
"Makhluk sampah tidak berguna. Padahal ini tubuh paling sempurna yang pernah kutemui. Namun kini terbuang sia-sia." Duan Jia Xu menghempaskan Bai Rouyao jauh. Ia kemudian membersihkan tangannya yang berlumuran darah.
"K-k-kau ... a-kan ku-ba-las-kan nan-ti ...." Dengan kondisi tubuh yang sangat lemah, membuat Bai Yuwen tidak bisa melakukan apapun. Ia akhirnya terjatuh kembali dan hanya menatap ke arah Bai Rouyao yang berlumuran darah.
"Hahaha! Seluruh keluarga jenderal Bai sudah mati! Sekarang kalian bisa membakarnya! Bakar semua yang ada! Tapi sebelum itu, ambil semua harta yang berharga!" perintah Duan Jia Xu kepada murid-muridnya.
"Baik, Patriak! Kami akan mengambil semua harta di kediaman ini. Pasti mereka punya banyak harta dan benda berharga." Murid dari sekte Huo Xie melaksanakan perintah dan segera menjarah harta berharga.
Saat para murid melaksanakan perintah untuk menjarah harta berharga, wanita tua itu melihat ke arah Bai Yuwen yang masih belum mati tapi hanya meneteskan air mata. Ia sudah merasa tidak punya harapan hidup lagi karena semua keluarganya telah mati dan sudah tidak mungkin bisa dihidupkan.
"Hehehehe ... kau anak yang cukup tangkas. Baiklah, sebagai hadiah kecil dariku, akan kubiarkan kamu melihat kematianmu. Aku tidak akan membunuhmu hari ini. Tapi percayalah, kamu akan segera menyusul mereka ke neraka." Duan Jia Xu menatap sinis ke arah Bai Yuwen yang tidak berdaya.
Setelah menjarah harta milik keluarga Bai, para murid sekte Huo Xie keluar dengan membawa benda-benda berharga. Mereka bahkan memasukannya ke dalam kereta kuda dan siap membawa dengan mengendarai kuda. Mereka mengumpulkan harta itu hanya dengan waktu yang singkat.
"Apa yang kamu bawa ini? Mengapa malah membawa seruling yang tidak ada harganya? Cepat buang seruling ini!" Pendekar dari sekte Huo Xie yang melihat rekannya membawa sebuah seruling, membuatnya marah. Karena baginya seruling itu tidak berharga sama sekali.
__ADS_1
"Heh, tidak ... tidak tahu mengapa ini bisa ada di sini. Aku tidak tahu kenapa ada seruling jelek ini." Menyadari di dalam peti ada sebuah seruling, membuatnya kaget. Padahal ia merasa sudah membuangnya. Namun seruling itu sudah berada di kotak.
"Sudahlah ... kalian jangan bertengkar hanya karena seruling! Cepat selesaikan tugas kalian! Dasar anak-anak muda, maunya menang sendiri. Anak-anak ku, cepatlah kalian, jangan sampai ada utusan kerajaan datang."
"Baiklah, Patriak. Maafkan atas kesalahan kami. Kami akan segera membawa barang-barang berharga ini. Dasar seruling tidak berguna!" Pria itu membuang seruling itu ke arah Bai Rouyao. Walau ia hanya asal melempar saja.
Mereka bergegas untuk pergi meninggalkan kediaman Bai Chauzen setelah menyiram minyak untuk membakar. Mereka mengendarai kereta kuda dan bergegas meninggalkan kediaman sang jenderal yang telah tiada. Para penduduk yang berada di luar kediaman pun sudah meregang nyawa sebelum sekte Huo Xie datang. Karena sudah terlebih dahulu menerima tembakan jarum beracun dari udara.
Tidak ada yang menyangka, kedatangan sekte Huo Xie membuat satu kediaman seorang jenderal besar di kekaisaran Han telah mati. Nyatanya mereka belum siap menghadapi musuh yang tiba-tiba datang dan merenggut kehidupan semua orang yang berada di sekitar kediaman.
