Perjalanan Menuju Keabadian

Perjalanan Menuju Keabadian
Mata Tombak Bai Yuwen


__ADS_3

Raut gembira dari para rakyat yang menjadi seorang pengusaha. Yang dulunya hanya seorang budak biasa, kini hidupnya berubah total. Itu semua berkat jasa dari jenderal Bai Chauzen yang telah membebaskan para budak yang berada di kekuasaan para pemberontak kekaisaran.


Melihat banyak orang yang memberikan ucapan terima kasih, membuat sang jenderal kewalahan. Berbeda dengan selir Xiao yang melihat sang jenderal dengan bangga. Karena ia juga merupakan salah satu wanita yang diselamatkan oleh pria itu. Dan kini sudah menjadi seorang selir yang dihormati. Walaupun hidup di istana juga tidaklah mudah. Karena banyak mendapatkan berbagai tekanan internal dari semua orang. Meskipun di depan menghormati, tidak sedikit yang membicarakan di belakang.


"Rasanya tidak sabar untuk melihat Bai Yuwen. Di mana anak itu?" Selir Xiao pun turun dari tandu dengan dibantu dayang. Setelah sampai di depan kediaman keluarga Bai, mereka masuk ke dalam.


Mengetahui selir Xiao datang berkunjung, para penduduk membungkuk memberi hormatnya. Walau mereka sebenarnya tidak pernah menaruh rasa hormat pada wanita itu. Hanya sebagai bentuk formal saja, mereka melakukan itu. Apalagi saat ini di antara mereka tergantung pada raja untuk izin menjalankan bisnis. Tentu tidak ingin bisnis mereka terganggu hanya karena tidak hormat terhadap sang selir.


"Terimalah salam hormat kami, Selir Xiao." Seorang pria paruh baya, memberi hormat dengan menundukan pandangannya sambl tanggannya saling menggenggam ke depan. Ia melakukan bersama orang lain di belakang.


"Terima kasih, bangunlah," ujar Xiao Huang Jia. "Mohon Tuan dan Nyonya lanjutkan aktifitasnya." Ia melewati semua orang yang memberi hormat padanya. Setelah diberi jalan, mengikuti sang jenderal dari belakang.


Apa yang diinginkan oleh wanita itu akhirnya terwujud. Ia melihat seorang anak remaja berusia enam belas tahun sedang berlatih tombak di depan rumah. Itu adalah latihan yang harus dilakukan setiap hari untuk memperkuat kekuatan tubuhnya.


"Hyaat! Hiahhh!" teriak Bai Yuwen sambil memperagakan gerakan menyerang dengan tombak. Saat melihat ayahnya pulang, ia tetap berlatih dengan keras. Ia sudah berjanji pada ayahnya untuk menjadi seorang pria yang hebat. Memiliki kekuatan yang hebat dan kuat.


Saat ini ia sudah melatih tubuhnya dan sudah mencapai tahap Pemurnian Tulang. Itu adalah tingkat kedua dari kultivasi fisik setelah tingkat pemurnian darah. Kini ia sudah memiliki tulang yang kuat dan kini tinggal menuju ke tahap berikutnya yaitu Tubuh Emas/ Golden Body. Ia masih lama untuk mencapai tingkat itu karena tidak akan mudah mencapai tingkat itu. Ia harus berlatih pertahanan dan sumber daya yang harus memadai, supaya bisa mencapai tingkat itu.

__ADS_1


"Semakin lama, kulihat Bai Yuwen semakin tampan saja, seperti jenderal Bai yang terhormat. Alangkah beruntungnya, gadis yang menjadi pacarnya, haihihihi." Segera ia menutup bibirnya yang terlalu gamblang memperlihatkan ekspresi kagumnya.


"Nyonya, apa tidak sebaiknya kita juga masuk ke dalam? Tuan Bai juga sudah masuk. Di sini terlalu panas." Pelayan yang datang bersama selir Xiao mengajak wanita itu agar masuk. Ia juga tidak tahan berada di aula depan rumah yang terik.


"Kau duluan saja, bawa juga barang-barang yang dibawa dari istana. Saya ingin bertemu dengan keponakanku. Oh iya, sampaikan juga, saya akan masuk beberapa saat lagi."


