
"Bagus, bagus seperti itu, A'Fei. Kau lanjutkan sampai bisa mengalahkan seratus dari mereka." Hua Cheng yang melihat putrinya mengalahkan puluhan siluman serigala dan siluman lainnya, membuatnya senang.
"Kenapa ayah malah pergi? Duh, punya ayah seperti dirinya membuatku kesal," gerutu Hua Fei sambil melompat untuk menghindari terkaman siluman serigala. Ia melompat lalu memposisikan kepalanya untuk turun terlebih dahulu. Dengan menghunuskan pedangnya, ia menusuk ke punggung siluman serigala.
Pedang yang digunakan oleh Hua Fei, memancarkan aura hijau dan daun bambu berterbangan ke sekitarnya. Walaupun pohon bambu letaknya puluhan meter dari posisinya, karena pedang yang digunakan merupakan senjata yang memiliki hubungan dengan bambu.
Zhuzi atau Zhu Jian, merupakan pedang pusaka langit. Merupakan pusaka yang sangat langka dan memiliki potensi besar pemiliknya berkembang. Namun pedang itu tidak mudah digunakan oleh orang lain, selain dari keturunan pemilik pedang. Jika bukan keturunan dari pemilik sebelumnya, sangat mustahil bagi orang untuk menggunakan dengan maksimal. Kecuali para pendekar yang sudah berkultivasi tinggi. Namun senjata itu juga tidak berguna oleh mereka. Karena bisa saja mereka membuat senjata sendiri tanpa harus menggunakan pedang tersebut.
Dengan pedang Zhuzi, seseorang dapat mengalahkan satu sampai dua tingkat kultivasi di atasnya. Bahkan jika kemampuan berpedang yang lebih hebat, bisa membunuh kultivator sampai Ranah Abadi sekalipun.
Lolongan serigala yang keras, membuat para kawanan bermunculan. Semakin lama, semakin banyak gerombolan serigala yang datang. Namun dengan tenang, Hua Fei melayani semua siluman serigala yang mengelilinginya. Seakan rasa lelahnya sudah tidak berarti lagi. Meskipun sudah ratusan siluman terbunuh olehnya. Ini adalah hari dimana ia pertama kali membunuh dalam hidupnya.
"Ini demi kebaikanmu juga, A'Fei. Bukannya ayah tega membuatmu membunuh. Tetapi suatu saat kau juga pasti akan membunuh manusia. Bagaimanapun juga, kau lahir di dunia yang kejam ini. Jika tidak membunuh, maka kamu yang akan terbunuh."
Tibalah saatnya Hua Cheng menghentikan putrinya yang sudah terlalu lelah dan sekarang mentalnya yang sudah tidak kuat. Bisa dibayangkan, seorang gadis berusia enam belas tahun, telah membunuh makhluk lain dengan pedangnya sendiri. Tidak bisa dipungkiri, jiwanya sekarang terganggu dan ia berteriak ketakutan. Ia langsung memeluk sang ayah yang telah membuatnya bertarung melawan siluman-siluman tersebut.
"Sudah ... sudah ... kamu sudah tidak perlu membunuh lagi. Maafkan ayahmu, karena membuatmu seperti ini. Ini demi membuatmu lebih kuat lagi, A'Fei. Dunia persilatan ini sangatlah kejam dan tidak bisa kita menghindari kematian. Entah lawan atau kamu sendiri yang akan mati dalam pertarungan."
__ADS_1
Hua Cheng mengusap rambut panjang milik putrinya. Ia sudah lama tidak memotong rambut yang telah memanjang itu. Diusianya yang menginjak enam belas tahun itu, hanya beberapa kali dicukur oleh pria itu. Rambut putih Hua Cheng berkibar saat ia membawa gadis itu terbang. Kini tiba saatnya kembali ke tempat tinggal yang telah diberi pelindung.
Rumah yang mereka tempati masih sama seperti saat mereka meninggalkannya. Namun gadis itu masih saja merasa ketakutan karena hari pertama membunuh, langsung ratusan. Walaupun itu hanyalah siluman, tetap saja membuatnya selalu terpikirkan.
"Meskipun kamu sudah benar, kau masih saja ketakutan. Hehh, anak gadisku yang cantik ini masih belum terbiasa. Tidak apa ... kita akan datang ke sana lagi sebulan kemudian. Dengan terbiasa membunuh, membuatmu lebih kuat secara mental."
