
"Sialan! Mengapa dia bisa mengalahkan kita? Ku pikir setelah berada di ranah ini, kita bisa dengan mudah mengalahkan jenderal itu!" Rasa sesal akibat dari sifatnya yang jumawa, pria itu kesal juga merasa terhina karena kalah oleh manusia biasa seperti jenderal Bai di kota Guangping.
"Oh, kita bahkan sudah hampir saja mencapai ranah Magicial Realm tingkat awal. Tetapi mengapa dia bisa mengalahkan kita? Bukankah kultivasi kita sudah cukup tinggi untuk mengalahkan manusia biasa?" Pendekar wanita yang turut menyesal, juga terlihat panik karena beberapa ketapel terlempar ke arahnya.
Ketapel dengan batu besar sebagai pelurunya, membuat kedua pendekar kewalahan. Apalagi mereka belum mampu menggunakan kekuatan secara maksimal. Kekuatan mereka tidak cukup untuk menghadapi serangan beruntun yang dilepaskan oleh para prajurit yang dipimpin oleh Bai Chauzen.
"Hanya dengan mengandalkan kemampuan lemah kalian, bagaimana mungkin bisa lolos dari kami. Sebaiknya kalian menyerah saja, daripada harus menderita!" Bai Chauzen mengambil anak panah dan busurnya.
Peralatan tempur seperti ketapel besar, membuatnya harus digunakan dengan bijak. Apalagi saat ini sedang berada di pemukiman warga. Membuat Bai Chauzen tidak mengambil resiko. Sebelumnya mereka melihat sasaran tembak aman dari rumah dan warga. Tapi semakin lama, kedua pendekar masuk ke pemukiman yang banyak warga kota Guangping berada.
"Tidak akan kulepaskan kalian!" Bai Chauzen menembakkan anak panah ke arah pria yang sedang berada di atap rumah warga.
Tembakan panah beruntun membuat keduanya terjatuh dan langsung tertangkap oleh para prajurit yang bertugas. Kekalahan mereka merupakan sebuah prestasi kecil bagi seorang jenderal Bai Chauzen. Merupakan seorang abdi kekaisaran yang melewati pertarungan hidup dan mati. Mengandalkan kekuatan fisik dan pengalaman, berhasil membuat warga kembali aman.
"Selamat, Jenderal Bai! Kita sudah menangkap para berandal ini! Ini semua berkat adanya jenderal yang memimpin kami! Hidup jenderal Bai! Hidup!" teriak seorang prajurit dengan bangga, memiliki seorang pemimpin yang hebat dan tegas dalam menangani penjahat.
__ADS_1
Para warga sudah mengetahui bagaimana jenderal yang bertugas memimpin pasukan keamanan di kota Guangping. Tidak seorangpun yang mampu bertahan lama memberontak di kota yang telah membesarkan namanya itu.
"Untungnya kita memiliki seorang jenderal yang sangat hebat! Hidup jenderal Bai! Hidup!" Salah seorang warga yang melihat kejadian barusan juga membanggakan sosok seorang jenderal yang telah menangkap para pemberontak.
"Ampuni kami, Jenderal. Kami hanya seorang murid yang tidak tahu diri. Ini karena guru kami yang memerintahkan kami untuk menantangmu. Kami tidak bermaksud membuat kekacauan di sini." Karena terdesak, membuat pria yang tertangkap terakhir itu memohon dan harus berbohong. Dalam hatinya ia sangat sakit hati karena bisa kalah dalam waktu yang begitu cepat.
"Anak muda yang masih terlalu bodoh. Bagaimana mungkin saya tidak tahu niat buruknya, hehh? Kurasa hukuman penjara akan membuatmu berpikir ulang, bagaimana kejahatan harus dihukum dengan baik! Semuanya! Bawa ke pengadilan! Biarkan hakim yang memutuskan!"
Dengan begitu, pekerjaan Bai Chauzen sudah berakhir. Karena di kota Guangping juga memiliki hakim yang akan memutuskan hukuman apa yang didapatkan para penjahat yang berani membuat keresahan warga. Selain itu, kota Guangping dipimpin oleh seorang raja yang sangat dermawan. Membuat rakyatnya hidup dengan makmur dan sejahtera. Walaupun masih banyak tindakan kejahatan, terutama dari para pendekar dari golongan hitam.