"Tapi, Nyonya ... kita harus masuk. Di sini terlalu panas untukmu," kilah sang pelayan yang tidak tega melihat nyonyanya kepanasan. Itu bisa saja membuatnya mendapat hukuman berat kalau tidak bisa menjaga nyonya majikannya.


"Kamu jangan khawatir lagi. Di sini tidak seketat istana. Meskipun berada di rumah jenderal, kita tidak harus berlaku terlalu kaku dan sopan. Kau masuklah dulu! Bukannya kamu sangat mengagumi jenderal Bai? Kau juga bisa bertemu dengan Bai Rouyao yang seumuran denganmu. Cobalah kamu cari dan bisa mengobrol dengannya."


"Hei, keponakanku yang tampan, bisakah kau berhenti bermain tombak?" Wanita itu lantas mendekat ke arah pemuda yang sedang berlatih tombak. Ia berjalan juga sedikit susah akibat pakaian yang dikenakan.


Namun Bai Yuwen tidak berhenti melakukan gerakannya. Ia terus berlatih sampai bisa melakukan jurus yang diajarkan dengan baik. Ia sudah berhari-hari berlatih namun belum juga menemukan posisi yang bagus. Ia harus berlatih seorang diri untuk menemukan posisi yang tepat dalam melakukan serangan.


"Sayangnya ayah sibuk dengan urusannya. Hiyakk! Hiyah! Memutar dan menusuk ..." ucap Bai Yuwen dengan mempraktekan apa yang diajarkan ayahnya tempo hari.


Hari sudah semakin siang dan terik matahari membuat panas di sekitar arena latihan. Keringat pemuda itu sudah menetes ke bawah. Namun saat ia berputar, melihat selir Xiao tepat di depan mata tombak. Segera saja ia menarik tombaknya agar tidak mengenai wanita yang sudah dalam ketakutan.

__ADS_1


"Akhh!" teriak Xiao Huang Jia sambil memejamkan matanya. Ia tidak habis pikir, nyawanya terancam oleh pemuda yang dianggap keponakannya sendiri. Saat ia membuka matanya kembali, ia melihat Bai Yuwen sudah berdiri di depannya dengan nafas ngos-ngosan.


"Sejak kapan Bibi datang ke sini?" tanya Bai Yuwen sambil meletakan tombaknya. Ia menghirup nafas pelan, bermeditasi dengan berdiri. Mengeluarkan energi panas yang masuk ke tubuhnya, merasakan angin berhembus ke arahnya. Ini bisa membuatnya merasa lebih dingin dengan bantuan angin yang datang padanya.


"Huh, kamu hampir saja membunuh bibi, Bai Yuwen. Kamu tidak mendengar bibi yang memanggilmu dengan keras, kah? Sungguh keponakan yang tidak ada rasa sopannya." Xiao Huang Jia menampilkan wajah cemberutnya.


"Ayolah, Bibi Huang ... hanya seperti itu saja ngambek. Apakah perlu, tombakku mengenai wajahmu itu, hehh? Aku hanya berlatih dengan keras seperti yang ayah perintahkan." Meskipun malas berlatih, ia juga tidak bisa terus-terusan malas. Setelah melihat wanita di depannya, maka ada kemungkinan membawa makanan enak.


"Hei, bibi tahu apa yang kamu pikirkan! Tenang saja, bibi sudah membawakan makanan kesukaanmu. Bersihkan badanmu dahulu baru makan ayam bakar. Bibi sudah siapkan beberapa ayam pegar yang rasanya sangat enak. Dibumbui dengan kecap manis dan sambal goreng pedas, asapnya saja tercium sampai puluhan meter."


Mendengar ayam kesukaannya, membuat Bai Yuwen hampir meneteskan liurnya. Karena tidak sabar, ia pun berlari meninggalkan selir Xiao yang kecewa. Kecewa karena ayam yang ia bawa lebih penting darinya. Namun ia terus mengikuti pemuda itu dari belakang.


"Sepertinya kau tidak banyak berubah ... tetap saja kamu masih anak-anak yang suka makan dan bermain. Ada saja perbedaan antara ayah dan anak. Anak itu lebih seperti ibunya yang suka bermain-main saat kecil."


"Ayam bakar! Aku segera datang! Tunggu jangan sampai dihabiskan semuanya!" teriak Bai Yuwen dengan berlari kencang. Ia sudah membuang tombaknya entah ke mana dan dalam keadaan keringat yang masih belum mengering.


***

__ADS_1


__ADS_2