Perjalanan Menuju Keabadian

Perjalanan Menuju Keabadian
Rasa Lapar Xiao Wu Min


__ADS_3

"Huftt kenapa perutku tiba-tiba terasa sakit? Inikah yang dinamakan dengan rasa lapar? Memiliki tubuh manusia, sungguh menyusahkan." Xiao Wu Min memegang perutnya yang mulai merasa nyeri. Ia baru bangun dari tidurnya setelah dibangukan oleh Bai Yuwen.


Sementara Bai Yuwen masih memegangi kepalanya dan berteriak dengan histeris. Mengingat kejadian pembantaian yang membuat keluarganya mati keracunan dan terbakar api. Ia samar-samar mengingat wajah wanita paruh baya yang telah membuatnya keracunan. Mencengkram tangannya erat, meremas tanah dan membuangnya. Frustasi yang dialaminya bukanlah mimpi semata. Bagaimanapun juga, ia harus bangkit dan bertekad untuk membalas dendam atas kematian keluarga.


"Anak bodoh! Kamu berisik sekali! Lebih baik kamu diam atau kulempar ke lembah! Biarkan menjadi makanan hewan buas di hutan ini!" seru Xiao Wu Min yang dalam tubuh Bai Rouyao. Wanita itu menghentikan Bai Yuwen dengan mencengkram tangan pemuda itu.


Hidup sebagai roh Seruling Kematian, membuatnya belum terbiasa dengan keadaan di luar. Ia hanya tahu bagaimana orang berinteraksi dengan mengingat kejadian sebelumnya. Saat itu ia bisa melihat dan merasakan hidup di dalam seruling dan terus mematuhi tuannya. Namun saat ini tidak seperti sebelumnya. Saat pemilik seruling tidak meniup Seruling Kematian, ia tidak bisa berbuat apapun. Saat ini ia bisa bergerak layaknya manusia berkat tubuh Bai Rouyao yang ia gunakan.


"Ayah ... ibu ... mereka ... mereka telah tiada? Kak, apakah mereka benar-benar sudah mati?" Bai Yuwen melirik ke arah wanita yang terlihat lebih tua darinya beberapa tahun. Selain wajah sang kakak, ia hanya tidak melihat siapapun lagi. Ia hanya memiliki satu anggota keluarga sekarang.


"Kakak? Aku bukanlah kakakmu, bodoh. Kakakmu juga sudah mati ketika ditusuk perutnya. Apakah kamu bodoh ... tidak melihat siapa aku sebenarnya? Panggil aku master!" tegas Xiao Wu Min sambil menyilangkan kedua tangan di perut. Dari tadi perutnya merasa sakit karena lapar. Namun ia tidak tahu harus makan apa.


"Ada apa denganmu, Kak? Bukankah kamu kakak kandungku? Sebenarnya apa yang terjadi denganmu? Apa kamu sudah melupakan semuanya?" Pemuda itu menempelkan punggung tangannya ke dahi wanita di depannya.


"Sialan kamu! Beraninya pegang-pegang! Sudah ku bilang, aku bukanlah kakakmu! Panggil aku Master Xiao Wu Min!" Dengan kesal, ia menghempaskan tangan Bai Yuwen. Ia juga belum menjelaskan semuanya pada pemuda itu. Membuatnya hanya dikira sebagai orang yang dianggap keluarga.

__ADS_1


"Kak, kenapa dengan otakmu? Tidak apa-apa jika kamu menyembunyikan sesuatu dariku. Tapi kenapa kamu tidak mengakui adikmu sendiri?" Merasa tidak seperti kakaknya yang sebelumnya, Bai Yuwen menggelengkan kepalanya. Ia masih tidak percaya dengan perkataan Xiao Wu Min.


Wanita itu mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ia tidak tahu harus berbuat atau berkata apa lagi. Jika ia dianggap sebagai kakaknya, akan sulit untuk menjelaskan apa yang terjadi. Memilih untuk diam adalah sesuatu yang dilakukan olehnya. Memegangi perutnya yang mulai merasa lapar karena ia sekarang hanya seorang gadis biasa. Ia berada di dalam tubuh yang fana.


Keduanya bangkit dan melihat ke sekeliling. Berada di atas ketinggian membuat mereka semakin pusing. Xiao Wu Min menarik tangan Bai Yuwen dan membawanya berlari menuruni bukit batu tersebut. Karena kaget, pemuda itu pun berteriak dengan keras. Perutnya terasa sakit saat dirinya dibawa berlari menuruni bukit. Namun itu tidak menghentikan langkah yang diambil Xiao Wu Min. Justru membuatnya semakin bersemangat memberi pelajaran pada calon muridnya.