"Api membakar dengan lahapnya, memanas dan mematikan. Hehehe ... lihatlah tubuh indah ini, sudah hampir tidak sempurna lagi karena darah ini. Huhh, sialan sekali! Mengapa aku harus berada di tubuh wanita lemah ini?" Bai Rouyao berdiri dan mengusap perut yang mengeluarkan darah. Seketika itu, darah pun berhenti mengalir dan luka-lukanya tertutup.
Bai Yuwen melihat kakaknya yang bangkit lagi dan memegang seruling yang dulu diberikan oleh seorang pria tua. Pemuda itu tidak menyangka akan melihat kejadian yang tidak terduga di kediamannya yang terbakar. Wanita muda itu mulai menempelkan seruling itu ke mulutnya dan mulai meniupnya.
"Wahai langit yang tidak punya mata. Bumi yang tidak dapat mendengar. Api ini terus berkobar dan terus berkobar. Dendam anak manusia baru saja dimulai. Bencana ... kegelapan akan datang tak lama lagi. Hancurkan semua makhluk hidup di dunia. Seruling Kematian akan datang dalam kegelapan. Membunuh jiwa-jiwa yang berdosa. Menghukum setiap tindakan-tindakan yang mengotori muka bumi. Seruling maut yang akan membuat bumi luluh lantak."
__ADS_1
Suara gemuruh dari langit bersamaan dengan suara seruling yang terdengar ke penjuru dunia. Suara itu mampu membuat gempa yang maha dahsyat dan terjadi gelombang besar, langit berubah hitam dan petir menyambar-nyambar. Ombak di laut berubah pasang hingga membuat tsunami yang meluluhlantakan bangunan dan pohon-pohon besar.
"Hahahaha! Aku sudah kembali untuk mengguncang dunia ini. Tapi kekuatanku belum sepenuhnya pulih. Aku harus membuat diriku semakin kuat. Agar bisa membuat dunia ini bertekuk lutut padaku." Bai Rouyao yang memegang seruling itu pun melihat Bai Yuwen yang masih hidup.
Itu memang tubuh Bai Rouyao yang sedang mendekat ke arah Bai Yuwen dengan seruling yang dipegangnya. Namun wanita itu sudah mati sejak ditusuk oleh pelayannya sendiri. Yang kini berdiri memegang seruling itu adalah sosok yang berada di seruling. Seruling Kematian yang sempat mengguncang dunia persilatan, saat berada di tangan Kun Jiasen.
"Heh, kenapa penerus si kakek tua tidak berguna itu, juga seorang yang tidak berguna juga? Heh, sia-sia aku mendapatkan tubuh gadis ini kalau akhirnya aku harus mengikuti pemuda bodoh ini." Wanita itu tersenyum kecut seraya menyentuh kening Bai Yuwen. Ia merasakan racun yang sudah menjalar di sekujur tubuhnya.
Dibawanya Bai Yuwen terbang meninggalkan kediaman sang jenderal yang telah terbakar. Wanita itu membawa ke sebuah hutan yang berada di belakang kediaman jenderal Bai. Setelah tidak ada orang lagi, tubuh pemuda itu diletakan ke sebuah batu besar. Di sana sosok yang ada di dalam seruling sebelumnya pun mengobati pemuda itu.
"Racun ini meski tidak berbahaya namun ini sudah masuk ke seluruh tubuh. Akan sulit bagi orang biasa menerima racun ini. Apalagi dengan tidak adanya qi dalam tubuh. Hehh, apa aku harus menerima takdir sebagai penjaga anak tidak berguna ini? Untuk sementara kau bisa aman dari kematian. Aku mentransfer sedikit Qi yang kumiliki agar tetap hidup beberapa hari. Dan kau harus mencari penawar setelahnya."
Sulit bagi wanita itu menyembuhkan Bai Yuwen yang keracunan. Karena kekuatannya saat ini pun masih terbatas setelah mengambil alih tubuh Bai Rouyao. Ia kini memiliki tubuh seseorang yang baru saja mati. Maka mayat yang belum mati itu belum sempat membusuk. Sehingga penghuni seruling tidak khawatir lagi. Ia hanya perlu mengumpulkan kekuatan lagi agar bisa memiliki kekuatannya kembali.
***
__ADS_1