
Bai Bai membawa Hua Fei yang terluka parah bersama burung-burung lainnya. Tibalah di tempat tinggal mereka, di sebuah pondok bambu di atas pohon persik. Walaupun Bai Bai adalah burung, ia memiliki pemikiran tersendiri.
Karena terluka parah, membuat gadis itu mengalami kesakitan yang teramat. Sehingga membuatnya tak sadarkan diri. Bai Bai yang telah membawa Hua Fei, selanjutnya membuka pakaian gadis itu. Lalu menaburkan obat yang ditinggalkan oleh Hua Cheng.
Sejak kepergian Hua Cheng dari bukit Zhuzhan, Hua Fei hanya tinggal berdua dengan Bai Bai yang merupakan burung berwarna. Seekor burung yang senantiasa menemani Hua Fei di tempat mereka.
"Ayah ... ayah ... ayah, kamu di mana? Jangan tinggalkan A-Fei, ayah." Hua Fei mengalami mimpi berpisah dengan ayahnya yang entah ke mana.
Karena luka yang cukup besar, membuang Hua Fei mengalami demam. Untung saja Bai Bai selalu berada di sisinya. Merawat hingga sembuh kembali. Burung itu juga memetik buah persik yang berbuah di pohon raksasa yang dibuat rumah tersebut.
Saat malam harinya, barulah Hua Fei bangun dari tidurnya. Ia sangat lapar dan juga kehausan. Ia meraba tubuhnya yang mengalami luka gores saat melawan siluman.
Tubuhnya kini sudah dibalut dengan kain, menutupi luka di dadanya. Namun ia merasa belum cukup kuat untuk berjalan sendiri. Ia melihat buah persik yang sudah berada di meja, samping tempat tidur.
"Bai Bai, aku haus, bawakan aku minum," panggil Hua Fei kepada burung warna-warni. Ia dan burung itu sudah sangat akrap dan bermain bersama sejak kecil dan sekarang umur mereka sudah menginjak masa remaja.
Burung warna-warni pun terbang membawa air yang ada di wadah, sebuah tanaman berkantung. Biasa digunakan untuk membawa air oleh Hua Fei. Sementara itu burung-burung lainnya telah meninggalkan rumah. Mereka tidak seperti Bai Bai yang menjadi teman Hua Fei. Dan tidak memiliki pemikiran seperti burung tersebut.
"Terima kasih, Bai Bai. Aku sangat terbantu olehmu. Kamu yang sudah mengobatiku? Terima kasih, kamu adalah burung yang sangat cerdas dan teman terbaikku."
__ADS_1
Untuk mempercepat penyembuhan, Hua Fei duduk bersila. Ia menggunakan teknik penyembuhan yang diajarkan ayahnya sebelum meninggalkannya pergi ke tempat yang tidak diketahui.
"Ayah akan pergi mencari ibumu, A-Fei. Kamu bisa melanjutkan pelatihanmu sampai bisa mengalahkan raja siluman. Jika sudah mengalahkan raja siluman, ayah akan datang membawa ibumu."
"Benarkah? Ayah akan membawa ibu? Aku akan berlatih agar cepat bertemu dengan ibu. Wajah ibu, apakah dia cantik sepertiku?" Hua Fei sangat senang kala itu.
Saat itu Hua Cheng berpamitan pada Hua Fei untuk menemukan istrinya. Namun bertahun-tahun kemudian tidak ada kabar apapun tentang ayahnya. Untuk mengawasi ayahnya di dunia lain, Hua Fei bahkan menggunakan cermin yang ditinggalkan ayahnya. Namun cermin itu sudah mengalami keretakan akibat kekurangan sumberdaya atau energinya.
Terakhir kali cermin itu sudah pecah dan hancur tak berbentuk lagi. Itu hanya menjadi cermin biasa saja tanpa memiliki kekuatan. Sedangkan Hua Fei tidak bisa menggunakan cermin itu. Sebelumnya Hua Cheng yang memperbaiki dan mengisinya dengan energinya.
"Sekarang aku tidak tahu di mana keberadaan ayah. Aku sangat rindu dengan ayah. Ayah, kembalilah ke sini lagi. Aku sudah mengalahkan raja siluman. Katanya kamu akan pulang bersama ibu kalau aku sudah mengalahkan raja siluman."
