
Walaupun untuk saat ini Bai Yuwen tidak bisa menggunakan energi qi, Kun Jiasen tahu betul dengan apa yang telah dilakukannya. Ia tahu dan merasa ini adalah hari keberuntungannya. Karena ia sudah tidak kuat memiliki Seruling Kematian. Tubuhnya yang renta, tidak bisa mencapai kultivasi tertinggi. Sehingga tubuhnya tidak bisa menjadi abadi. Meskipun ia bisa saja hidup abadi dengan kultivasi energi qi, tubuhnya tidak. Tubuhnya tetap mengalami penuaan dan fisiknya akan lemah. Maka ia harus mewariskan pusaka terkutuk itu pada orang lain.
"Dengan keadaan qi yang tertutup, membuatmu memiliki banyak waktu. Maafkan aku karena akan membuatmu menderita," lirih Kun Jiasen dengan tatapan nanar. Pria tua itu menunjukan Seruling Kematian dan meniupnya. Lalu ia mengambil sebuah batu yang tajam. Lalu ia melukai Bai Yuwen.
"Akh! Kenapa kau melukaiku? Apa yang kau lakukan padaku, orang tua?" Bai Yuwen memprotes apa yang dilakukan oleh Kun Jiasen padanya. Meringis menahan sakit akibat goresan hatu yang tajam. Langsung saja darahnya menetes ke tanah.
Sambil terus memainkan serulingnya, Kun Jiasen membiarkan seruling itu terkena darah dari Bai Yuwen. Ia juga mengeluarkan semua kemampuannya. Mengeluarkan seluruh energi qi yang dimilikinya agar bisa memindahkan kepemilikan seruling kematian. Pemindahan kepemilikan pusaka iblis itu tidak bisa dilakukan oleh orang dengan ilmu yang rendah. Tentu saja, tubuhnya tidak akan sanggup lagi untuk bertahan.
"Tidak tahu sampai kapan, kamu harus meningkatkan kualitas tubuhmu! Jangan sampai sepertiku. Dan kau harus bersiap-siap untuk kehilangan semuanya. Keluarga, teman dan semua yang kau sayangi. Sampai bisa menemukan seseorang yang bisa membantumu."
Kun Jiasen hanyalah seorang manusia yang mendapatkan Seruling Kematian tanpa sengaja. Ia mendapatkannya di gua yang saat ini ia tempati. Dan di tempat itu juga, ia harus menyerahkannya pada orang lain untuk menggantikan perannya sebagai seorang pendekar pencabut nyawa nantinya. Yang akan menjadi buronan para pendekar kultivator kuat dari berbagai arah.
***
Langit gelap gerhana bulan
Selimuti hati selimuti perasaan
Hanya ada sebuah kegelapan
Dalam hati tanpa ada kesucian
Setelah hilang semua perasaan
Aura hitam jadikan pedoman
Membawa dunia kehancuran
Apa itu sebuah kebahagiaan?
__ADS_1
Hanya ada dalam setiap angan
Luluh lantak teriak kebebasan
Bunuh semua musuh di depan
Musnah oleh seruling kematian
Pembawa bencana kesengsaraan
Menjadi saksi sebuah keberadaban
Yang nyata tiada lagi lawan
Ini sumpah seruling kematian
Jadilah hamba tanpa tuan
Jadilah legenda tanpa kesudahan
Jadilah hina tanpa hinaan
Jadilah sesat tanpa sandaran
Hanya ada seruling kematian
Menjadikannya sebagai pedoman
Menjalankan sendi kehidupan
__ADS_1
***
Bai Yuwen merasakan tubuhnya panas. Apalagi seruling kematian telah berada di tangannya entah dari kapan. Setelah menerima seruling dari Kun Jiasen, ia merasakan pusing luar biasa hingga ia tidak sadarkan diri. Sementara Kun Jiasen telah terbaring lemah di depan anak itu. Ini adalah hal terakhir yang bisa ia lakukan untuk menjaga kutukan itu terus menurun. Walau benda itu yang dianggap sebagai kekuatan iblis.
"Maafkan aku, Nak. Untuk saat ini karena aliran qi dalam tubuhmu tidak mengalir dengan baik, maka tidak ada kekhawatiran. Karena untuk menggunakan seruling ini, akan menyerap energi qi penggunanya." Kun Jiasen menatap Bai Yuwen dengan mata buramnya. Tubuhnya terasa sangat berat dan lemas.
