
Sebagai seorang gadis, bertarung dan saling membunuh adalah hal yang tidak bisa bersatu. Hua Cheng paham dengan perasaan putrinya yang tidak mungkin mau menggunakan pedang. Meski demikian, pedang itu adalah satu-satunya peninggalan ibunya Hua Fei. Karena suatu alasan, membuat Hua Cheng membawa putrinya ke tempat yang aman dan jauh dari marabahaya. Dan satu-satunya tempat yang menjadi yang paling aman adalah di tempatnya sekarang tinggal.
Hua Cheng tidak lagi membahas pedang yang terpajang rapi di sebuah tempat menaruh pedang di dudukan yang terbuat dari kayu berukir burung feniks. Terpampang begitu elegan dan menarik perhatian Bai Yuwen. Anak lelaki itu pun sangat senang melihatnya dan mendekat ke arah pedang berwarna hijau itu.
"Wah, Paman ... apakah boleh kulihat pedang ini? Maksudku, pedang ini sangat bagus. Bisakah paman tunjukan padaku, keahlian pedang Paman?" pinta Bai Yuwen yang sangat ingin. Melihat pedang yang bagus dan penampilan pendekar pedang, membuatnya tertarik dan suatu hari nanti akan menjadi pendekar pedang hebat.
"Hahaha! Lihatlah itu, A-Fei. Anak muda ini saja mau melihat pedang ini. Baiklah, jika ingin melihatnya. Biarkan saya perlihatkan bagaimana menggunakan pedang yang tipis itu. Dan kamu bisa mempelajarinya juga!"
Dari kejauhan, Hua Cheng menggerakan pedang yang masih di dudukan pedang. Ia menarik pedang tanpa menyentuh sama sekali. Terbang dan sampai ke tangan pria berambut putih itu.
Bai Yuwen yang melihat kemampuan Hua Cheng terkesima. Itu menandakan kalau orang yang ditemuinya adalah seorang pendekar yang hebat. Anak itu pun menginginkan menjadi seorang pendekar hebat, yang bisa mengambil pedang tanpa harus menyentuh. Setelah mendapatkan pedang, Hua Cheng berjalan keluar dari rumah. Diikuti oleh Bai Yuwen dan Hua Fei. Mereka melihat apa yang akan dilakukan oleh Hua Cheng.
"Perhatian baik-baik, Anak muda. Dalam itu berpedang, kau perlu melakukannya dengan hati yang bersih. Selanjutnya kau hanya perlu mengikuti kehendak pedang. Apabila kau menggunakan pedang pusaka langit, kamu akan mengetahui, pedang ini memiliki jiwa yang kuat." Hua Cheng lalu melompat dan terbang dengan perlahan.
Melihat Hua Cheng terbang dengan pelan dan terlihat sangat keren bagi Bai Yuwen. Karena hal itu juga membuatnya terpana. Baru kali ini ia bisa melihat pendekar yang bisa terbang dengan gerakan lembut seperti itu. Berikutnya Hua Cheng pun menghunus pedangnya yang sangat tipis dan ramping. Tidak seperti pedang pada umumnya, pedang yang dipegang oleh Hua Cheng, memiliki bentuk tipis yang hanya selebar dua jari orang dewasa.
__ADS_1
Gerakan berpedang yang ditunjukan oleh Hua Cheng, berada di udara. Menggunakan kekuatan tingkat tinggi, bergerak seperti sebuah tarian burung feniks. Gerakan demi gerakan pendekar berambut putih itu membuat sebuah bayangan burung feniks yang menawan. Bak seperti seorang peri, indah dan begitu sempurna. Bahkan Hua Fei yang tidak ingin memegang pedang pun menjadi kagum pada ayahnya. Meski demikian, ia tetap tidak mau berlatih pedang. Jika ia berlatih pedang, ia tidak akan bisa hidup dengan tenang. Karena ia bisa saja membunuh orang dengan pedang yang digunakannya.
"Wah, ayahmu sangat hebat, A-Fei. Em, ayahmu memanggilmu A-Fei, kan? Kalau begitu, bagaimana aku memanggilmu A-Fei juga? Kurasa ini sangat hebat. Baru kali ini melihat pendekar pedang yang hebat seperti ayahmu. Apalagi dia bisa terbang di udara."