Berlari dari tempat yang sangat tinggi, membuat rasa takut dalam diri Bai Yuwen. Meskipun seorang pria dewasa sekalipun, akan merasa ketakutan saat berada diposisinya sekarang. Beberapa saat kemudian, mereka telah sampai di bawah. Rasa pusing dirasakan setelah mempertaruhkan hidup dan mati. Rasa mual mulai dirasakan setelah beberapa saat berada di bawah.


"Akh ... tubuh ini juga sangat lemah," keluh Xiao Wu Min. Ia merasakan sakit di perutnya dan merasa pusing. Hanya bisa merebahkan tubuhnya di atas rumput. "Uhh, perutku sangat sakit. Kenapa tubuh manusia ini sangat merepotkan?"


"Aduh ... ku kira akan mati, huhh ..." keluh Bai Yuwen sambil memegang perutnya. Ia merasa seluruh tubuhnya bergetar hebat. Seluruh organ dalam juga seperti ditarik keluar dengan paksa. Melihat ke atas bukit yang baru saja dituruninya. Ketinggian bukit batu itu sampai lima puluh meter lebih. Jika itu manusia biasa, nyawa sudah melayang karenanya.


Selama ratusan tahun berada di dalam seruling, ia pernah melihat pemilik seruling sebelumnya makan berbagai makanan. Ia pun mengerti banyak hal yang ada di dunia. Namun dengan tubuhnya saat ini, untuk menahan lapar saja terasa sulit. Ia juga tidak dapat mengeluarkan kekuatan penuhnya.


"Iya-iya. Aku akan carikan makan. Kakak tunggu saja di sini! Aku pasti bisa mencari makanan di hutan ini." Meski masih merasa ada yang aneh dengan kakaknya, pemuda itu tidak mau mempermasalahkan lagi. Sebagai seorang pria, memang tanggung jawabnya untuk memberi kebutuhan hidup. Salah satunya adalah memberi makan.

__ADS_1


"Baiklah ... kamu cari makanan. Aku tunggu di sini makanannya. Aku juga belum pernah makan, makanan manusia seperti apa. Hehh, hidup menjadi roh pusaka, membuatku tidak bisa cepat beradaptasi."


Dengan segala keluhan, Xiao Wu Min membiarkan tubuhnya terbaring di rumput. Menatap ke langit biru yang cerah. Sesekali ia melihat tangannya yang ia angkat ke atas.


Kini ia bebas menyentuh benda-benda yang ada di hadapannya dengan tangan itu. Tubuh nyata yang belum pernah ia rasakan selama ratusan tahun, membuatnya memiliki kesempatan untuk berkeliaran dengan bebas tanpa harus berada di dalam seruling.


Tubuhnya masih terlalu lemah sekarang. Memerlukan banyak usaha untuk meningkatkan kualitas tubuh agar mencapai keabadian. Itu memerlukan berbagai upaya, seperti mengubah seluruh anggota tubuh menjadi lebih kuat. Itu semua memerlukan sumber daya dan latihan keras untuk mencapainya.


"Dari para pemegang seruling sebelumnya, ada beberapa kitab dan benda yang didapat. Semoga saja benda-benda ini berharga." Xiao Wu Min mengeluarkan sebuah kitab tebal yang berisi pelatihan bela diri dan ilmu-ilmu lainnya. Ia membaca beberapa kata dalam buku tanpa harus membukanya.


Buku dan benda-benda yang diserap oleh Seruling Kematian, umumnya sudah menyatu dan menjadi milik seruling tersebut. Karena Xiao Wu Min adalah roh dari pusaka itu, ia sudah mempelajari semuanya. Semua ada di dalam ingatannya tanpa ada satupun yang tertinggal. Ia hanya perlu memanfaatkan semuanya saat waktunya tiba.


"Akan terasa sulit jika mengandalkan anak bodoh itu. Selain itu, aku harus membuat anak itu membalaskan dendamnya. Sebagai roh jahat dari Seruling Kematian, membuatku gatal ingin membunuh semua orang, seperti saat bersama si tua bangka dan bau itu."


Xiao Wu Min memikirkan kata-katanya dan mengingat beberapa kejadian yang dilihatnya bersama pendekar tua yang kini sudah mati. Ia juga tidak puas dengan kinerja pemilik seruling sebelumnya. Karena tidak berhasil mencapai keabadian sejati. Sehingga membuatnya terkurung di dalam seruling.

__ADS_1


"Kun Jiasen, siapa sangka pemegang seruling sebelumnya juga tidak berhasil mencapai tubuh Manusia Surgawi. Itulah mengapa, dia hanya menjadi pria tua yang bodoh dan malang. Sangat disayangkan, dengan kultivasi qi seumur hidupnya yang mencapai Abadi Surgawi. Sangat disayangkan, ckck," decak Xiao Wu Min sambil menggelengkan kepalanya.


***


__ADS_2