"Ayah ... tidak, Ayah!" tolak Hua Fei yang badannya gemetar. Ia masih belum berani melepas pelukannya dari sang ayah.
Pria itu mengusap kepala sang gadis dengan lembut. Kenyataannya ia akan tetap melatihnya untuk bertahan hidup. Hingga saat melakukan pertarungan hidup dan mati, tidak akan merasa takut lagi. Dan benar saja, dalam waktu sebulan kemudian, mereka kembali ke hutan yang dihuni para siluman.
"Siapa yang menggangu tidurku, huahh!" Sebuah suara terdengar dari dalam goa. Dengan suara yang menggelegar disertai dengan gempa yang terjadi di sekitaran goa. "Akan kubunh siapapun yang datang ke wilayahku tanpa izin.
"Ap-apa itu, Ayah?" tanya Hua Fei yang ketakutan karena mendengar suara dari dalam. Ia pernah mendengar, para siluman akan bisa berbicara selayaknya manusia jika sudah berusia ribuan tahun. Dan ada juga yang berwujud manusia jika mereka mau.
Jika siluman sudah berusia ribuan tahun, akan memiliki kekuatan yang hebat. Apalagi jika mereka juga berkultivasi ataupun berevolusi menjadi bentuk manusia. Maka mereka akan memiliki kekuatan yang lebih. Dan kekuatan mereka bisa saja menembus Ranah Abadi. Kebanyakan dari mereka hanya berusia ratusan tahun dan mati. Meski memiliki rentan hidup lebih lama dari manusia, mereka juga banyak yang berkultivasi layaknya manusia. Walaupun cara mereka berbeda dari jalan kultivasi manusia. Mereka akan secara alami dan hanya perlu membunuh lawan dan mereka akan lebih hebat. Meningkatkan kultivasi dan menjadi makhluk tiada tanding.
"Kurasa kau harus melawan siluman yang di dalam, A'Fei. Kamu tenang saja, ayah akan di dekatmu untuk melindungimu. Siluman ribuan tahun bukan tandingan ayah. Kalau kau tidak sanggup, kamu bisa minta bantuan ayah."
__ADS_1
Sosok kelabang raksasa berukuran dua kali tinggi manusia muncul dari dalam goa. Pergerakan siluman kelabang itu sangat cepat dan langsung menyerang keduanya. Dengan cepat Hua Cheng melompat ke atas batu, meninggalkan anak gadisnya yang sudah sigap dengan pedang Zhu Jian di tangannya.
"Hyah ... hikkk! Hiyaaahh ...." Serangan demi serangan dilancarkan oleh Hua Fei. Hingga ia hampir terkena semburan dari cairan yang keluar dari mulut kelabang besar itu.
"Huahahaha! Kurang ajar kau, gadis tengik! Haruskah aku musnahkan kau dan kumakan hari ini, hemm?" Siluman kelabang menghentakan tubuhnya dan menyerang dengan semua kakinya. Namun serangannya selalu ditangkis oleh gadis itu.
"Tarian Feniks Api! Tebasan api membara!" Dan pedang yang digunakan Hua Fei terselimuti api yang membara. Ia menebas salah satu kaki siluman kalajengking.
"Akhh! Kakiku! Sakiitt!" jerit siluman kelabang dengan darah dan asap yang keluar dari kakinya yang terputus. "Akan kubunuh kau, Gadis busuk!" umpatnya sambil menyerang dengan membabi-buta.
"Liukan sayap Feniks! Hujan sayap api!" Kembali Hua Fei membuat serangan dengan pedangnya. Dengan meliukan tubuh dan pedangnya lalu menghujani siluman kelabang dengan api yang membara.
Tidak dapat dipungkiri, serangan itu membuat siluman kalajengking ketakutan. Hujan api yang terus menerus, membuatnya terbakar. Apalagi tubuhnya yang tidak tahan panas, dengan api yang sangat panas membuatnya kalah telak.
Hua Cheng yang melihat putrinya mengalahkan siluman kelabang, membuatnya tersenyum senang. Ia bangga memiliki gadis yang ia besarkan seorang diri itu. Meskipun masih belum bisa dikatakan hebat sebagai anak dari seorang pendekar legenda sepertinya, ia merasa puas karena Hua Fei memiliki ketrampilan bela diri.
***
__ADS_1