Perjalanan Menuju Keabadian

Perjalanan Menuju Keabadian
Pendekar Pencabut Nyawa


__ADS_3

Langit cerah tiba-tiba berubah menjadi gelap. Sebuah seruling bambu terbang ke arah seorang kultivator senior. Seorang pria berusia ratusan tahun yang telah menjadi legenda. Kun Jiasen merupakan seorang kultivator tingkat tinggi di Kekaisaran Han.


"Kekacauan di dunia fana lagi. Bagaimana bisa seperti ini? Ini sangat merepotkan pendekar tua ini saja, hehehe." Kun Jiasen menggenggam seruling bambu dan terbang menuju ke arah peperangan.


Para prajurit melancarkan serangan dalam peperangan dari kedua negara. Beberapa dari mereka terkena tembakan anak panah dan ketapel. Kendati demikian, tidak menyurutkan semangat perang antara dua negara yang saling berlawanan. Pertempuran tujuh hari tujuh malam, menghabiskan seluruh tenaga pikiran dan semangat yang mulai luntur.


"Kau tidak akan mampu melawan kami! Karena jumlah kami adalah lima ribu prajurit dan empat jendral besar!" teriak wanita bersenjatakan cambuk dengan suara kerasnya. Ia hanya ingin melihat musuh-musuhnya gentar dan pada akhirnya menyerah.


Walaupun dipihak yang dipimpin seorang pria dengan membawa sekitar dua ribu pasukan, ia yakin dengan kemenangannya. Karena ia bisa membaca taktik serangan musuh. Ia menggunakan sebuah strategi di mana pasukannya telah menyiapkan jebakan di medan perang. Dengan adanya jebakan yang berupa ranjau yang terpasang di belakang mereka. Para pasukan akan berlari ke belakang saat situasi perang memanas. Mereka juga sudah tahu jalur mana yang aman untuk dilewati.


Hari ini seharusnya pertarungan mencapai akhir. Hingga saat ini, pasukan dari kedua pihak telah kehilangan banyak. Pemasok makanan dan tenaga medis pun ikut terseret dan dibunuh juga. Pertarungan antara dua kerajaan yang memperebutkan kekuasaan, membuat rakyat biasa tersiksa. Mereka semua diungsikan dan tidak punya tempat untuk tinggal lagi.


"Orang-orang ini hanya tahunya perang dan kekuasaan! Kalau ingin mati, lebih baik mati semuanya!" Kun Jiasen yang diliputi amarah pun segera meniup serulingnya.


Orang-orang bisa mendengar suara seruling yang sangat keras dari atas. Tiba-tiba angin besar, langit menjadi gelap. Terlihat di atas, seorang terbang berdiam diri tanpa bergerak sedikitpun. Walaupun tidak banyak yang menyadari, itu adalah perbuatan pendekar dengan aura hitam yang sangat kuat itu.


"Aku adalah pendekar pencabut nyawa, Kun Jiasen. Siapapun yang ada di bawah sana, yang menginginkan kematian, akan ku kabulkan dengan senang hati." Begitu kalimat yang dilontarkan oleh sang pendekar pencabut nyawa.

__ADS_1


Dua orang jendral perang dari kedua pihak pun dapat melarikan diri. Namun keduanya sudah menduga, adanya pendekar itu, akan membuat peperangan cepat selesai. Sebelum mereka mati seluruhnya, yang harus mereka hadapi adalah Kun Jiasen.


"Kau sudah datang juga, dasar pemdekar tua sialan!" ujar seorang wanita pemegang cambuk naga langit tersebut. Ia mencambukkan senjatanya ke atas untuk membelah Kun Jiasen dari bawah.


Seketika langit terlihat terbelah dengan dihentakkannya cambuk langit. Selanjutnya dari pihak lain, seorang pendekar dengan pedang naga langitnya pun menebas ke arah atas. Ingin menjajal kemampuan pendekar pencabut nyawa itu.


"Kalian hanya pendekar yang selalu meresahkan! Bagaimana mungkin dengan kemampuan kecil itu, dapat membuatku takluk?" Kun Jiasen menggerakan tangannya untuk menghentikan serangan dua senjata itu. Walaupun dapat membuat langit terbelah sesaat, tidak akan membuatnya kalah. Pria lanjut usia itu bahkan tidak merasakan apapun.


