jilbab istrinya dan kembali ke posisi semula.
"Iya Mas."
"Kamu lahirannya Caesar kan?"
"Nggak. Aku maunya normal."
"Caesar aja biar kamu nggak kesakitan."
"Aku mau normal Mas."
"Aku nggak tega lihat kamu kesakitan." Katanya dengan raut wajah khawatir.
"Nggak papa. Semuanya akan baik baik saja."
"Hm. Baiklah."
"Jangan khawatir." Van menenangkan suaminya.
"Yang terpenting kamu berdoa saja. Semoga semuanya dilancarkan." Lanjutnya lagi sambil mengusap lengan Ladit naik turun.
"Tentu saja aku akan selalu berdoa untuk kamu dan anak kita. Sekarang kamu tidur ya."
"Iya."
"Mau aku pijat kakinya?"
"Nggak usah. Aku baik baik aja kok."
"Baiklah." Ladit mengecup bibir istrinya dan mendekap wanita itu dengan hangat.
__ADS_1
Van mengerjapkan matanya menyesuaikan cahaya yang masuk. Ia menggeliat mendapati suaminya masih memeluk tubuh itu dengan erat.
"Kamu bangun sayang?" Suara Ladit terdengar serak dengan mata yang masih terpejam.
"Iya. Lepas dulu aku mau cuci muka."
"Em....Memangnya ini jam berapa?"
"Jam 2."
"Baru jam dua. Kita tidur lagi aja."
"Nggak. Aku sudah tidak ngantuk." Van melepaskan tangan suaminya perlahan. Wanita itu beranjak dari ranjang menuju kamar mandi.Ia langsung membasuh wajahnya dengan air dan sabun wajah. Beberapa saat setelah selesai dengan kegiatannya Ia kembali ke kamar. Suaminya masih tertidur pulas dan Ia membiarkan. Mungkin Ladit masih lelah. Seharian Ini mereka berbelanja kebutuhan si kecil yang sebentar lagi akan lahir.
"Nyonya." Sapa mereka melihat kedatangan Van di dapur dan Van hanya membalas dengan senyumannya.
"Nyonya ingin sesuatu?"
"Bibi tolong buatkan rujak ya. Tapi jangan pedas."
"Baik Nyonya."
"Saya tunggu di belakang ya Bi."
"Siap Nyonya. Nanti kami antar kesana."
"Terimakasih Bi."
"Sama sama Nyonya." Jawab mereka bersamaan.
Van melangkahkan kakinya ke halaman belakang. Wanita itu duduk di Gasebo yang dikelilingi taman indah. Ia membuka majalah yang ada di atas meja dan mulai membacanya. Van tersenyum, Mommynya selalu menjadi pemberitaan hangat entah tentang gaya hidup, fashion, maupun jumlah kekayaan yang menjadikan wanita itu berada di puncak. Val membuka lembar berikutnya. Ini masih menyangkut berita tentang Mommy tercinta. Wanita itu baru baru ini membangun sebuah panti asuhan dan masih menjadi perbincangan hangat sebagai sosok berhati malaikat. Beberapa foto juga memperlihatkan Val sedang makan di pinggir jalan dengan tangan kosong. Hal yang begitu jarang dilakukan seorang wanita dari kalangan atas justru menjadi kegemaran tersendiri bagi Mommynya. Tak bisa di pungkiri. Pesona dan kebaikan Sang Mommy membuat wanita itu sangat spesial.
"Silahkan Nyonya." Kata seorang dengan suara beratnya.
"Kok kamu Mas."
"Iya. Aku tadi lihat Bibi mau kesini antar rujak kamu. Makannya sekalian aku aja yang bawa."
"Oh. Makasih."
"Sama sama Sayang. Aku suapi."
"Aku bisa makan sendiri."
"No..Aku suapi." Kata Pria itu tak mau mengalah.
"Hm. Baiklah."
"Kamu lagi baca apa?"
"Majalah."
"Oh. Pasti Mom mendominasi."
"Iya. Lihatlah. Mom seperti saudara Perempuanku saja." Tunjuknya pada salah satu foto keluarga yang ada disana.
"Iya. Wajah kalian sangat mirip."
"Bukan itu. Maksudku Mom itu awet muda."
"Pantas saja Daddy selalu cemburuan."
"Dia takut Mom akan berpaling." Lanjut Van sambil terkekeh.
Di sisi lain sosok wanita sedang duduk berhadapan dengan suaminya. Wajah keduanya tampak biasa mengelabuhi otak yang penuh tanda tanya dari si pria. Sangat jarang istrinya mengajaknya berbicara berdua dan seserius ini. Satu menit berlalu namun wanita itu tak kunjung bicara. Ada raut wajah kesulitan yang sangat kentara.
"Sayang. Apa yang ingin kamu sampaikan?" Tanya Mario tak bisa menunggu terlalu lama lagi. Val menghela napasnya. Dengan berat hati Ia harus mengatakan ini. Perasaannya tak bisa di bohongi. Walaupun hanya bertemu beberapa kali namun seperti ada ikatan batin dan perasaan nyaman jika sedang bersama.
__ADS_1
"Daddy. Aku mencintai Ken. Biarkan aku bersamanya." Kata Val membuat napas Mario tercekat.
"Biarkan kami bersama...."Lanjutnya lagi kini malah akan menyita kesadaran pria itu.