Kesaktian Kum Jiasen mendadak menurun dan sudah diambang kematian. Pada akhirnya ia merasa dadanya sesak dan jantung semakin lemah. Semua kekuatan fisik dan tenaga dalamnya juga telah terkuras sepenuhnya. Sehingga mengakibatkan dirinya meregang nyawa. Selain itu, ia sudah mengeluarkan segenap kekuatannya dan dirinya hanya bisa menganga dan mata melotot saat kehilangan nyawanya.
Dengan kematian Kun Jiasen sebagai seorang pendekar pencabut nyawa, tidak ada lagi yang menghentikan perang yang terjadi di seluruh Kekaisaran Han. Malam semakin larut dan mayat Kun Jiasen menjadi abu. Terbang terbawa angin yang keluar dari goa. Walau sebelumnya tidak ada angin bergerak di gua itu.
Hingga menjelang pagi, barulah Bai Yuwen sadar. Ia merasakan pusing di kepalanya dan belum bisa melihat dengan jelas. Pandangan buram dan mengingat peristiwa semalam. Ia bisa tidur dengan nyenyak semalam tapi tidak dengan tubuhnya yang sangat lemah.
"Di mana orang tua itu? Kakek? Ke manakah dirimu?" Bai Yuwen mencari keberadaan Kun Jiasen tapi ia tidak menemukannya di sekitar tempat tersebut. Namun sekarang ia berada di tempat lain dan memegang sebuah seruling. "Apa ini? Seruling?"
Karena tidak tahu harus berbuat apa dengan serulingnya, membuat anak laki-laki itu meletakan di batu. Ia melihat sekeliling dan berada di tempat di mana ia tertidur semalam. Sama sekali berbeda suasana di luar. Di pesisir sungai yang airnya jernih. Namun tidak terlihat adanya goa di sekitar. Tapi tempat yang sama seperti tempat dirinya kembali dari Zhuzhan.
Beruntung Bai Yuwen berada di kota Guangping untuk saat ini. Sehingga tidak perlu khawatir dengan apa yang terjadi. Dirinya hanya perlu kembali ke rumahnya untuk mencari makanan karena perutnya sangat lapar. Semalam ia tidak sempat makan apapun, perut kecilnya pun harus mendapatkan nutrisi dari makanan.
Saat sedang berjalan, beberapa prajurit dengan pakaian tempur, berbaris melintasi jalanan kota. Sebagai anak seorang jendral, Bai Yuwen tahu, mereka sedang mencari keberadaannya. Sehingga ia pun sengaja menampakan diri. Dan benar saja, beberapa dari mereka langsung mengenali tuan muda mereka.
"Tuan Muda? Benarkan ini? Saya tidak salah melihatnya, bukan? Jenderal Bai sudah memerintahkan kami untuk mencarimu dan mengajakmu pulang. Ayo, kita bawa tuan muda kembali ke kediaman!"
Para prajurit menghampiri Bai Yuwen yang terlihat lusuh tapi mereka tetap mengenali tuan muda mereka. Sebagai prajurit biasa, mereka tidak sepantasnya berbuat tidak sopan pada Bai Yuwen. Para prajurit itu pun bergegas membawa anak jendral itu dengan tandu yang sudah disiapkan.
"Sebenarnya apa yang terjadi denganmu, Tuan Muda? Mengapa bisa seperti ini?" tanya salah seorang prajurit yang berjalan di samping tandu yang diangkat oleh rekan-rekannya. Ia penasaran karena sudah semalaman ia mencarinya.
Kediaman keluarga Bai terlihat sepi dan tidak terlihat penjaga. Karena mereka juga turut mencari keberadaan anak jenderal yang hilang itu. Semua panik setelah Bai Rouyao mengatakan telah kehilangan adiknya. Kedua orang tua mereka kelimpungan mencari keberadaan Bai Yuwen yang hilang seakan ditelan bumi. Selama semalaman, semua orang telah menyisir setiap tempat di kota Guangping. Di kota yang sangat luas, tidak mudah hanya mengandalkan orang di kediaman. Membuat Bai Chauzen memerintahkan bawahannya untuk mencari keberadaan anaknya.
"Bai Yuwen, ke mana saja kamu pergi? Dasar anak ini, menyusahkan orang lain saja! Pergi tidak bilang-bilang, buat emosi saja!" kesal Bai Rouyao karena ia ditinggal oleh adik kandungnya. Dan dirinya yang paling pusing karena kepergian adik satu-satunya.
__ADS_1
***