
"Maafkan aku, Hua. Aku tidak bermaksud berkata seperti itu. Mulutku memang tidak bisa diajak kerjasama. Huhh, dasar mulut tidak tahu diri!" kata Bai Yuwen sambil menepuk-nepuk mulutnya sendiri.
"Sudahlah ... ayo ke dalam saja! Mungkin ayah mau mengobati lukamu yang digigit tawon-tawon itu."
Hua Fei menggandeng Bai Yuwen untuk masuk ke dalam. Karena ia hanya hidup bersama ayahnya selama ini, ia senang karena ada orang lain berkunjung.
Mereka masuk ke dalam rumah yang berada di atas pohon persik yang berukuran besar. Rumah yang terbuat dari bambu yang disusun sedemikian rupa, sehingga menjadi tempat tinggal yang layak dihuni.
Hua Cheng merupakan seorang pria berambut putih dan terlihat memiliki ilmu yang tinggi. Hanya dengan melihat pria berambut putih itu, membuat Bai Yuwen merasakan aura penuh kewibawaan. Hua Cheng sendiri sudah menunggu kedatangan Hua Fei dan pandangan matanya tertuju pada cincin biru safir yang digunakan oleh anak muda itu. Tanpa melihat banyak luka yang ada di sekujur tubuh Bai Yuwen.
"Siapa namamu, anak muda?" tanya Hua Cheng langsung pada Bai Yuwen. Sebelumnya ia tidak pernah melihat ada orang yang bisa masuk ke tempatnya. Ia sudah melindungi bukit Zhuzhan dengan sebuah segel, hanya dirinya yang bisa mengendalikannya.
Siapapun jika ingin masuk, harus menghancurkan segelnya. Tapi Bai Yuwen tidak menghancurkan segel yang dipasangnya. Itu menunjukkan kalau cincin itu yang membawanya ke tempat tinggalnya.
"Namaku Bai Yuwen, Paman. Aku berasal dari kota Guangping. Oh iya, selamat sore, Paman. Maaf telah mengganggu di tempatmu," ungkap Bai Yuwen dengan sopan. Karena ia merasa aura dari Hua Cheng sangat tinggi. Harus bersikap sopan santun pada pria berambut putih tersebut.
__ADS_1
Mendengar ucapan dari Bai Yuwen, membuat Hua Cheng mengangguk pelan. Ia tahu tempat itu dan letak kota Guangping dari tempatnya sangat jauh. Karena berbeda provinsi dan masing-masing provinsi dipimpin oleh raja yang berbeda. Tetapi masih di satu kekaisaran.
"Kenapa Paman?" tanya Bai Yuwen penasaran. Pemuda itu tidak mengerti dan tidak tahu apa arti dari sikap pria paruh baya itu. Namun ia malah menatap Hua Fei untuk bertanya dengan tatapan matanya.
"Apa? Aku tidak tahu apapun," jawab Hua Fei sambil mengedipkan bahunya. Pertanda kalau dia tidak tahu menahu.
Hua Fei selalu tinggal di tempat itu dan wajar jika tidak tahu sama sekali setiap tempat di kekaisaran Han yang sangat besar itu. Sejak bayi ia bersama ayahnya dan saat ini umurnya juga baru tujuh tahun.
"Sepertinya kamu berasal dari tempat yang jauh. Sayang sekali kalau sampai ke tempat ini. Sebaiknya kamu segera kembali dengan kekuatan cincin itu. Tapi kamu tidak bisa melakukannya secara sembarangan. Karena cincin biru safir itu bisa menyerap energi qi penggunanya. Maka kamu tidak bisa pergi begitu saja. Dan–" Hua Cheng mengusap keningnya, tanda bingung harus mengatakan apa.
Bai Yuwen menunggu penjelasan dari Hua Cheng, tentang cincin yang dipakai olehnya. Karena tidak tahu apapun tentang benda pusaka yang ada di dunia ini. Padahal dirinya memang lebih suka tinggal di tempat ia berdiri sekarang.
