
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Aku mengajak Reno jalan diarea pertokoan dekat dengan rumahku. Kebetulan rumahku terletak di dekat pasar tradisional, dekat dengan stadion kereta, dekat dengan terminal juga dekat dengan mal dan swalayan. Jadi aksesku kemanapun tetap terjangkau.
Aku tidak pernah kesusahan mencari apapun selama tinggal disini.
Setengah jam kemudian aku mengajak Reno berkeliling mencari oleh-oleh dalam terdekat. Kami membelikan hadiah untuk orang tua Reno juga beberapa sepupu Reno yang kemarin ikut hadir dipesta pernikahan kami.
Saat kami berjalan tak disangka kami bertemu dengan mas hari disana. Dia tampak menggandeng calon istrinya. Akupun juga memgenggam erat tangan Reno dan berjalan tegak lurus seakan tak mengenalnya.
Tapi siapa sangka justru dia malah mendekatiku dan Reno. Sembari ingin menyapaku, Dia mendekat dan melihatku dengan tatapan sedih.
"Dian, apa kabarmu"?
" Baik, kakak sendiri apa kabar? "tanyaku balik
__ADS_1
" Aku juga baik, btw ini siapa? "tanyanya sambil memperhatikan tanganku yang masih bertautan dengan Reno.
" Siapa dia sayang?"tanya Reno lembut
"Ehm cuma kenalan ditoko yank. namanya kak Hari" jawabku menatap Reno
Mas hari hanya termenung melihatku. Dahinya berkerut dan seakan ingin protes dengan jawabanku yang mengatakan bahwa kami hanya teman.
Tapi sebelum dia menjawab, Kutimpali dengan kata-kata lagi.
"Yank, kita jalan lagi yuk. nanti kemalaman lagi. kan mesti beli banyak oleh-oleh buat sepupu kamu yank." ku coba merayu Reno untuk menghindari mas hati yang ingin tahu lebih hubungan kami.
Kulirik muka syok mas hari yang menatapku dan Reno bergantian. Aku hanya diam saja tak ingin menjelaskan apapun saat ini. Kugenggam tangan Reno dan mengajaknya pergi dari tempat tersebut sebelum mas hati tersadar dari rasa syoknya itu.
Tak kuhiraukan teriakan mas hari yang memanggilku berulang kali. Kutertawakan dalam hati muka syok dia barusan. Emang enak kukerjai. Itu yang kurasakan setahun yang lalu saat dia selingkuh dan tiba-tiba memberi kartu undangan pertunangan.
__ADS_1
Kubalas dengan telak rasa sakit hatiku. Agar dia tahu aku bukan wanita sembarangan. Seenaknya saja dulu dia memperlakukanku seperti itu. Dia pikir aku akan mengemis cinta padanya. Jangan harap, tak ada dalam kamus seorang Dian mengejar laki tapi justru kebalikannya laki-laki yang mengejar Dian.
Sepanjang jalan aku senyam senyum mengingat berapa kagetnya mas hari tadi dan itu tidak luput dari pandangan Reno yang memperhatikanku.
"Kamu kenapa sih yank senyum terus, Emang ada yang lucu yah? " tanyanya melihatku.
"Nggak yank, cuma mengingat masa lalu aja pas lewat sini kan mulai besok aku ikut sama kamu pasti aku bakalan kangen sama suasana di kota ini" jawabku
"Yah kalo kamu kangen kan kita masih bisa sering-sering kesini yank" katanya sambil mengelus rambutku
"Iya aku tahu, tapi kan tetap aja gak akan bisa sering-sering yank. Apalagi kalo kamu udah sibuk kerja pasti bakalan nunggu kamu ada waktu libur kan buat kesini. Dan aku pasti bakalan kangen sama kota kelahiranku ini yank. " jawabku sendiri
"Udah donk yank kok malah sedih sih, aku janji sesibuk apapun aku kerja kalo kamu mau kesini pasti aku anterin langsung" hiburnya.
"Beneran ya yank? " tanyaku
__ADS_1
"Iya sayangku, istri tercintaku"gombalnya sambil mencium pipiku.
Sontak saja pipiku memerah akibat kelakuan nakalnya ini. Aku bener-bener malu karena banyak pasang mata yang memperhatikan kami. Kuajak Reno bergegas meninggalkan tempat ini dan segera pulang, apalagi cuaca juga mendung seperti akan turun hujan.