Perjalanan Menuju Keabadian

Perjalanan Menuju Keabadian
Kebanggan Sang Jenderal


__ADS_3

"Cinta seluas lautan, kau anggap kubangan lumpur. Apakah kau tahu apa yang saya katakan, Jenderal Bai?" Seorang wanita tengah duduk di singgasananya. Dengan jubah kebanggaan dan juga mahkota kecil di kepalanya.


"Saya tidak mengerti, Selir Xiao. Maafkan saya karena tidak pandai dalam kata-kata." Bai Chauzen menjawab pertanyaan dari seorang selir di kediaman wanita itu.


Hari ini Bai Chauzen mendapatkan panggilan khusus dari seorang selir di kerajaan Han Timur Laut. Seorang raja yang memimpin sebuah provinsi yang bagian dari kekaisaran Han. Bukan sang raja yang telah memanggilnya. Melainkan seorang selir dari raja Han Timur Laut saat ini. Karena hubungan pertemanan masa lalunya, sang selir menganggap sang jenderal adalah sahabat terbaiknya. Maka ia berani mengundang pria itu di kediamannya.


"Kau memang benar-benar bodoh, Bai Chauzen. Pantas saja kau hanya punya seorang istri yang juga bodoh. Hanya istri yang bodoh saja, yang mau menikahimu. Aku mengundangmu hanya ingin berbicara tentang suamiku. Dia tidak pernah memandangku sebagai selirnya. Bahkan ia selalu bikin sakit hati. Akan lebih baik jika aku mencintai dan menjadi selirmu, mungkin hidupku akan lebih bahagia."


"Apa yang anda katakan, Nyonya Xiao? Hamba hanya ingin menikah dengan seorang wanita saja, seumur hidupku. Dan Selir Xiao adalah salah satu wanita dari raja Han Timur Laut. Jadi anda tidak pantas mengatakan itu."


Selir Xiao bernama lengkap Xiao Huang Jia. Seorang wanita bermarga Xiao itu sudah menjadi selir sang raja yang dicintainya sejak kecil. Tapi hanya sebagai selir yang selalu mendapatkan perlakuan buruk dari sang permaisuri. Bahkan saat ini keadaannya semakin kacau karena sang raja sudah mulai melupakannya. Cintanya terhadap raja, hanya dimanfaatkan pria itu sebagai wanita yang hanya mendapat gelar selir. Itu juga karena asal keluarganya yang hanya pengusaha biasa.


"Puluhan tahun menjadi selir di kerajaan ini, membuatku menderita. Kalau boleh jujur, lebih baik menjadi seorang istri dari rakyat biasa. Mungkin tidak akan seperti ini rasanya. Jenderal Bai, bolehkan aku mendatangi rumahmu? Saya ingin bertemu dengan istri dan kedua kedua anakmu. Mungkin Yuwen dan Rouyao masih mengingatku?"

__ADS_1


"Sekarang putraku sedang belajar di akademi militer. Saya berharap dia menjadi jenderal sepertiku. Dan Rouyao, sebentar lagi akan menikah dengan pria impiannya. Saya tidak akan memaksa dia, mau menikah dengan siapapun. Itu atas saran istriku agar tidak ketergantungan pada keluarga pejabat."


"Sungguh aku iri dengan keluargamu, Jenderal Bai. Aku iri, karena kau dan keluargamu sangat bebas dalam menentukan masa depan. Dulu kau juga telah menolak wanita dari kekaisaran hanya demi menikahi gadis biasa. Dan sekarang keluargamu baik-baik saja sampai sekarang."


"Tidak ada yang perlu diirikan dengan keluargaku, Selir Xiao. Hamba hanya menjalankan apa ada dalam hati. Tidak peduli apa yang terjadi, saya akan melindungi seluruh keluargaku."


Bai Chauzen sebenarnya merasa kasihan dengan nasib selir Xiao Huang Jia. Ia tahu betul bagaimana kehidupan sebagai keluarga kerajaan yang selalu menjalankan segudang aturan yang harus dipatuhi. Berbeda dengan kehidupan keluarga jenderal yang mengandalkan kekuatan untuk bertarung. Tidak terlalu banyak aturan yang terlalu rumit. Yang penting tahu bagaimana menghormati dan patuh dengan tugasnya sebagai seorang jenderal.


