Perjalanan Menuju Keabadian

Perjalanan Menuju Keabadian
Menolong Pria Tua


__ADS_3

Semakin dekat dengan gua yang dituju, terdengar suara permintaan tolong dari seorang pria tua. Bai Yuwen juga merinding karena terasa semakin mencekam. Beberapa saat kemudian ia tiba di tempat yang terlihat ada cahaya. Karena penasaran pemuda itu pun masuk ke dalamnya. Tidak ada siapapun tapi suara semakin lirih yang didengarkan.


"Apakah di sini ada hantunya? Kuharap ini hanya firasatku saja. Mungkin saja beneran orang tua yang tinggal di sini karena tidak punya tempat tinggal lagi. Terus keluarganya pergi entah ke mana, tidak bisa diketahui." Bai Yuwen masih memikirkan tentang itu. Ia hanya ingin memikirkan hal yang baik-baik. Tidak mungkin orang yang mengirimkan ke tempat itu sengaja mencelakainya.


Setelah masuk ke dalam goa, samar-samar ia melihat ke depannya yang dikelilingi bebatuan. Ada juga kabut yang membuat suasana semakin mencekam. Bai Yuwen masuk ke dalam gua dan menemukan seorang pria tua yang terlihat lemas tidak bertenaga.


Pria itu melihat Bai Yuwen dengan tatapan yang sudah buram. Karena usianya yang sudah tua, membuatnya tidak berdaya dan nyawanya diujung tanduk. Tangannya yang kurus kering melambai pada anak muda itu. Berharap ada bantuan yang dilakukan padanya.


"Oh, ada seseorang? Hei, Nak. Bisakah kamu membantuku?" tanya pria tua yang terlihat lemah itu. Ia tidak bisa berkata lebih banyak lagi. Setelah meminta pertolongan, ia sudah kehilangan banyak tenaga.


"Apa yang terjadi? Apa yang terjadi di sini? Apakah kakek, orang yang tinggal di tempat angker ini?" tanya Bai Yuwen kebingungan. Karena berada di tempat yang dikatakan angker, sudah diketahui tempat itu memiliki aura mistis yang sangat kuat.


Orang tua itu terus melambai meminta pertolongan. Dalam keadaan takut, Bai Yuwen mendekati orang tua yang tiduran di atas batu. Bai Yuwen jongkok dan menyentuh tubuh pria tua itu dengan pelan. Terasa tubuh rentanya sangat lemah dan memang sepertinya sedang menahan lapar.

__ADS_1


"Kasihanilah ... siapapun kamu. Anak muda, bantulah orang tua ini. Air ... air ..." lirih pria itu dengan tangan gemetar, menyentuh dada anak kecil yang di depannya.


Tanpa tahu mengapa, Bai Yuwen merasa iba. Anak lelaki itu pun mengangguk dan melihat goa itu sangat gelap. Namun ada suara tetesan air. Ia memutuskan untuk mencari air walaupun merasa ketakutan. Tidak biasanya ia pergi malam-malam seperti saat ini. Apalagi menuju ke tempat yang tidak pernah diketahui sebelumnya.


Dalam gua itu terdengar auman yang keras dari dalam. Hal itu membuatnya merinding dan merasa bimbang. Apakah ia harus masuk ke dalam atau kembali. Tapi karena merasa kasihan dengan orang tua itu, dengan perlahan Bai Yuwen masuk semakin dalam. Walau goa itu gelap, tanpa disadari olehnya, anak muda itu pun bisa melihat tetesan air. Melihat itu, segera saja diambil air untuk diberikan pada orang tua yang ada di luar. Dengan menggunakan sebuah wadah dari bambu yang ditemukan di pinggir kolam kecil di bawah air yang terjatuh.


"Heh, kenapa aku merasa bisa melihat dalam gua yang gelap ini? Aku juga tidak merasa takut sama sekali," kata Bai Yuwen dengan perasaan yang aneh. Baru saja mengalami sesuatu yang diluar nalar manusia. Ia sudah ada di depan pria tua itu dan segera saja memberinya air untuk diminum.