"Heh, baru pulang entah dari mana, tahu-tahu sudah mulai usil lagi!" Bai Chauzen menggelengkan kepalanya dan melihat sejenak ke arah putranya yang sedang bermain-main itu.
"Jangan! Tuan Muda, nanti saya akan bilang ke Jenderal, kalau tuan muda nakal!" Pelayan wanita berusia dua puluhan tahun, tengah berlari dari kejaran tuan mudanya yang berlari sambil membawa ulat.
Wanita itu takut dengan ulat bulu yang dibawa Bai Yuwen dengan sumpit kayu. Sambil mengejar wanita itu, ia terus berlari sambil tetap menggoda wanita yang ketakutan. Bahkan tidak ada rasa takut sama sekali dengan aduan yang diancamkan kepadanya. Karena merasa yakin, ayahnya tidak akan menghukumnya saat ini.
__ADS_1
"Hei, kenapa kamu sangat bodoh? Mana mungkin ayahku mau mengurusi hanya masalah sepele ini? Ayolah, aku bawa ulat ini untuk kamu main bersama! Ayo tangkap ini!" Bai Yuwen melempar ulat di tangannya ke punggung pelayan yang berlari.
Tentu saja rasa takut dan teriakan dari wanita yang bekerja di kediaman, membuat semua orang mendengar dan beberapa mendekat ke sumber suara. Di taman yang terdapat banyak tanaman bunga, di pinggiran kolam ikan yang tumbuh aneka bunga dan tanaman. Seperti bunga lotus merah yang tumbuh di kolam yang airnya jernih itu. Saat ini sedang berbunga dan aromanya semerbak ke segala arah.
Seorang wanita muda dengan mengangkat kain hanfunya, berlari menuju sumber suara. Dia adalah Bai Rouyao, kakak dari Bai Yuwen. Saat mendengar teriakan pelayan, membuatnya yakin kalau itu adalah ulah adiknya. Maka ia langsung berlari dan menarik telinga adiknya.
"Aww! Sakit, Kak!" jerit Bai Yuwen saat telinganya ditarik oleh kakaknya yang terlihat kesal padanya. "Tolong lepaskan!"
"Tidak! Anak seperti kamu, harus diberi pelajaran! Kamu anak nakal, yah! Kamu kakak hukum dan harus meminta maaf pada pelayan itu!" tegas wanita itu dengan nada tinggi. Beberapa saat kemudian, ia melepaskan tangannya dari telinga sang adik.
Sementara pelayan wanita yang dikerjai, menangis dan ketakutan. Apalagi semenjak bekerja di kediaman besar jenderal Bai, membuatnya tersiksa dengan tingkah nakal tuan mudanya. Bukan hanya dirinya, ada pelayan lainnya yang mengundurkan diri akibat tidak tahan dengan kejahilan Bai Yuwen. Hanya kakak atau ibunya saja yang ditakuti oleh tuan mudanya. Jadi saat ada nona mudanya, membuatnya lebih lega. Tapi ada ulat di punggungnya, membuatnya masih ketakutan.
Li Yihua, ibu dari Bai Yuwen, mendengar suara jeritan dari pelayan. Ia bersama pelayan lainnya datang untuk melihat. Jelas saja itu adalah hal yang biasa karena tingkah putranya. Sekalipun marah, tidak pernah menghukum orang dengan semena-mena. Berbeda dari suaminya yang keras, wanita itu justru memiliki paras teduh dan murah senyum. Walau tidak memiliki wajah cantik, ia masih enak dipandang. Meskipun ada juga sifat jelek yang ada pada hatinya.
"Anak itu selalu membuat masalah. Kenapa suamiku tidak membawanya ke tempat belajar? Misalnya dimasukan ke dalam akademi untuk anak-anak seusianya. Biar kelak tidak bodoh seperti ayahnya yang selalu mementingkan pertarungan saja!"
__ADS_1
***