"Kurang ajar! Kenapa dia tidak terkena efek dari cambuk naga langit ini? Seberapa kuatnya orang tua itu?" keluh pendekar wanita yang merupakan seorang jendral salah satu kerajaan.


Ternyata keduanya memang tidak sanggup menghadapi pendekar legenda itu. Pada dasarnya ilmu mereka lebih rendah dari pada pendekar pencabut nyawa yang sudah lanjut usia itu. Sementara mereka hanya orang yang belum lama dalam dunia persilatan.


"Huh, kalian tidak bisa mengalahkanku," ujar Kun Jiasen. Ia membunuh kedua jendral terakhir dengan aura hitam yang ia kendalikan.


Seketika kedua pendekar itu pun kehilangan nyawanya. Sementara senjata mereka menyebar ke arah yang berlawanan. Karena pemiliknya mati, maka senjata pusaka itu akan meninggalkan pemiliknya untuk mencari calon pemilik baru. Jika ada hubugan darah seperti anak, biasanya senjata itu akan datang menemui sang pewarisnya. Namun kadang mencari pewaris baru jika tidak ada yang berhak mewarisi senjata-senjata itu.


Setelah Kun Jiasen membunuh dua lawannya dengan mudah, ia meninggalkan tempat itu, menghilang tanpa ada jejak. Karena faktor usia juga, membuatnya jarang ikut campur dari dunia persilatan. Namun lebih suka dengan peperangan besar dan akan membunuh para prajurit kerajaan ataupun para pendekar.

__ADS_1


"Dunia dalam kekacauan besar. Langit hitam lekat dan rasi bintang bertabrakan. Bumi berguncang, membumihanguskan manusia-manusia rakus. Kegelapan dan cahaya akan datang, dengan lahirnya seorang anak yang akan menjadi penguasa dunia. Dengan kekuatan menyeramkan dan tidak masuk akal."


Suara Kun Jiasen yang mendominasi sebagian dunia. Itu adalah sebuah ramalan dari seruling Kematian yang berada di tangannya. Bahkan ia tidak menyadari apa yang diucapnya. Tentu saja itu bukanlah bulan dari sang kultivator yang telah mencapai Heavenly Immortal atau ranah Abadi Surgawi.


"Itu ... itu suara dari Kun Jiasen. Kultivator legenda satu-satunya yang telah mencapai ranah Abadi Surgawi! Sangat menakutkan." Bahkan seorang kultivator hebat pun tidak berani menghadapi Kun Jiasen. Apalagi bagi pria yang tengah berdiri di atap rumah. Ia sedang melihat langit gelap walau siang hari. Juga awan-awan tebal yang terlihat dari jarak cukup jauh.


"Apa itu? Ramalan, bukan? Aku dengar, siapa yang telah mencapai ranah itu, akan bisa membuat ramalan, bukan?" tanya pria berusia empat puluh tahunan. Karena rasa penasarannya, membuat pria belajar banyak dan di dalam suatu kitab, memang tertuliskan tentang ranah paling tinggi.


"Mungkin saja seperti itu. Tapi kita hanya bisa menjalankan peran kita sebagai orang yang melindungi negeri ini."


"Baiklah, Patriak. Aku yang tidak tahu apapun tentang kultivator yang bisa terbang itu."


"Lebih baik kamu tutup rapat-rapat mulutmu. Kita tidak bisa berbuat apapun di sini." Kultivator yang dipanggil Patriak, hanya bisa mengurut janggutnya. Ini karena perbedaan kekuatannya dengan Kun Jiasen bagaikan langit dan bumi.


Cerita tentang pendekar pencabut nyawa sampai ke seluruh penjuru negeri. Siapapun tahu siapa sang pendekar tua itu. Namun tidak semua orang tahu wajahnya. Mereka hanya memiliki berita dari mulut ke mulut. Di mana diceritakan pendekar pencabut nyawa, seorang pria tua dan berambut putih. Juga memiliki seruling kematian dan bisa terbang di langit. Siapapun yang mendengar cerita tentang itu pun akan merasa takut. Takut akan menjadi korbannya. Bahkan anak-anak tidak berdosa harus mengalami ketakutan karena cerita itu.


***

__ADS_1


__ADS_2