"Kultivasi? Apakah aku tidak bisa meningkatkan kultivasiku? Aku tidak tahu apapun tentang kultivasi. Mohon Paman memberitahukannya padaku. Tapi aku hanya ingin menjadi orang yang bebas, tidak seperti ayahku yang selalu berperang melawan musuh. Apakah kamu tahu, ayahku adalah seorang jendral besar. Namanya pasti terdengar familiar, apakah kamu tahu ayahku, Paman?" tanya Bai Yuwen penasaran. Karena ia mengira umur pria di depannya setara atau hampir sama dengan usia ayahnya, Bai Chauzen.
"Tidak tahu. Aku tidak pernah mendengar nama-nama jenderal di provinsi Han Timur laut. Kamu sudah sangat jauh sampai keluar dari provinsimu. Saat ini bukan berada di provinsimu, Anak muda. Saat ini kita berada di provinsi Hancheng. Dan saat ini kamu bukan berada di kota. Melainkan berada di sebuah bukit yang tidak pernah ada yang bisa datang ke sini. Karena di sini dikelilingi oleh hawa siluman."
__ADS_1
Belum lagi masalah kultivasi yang tidak diketahui olehnya, kini ada lagi siluman. Bai Yuwen pun penasaran tentang siluman yang mengelilingi tempat itu. Tapi yang membuatnya syok adalah pikirannya sendiri, yang mengira Hua Fei dan Hua Cheng adalah siluman yang berwujud manusia.
Hua Cheng mengerti apa yang dipikirkan oleh anak muda itu. Maka ia menjelaskan, "Kami ini adalah manusia biasa saja. Tapi memang saya sengaja membuat tempat ini menjadi tempat tinggalku bersama Hua Fei, semenjak lima tahun lalu. Saat ibunya pergi ke nirwana, jauh ke langit."
Yang diketahui oleh Bai Yuwen, ibunya Hua Fei sudah meninggal karena sudah ada di nirwana. Maka ia tidak membahas lebih jauh dan perlu mendengar penjelasan dari Bai Yuwen lagi. Entah mengapa ia malah senang jika ia mendengar tentang sesuatu yang diluar akal pikiran manusia.
"Kurasa kamu belum waktunya tahu tentang ini semua. Yang paling penting, biarkan aku obati lukamu. Kamu mendekatlah ke sini," pangil Hua Cheng sambil melambaikan tangan pada anak muda tersebut.
Bai Yuwen mendekat ke arah Hua Cheng dan pria itu menyentuh luka-luka yang ada di tubuhnya. Beberapa saat kemudian, luka Bai Yuwen pulih dan tidak merasa begitu perih lagi. Ia cukup senang setelah lukanya sembuh dan melihat tangannya yang sudah tidak terluka lagi.
"Wahh ... ini bisa sembuh kembali, yah? Terima kasih atas semuanya, Paman," ungkap Bai Yuwen setelah sembuh dari rasa sakitnya. Ini adalah sesuatu yang sangat luar biasa bagi Bai Yuwen karena ada ilmu yang dapat menyembuhkan sakit dengan cepat.
Bai Yuwen melihat sekeliling dan ada satu yang menjadi perhatiannya. Sebuah pedang dengan gagang dan sarung berwarna hijau, memiliki bentuk yang unik karena seperti layaknya bambu. Tapi ia yakin itu pedang karena ia pernah melihat model pedang seperti itu di buku yang pernah ia baca.
"Yang kamu lihat itu bernama Zhu Jian. Sebuah pedang yang memiliki bilah yang tipis, tidak selebar pedang pada umumnya. Pedang yang terlihat ringan tapi akan sulit untuk mengendalikannya. Suatu hari nanti, itu akan kuwariskan pada Hua Fei karens pedang itu milik ibunya." Hua Cheng melirik ke arah Hua Fei yang menggembungkan pipinya, yang terlihat lucu dan imut.
__ADS_1
"Apaan, sih? Aku tidak ingin pedang itu. Lagian pedang hanya untuk membunuh orang, apa untungnya membunuh orang seperti itu?" Hua Fei sering melihat orang-orang sesekali dari mata batinnya. Apalagi ada sebuah tanda merah di dahinya, membuatnya bisa melihat sesuatu tanpa sengaja dan tidak bisa ia kendalikan.
***