Perjalanan Cinta Vanessa

Perjalanan Cinta Vanessa
Buah Cinta


__ADS_3

Akikah berjalan dengan lancar. Semuanya menjadi tenang setelah para tamu kembali ke kediamannya masing masing. Val sedang menggendong cucunya. Ia tak menyangka akan menjadi seorang Oma di usia yang terbilang masih muda. Bayi itu sangat mengerti. Ia hanya akan tenang jika bersama Van atau Sang Oma saja. Namun jika bersama yang lain Ven kecil akan menangis.


"Pilih kasih. Sama Ayahnya sendiri nggak mau." Kata Ladit mengusap pipi putranya yang tengah tertidur tenang itu.


"Iya nih. Sama Uncle juga nggak mau."


"Coba Veer gendong Mom."


"Kalo nangis kamu mau tanggung jawab?"


"Hehe...Enggak Dad." Jawabnya sambil duduk kembali.


"Sayang." Mami menghampiri anaknya dengan langkah cepat dan wajah panik.


"Ada apa Mi?"


"Peliharaan kamu itu Lo. Mami buang lama lama." Kesal Mami Val langsung duduk menaikkan kakinya di sofa.


"Ven ikut Bunda dulu ya sayang." Val memberikan Vender Pada Sang Ibu.


Mereka spontan menaikkan kakinya ke sofa melihat harimau kecil itu berjalan mendekat.


"Ken Sayang. Kok bisa lepas?" Val beranjak dan memeluk anakan hewan buas itu.


"Begitu. Kalo sudah ketemu lupa sama suami sendiri." Mario mendecakkan lidahnya.


"Uluh uluh sayang. Lapar ya." Celoteh Val menggendong anak keempatnya.


"By. Kandangin sana."


"Iya nih Mommy."


"Ken sudah lama disini kalian belum terbiasa juga. Dia ramah lo."


"Halo semua. Halo adik Vender." Kata Val menggerakkan salah satu kaki depan hewan berbulu itu seolah sedang menyapa.


"Om Mario takut?" Val mulai berjalan mendekat pada suaminya.


"Kamu panggil aku apa?" Tanya Mario melotot.


"Om Mario. Atau mau di panggil Daddy sama Ken?"


"Jangan Main main kamu By. Aku bisa buang itu kapan aja." Ancam sang suami membuat Val melangkah mundur.


"Kalian takut?"


"Gimana nggak takut, sama orang agresif begitu." Ved bergidik ngeri.


"Hehe. Iya. Nurutnya sama aku aja."


"Kembalikan ke kandangnya sayang."


"Nanti Mi. Kayanya dia mau main deh. Dia kangen aku. Udah lama nggak main sama aku."

__ADS_1


"Valerie Thompson. Balikin." Tegas Papi Val begitu kesal dengan putrinya.


"Iya. Iya. Ayo Ken." Van menurunkannya dan harimau lucu itu mulai mengejar sang majikan yang berlari kecil.


"Aku buang lama lama." Kesal Mario.


"Lagian Daddy kenapa kasih izin sih."


"Tau sendiri kan Mommy kamu kalo merengek kaya apa."


"Halah Daddy begitu." Van berdiri meninggalkan mereka sambil membawa anaknya.


Val tengah sibuk memberi makan Ken dengan daging.


"Mom nggak takut apa?" Tanya Van menghampiri Mommynya.


"Nggak. Ini jinak kok."


"Jinaknya sama Mom aja."


"Hehe. Iya. Kamu duduk gih. Capek gendong sambil berdiri. Mom mau cuci tangan dulu."


"Iya. Van tunggu di bangku sana ya Mom."


"Ok."


Val selesai mencuci tangan langsing menghampiri anak dan cucu pertamanya.


"Sini Mom yang gendong aja."


"Nggak kok. Mom nggak capek."


"Baiklah." Dengan hati hati Van memberikan anaknya pada Val.


"Cup." dua kecupan di pipi kanan dan kiri Val membuat wanita itu terkejut. Belum sempat berbicara panjang lebar pipinya sudah di kecup lagi beberapa kali.


"Ih. Basah tau."


"Hehe. Ken mana?"


"Katanya suruh kandangin. Sekarang tanya. Mau di lepasin lagi?"


"Enggak." Jawab mereka cepat.


"Oma sama Opa pulang dulu ya."


"Cepet banget. Nggak tidur disini aja."


"Nggak. Oma mau ada arisan."


"Ok. Hati hati Mi, Pi."


"Iya. Assalamualaikum."

__ADS_1


"Waalaikumsalam."


"Dada. Kita pulang dulu sayang." Kedua orang itu mengecup kening Vender dengan pelan sebelum pergi.


Van dan suaminya telah sampai di rumah. Setelah menginap beberapa hari di rumah Mommynya, mereka memutuskan untuk pulang.


"Biar aku yang bawa tasnya sayang." Kata Ladit ketika wanita itu hendak meraih tas yang berisi perlengkapan si kecil.


"Iya." Jawab Van terus melangkah ke depan menuju teras rumah.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam. Eh Aden sudah pulang. Gantengnya." Kata wanita paruh baya itu melihat kedatangan pangeran kecil di rumah.


"Iya Bi."


"Nyonya sama Tuan mau saya siapkan makan apa?"


"Nggak Bi. Kami sudah makan di rumah Mom tadi."


"Oh iya Bi. Itu ada box di dalam mobil. Akikahnya Vender. Untuk Bibi dan bagikan ke semuanya ya."


"Baik Tuan. Terimakasih."


"Sama sama."


"Ayo masuk Sayang." Ladit merangkul pundak sang istri untuk mengajak wanita itu segera bergegas masuk ke dalam rumah.


Van meletakkan bayi mungilnya yang sudah terlelap ke dalam Box.


"Ayo istirahat. Kamu butuh tidur juga. Pasti lelah." Ladit memeluk sang istri.


"Nanti Ven kebangun."


"Nggak. Dia anak pintar. Dia mau Bundanya istirahat juga." Ladit tiba tiba menggendong istrinya dengan hati hati.


"Aku bisa jalan sendiri."


"Udah lama nggak gendong kamu." Jawab pria itu melengkungkan kedua sudut bibirnya dan terus berjalan membawa Van ke kamar.


Ia meletakkan sang istri dengan hati hati di ranjang. Pria itu melepas jilbab istrinya kemudian ikut naik dan berbaring di samping Van. Ladit menghadapkan dirinya pada wanita itu. Memeluk dengan erat dan mengusap pipi merah jambu itu lembut.


"Terimakasih." Katanya menatap manik biru kehijauan yang tepat berada di depannya.


"Hm?" Tanya Van.


"Terimakasih sudah berjuang untuk melahirkan putra kita. Mempertaruhkan nyawa kamu untuk buah cinta kita."


Van tersenyum mengusap wajah suaminya. Pria itu sudah dikenalnya sejak kecil. Dari yang Ia tahu Ladit adalah laki laki yang sabar. Van tak pernah sekalipun melihat suaminya marah.


"Sama sama. Aku senang dan bangga. Kini aku telah menjadi wanita yang sempurna."


"Kamu sempurna sayang. Sangat sempurna." Jawabnya dengan sungguh sungguh.

__ADS_1


"Kamu lelah. Ayo tidur." Van hanya mengangguk menanggapi suaminya. Wanita itu merasa begitu nyaman berada dalam dekapan hangat pria yang Ia cintai.


__ADS_2