Namun tanggapan Hua Fei hanya mengangguk tanpa mengeluarkan kata-kata. Gadis itu kembali masuk ke dalam rumah. Karena ia tidak bangga mempunyai seorang ayah yang pendekar. Akan lebih baik jika ayahnya adalah orang biasa. Tapi di sisi lain, ia tidak ingin kehilangan ayahnya, seperti ibunya yang pergi meninggalkannya. Ia tidak berharap sang ayah meninggalkankan di saat ia masih sangat membutuhkan bimbingan dari sang ayah.
"Hei, ada apa denganmu? Kenapa kamu pergi begitu saja, A-Fei?" Bai Yuwen mengikuti gadis itu ke dalam. Ia tidak lagi memperhatikan gerakan yang diperlihatkan oleh Hua Cheng. Karena ia sudah cukup melihat sekali saja, sudah cukup baginya. Karena ia tidak suka sesuatu yang terus diulang.
Merasa tidak ada yang memperhatikan lagi, membuat Hua Cheng menghentikan aksinya. Ia terbang kembali ke rumahnya untuk melihat anak gadisnya dan teman barunya. Tentu mereka bisa berteman lama tapi ia tidak ingin Bai Yuwen berada di tempatnya. Ia khawatir kalau anak itu sedang dicari keluarganya.
"Kenapa Paman mengusirku? Apa aku tidak boleh menginap di sini? Ayolah, Paman. Hanya semalam saja di sini. Aku janji tidak akan melakukan sesuatu yang merugikan paman. Lagian aku di rumah hanya ada kakakku Bai Rouyao. Dia pasti akan memarahiku ketika aku kembali."
Jawaban Bai Yuwen membuat Hua Cheng diam. Namun ia tidak mau membuat orang tua Bai Yuwen khawatir. Ia kembali meletakan pedangnya ke tempat semula.
"Biarkan saja dia mencariku sampai pagi. Yang penting aku bisa bermain di sini dengan bebas." Bai Yuwen ingin sekali berada di tempat yang terlihat bebas itu. Yang tidak akan ada orang yang datang menemuinya.
__ADS_1
"Maafkan aku, Anak muda. Tapi ini sudah terlambat. Akan kuberikan energi qi yang ku miliki agar kamu bisa pergi dengan selamat. Sekarang tutuplah matamu!" Hua Cheng menggerakan tangannya membuat sebuah bola berwarna hijau langit seperti asap. Ia memasukan energi itu ke dalam cincin milik Bai Yuwen.
Sebelum Bai Yuwen mengucapkan sesuatu pada Hua Cheng, terlebih dahulu pria berambut putih itu mengatakan tempat di mana Bai Yuwen tinggal sambil menggerakan tangan Bai Yuwen untuk menggosok cincin itu.
Seketika Bai Yuwen berada di tempat yang berbeda. Setelah membuka matanya, ia sudah berada di pinggir sungai yang ada di kota Guangping. Ia tidak menyangka dirinya akan berada di tempat yang sangat ia tidak suka itu. Karena di kotanya saat ini tidak ada yang menarik perhatiannya.
"Tolong ... toloong ...." Terdengar suara orang meminta pertolongan. Suara itu cukup jauh dari jangkauan Bai Yuwen. Dalam suasana yang gelap, tidak mungkin Bai Yuwen menuju ke tempat itu.
Biasanya Bai Yuwen tidak peduli dengan orang yang meminta pertolongan. Dimalam hari di sungai yang jarang sekali orang mau datang karena terkenal angker, tidak mungkin ada orang di tempat itu. Konon ada juga iblis yang menghuni tepi sungai, tepatnya di sebuah gua yang sangat besar dan dipenuhi kelelawar dan serangga dengan ukuran besar.
Dengan hati-hati, Bai Yuwen mencari sumber suara dan dari arah sebuah gua, ada cahaya dari obor yang menyala. Obor itu berada di mulut goa yang terlihat menyeramkan. Langkah Bai Yuwen terhenti dan kakinya gemetar hebat. Saat melihat adanya ular yang berukuran sangat besar.
"Toloong ... tolong aku yang tidak bisa bergerak! Siapapun bisa menolongku, akan kuberikan semua yang kumiliki. Semua harta yang aku jaga seumur hidupku. Toloong ...."
"Kenapa suaranya terdengar seperti orang tua? Ah, apakah aku harus masuk ke dalam gua itu? Tapi takut terjadi apa-apa nanti," lirih Bai Yuwen dengan ragu.
__ADS_1
***