Harapan hanyalah tinggal harapan semata. Sekarang tidak ada lagi tempat untuk berbicara. Sudah satu tahun dirinya hidup hanya bersama dengan Bai Bai yang menemani. Karena Bai Bai tidak bisa berbicara, itu yang membuatnya kesepian.
Sempat terlintas bagi Hua Fei untuk menjadikan mustika siluman untuk berkultivasi Bai Bai. Namun keputusannya belum dipikirkan secara matang. Pada akhirnya ia masih ragu untuk memulainya.
Hua Fei takut jika Bai Bai berkultivasi, tidak akan bisa bermain dengannya lagi. Pernah suatu kali ia bertanya pada ayahnya tentang kultivasi hewan biasa yang berubah menjadi hewan mistis, memiliki kekuatan luar biasa.
"Ayah, apakah hewan biasa bisa berkultivasi seperti manusia? Aku pernah melihat di cermin, ada hewan yang berubah menjadi makhluk jahat dan bisa berbicara."
__ADS_1
"Hooo ... bagaimana menjelaskannya, yah? Sebenarnya bisa saja hewan biasa menjadi hewan mistis. Atau hewan yang memiliki kekuatan luar biasa seperti layaknya makhluk spiritual. Hewan itu juga bisa berbicara dengan manusia dan bisa digunakan untuk bertarung. Di dunia ini ada beberapa pendekar bela diri yang memanfaatkan hewan peliharaannya."
"Jadi aku bisa juga membuat Bai Bai berbicara dong, ayah?" tanya Hua Fei penasaran. Saat itu Hua Fei tengah memeluk ayahnya sambil belajar.
Karena pelajaran tidak menarik bagi Hua Fei, membuat gadis bertanya sesuatu yang diluar pembelajaran. Namun Hua Cheng menanggapi dengan santai dan bisa dikatakan ia juga telah memberi pelajaran dengan ceritanya.
"Bai Bai juga bisa berkultivasi menjadi burung mistis. Kau bisa memberikan mustika siluman yang ada di belakang untuk mempercepat kultivasinya. Tapi ini tidak disarankan untuk kamu. Karena kamu adalah manusia, mustika siluman tidak cocok untukmu."
"Apakah ini akan cocok untuk Bai Bai?" Karena penasaran, Hua Fei terus bertanya. Padahal pertanyaannya hanya tentang kultivasi hewan. Malah membuat Hua Fei sangat tertarik dan harus memperhatikan sebab dan akibatnya.
"Kalau kamu berikan mustika siluman pada Bai Bai, ada dua kemungkinan. Yang pertama, dia akan membantuku dalam segala hal. Membawamu ke manapun kamu mau. Namun kemungkinan kedua, Bai Bai tidak bisa menahan kekuatan itu bahkan bisa menggila. Jika kamu memberikan mustika siluman dengan jumlah yang terlalu banyak, itu justru kemungkinan besar membuatnya menggila. Dia bisa membunuhmu. Jadi sebaiknya kamu pikirkan baik-baik sebelum memutuskannya."
Hua Fei duduk di tempat tidurnya sambil membelai punggung Bai Bai. Ia teringat kata-kata ayahnya waktu itu. Ia sekarang dalam dilema. Apakah akan membiarkan Bai Bai berkultivasi atau mengurungkan niatnya.
"Aku bingung, Bai Bai. Tapi aku tidak bisa memutuskannya. Ah, lebih baik kamu sendiri yang memutuskannya, bagaimana?" tanya Hua Fei pada Bai Bai.
Karena ini tergantung pada keputusan burung warna-warni kesayangannya, ia masih tidak berani. Keputusan yang ia ambil bisa saja membawanya ke jalan yang benar. Ataupun sebaliknya, membuat burung kesayangannya menjadi semakin buas.
"Baiklah, kita tunggu satu minggu lagi, menunggu lukaku sembuh. Kalau ayah tidak kunjung pulang, aku akan membiarkan kamu makan mustika siluman yang paling kecil saja," pungkas Hua Fei.
__ADS_1
Bai Bai hanya mengangguk setelah mendengar perkataan Hua Fei. Meskipun dia adalah seekor burung biasa, ia memiliki kecerdasan seperti manusia. Itu karena sudah belasan tahun bermain bersama Hua Fei.
***