"Terima kasih ... kau adalah anak yang baik. Siapa namamu, bocah?" tanya pria tua itu sambil menangkap tangan Bai Yuwen. Ia melihat anak itu dengan tatapan tajam dan melihat sesuatu dalam diri anak itu. Hanya mengangguk dan tidak mengerti apa yang terjadi dengan anak itu.


"Huhh, sayang sekali bocah tengik. Mungkin dalam dirimu tersimpan energi yang besar. Tapi tidak bisa membangkitkannya. Entah apa yang terjadi dengan tubuhmu. Tapi kurasa kau tidak akan bisa menggunakan energi qi dengan maksimal. Ini yang akan memperlambat dirimu kelak."


Hanya dengan merasakan dari pergelangan tangan, pria tua itupun sudah tahu apa yang terjadi dengan anak yang di hadapannya. Bai Yuwen adalah seorang yang memiliki kekuatan besar. Terbukti dengan keberadaan Bai Yuwen yang bisa datang ke tempat yang tidak pernah dijajah oleh manusia.

__ADS_1


Tempat yang dimaksud adalah sebuah tempat yang berada tidak jauh dari kota Guangping. Hanya saja di kota itu jarang ada orang yang memiliki energi qi besar seperti Bai Yuwen yang bisa masuk dan menembus pertahanan yang dibuat dengan kuat. Apalagi dengan tidak ada luka sedikitpun. Tapi ia juga melihat cincin teleportasi yang berada di jari Bai Yuwen.


"Hei, Nak. Apakah kamu mau membantuku? Tapi ini penuh dengan resiko. Mungkin bukan sekarang tapi suatu saat nanti kau baru menyadarinya." Pria lanjut usia itu berkata pada Bai Yuwen dengan lirih tapi jelas. Sesekali ia melihat anak itu dengan tatapan penuh harap tapi ada rasa penyesalan dalam dirinya.


"Apa yang kakek inginkan? Aku akan membantumu. Katakan saja, apa yang bisa ku bantu," balas Bai Yuwen tanpa ragu. Ia akan membantu orang yang membutuhkan pertolongan yang berada di depannya. Tanpa ia tahu apa yang harus dilakukannya demi menolong orang yang sudah tua itu.


Mendengar jawaban dari anak di depannya, membuat orang tua itu tersenyum. Itu adalah permintaannya yang berat untuk dilakukan. Tapi tidak ada cara lain selain menyelamatkan dirinya dari kutukan yang menderanya.


"Dengarkanlah, Nak. Kau harus tahu apa yang akan terjadi denganmu saat menolongku. Kau bebas, mau menguburku atau membiarkanku berada di sini setelah kematianku. Ini penting untuk dilakukan karena aku tidak bisa meningkatkan kuktivasiku lagi. Kuharap kau bisa menerima kenyataan dan kuharap kau akan meningkatkan kultivasimu untuk mengatasi kekuatan besar yang akan kuwariskan untukmu."


Tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh orang tua di depannya, ternyata orang tua itu mengeluarkan sebuah seruling bambu. Sebuah seruling yang memiliki aura kegelapan di sekitarnya. Karena tidak punya pilihan lagi, orang tua itu memutuskan untuk memberikan sesuatu itu pada seorang anak yang belum tahu apapun.


"Aku adalah Kun Jiasen, seorang pemegang seruling kematian. Seorang yang telah membunuh jutaan orang tanpa ampun dengan bantuan sebuah seruling kematian. Dengan ini mewariskan seruling ini padamu. Siapa namamu, anak muda?"

__ADS_1


"Namaku Bai Yuwen. Hei, mengapa terasa sangat gelap di sini? Ada apa ini?" tanya Bai Yuwen kebingungan. Karena tiba-tiba saja seruling yang dipegang oleh Kun Jiasen terbang ke atas dengan sendirinya. Begitu terdengar suara aneh dari pedang tersebut, membuatnya mundur dari hadapan Kun Jiasen.


***


__ADS_2