Raja juga sudah mempercayakan semua selirnya pada Bai Chauzen. Karena jenderal Bai merupakan seorang pria yang dapat dipercaya oleh semua orang. Jika ada salah satu selir yang bersama dengan Bai Chauzen, maka akan terjamin keselamatannya. Apalagi sebagai seorang jenderal yang memasuki sepuluh besar di kekaisaran Han, semua warga menghormatinya. Kecuali pihak tertentu yang memiliki niat jahat dan menjadi ancaman bagi para perampok dan pendekar hebat sekalipun.


"Bagaimana kabar dari kedua anak yang kuanggap sebagai keponakanku itu? Oh, andaikan punya anak, mungkin aku tidak pernah kesepian seperti ini. Nasib-nasib. Menjadi seorang selir pun hidup seperti orang susah."


Mendengar perkataan wanita itu, sang dayang hanya bisa menunduk dan tidak berkomentar. Ia duduk di samping sang selir dengan tenang. Sekalipun ia berucap, ia akan meminta izin terlebih dahulu. Duduk di samping nyonyanya, tidak bisa sembarangan. Namun itu adalah sebuah keberuntungan tersendiri, bisa satu tandu dengan selir Xiao. Orang biasa seperti dirinya, mau bertemu saja sangat susah. Apalagi wanita itu dari dulu mengidolakan jendral Bai yang terhormat. Pernah juga keluarganya ditolong oleh pria itu.

__ADS_1


"Kenapa kau diam saja, hemm? Hehehe, kau pasti akan senang karena dengar-dengar, kamu juga mengidolakan jenderal Bai? Dan aku mengajakmu bersama karena mendengar kau mengidolakan jenderal seperti dia." Xiao Huang Jia menyentuh tangan sang dayang dengan lembut.


"S-s-sya-ya ... saya menghormati beliau, Nyonya. Karena jenderal telah menyelamatkan hidup hamba dan keluarga hamba tempo hari. Hamba sangat senang diberi kesempatan untuk bertemu dengan keluarga jenderal." Akhirnya sang dayang mengutarakan isi hatinya.


Dayang itu juga tahu bagaimana sikap kejam selir Xiao dalam menghukum seseorang. Tidak disangka, hari ini sikap sang selir berbanding terbalik dengan biasanya. Maka ia hanya takut untuk sekedar menjawab pertanyaan atau mengutarakan isi hatinya.


Selir Xiao mengerti apa yang dipikirkan oleh sang dayang. Untuk memperjelas, ia pun mengungkap, "Mungkin kamu melihatku seperti ini di luar kerajaan. Dan jika di dalam kediaman kerajaan, harus patuh pada peraturan. Peraturan tetap peraturan dan tidak ada toleransi untuk siapapun yang melanggar peraturan. Namun saat di luar istana, apalagi di kediaman jenderal Bai, kau lebih bebas lagi."


Perjalanan tidak membutuhkan waktu lama, setengah jam perjalanan akhirnya sampai di kediaman jenderal Bai Chauzen. Sang selir turun dengan dituntun dayangnya. Disambut dengan baik oleh istri sang jenderal yang terlihat sangat cantik. Apalagi ada juga Bai Rouyao yang muda dan terlihat rapi dan cantik. Namun tidak ada Bai Yuwen yang selalu mencuri perhatian selir Xiao. Wanita itu biasa mencari anak lelaki itu karena terlihat menggemaskan. Ia juga ingin memiliki anak seperti Bai Yuwen yang ceria dan tanpa batas. Walau keadaan tidak bisa diubah kembali.


"Jendral telah kembali! Selamat datang jenderal!" Begitu melihat Bai Chauzen datang bersama pasukannya, beberapa orang yang datang dari jauh, hanya ingin bertemu dengan sang jenderal.


"Terima kasih, Jenderal Bai! Terima kasih karena sudah membebaskan kami dari perbudakan tempo hari! Sekarang keluarga kami sudah memiliki bisnis sendiri!"

__ADS_1


***


__ADS_2